Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Shera yang tengah duduk bersandar pada sandaran ranjang, menghela dalam napas sebelum menyematkan senyum yang ia paksakan saat melihat pria yang baru saja berbagi peluh dengannya keluar dari dalam kamar mandi. "Kamu... mau langsung kembali ke Kantor?" tanya Shera, kedua maniknya terus mengikuti pergerakan Agam yang baru selesai membersihkan diri dan sudah kembali berpakaian rapih.
"Ya!" jawab Agam singkat, tanpa menoleh sedikit pun pada wanita yang sudah rela terbang jauh melintasi beberapa negara hanya untuk memberinya kepuasan sesaat.
Melihat Agam berada tidak jauh dari posisinya, Shera buru-buru menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya agar ikut bergerak saat ia bergeser untuk duduk di tepi ranjang. "Malam nanti, kamu akan kembali ke sini, kan?". Maniknya menatap wajah Agam penuh harap. "Aku masih di sini sampai besok siang," ucap Shera, berharap pria tampan itu kembali ke Hotel tempatnya menginap untuk melewati malam bersama dan kembali berbagi peluh.
Agam menoleh, menatap datar wajah cantik wanita yang baru saja memberinya kepuasaan. Ia masih tidak habis pikir, wanita secantik dan seanggun Shera yang memiliki banyak kesibukan sengaja meluangkan waktu berharga hanya untuk datang menemuinya, meskipun Agam sudah berulang kali mengingatkan tentang status hubungan mereka yang hanya sebatas rekan bisnis.
"Aku tidak akan kembali ke sini," jawab Agam tegas. Memalingkan kembali wajah, kemudian meraih ponsel dan kunci mobil miliknya dari atas nakas.
Selesai dengan benda berharga miliknya, Agam yang hendak melangkah, terpaksa mengurungkan niat, saat Shera lebih dulu meraih satu lengannya untuk mencegah Agam pergi. "Agam, aku... aku masih akan tetap menunggumu malam ini," ucap Shera sedikit memaksa. Ia masih ingin menikmati kebersamaan dengan pria yang sudah membuatnya tergila-gila.
Melirik sekilas pada lengan yang masih dicengkram erat Shera, Agam menarik napas dalam sebelum menatap kemudian menghempas kasar tangan Shera dari lengannya menggunakan satu tangan lainnya. "Shera, jangan pernah mencoba mengatur dan berharap apapun padaku! " Ucapan agam terdengar datar, namun sarat ketegasan.
Shera menelan keras ludah, nada bicara Agam yang cukup meninggi dan sorot mata tajam yang Agam tunjukkan cukup membuat nyali Shera menciut. Beberapa tahun kerap menghabiskan waktu bersama cukup membuat Shera sedikit banyak paham dengan ekspresi yang terkadang Agam tunjukkan.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu," ucap Agam sambil memalingkan wajah kemudian melangkah pergi. Sementara Shera masih duduk terpaku, menatap punggung Agam yang kian menjauh hingga menghilang dibalik pintu.
Andai saja, Agam mau membuka sedikit saja pintu hatinya untuk ia masuki, tentu Shera sungguh sangat bahagia. Namun sayangnya, hingga saat ini pun pintu hati Agam masih tetap tertutup rapat, bahkan di setiap pelepasan, Pria itu masih terus menyebut nama seorang wanita yang selalu membuat hati Shera teriris pilu. Agam tengah menikmati tubuhnya, namun ia malah membayangkan wanita lain.
Agam sendiri bergegas kembali ke Kantor setelah sebelumnya mendapat pesan dari Hyun. Pria tampan itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai.
Sampai di Kantor, Hyun yang sudah menunggu kedatangan Agam langsung memberi penjelasan lebih dalam tentang permasalahan baru yang mendadak timbul di hari pertama mereka bekerja.
"Harusnya kau tetap berada di Kantor, bukan malah asyik bergoyang bersama Shera," sindir Hyun sambil menyerahkan sebuah berkas berisi bukti yang baru saja ia dapatkan dari orang suruhannya.
Agam menatap malas wajah Hyun yang baru saja menyindirnya. "Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Mereka tidak akan membiarkan aku naik dengan mudah untuk menggantikan Ayah." Agam memang sudah lebih dulu memprediksi tentang masalah yang akan timbul dari pihak lain. Pihak yang selama ini berpura-pura berada dipihak sang Ayah, namun sebenarnya mereka adalah sekumpulan pengkhianat.
"Sudah tahu seperti itu, tapi kau malah tetap memilih menemui Shera." Sekali lagi Hyun melontarkan kalimat sindirannya. Hyun sendiri tahu perihal kedatangan Shera, karena wanita itu lebih dulu menghubunginya. "Awas saja, malam ini... aku yang akan bersenang-senang dengan Shera."
kali ini, Hyun sama sekali tidak mendapat respon apapun dari Agam. Pria yang sudah terbiasa menghadapi ocehan sahabatnya itu, tetap fokus menganalisa bukti-bukti baru yang kini berada di tangannya. Ditambah bukti-bukti lain yang sebelumnya sudah lebih dulu ia kumpulkan dan reaksi yang saat ini mereka timbulkan. Agam jadi memiliki peluang besar untuk segera menyingkirkan mereka yang sudah berani mengkhianati kepercayaan Ayah Vino.
****
Sementara Agam dan Hyun tengah sibuk dengan persolan perusahaan. Viona justru sibuk membereskan kembali barang-barang miliknya yang masih berada di dalam gudang.
"Kamu yakin mau langsung pindah ke tempat baru itu?" tanya Rani sambil memasukkan beberapa setel baju milik Viona ke dalam kardus bekas.
Viona yang sedang memasukkan beberapa barang penting miliknya ke dalam kresek hitam hanya mengangguk mantap. Meski sebenarnya masih memiliki sedikit keraguan, namun ia juga merasa khawatir jika harus terus tinggal di dalam gudang. Bukan karena takut dengan hantu penghuni gudang, tapi ia takut jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan pada gedung tempatnya bernaung, maka ia yang akan mendapat imbasnya lebih dulu karena sudah berani tinggal di dalam gedung perusahaan tanpa izin.
"Kamu sudah punya uang untuk bayar sewanya, Vio? atau mau aku pinjamkan dulu untuk bulan ini?" tawar Rani tulus. Khawatir Viona tidak memiliki cukup uang untuk membayar sewa rumah kontrakan.
Awalnya, Rani merasa senang saat mendengar Viona tidak jadi dipecat, namun ia juga sedih karena Viona tidak lagi bekerja di lantai yang sama dengannya. Bu Siska bahkan sudah mencari kan pengganti Viona.
"Aku sudah mendapat gajiku bulan ini, Kak," jawab Viona beralih fokus mengikat kardus berisi pakaian yang sudah Rani rapih kan tadi. Viona terpaksa memindahkan sebagian pakaiannya ke dalam kardus bekas karena salah satu tasnya rusak parah. "Lagipula, aku tidak perlu membayar uang sewa. Sebaliknya, justru aku yang akan mendapat gaji tambahan,karena tugasku di sana tidak jauh berbeda dengan tugasku di sini."
Mendengar penjelasan Viona, Rani yang penasaran sontak menghentikan pergerakan tangan Viona dengan memegangi tangan gadis itu. "Maksudnya bagaimana, Vio?" tanya Rani, meminta penjelasan lebih. Khawatir, Viona memporsir tubuh kurusnya untuk bekerja lebih keras lagi. Sementara bekerja sebagai pegawai kebersihan saja sudah cukup menguras tenaga.
Melihat ekspresi yang Rani tunjukkan, Viona malah terkekeh geli. wajah Rani yang penuh rasa penasaran bercampur khawatir, dengan kedua mata yang terbuka lebar dan mulut yang menganga tak kalah lebar malah semakin membuat Viona gemas.
Viona yang malah terkekeh alih-alih menjelaskan, membuat Rani berubah kesal. ia menghempas tangan Viona yang sebelumnya sempat ia pegang, kemudian memalingkan wajah dengan bibir yang tertarik ke depan.
Melihat perubahan ekspresi Rani, Viona pun menghentikan tawa. "Aku di sana memang bekerja, Kak," ucap Viona sambil kembali melanjutkan mengikat tali rafia pada kardus. "Di jaman seperti ini, mana ada yang gratis," imbuh Viona.
"Tapi, Vio... Di sini saja kamu sudah lelah bekerja. Masa iya, kamu mau lanjut kerja di tempat barumu itu," ucap Rani yang kembali menatap khawatir Viona. Khawatir gadis itu jatuh sakit karena terlalu memporsir tubuhnya.
Selesai dengan kardus yang baru diikatnya. Viona balas menatap wajah Rani yang terlihat khawatir. "Tidak perlu mencemaskan aku, Kak. Aku... pasti akan baik-baik saja," jawab Viona. Berusaha meyakinkan Rani agar tidak perlu merasa cemas. Viona memang sudah bertekad bekerja keras. mengumpulkan uang halal sebanyak mungkin dan secepat mungkin agar bisa segera membebaskan sang ibu dari kekejaman paman dan bibinya. Dan sebuah tawaran menggiurkan dari atasannya membuat Viona semakin membulatkan tekadnya itu
*****