NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Pertemuan dan Gelisah

Azam mencengkeram kuat setir mobilnya. Entah kenapa, pagi ini jalanan ibu kota begitu padat. Dengan cekatan, Azam langsung mengambil ponsel lalu menghubungi Aira melalui panggilan video.

"Assalamualaikum, Sayang," kata Azam saat melihat raut wajah Aira di layar ponselnya.

"Waalaikumussalam, Mas. Tumben menelepon, ada apa, Mas?" tanya Aira pelan.

Azam bisa melihat dengan jelas wajah pucat Aira. "Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Azam, mulai frustrasi ditambah lagi jalanan macet total karena ada kecelakaan lalu lintas.

Aira menggeleng pelan. Mata bulat itu berkaca-kaca, bibir pucatnya cemberut. "Aku lemas banget, Mas. Padahal aku enggak habis makan yang aneh-aneh," adu Aira manja.

Azam menatap lembut ke arah layar. "Tunggu bentar ya, Sayang. Sebentar lagi aku sampai rumah, kok. Oh ya, kamu mau aku beliin apa, hm?"

Aira langsung berbinar-binar saat mendengar tawaran Azam. "Mas, beliin aku cumi bakar asam manis ya di kafe tempat biasa kita nongkrong dulu. Oh ya, sama beliin aku rujak ya, burger, sama pizza. Jangan lama-lama ya!" seru Aira heboh.

Azam mengernyit bingung. "Pizza? Burger? Cumi bakar asam manis? Rujak?" ulang Azam heran.

Aira mengangguk antusias. "Oh ya, Mas, sama jus durian dan jus alpukat ya!" cengir Aira.

Azam mengiyakan semua kemauan Aira. "Iya, Sayang. Tunggu sebentar—" Belum sempat Azam menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Aira mematikan sambungan teleponnya.

"Hoeek ... Hoeek ..." Aira merasakan kepalanya begitu pening. Rasa mual yang semakin sering datang membuatnya kian lemas. "Bik Nia ...," lirih Aira dengan mata berkaca-kaca.

Di saat bersamaan, Bi Nia datang membawa air hangat dan sup ayam agar perut Aira membaik. "Astagfirullah, Nona!" Bi Nia bergegas meletakkan nampan kecil berisi semangkuk sup ayam hangat itu di atas meja.

"Bi, kepala Aira pusing," rengek Aira.

Bi Nia memeluk lembut tubuh majikannya itu. "Astagfirullah, Non ... Non Aira sakit? Bibi kompres ya pakai air hangat?" tawar Bi Nia, yang langsung dibalas gelengan oleh Aira.

Drrrrt ... Drrrrt ...

Tiba-tiba ponsel Aira berdering tanda ada panggilan masuk. Layarnya menampilkan nama: Kinan. Aira yang tahu siapa yang menghubungi langsung menerima panggilan video tersebut.

"Assalamualaikum, Aira," terdengar suara lembut namun tegas dari seberang telepon.

"Waalaikumussalam, Kinan," jawab Aira senang.

"Aku sudah sampai nih di Indonesia. Besok aku ke rumah kamu, ya?"

Aira mengangguk antusias. Kinan adalah sahabat Aira sejak masa SMA. Meskipun saat SMA Aira sudah dekat dengan Azam, ia juga memiliki Kinan yang sangat posesif dan selalu melindungi Aira dari godaan buaya darat.

"Iya, Kinan! Ih, akhirnya kamu pulang juga. Aku kangen tahu sama kamu," rengek Aira. Tiba-tiba saja air matanya luruh dan ia terisak menangis.

"Kamu kenapa nangis? Apa Azam menyakitimu?" tanya Kinan tidak terima.

"Enggak ... Azam enggak jahat, hiks hiks ... Azam sayang banget sama aku, hiks hiks ..." isak Aira.

Kinan mengernyit bingung. "Terus? Kenapa kamu tiba-tiba nangis?" tanya Kinan sabar.

Aira cemberut. "Kepalaku sakit, badanku panas, perutku enggak enak pengen muntah terus, hiks hiks ... Ditambah lagi aku kangen berat sama kamu, huaaaaa!"

Kinan menghela napas berat. Satu hal yang dia lupakan dari sikap sahabatnya itu; selain cerdas, baik, polos, baperan, dan bawel, ternyata Aira juga sangat kekanak-kanakan dan jago menangis.

"Ya sudah, iya, iya. Kamu kirim lokasi saja alamat rumah kalian. Besok pagi atau nanti malam aku ke sana. Kamu mau aku bawain apa, Aira?" kata Kinan selembut mungkin.

Seketika tangis Aira berhenti. "Serius? Yey!"

Bi Nia sampai mengelus dadanya, kaget melihat perubahan suasana hati Aira yang begitu cepat.

"Iya, Kinanku sayang, cantik, baik, emuaaah!" heboh Aira kegirangan. Kinan hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

"Mau aku bawain apa, hm?" tanya Kinan lagi.

"Bawain aku ayam bakar bumbu rujak ya, Kinan, ha-ha-ha," kata Aira sembari tertawa ringan.

Kinan mengernyit bingung sembari menatap wajah imut Aira dari layar ponselnya. "Ayam bakar bumbu rujak?" heran Kinan.

Aira mengangguk senang. "Iya, ayam bakar bumbu rujak ya. Nanti aku ganti kok uangnya. Aku ganti pakai sesuatu yang bikin kamu makin sayang sama aku deh, ha-ha-ha."

Kinan menggelengkan kepalanya. "Emang ada ya, Ra, ayam bakar bumbu rujak?" tanya Kinan pada akhirnya.

Aira menggeleng imut. "Enggak tahu, Kinan. Makanya aku minta beliin kamu, hehehe."

Kinan tersenyum hangat lalu mengangguk. "Ya sudah, besok aku bawain pesanan kamu."

"Makasih ya, Kinan."

"Iya, sama-sama, Aira. Ya sudah, aku matiin dulu ya. Mau istirahat nih, baru sampai rumah," pamit Kinan.

"Iya, Kinan cantik, selamat beristirahat ya, daaa!"

Kinan tersenyum sebelum mematikan sambungan teleponnya. "Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, Kinan. Sampai jumpa besok ya!"

Kinan memperlihatkan jempol tangannya pertanda iya. Setelah mematikan panggilan video dengan Aira, Kinan langsung keluar dari mobil dan memasuki rumahnya sendiri.

"Assalamualaikum, Mama," salam Kinan saat memasuki rumah. Tidak lama kemudian, seorang perempuan berhijab silver muncul.

"Waalaikumussalam, Sayang. Kamu sudah pulang, Nak?" kata perempuan berusia 40 tahun itu lembut. Kinan langsung mencium punggung tangan sang ibu.

"Iya, Ma. Baru aja Kinan sampai rumah. Kinan masuk kamar dulu ya, Ma," izin Kinan, yang langsung diiyakan oleh Tina, mama Kinan.

"Kamu mandi dulu gih, terus makan, baru istirahat ya biar enggak sakit," pesan Mama Tina.

"Iya, Ma, terima kasih ya. Papa di mana, Ma?" tanya Kinan saat tidak menemui sosok ayahnya.

"Oh, papamu baru saja berangkat. Ada rapat dengan perusahaan lain. Biasa, bosnya menyuruh papa kamu buat menggantikan karena si bos tiba-tiba harus pulang lantaran putrinya sakit," jelas Mama Tina.

Kinan mengangguk mengerti. "Oh, iya deh, Ma," kata Kinan lalu melangkah meninggalkan Mama Tina.

Entah kenapa Mama Tina merasa gelisah, padahal semuanya sedang baik-baik saja.

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!