[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Harapan ku tidak terwujud.
Siang itu Calantha kembali lagi ke kantor.
Astaga, apakah dia tidak bosan? Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Calantha langsung naik ke lantai 6 tepatnya di ruangan kami.
"hai Diana, bagaimana proyeknya?" dia tersenyum padaku.
Dia berani mengungkit tentang proyek?! Darahku mendidih seketika, mengingat apa yang terjadi semalam. Jika aku tidak beruntung, aku sudah hancur sekarang.
"Tidak ada proyek lagi. Kami tidak menandatangani nya." aku menjawab tegas.
"t-tidak ada? Bagaimana bisa? Proyek itu bernilai miliaran! Itu bisa-" Calantha tampak sedikit emosi, namun ucapannya terpotong.
"Miss Calantha, aku harus mengingatkanmu, bahwa disini, di kantor ini, aku lah direkturnya." Direktur Katrina buka suara.
"aku mengerti, tapi aku melakukannya demi perusahaan juga." Calantha mendatarkan wajahnya.
"kau tau apa yang terjadi pada Diana semalam?" Direktur Katrina bertanya.
Calantha memasang wajah heran. "apa yang terjadi? Aku hanya memintanya berdiskusi tentang proyek."
Aku emosi. Membanting pulpen ku ke atas meja.
"aku hampir saja dilecehkan oleh bajing*n itu! Untung saja aku berhasil melarikan diri!" aku membentaknya.
"apa? Bagaimana bisa begitu?" Calantha terkejut. "maaf, aku tak menyangka ini bisa terjadi Diana."
"apa kau benar tidak apa apa? Aku bisa memberimu kompensasi. Di dalam kartu ini ada 5 juta, kau bisa pergi ke psikolog"
"simpan saja! Jangan berpikir jika kau punya uang maka kau berkuasa!" aku menolak.
"jadi itu pemikiranmu? Padahal ini adalah niat baik ku. Tapi kau menolaknya. Haish. Tidak apa." Calantha menyimpan kembali kartu miliknya.
"ehem. Maaf Miss Calantha. Mungkin Aku harus mengantarmu keluar sekarang." Direktur Katrina mengusirnya halus.
"maaf Direktur Katrina, aku Nyonya bos disini. Wewenang mu tak berlaku di atas ku. Tapi jika kau merasa terganggu, aku akan pergi sendiri, tidak perlu diantar."
Calantha berbalik, melangkah pergi.
Direktur Katrina menghela nafasnya.
"maaf Direktur Katrina, aku lepas kendali sesaat tadi." aku membungkuk.
"bukan salahmu Diana. Dia memang menyebalkan. Aku akan memikirkan bagaimana cara agar dia tidak lagi datang ke sini setiap hari." Direktur Katrina memijit pelipisnya.
aku duduk kembali ke kursiku. Melanjutkan pekerjaanku.
Jam istirahat pun akhirnya tiba.
Aku pergi ke bawah untuk menyeduh segelas kopi, menjernihkan pikiranku. Tanpa aku sadari, Calantha ternyata berada di belakangku.
"Diana" dia memanggilku, membuatku merinding.
Refleks aku segera bereaksi. Aku melempar gelas kopi itu padanya tanpa bisa aku kendalikan. Namanya juga terkejut.
"Ah! Panas!" Calantha menjerit.
Para karyawan berdatangan, mencari tau apa yang terjadi.
"maaf Diana, aku hanya ingin meminta maaf tadi. Tapi siapa sangka ini yang terjadi." Calantha meringis.
"kau membuat ku terkejut miss Calantha." aku membantunya berdiri.
"aku sungguh minta maaf. Tapi jika kau puas, maka baiklah. Aku tak akan mengulanginya lagi." Calantha tertunduk.
Tangannya yang putih berubah menjadi merah, dan luka.
"astaga Diana! Bagaimana kau bisa seperti ini pada miss Calantha! Dia hanya datang untuk minta maaf!"
"lihatlah tangannya! Ayo miss, aku akan mengobatimu."
"dan bajunya juga! Kau tak tau betapa mahalnya ini! Kau tak bisa menggantinya juga!"
"tidak apa apa. Ini semua salahku." Calantha terbatuk.
"diana bukan orang seperti itu!" Grace maju ke depan. "apa kalian tak mendengar tadi? Miss Calantha yang membuat Diana kaget! Diana juga tidak sengaja!"
percakapan semakin memuncak menjadi sengit. Adegan ini familiar sekali. Seperti dulu sewaktu Etta berlutut minta maaf padaku.
"Sudahlah. semuanya jangan bertengkar. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Aku menenangkan mereka.
"Grace, kau juga kembalilah bekerja." Grace mengangguk, segera menghilang dari pandanganku dan dari kumpulan orang orang ini.
"jangan menghindar Diana! Kau harus tanggung jawab!"
"sudahlah, biarkan saja. Aku akan mengobatinya sendiri. Kalian pergilah, atau kalian akan dimarahi lagi." Calantha memerintah mereka dengan lembut.
"tapi- huh, baiklah. Awas saja jika kau berani macam macam dengan Nyonya bos lagi Diana."
Semua orang pergi keluar dari ruangan itu, menyisakan aku seorang diri bersama Calantha. Aku menyilangkan tanganku di dada.
"kau berpura pura kan, Miss Calantha, Calon nyonya bos yang terhormat?" aku menyindirnya dengan suara pelan.
"aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, Diana. Jika aku salah, aku minta maaf." Calantha masih memasang wajah menyedihkan itu.
Aku mencibir.
"tak perlu berpura pura. Disini tak ada kamera pengawas sama sekali."
Calantha memandangku. Dia menegakan tubuhnya dan tersenyum licik. Matanya berkilat, memancarkan cahaya kebencian.
"lalu kenapa? Kau juga tak bisa berbuat apa apa kan?" Calantha menatapku, mengancam.
"aku puas melihat tanganmu yang terluka." aku tersenyum lebar. Memang itulah yang aku rasakan.
"jangan terlalu cepat merasa puas, Diana. Aku akan memastikan bahwa aku tak terluka dengan sia sia." Calantha melangkah pergi.
Cih, dasar ratu yang hanya pandai memasang wajah palsu. Aku kembali ke ruanganku.
"Miss Calantha, kenapa kau kembali begitu cepat hari ini?"
Calantha tersenyum. "Aku masih ada hal lain untuk dikerjakan. Selain itu, aku juga harus pergi ke rumah sakit."
"baiklah miss Calantha, semoga kau cepat sembuh"
Calantha pergi dengan anggun, menaiki Ferrari edisi terbatasnya. Dia melaju kencang menuju rumah sakit ternama di pusat kota.
'masih ada yang membela gadis itu. Aku juga harus menyingkirkannya. Grace. Aku sudah ingat namamu.'
Calantha tersenyum licik, membayangkan 1001 cara untuk menyakiti orang lain yang akan memuaskan matanya.
...----------------...
"Rylan, apa yang terjadi padamu akhir akhir ini? Kau tampak tidak baik baik saja."
Seorang wanita cantik berusia paruh baya menghampirinya. Mata cokelatnya memancarkan cahaya lembut yang menentramkan.
"aku.. Aku baik baik saja bu." Rylan menjawab pelan.
"apa karena masalah di keluarga besar akhir akhir ini?" Ayah Rylan angkat bicara, tampak khawatir juga dengan anak semata wayangnya.
"ya, ayah.. Itu juga termasuk."
"anak ku.. Kau sejak muda telah menanggung beban bisnis keluarga kita nak. Jika saja kakekmu tidak bersikeras ingin kau menjadi pewaris, mungkin sekarang kita bisa hidup tenang." Ibu Rylan meneteskan air matanya, mengkilas balik kehidupan sulit perebutan kekuasaan.
"tidak apa ibu. Aku tau, kakek melakukan ini juga demi kebaikan keluarga Axelion." Rylan memeluk ibunya, menenangkannya.
Itulah keluarga kecil Axelion.
Nyonya Axelion, Ivana Axelion, merupakan putri sulung dari keluarga axelion, memiliki 1 saudara perempuan dan 2 saudara laki laki. Sejak dia menikahi Marvin, dan mempunyai anak, Ayahnya secara langsung menunjuk Rylan sebagai pewaris.
Ini menimbulkan perang perebutan kekuasaan yang tiada ujung nya di keluarga axelion. Membuat semuanya menderita.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖