Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mauli Family
" Astaga, gila nya gak berubah emang. " Gumam Lilly pelan menatap layar ponselnya yang berdenting.
" Kenapa?. " Marcell menatap Lilly yang nampak berubah ekpresi.
" Gak papa, tunggu yah aku ambil minum nya dulu di dapur. " Dengan cepat Lilly berjalan ke arah dapur rumah Mauli di mana kopi dan teh panas itu sudah siap di atas nampan.
" Ah, pelan pelan ah sayang.. " Suara kramat yang langsung membuat pipi Lilly memerah dan buru-buru meninggalkan dapur yang bersebelahan langsung dengan kamar sahabatnya itu.
" Hey, kenapa sih?. " Marcell semakin heran melihat sikap Lilly dan juga pipinya yang memerah membuat nya semakin terlihat lucu di mata Marcell.
" Gak papa, ini kopi nya seperti nya mereka masih sibuk dengan dunia mereka dan kita juga menikmati hujan yang gak reda reda ini. " Marcell langsung mengerti arah pembicaraan Lilly dan tertawa melihat ekpresi wajah gadis itu.
" Bukan kah itu hak biasa yang sering di lakukan sepasang suami-istri bukan. " Seru Marcell dengan gelak tawa nya sembari menatap wajah merah Lilly.
" ah... astaga... " Pekiknya geli melihat tingkah Marcell yang seperti nya memang sudah sering mendapatkan Perlakuan tidak terduga dari suami istri itu.
" Kalau aku sih udah biasa, bahkan suara suara merdu itu udah kek nyanyian melodi yang memang harus di nikmati yaaaa gimana lagi.. " Lilly nampak semakin terkejut dengan ucapan Marcell.
Bagimana bisa sahabatnya itu segila itu padahal ada orang lain di rumah ini.
" Udah biarin aja, mereka pernah hampir gila dan sekarang saat keadaan sudah lebih baik biarkan saja mereka menikmati kenikmatan mereka sendiri. " Marcell menyeruput kopi panasnya pelan.
" Gadis kecil itu?. "
" Hemz, mereka mendapat kan nya sangat lah susah harus berobat kemana-mana dan menghabiskan banyak uang. Bahkan demi mendapatkan nya dia memberanikan diri meminjam uang ratusan juta pada pada teman teman nya, termasuk aku sendiri. "
" Dan sekarang?. "
Marcell tersenyum simpul.
" Kami tidak mempermasalahkan tentang uang, walaupun dia ngotot pengen balikan semua itu. Kami tidak tega melihat sahabat karib kami yang sedang sedih dan susah harus menanggung pikiran yang berat. " Lilly diam diam memperhatikan Marcell bercerita ada kekaguman melihat pria di depan nya itu.
" Jaman sekarang masih ada orang yang bisa sebaik itu pada seorang teman?. " Batin Lilly.
Marcell menangkap tatapan kagum Lilly dan membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya.
" Ngomong ngomong kamu sudah menikah?. " Lilly menggeleng pelan dengan senyum singkat.
" Belum, tapi ada seseorang dalam hidup ku yang sedang memperjuangkan ku entah sampai kapan. Kalau kamu sendiri sudah menikah atau masih pacaran?. "
" Aku sudah memiliki tunangan seorang dokter psikiater, bulan depan kami akan menikah dan mungkin kamu akan menjadi salah satu tamu terhormat itu yang akan hadir. " Gumam Marcell.
" Ah, selamat untuk pernikahan mu bulan depan. Gadis mana yang beruntung mendapatkan mu itu?. " Goda Lilly.
Marcell dan Lilly saling tertawa
" Wah seperti nya kalian sudah akrab sekali?. " Suara Aris memecah canda tawa Lilly dan Marcell.
" Dari mana aja lo?. " Ketus Marcell yang melihat sahabatnya itu baru muncul setelah beberapa waktu lamanya.
" Biasa, setoran dulu. galak amat sih lama kagak dapet jatah kayaknya.. " Celetuk Aris dengan gelak tawanya.
Hujan di luar sudah mulai mereda membuat Lilly bergegas untuk pergi mengingat dia akan pernah keluar negeri besok pagi, banyak yang harus dia packing saat ini.
" Hujannya udah reda, aku izin pamit dulu ya Mauli ada kerjaan soalnya nanti aku kesini lagi kalau pas di Indonesia. " Gumam Lilly menghampiri sahabatnya itu.
" Tapi kita belum makan malam, baru aja aku mau masakin buat kamu. " Lilly memeluk erat sahabatnya itu.
" lain kali aku janji akan makan disini, banyak banget yang mau aku ceritain sama kamu tapi gak sekarang. " Mauli sangat berat melepaskan pelukan sahabatnya itu setelah sekian lama baru bertemu lagi.
" Awas kalau bo'ong, hati hati yah.. "
" Iya. " Lilly pergi meninggalkan rumah Mauli meninggalkan dirinya.
Aris merangkul istrinya dia tahu jika Mauli masih ingat bersama dengan sahabat nya itu, Mauli banyak bercerita tentang gadis itu dan itu lah kenapa Aris begitu tahu perasaan istri nya.
" Dia sudah lebih baik sekarang, punya kesibukan dan dunianya sendiri. Sama seperti kita sayang. " Gumam Aris pelan.
" Kamu bener mas. "
Ekehm ekehem
" Gue rasa masih ada maklum hidup di sini. " Marcell yang mulai kesal melihat kemesraan dia orang sahabatnya itu.
" Ah iyaa, kita melupakan dia lagi sayang. " Mauli tertawa pelan melihat tingkah dua pria dewasa di depan nya itu.
" Bulan depan juga lo kek kita. " Marcell hanya tersenyum simpul dengan tatapan yang sulit di artikan.
***
Di tempat lain Mahendra sedang duduk sembari menikmati hujan di malam itu di rumah Intan.
Sejak kepergian Lilly dan keinginan nya untuk pergi sementara membuat Mahendra sedih dan butuh seseorang untuk tempat nya kembali, kemana lagi jika bukan ke rumah Intan yang selalu terbuka untuk nya.
" Udah ngelamun ya?. " Gumam Intan menatap cukup lama pria yang diam diam telah merebut hatinya itu.
Sudah hampir 3 jam Mahendra duduk di ruang tamu Intan tanpa berbicara apapun, matanya kosong menatap hujan yang turun dengan derasnya. Sudah 3 gelas kopi habis tak tersisa dan Intan sendiri memilih untuk diam dan melihat pria itu yang juga diam.
Dia tahu apa yang sedang di rasakan Mahendra, karena dia sendiri juga sedang merasakan nya.
" Aku harus gimana sekarang?. "
" Pulang temui ibu mu dan bicara baik baik tentang keinginan kak Mahen tentu nya. Jika memang kalian mau melangkah jauh ke hubungan yang lebih serius tentu nya. " Gumam Intan pelan.
" Bunda gak akan setuju sampai kapan pun Intan, aku sendiri capek dengan sikap Lilly. " Mahendra mengacak rambut kesal dan itu semakin membuat Intan diam menatapnya dengan tatapan kagum.
" Tampan, bahkan dengan posisi yang sefrustasi itu dia masih saja terlihat menarik untuk ku. Sayang kita tidak berjodoh kak. " Batin Intan nampak begitu berisik.
Mahendra menatap Intan yang juga menatapnya
" Kenapa?. "
" Gak papa, hujannya sudah reda. " Gumam Intan pelan mengalihkan pembicaraan.
" Intan... "
" Hemz... "
" Boleh aku bertanya sesuatu?. " Intan diam menatap Mahendra.
" Apa?. "
" Kamu pernah.. " Intan menunggu ucapan Mahendra yang terputus dan diam.
" Lupakan.. " Ucapannya dan membuat Intan merasa aneh dan penuh dengan tanda tanya.
" Udah jam 10 malam kak Mahendra gak pulang, maaf bukan maksud Intan mengusir hanya saja Intan gak enak du liat tetangga. "
" Hemz iya, kalau gitu aku pulang yah. Maaf aku selalu ngerepotin kami. " Gumam Mahendra sebelum pergi meninggalkan rumah Intan.
Dari jauh nampak Sekhu yang diam memperhatikan Mahendra yang pergi dari rumah Intan.
" Sebenarnya apa hubungan mereka, terlihat dekat tapi tidak memiliki hubungan ?. Sangat aneh, tapi dari tatapan dan perhatian nya aku tahu dia menyimpan rasa untuk Intan . " Gumam Sekhu pelan.