Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dengan langkah penuh percaya diri, Andi berjalan naik ke atas panggung. Dia mulai memaparkan proyeknya. Semua orang yang ada disana kagum dengan rencana proyek yang ditawarkan oleh Anggara Grup.
"Aku ingat kalau jenis proyek inilah yang menjadi tranding di masa depan. Tak bisa dipungkiri, penampilan Kak Andi yang meyakinkan dan penuh percaya diri itu menambah nilai plus dari proyek tersebut," batin Aluna.
Gadis itu tersenyum puas melihat bagaimana cara Andi memaparkan rencana proyek perusahaan mereka.
Mendengar pujian dari Aluna, Andi tersenyum bangga. Entah kenapa hatinya ikut berbunga mendengar pujian dari Sang Adik.
"Tapi tetap saja dia nyebelin!" tambah Aluna sambil melirik Andi yang sedang turun dari atas panggung.
"Kakak kamu hebat. Aku yakin dengan penampilan Kakak barusan, Kakak akan memenangkan tender ini."
Chika tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Andi. Ia bahkan langsung memeluk lengan kakak pertamanya itu. Aluna memutar bola matanya.
"Benar-benar penjilat ulung. Tadi saja buru-buru kabur, takut Kak Andi tidak bisa memaparkan proyeknya dan mempermalukan perusahaan."
Aluna mendengkus. Gadis itu bersedekap sambil menatap jijik Chika.
Andi menyingkirkan tangan Chika dan berjalan mendekati Aluna dan Armand.
"Ide kamu hebat," puji Andi.
Aluna melihat ke arah kiri dan kanannya.
"Kakak memujiku?" tanya Aluna sambil menunjuk diri sendiri.
"Jangan terlalu pede! Kak Andi memuji Kak Armand!" potong Chika.
"Jangan dengarkan dia! Tentu saja aku memujimu. Idemu itu luar biasa bahkan kemampuanmu dalam menganalisa pasar dan memperkirakan jumlah pengeluaran cukup baik. Aku bangga sama kamu," puji Andi sambil menepuk bahu Aluna.
Chika syok mendengar pujian yang dilayangkan Andi untuk Aluna. Padahal sebelum berangkat tadi, kakaknya terlihat sangat membenci Aluna. Tapi, sekarang? Kakak pertamanya yang jarang sekali memuji itu kini memberikan pujiannya pada Aluna.
Aluna tersenyum. Hatinya kembali berbunga mendengar pujian dari kakak pertamanya itu.
"Ternyata begini ya rasanya dipuji kakak sendiri. Rasanya begitu menyenangkan," batin Aluna.
"Aku cuma menyumbang ide. Kalau bukan Kakak yang cerdas dan Kak Armand yang cekatan, meski ide itu bagus, pasti tidak akan terlihat sempurna," balas Aluna.
"Luna benar, Kak. Proyek itu sempurna karena kerjasama kita bertiga."
Armand ikut menimpali.
"Kenapa cuma bertiga? Terus aku?"
Chika ikut berbicara. Dia juga ingin dipuji oleh kakaknya. Biasanya meski tidak menyumbang apa pun, kakak pertamanya itu tetap akan memujinya karena menganggapnya Dewi Keberuntungan.
"Lho memang kamu menyumbang apa? Bukannya tadi kamu buru-buru kabur karena takut kita semua mendapat malu?" ketus Armand.
"Kak, aku tidak seperti itu. Tadi, aku beneran kebelet," ucap Chika memberikan alasan. "Kak Andi tidak berpikir aku begitu, kan?"
Chika menatap Andi dengan tatapan memelas.
"Kenapa dia nggak bosen ya selalu berakting begini? Aku yang ngelihat saja sampai enek pengen muntah." Aluna kembali membatin.
"Jangan-jangan sewaktu aku pergi ke toilet, Kak Luna mengatakan sesuatu tentangku yang membuat Kak Armand dan Kak Andi jadi salah paham, iya?" tanya Chika sengaja menuduh.
Aluna menghela napas panjang. Dia menatap Chika sebentar kemudian menatap kedua kakaknya bergantian. Dan tanpa mengatakan apa pun, dia memilih pergi dari sana.
"Luna, kamu mau kemana?" tanya Armand.
Kakak kedua Aluna itu buru-buru mengejarnya.
"Kak."
Chika menahan tangan Andi yang hendak ikut mengejar Aluna.
Andi menghela napas panjang. Dia melirik Aluna yang ternyata mendekat ke arah meja prasmanan. Andi tersenyum ketika melihat adik perempuannya itu sedang mencicipi satu per satu menu yang tersedia di atas meja.
Andi kemudian menatap papper bag di tangan Chika. Tadi saat berangkat, Chika tidak membawa papper bag tersebut.
"Apa itu?" tanya Andi sambil menunjuk papper bag di tangan Chika.
Chika gelagapan.
"E... Ini... ini.... "
Andi ingat kalau Aluna sempat mengatakan soal hadiah tas untuk Chika dari Bagas karena sudah membocorkan kata sandi dari brankasnya.
"Coba berikan sini, biar Kakak lihat apa itu!" Andi meminta Chika menyerahkan papper bag di tangannya.
"Gawat, kalau Kak Andi tahu papper bag ini berisi tas mahal limited edition yang jumlahnya hanya beberapa buah saja, dia pasti akan mempertanyakan asalnya. Seharurnya tas itu sudah aku simpan dari semalam, jadi nggak membuat masalah sekarang," batin Chika.
Iya, semalam Chika sengaja menitipkan tas itu pada anak buah Bagas karena takut ketahuan jika langsung dibawa pulang. Tadinya, Chika akan mengambil tas itu nanti setelah selesai acara. Tapi, karena takut Bagas berubah pikiran dan akan menipunya, akhirnya dia meminta Bagas mengantarkan tas itu sekarang. Namun, siapa sangka kalau dia akan terjebak pada situasi saat ini.
"Chika, aku tanya apa itu?" ulang Andi.
"Kak–"
Karena penasaran dengan isinya, Andi langsung merampas papper bag tersebut dari tangan Chika.
"Kak, itu hanya pakaian ganti dari rumah. Tadi, bajuku kena air waktu di toilet. Jadi, aku meminta sopir mengantar baju ganti untukku," ucap Chika.
Dia masih mempertahankan papper bag ditangannya.
"Kenapa kamu tidak langsung mengganti pakaianmu kalau memang pakaianmu basah?" tanya Andi lagi.
Andi mengamati pakaian yang Chika kenakan. Memang ada sedikit dari ujung gaun tersebut yang basah.
"Aku ingin melihat Kakak presentasi. Jadi, aku buru-buru kesini," jawab Chika.
Chika bersyukur karena tadi sempat bertabrakan dengan seorang pelayan yang kebetulan sedang membawa air.
Andi masih menatap papper bag di tangannya yang satu ujungnya masih ditahan oleh Chika. Ada keraguan yang mulai datang di benaknya.
"Kalau Kakak tetap mau melihat isinya, silakan!" ucap Chika.
Dia melepaskan bagian papper bag yang sejak ditahannya.
Andi menatap Chika dan papper bag di tangannya bergantian.
"Jika isi papper bag ini adalah tas seperti yang Luna katakan, itu artinya semua kecurigaan Luna benar." Andi membatin.
Andi kembali menatap papper bag di tangannya.
"Buka saja, Kak!" ujar Chika.
Dia memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Padahal dia sudah ketakutan setengah mati.
Andi kembali menatap Chika setelah itu ia menatap papper bag di tangannya dan perlahan mulai membuka papper bag tersebut. Namun, tiba-tiba suara benda jatuh mengalihkan perhatiannya. Mata Andi membulat.
"Luna....."