Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 35
Di kantor, Fathur duduk mematung di depan layar monitor yang masih menampilkan draf laporan yang sama sejak dua jam lalu. Kata-kata Rumi di ambang pintu tadi pagi seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti. Pintu keluar dari hidupmu adalah keselamatanku."
Fathur mere-mas rambutnya frustrasi. Setiap kali ia mencoba fokus, bayangan wajah Rumi yang pucat dan tatapan matanya yang "ma-ti" kembali menghantamnya. Ia merasa menjadi pria paling kerdil di dunia.
Bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya yang sedang hamil muda berangkat kerja dalam kondisi hati yang han-cur, sementara ia sendiri tahu semalam Rumi pasti tidak tidur setetes pun?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah nama muncul di layar. Elisa menghubunginya.
"Halo, Elisa? Ada apa?" tanya Fathur sedikit khawatir.
Takut jika diknya mengabarkan keadaan ibunya memburuk. Karena semalam ibunya selalu mengigau agar dirinya bercerai dari Rumi. Tanpa Fathur tahu itu hanya pura-pura belak. Dan ibunya juga sempat kejang-kejang. Akting yang sangat bagus dari Bu Tari.
"Mas Fathur! Ibu sudah boleh pulang siang ini," suara Elisa terdengar riang di seberang sana, kontras dengan gemuruh di dada Fathur.
Sudah pulang? Bukannya semalam dan tadi pagi keadaannya sangat lemah tak berdaya? Namun siang ini tiba-tiba bisa pulang secepat kilat.
"Dokter bilang kondisi Ibu sudah stabil, cuma perlu rawat jalan. Mas ke sini, ya? Jemput kami. Oh iya, Ibu minta mampir beli bubur ayam langganannya yang di dekat kantor Mas itu."
Fathur terdiam. Biasanya, ia akan langsung menyanggupi tanpa pikir panjang. Baginya, perintah Ibu adalah titah. Namun, bayangan Rumi yang menolak sen-tu-hannya untuk pertama kali selama menikah tadi pagi, membuat tenggorokannya tercekat.
"Mas? Mas Fathur dengar, kan?" desak Elisa.
"Elisa... Mas tidak bisa sekarang. Kamu bisa naik taxi online biar mas pesankan!" jawab Fathur dengan suara serak.
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara Elisa berubah ketus.
"Mas, Ibu baru saja melewati masa kritis! Ibu itu inginnya di jemput sama kamu Mas! Ibu butuh Mas sekarang."
"Pokoknya mas jemput kamu sekrang. Dona juga ada di sini bantu beresin baju Ibu. Kami tunggu."
"Kalau ada Dona kenapa malah telepon aku, Elisa! Dona kan bawa mobil juga, ya sudah naik mobil Dona saja! Mas ada banyak kerjaan. Nanti sore mas ke rumah nengok ibu sama mbakmu!"
Klik.
Sambungan diputus sepihak. Fathur menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Nama Dona disebut kembali, seolah menambah garam di atas luka yang dia buat sendiri. Dia tahu, jika dia pergi menjemput ibunya sekarang, maka dia pasti akan bertemu dengan Dona dan kalau Rumi tahu pasti akan semakin sakit hati dan salah paham padanya.
Fathur meraih kunci mobilnya dengan tekad yang bulat dia akan ke toko roti tempat Rumi bekerja. Makan siang dengannya, mungkin akan membuat suasana di antara mereka jauh lebih baik.
Sedangkan di tempat kerjanya, Asti tampak khawatir dengan keadaan Rumi yang sedikit pucat.
"Rumi, mending kamu pulang aja ya! Wajah kamu pucat sekali. Kamu istirahat! Nggak usah pedulikan mereka fokus dengan kamu dan bayi dalam kandungan kamu!" ujar Asti yang sangat khawatir.
"Rumi, dengar kata aku. Pulang ya?" Asti mendekat, meletakkan tangan di bahu sahabatnya itu.
"Biar aku yang bilang ke Mbak Laras. Kamu butuh tidur, Rum."
Rumi menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Aku nggak apa-apa, Asti. Kalau di rumah, pikiranku malah makin tak karuan. Di sini aku bisa sibuk, dan sejenak bisa melupakan suara berisik di dalam kepalaku dan rasa sakit dalam hatiku ini."
Tepat saat Rumi hendak mengangkat nampan kosong, lonceng di atas pintu berdenting. Dia mengira itu pelanggan jam makan siang biasa, namun sosok pria dengan kemeja kantor melangkah masuk. Itu Fathur. Di tangannya, ada sebuah kantong plastik.
Langkah Fathur terhenti beberapa meter dari etalase. Matanya menyapu wajah Rumi yang tampak pucat. Hatinya mencelos. Pria itu menyadari betapa besarnya dosa yang ia tumpuk sejak semalam.
"Rum," sapa Fathur lirih. Suaranya serak, sarat akan penyesalan.
Rumi mematung. Jemarinya menceng-ke-ram pinggiran nampan hingga memutih. Kehadiran Fathur di sini terasa seperti gangguan di tengah usahanya untuk mematikan rasa.
Asti yang melihat situasi itu hanya bisa menghela napas panjang. Dia menepuk bahu Rumi sekali lagi sebelum berbisik,
"Selesaikan di ruang belakang. Aku yang jaga depan."
Rumi mengangguk dan mengajak Fathur berbicara di belakang. Fathur mendekat, mencoba mengikis jarak.
"Rum, Aku bawakan makanan, kita makan bersama ya. Aku tahu kamu belum makan dari pagi."
Rumi masih bergeming. Ia menatap makanan itu, lalu beralih menatap wajah suaminya.
"Kenapa kamu kesini, Mas? Padahal aku ingin sejenak merasa lebih tenang dan nyaman berada di sini. Kamu ke rumah sakit saja! Pasti ibu dan keluarga kamu yang lainnya membutuhkan kehadiran kamu di sana. Dan di sana juga ada Dona yang selalu menjadi calon menantu idaman ibumu yang lainnya. Selain mbak Hana dan Intan," Rumi masih berbicara dengan sinis.
Fathur tersentak. Nama itu keluar dari bibir Rumi dengan nada yang begitu dingin. Fathur tahu jika Rumi sedang sangat cemburu, apalagi Dona memang selalu ada di antara keluarganya. Seolah dia sudah menjadi bagian dari keluarga Fathur.
"Rum, bukan begitu. Kamu tahu sendiri kalau aku juga tak memiliki perasaan apapun lagi kepada Dona. Ibu sudah boleh pulang hari ini, tadi Elisa menghubungiku dan Aku minta Elisa membawa Ibu pulang dengan taksi atau bersama Dona. Aku... aku ingin bersamamu. Kita makan ya," Fathur berusaha untuk meraih hati istrinya yang mungkin saat ini mulai kebas.
"Ingin bersamaku?" Rumi tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan di telinga Fathur.
"Setelah semalam kamu lebih percaya sandiwara Ibumu daripada perasaan istrinya yang sedang mengandung anakmu? Mas, kamu itu sarjana, apalagi sekarang jabatan kamu seorang wakil manager. Kamu pintar dan tidak bo-doh! Orang sakit mana yang semalam katanya masih kejang-kejang sekarang sudah boleh pulang? Katanya sakit jantung ibumu parah dan seluruh badannya lemas sulit bergerak, sesak serasa mau menghembus napas. Kenapa tiba-tiba? Tiba-tiba sehat? Apa kamu tak curiga? Orang sakit parah tidak ada yang tiba-tiba sembuh, Mas!" kesal Rumi tak habis fikir dengan suaminya yang mudah sekali tertipu oleh akting keluarganya.
Fathur terdiam. mencoba mencerna ucapan istrinya. Memang dia juga sedikit aneh saat mendapat kabar ibunya tiba-tiba boleh pulang sekarang. Padahal baru tadi pagi juga kejang lagi saat dia akan pulang.
"Dek, Mas tahu kata maaf mas tak akan membuat rasa kecewa kamu hilang tapi beri mas kesempatan sekali lagi. Demi kita, demi keluarga kecil kita dan anak yang dalam kandungan kamu. Mas ..." ucapan Fathur terhenti saat ponselnya berbunyi nama Elisa terlihat jelas di sana. Rumi hanya tersenyum tipis.
"Mas, Ibu pingsan lagi di mobil Dona gara-gara kamu nggak jemput! Kamu tega ya, Mas!" Fathur sengaja meload speaker panggilannya.
"Pergilah. Sebelum kamu menyesal karena menjadi anak durhaka," ucap Rumi dingin dan berbalik.
terlambaat sudaaah ,,
😒😒😒