NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Buku Catatan King's Castle

Seminggu di kamar membuat waktu kehilangan bentuk.

Momo tahu pagi datang dari warna cahaya di tirai. Siang dari suara pelayan meletakkan nampan. Malam dari musik klasik yang kadang muncul dari kamar Renard, mengalun rendah, lalu berhenti mendadak seolah seseorang memutus napasnya.

Renard tidak sering masuk.

Itu seharusnya baik.

Namun pintu penghubung yang tidak terkunci membuat ketidakhadirannya terasa seperti bentuk lain dari kehadiran. Momo membaca di ranjang, makan di sofa, berjalan bolak-balik sampai kakinya lelah. Setiap kali ia mendengar langkah dari kamar sebelah, tubuhnya menegang sebelum pikirannya sempat memerintah.

Pada hari ketiga masa kurungan, ia mengambil Buku Catatan King's Castle dari bawah kasur.

Sampul kulitnya sudah tua. Bau kertas lembap dan debu halus keluar ketika ia membukanya. Tulisan di halaman pertama kekanak-kanakan, miring, dengan tekanan pena yang tidak stabil.

Hari ini Ibu membawa kue.

Di bawah kalimat itu ada gambar perempuan berambut panjang membawa piring. Di sampingnya, anak laki-laki kecil menggambar dirinya sendiri dengan mahkota aneh di kepala. Bangunan Pulau Raja di belakang mereka diberi banyak menara, jauh lebih seperti kastel dongeng daripada vila modern yang sekarang ia tempati.

Momo menyentuh gambar itu.

Renard kecil pernah menggambar seperti anak biasa.

Halaman berikutnya membuat dadanya terasa berat.

Rola bilang kastelnya bagus. Rola mau kamar warna biru.

Ada gambar gadis kecil dengan rambut sebahu dan senyum lebar. Rola. Nama itu muncul beberapa kali. Rola suka laut. Rola takut ular. Rola menangis kalau ayah tidak datang. Di setiap halaman awal, nada catatan itu hangat, penuh hal kecil yang tidak cocok dengan Renard yang sekarang.

Momo membaca sampai sore.

Lalu nada tulisan berubah.

Ibu menangis lagi.

Ayah tidak datang lagi.

Rola sakit tapi bilang tidak sakit.

Hurufnya makin berantakan. Gambar-gambar menjadi lebih sedikit. Ada halaman dengan coretan hitam menutupi seluruh kertas. Di sudutnya tertulis sangat kecil, seperti ditulis oleh anak yang takut kalimatnya didengar.

Kalau aku jadi raja, aku akan mengunci semua orang jahat di luar kastel.

Momo berhenti membaca.

Angin dari jendela tertutup menggerakkan tirai. Kamar tetap sama, mewah dan putih. Tetapi tiba-tiba ia melihatnya berbeda. Bukan hanya penjara untuk dirinya. Tempat ini pernah menjadi tempat anak kecil berusaha membayangkan perlindungan.

Kastel.

Pulau Raja.

Penjara dan tempat berlindung bisa punya dinding yang sama.

Malam itu, musik klasik dari kamar Renard diputar lebih keras dari biasanya. Momo duduk di lantai, punggung menempel ke ranjang, buku catatan terbuka di pangkuan. Musik itu indah tetapi tegang, seperti sesuatu yang cantik dipaksa menahan retak.

Tiba-tiba berhenti.

Keheningan setelahnya lebih menakutkan daripada suara.

Momo menahan napas.

Tidak ada pecahan kaca. Tidak ada perintah. Hanya diam panjang dari kamar sebelah. Ia tidak tahu kenapa tangannya bergerak. Ia merangkak turun dari ranjang, mendekati dinding penghubung, lalu menempelkan telapak tangan di sana.

Dinding itu dingin.

Di baliknya ada pria yang membelinya dari ayah kandungnya, pria yang mengurungnya, pria yang menyelimutinya di dermaga dan menaruh teh hangat di meja.

Momo membenci betapa sulitnya menjadikan Renard satu hal saja.

"Jangan kasihan," bisiknya pada diri sendiri.

Tetapi matanya kembali ke buku.

Halaman-halaman terakhir hampir kosong.

Ia membalik satu lagi. Kosong.

Satu lagi. Kosong.

Lalu di halaman terakhir, di sudut bawah, ada kalimat sangat kecil, hampir tidak terlihat karena tinta memudar.

Maafkan aku.

Momo membaca dua kata itu lama sekali.

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Hanya rasa bersalah yang tertinggal di halaman putih, seperti bekas luka yang tidak pernah sembuh.

Dari kamar sebelah, terdengar suara sangat pelan.

Bukan musik.

Bukan pecahan.

Seperti seseorang menarik napas sambil menahan sakit.

Momo menutup buku itu perlahan dan memeluknya ke dada.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertanya bagaimana cara keluar dari Pulau Raja.

Pada halaman lain, tulisan berubah lebih kecil. Tidak lagi catatan anak yang mencatat letak menara dan jumlah jendela. Ini tulisan seseorang yang takut diketahui sedang mengingat.

Lucia suka musik saat hujan.

Rola takut gelap, tetapi berbohong dan bilang tidak.

Rayner bilang keluarga harus kuat. Lucia bilang anak-anak harus tetap menjadi anak-anak.

Momo membaca nama itu berulang kali.

Rayner.

Nama ayah Renard.

Di bagian bawah halaman, ada coretan seperti seseorang menekan pena terlalu keras sampai kertas hampir sobek.

Maafkan aku.

Tidak ada subjek. Tidak ada objek. Hanya maaf yang berdiri sendiri, terlalu kecil untuk menutup sesuatu yang jelas besar.

Malam itu, musik terdengar lagi dari kamar Renard.

Bukan lagu penuh. Hanya tiga nada piano, berhenti, lalu tiga nada yang sama. Seperti orang yang tahu awal lagu tetapi tidak pernah sanggup melewati bagian tertentu. Momo duduk di lantai dekat rak buku, catatan terbuka di pangkuan. Pintu penghubung tidak terkunci, tetapi tertutup.

Ia bisa membuka pintu.

Ia bisa bertanya.

Ia bisa mengembalikan buku itu dan berkata, berhenti membuatku menemukan bagian manusia dari dirimu.

Sebagai gantinya, ia tetap duduk.

Tiga nada terdengar lagi.

Jari Momo menyentuh kata Rola. Entah kenapa, nama itu terasa seperti anak kecil yang berdiri di koridor gelap sambil menunggu seseorang menyalakan lampu. Renard yang ia tahu bisa memerintah orang dengan satu kedipan, bisa membeli hidupnya dari Gunawan, bisa membuat penjaga dewasa gemetar. Tetapi anak dalam buku ini mencatat siapa yang takut gelap dan siapa yang suka musik saat hujan.

Momo menutup buku terlalu cepat.

"Tidak," katanya kepada ruangan kosong. "Aku tidak akan kasihan hanya karena kau punya masa lalu."

Namun tubuhnya tidak mendengar. Tubuhnya teringat malam ketika Renard gemetar di lantai kamar, tangan berdarah, mata seperti orang yang sedang melihat hantu. Momo membenci dirinya karena kini ia punya nama untuk sebagian hantu itu.

Lucia.

Rola.

Maafkan aku.

Di balik pintu, piano berhenti total.

Keheningan setelahnya lebih keras daripada musik.

Momo menatap pintu itu begitu lama sampai matanya perih. Ia tidak tahu apakah ia ingin Renard masuk atau menjauh. Dua keinginan itu bertengkar di dalam dada, dan keduanya membuatnya marah.

Ia menyembunyikan buku di bawah kasur.

Mulai malam itu, King's Castle tidak lagi hanya terasa seperti peta permainan anak.

Ia mulai menyalin beberapa kata ke kertas kecil, bukan karena sudah tahu gunanya, tetapi karena mencatat membuatnya merasa masih punya kendali. Lucia. Rola. Rayner. Maafkan aku. King's Castle.

Saat menulis nama Rola, ujung penanya berhenti.

Momo menyadari tangannya gemetar.

Ia marah pada buku itu, pada Renard, pada dirinya sendiri. Rahasia seharusnya menjadi alat untuk melarikan diri. Tetapi rahasia Renard justru tumbuh menjadi benang yang menariknya melihat ke arah pria itu lebih lama dari seharusnya.

Mulai malam itu, King's Castle tidak lagi hanya terasa seperti peta permainan anak.

Ia juga bertanya apa yang pernah terjadi di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!