Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 34
Elsa menatap kagum ke arah halaman rumah milik ibu Ardana. Halamannya terasa begitu luas, dan posisinya pun sangat strategis karena berada tepat di pinggir jalan raya kecamatan.
"Elsa, ayo ikut," ajak Ardana sembari menuntun langkah dan membantu membawakan barang-barang bawaan wanita muda itu.
Elsa mengangguk patuh. Dia melangkah mengekor di belakang Ardana, berjalan melewati halaman hingga akhirnya mereka menapakkan kaki di teras depan rumah tersebut.
"Assalamualaikum," panggil Ardana dengan suara yang cukup lantang sembari mengetuk pintu kayu rumah ibunya beberapa kali.
"Waalaikumsalam," terdengar sahutan jawaban dari seorang wanita paruh baya dari arah dalam rumah.
Tak berselang lama, pintu depan pun terbuka, menampilkan sosok seorang wanita yang umurnya diperkirakan berkisar antara empat puluh delapan sampai empat puluh sembilan tahun. Wajahnya tampak teduh dan keibuan.
"Ardan, sudah pulang, Nak...?" tanya Ibu Ardan, menyambut kedatangan putra kandungnya dengan senyuman hangat.
Ardana mengangguk sopan pada sang ibu. "Bu, kenalin, ini Elsa... Elsa, kenalin, ini ibuku," ucap Ardana memperkenalkan mereka berdua secara bergantian.
Elsa mengangguk ramah, lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan hangat ibu Ardana dengan sopan.
Melihat kehadiran Elsa yang membawa banyak barang bawaan dengan raut wajah yang tampak lelah, senyum di wajah wanita paruh baya itu makin melebar penuh keramahan. "Kalau begitu, ayo masuk..." ajak ibu Ardan dengan nada suara yang begitu mempersilakan.
••••••••••••••••
Brak!
Gebrakan kencang di pintu depan seketika mengagetkan Elsa, Ardana, dan juga ibunya yang baru saja hendak Duduk d ruang tengah. Ibu Ardana mengelus dadanya kaget, lalu bergegas mendekati pintu kembali.
"Iya, sebentar...!" ucap wanita paruh baya itu setengah berteriak. Pintu kayu itu lantas dibukanya perlahan.
Klek.
"Loh, Juragan Tama...! Ada apa, Juragan?" tanya Ibu Ardana terkejut sekaligus segan.
"Mana Ardana...? Panggil dia! Anak Ibu sudah membawa istri saya," ucap Tama dengan nada suara yang teramat dingin dan menusuk.
Ibu Ardana menatap takut pada sosok raksasa Juragan Tama yang berdiri tegap di depannya. Ciri khas pria itu yang selalu memakai topi koboi di kepalanya memberikan aura intimidasi yang kuat, membuat siapapun di desa pasti akan menunduk hormat padanya.
"Apa...? Ardana membawa istri Juragan...?" ucap wanita tua itu kaget bukan main. Dia lantas menoleh cepat ke arah dalam rumah, menatap Ardana dan Elsa bergantian. "Ardana! Apa Neng Elsa ini istri Juragan?!" tanya ibunya dengan suara yang bergetar ketakutan.
Ardana tidak menjawab sepatah kata pun. Pria muda itu hanya mengencangkan rahangnya kuat-kuat menahan emosi. Sedangkan Elsa yang duduk di ruang tamu memandang heran ke arah pintu luar, di mana sosok sang Juragan Tama kini berdiri. 'Mau apa lagi Juragan ini... Bukannya tadi pagi dia sendiri yang sudah mengusir aku?' pikir Elsa bingung sekaligus jengkel.
Juragan Tama dengan cepat melangkahkan kakinya, menampakkan tubuh besarnya tepat di ambang pintu sehingga bisa melihat langsung ke arah dalam, tepat ke arah Elsa.
"Elsa, ayo kita pulang...!" ucap Tama dengan nada pelan.
Elsa yang baru tersadar dari lamunannya langsung melemparkan tatapan sinis ke arah Tama, lalu membuang mukanya ke sembarang arah, enggan menatap suaminya.
Melihat respons dingin itu, Tama mengembuskan napasnya perlahan, menyadari kalau istri mudanya masih didera amarah yang besar akibat kelakuannya tadi pagi.
"El... kalau memang kamu tidak mau ikut saya pulang, setidaknya ikut saya sebentar ke mobil. Saya mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Tama dengan nada memelas yang jarang dia tunjukkan pada siapapun.
Mendengar perubahan nada suara Tama, hati Elsa sedikit goyah. Dia menengok ke arah Ardana, dan pria muda itu tampak menggelengkan kepalanya pelan, mengisyaratkan Elsa agar jangan pergi. Namun, Elsa justru menampilkan senyuman tipis yang menenangkan pada Ardana. Setelahnya, wanita muda itu bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu, mengikuti langkah Tama berjalan keluar untuk masuk ke dalam mobil jip miliknya yang terparkir di pinggir jalan.
Begitu pintu mobil tertutup, suasana di dalam jip langsung diselimuti keheningan yang mencekam. Namun, Tama perlahan memecah keheningan tersebut dengan suara rendahnya.
"El... maafin saya. Saya seharusnya enggak mengusir kamu tadi," ucap Tama pelan.
Elsa tetap bergeming, menatap lurus ke luar jendela mobil. Tama lalu mengulurkan tangan besarnya, meraih jemari lentik Elsa, lalu mengecup punggung tangan itu dengan begitu lembut.
"Maaf ya... Tadi saya teramat khawatir sama anak yang ada dalam kandungan Andini," katanya lagi memberikan alasan. "Elsa... Eca...!"
Masih tetap tidak ada jawaban atau gerakan dari wanita di sebelahnya. Tama menatap lekat wajah cemberut Elsa yang tampak begitu menggemaskan di matanya.
"Sayang... Maaf ya," ucap Tama lembut.
Panggilan intim yang keluar dari bibir Tama itu sontak membuat Elsa menoleh seketika. Wanita itu benar-benar terkejut.
"Maafin aku," kata Tama lagi.
Elsa menatap sepasang mata Tama dalam-dalam. Pertahanan hatinya runtuh seketika. Matanya mulai berkaca-kaca, dan tak butuh waktu lama, tangisannya langsung lolos begitu saja.
"Hiks... hiks... Juragan jahat sama saya!" ucap Elsa dengan suara tersendat-sendat di tengah tangisnya.
"Iya, saya tahu saya salah," sesal Tama, langsung menarik tubuh mungil Elsa ke dalam pelukan hangatnya.
"Jahat...! Tadi pagi itu bukan salahku... Istri pertama Juragan yang mendorongku duluan! Lihat lututku... ini luka gara-gara dorongannya... Makanya aku langsung membalas dia!" ucap Elsa menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi dengan berapi-api.
Tama mengurai pelukannya sedikit, lalu menurunkan pandangannya melihat ke arah lutut Elsa yang tampak memar kepiruan, bahkan ada sedikit darah segar yang merembes keluar di sana. Pria itu mengusap lutut berdarah itu dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Maaf, Sayang. Aku enggak tahu kalau kamu terluka," ucap Tama teramat lembut, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam.
Elsa tidak menjawab lagi. Wanita muda itu justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar Tama, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. 'Entahlah, ini perasaan apa... Tapi sepertinya gue beneran udah jatuh cinta sama Juragan ini,' batin Elsa (Hana) berkata jujur pada perasaannya yang mulai melembut.
Tama perlahan melepaskan dekapannya. Tangan besarnya bergerak dengan lembut menarik tengkuk Elsa agar wajah mereka saling mendekat. Tanpa membuang waktu lagi, pria itu langsung menunduk dan memberikan ciuman lembut di bibir ranum Elsa.
"Eumm..." Sebuah dehaman rendah tanpa sadar keluar dari sela bibir Elsa yang terbuai.
"Maaf, Sayang..." ucap Tama berbisik lirih di depan wajah Elsa setelah tautan bibir mereka terlepas sejenak.
Elsa akhirnya mengangguk lemah, menerima permohonan maaf suaminya.
"Baiklah, sekarang kamu mau, kan, pulang sama saya?" tanya Tama penuh harap.
Elsa terdiam sejenak untuk menata napasnya. Dia lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku enggak mau pulang ke rumah Juragan lagi... kalau harus tinggal satu atap sama istri pertama Juragan," ucap Elsa pelan namun terdengar sangat mutlak.