Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5_Di hina didepan umum
Rani menarik napas panjang.
"Mas Arga!" panggilnya lantang. Wajahnya dipenuhi amarah yang selama ini ia pendam, sementara kedua matanya memerah menahan tangis.
Suara itu membuat Arga tersentak. Pria itu langsung menoleh. Matanya membelalak.
"Rani?" ucapnya kaget. Wajahnya langsung berubah tegang, sementara senyumnya perlahan menghilang.
Wanita yang berada di samping Arga ikut menoleh.
"Mas... itu siapa?" tanyanya heran. Keningnya berkerut, sementara tatapannya berpindah-pindah antara Arga dan Rani.
Rani melangkah mendekat. Air matanya masih membasahi pipi, tetapi sorot matanya kini dipenuhi keberanian.
"Aku istrimu." ucap Rani tegas. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tidak sedikit pun bergeser dari wajah Arga.
Suasana toko mendadak hening. Beberapa pelanggan mulai memperhatikan. Seorang pramuniaga saling berpandangan dengan rekannya.
Arga langsung panik.
"Ran... jangan bikin keributan di sini." ucapnya pelan. Wajahnya tampak gugup, sementara matanya melirik ke kanan dan kiri karena mulai menjadi pusat perhatian.
Rani tersenyum sinis.
"Keributan?" tanyanya lirih. Senyumnya penuh luka, sementara kedua matanya berkaca-kaca.
"Kamu membawa perempuan lain jalan-jalan, membelikannya lipstik, parfum, gaun mahal..." ucapnya terbata-bata. Tatapannya tidak lepas dari wajah Arga, napasnya memburu, sementara air mata mulai mengalir perlahan di pipinya.
"...lalu yang bikin keributan justru aku?" tanyanya dengan suara yang nyaris patah. Ia tertawa getir, menggeleng pelan penuh kekecewaan.
Nada suaranya semakin meninggi. Orang-orang mulai berhenti berbelanja. Beberapa mengeluarkan ponsel.
Wanita itu memandang Arga dengan bingung.
"Mas... benar dia istrimu?" tanyanya pelan. Wajahnya mulai pucat, sementara bibirnya bergetar.
Arga menghela napas kesal.
"Iya..." jawabnya singkat. Tatapannya berubah dingin ke arah Rani.
"Tapi urusan rumah tangga nggak usah dibawa ke sini." Arga dingin. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup rapat.
Rani tertawa pahit.
"Urusan rumah tangga?" ucapnya lirih. Bahunya bergetar menahan emosi.
"Kamu masih ingat kalau kita punya rumah tangga?" lanjutnya pelan. Tatapannya penuh luka, suaranya bergetar.
Arga mendecakkan lidah.
"Sudahlah, Rani." ucapnya ketus. Wajahnya mulai menunjukkan rasa malu yang berubah menjadi kemarahan.
"Tahu diri saja." lanjutnya sinis. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan, sementara sorot matanya dipenuhi penghinaan.
Rani menatapnya tajam.
"Tahu diri?" ulangnya perlahan. Sorot matanya semakin tajam.
Arga mendengus.
"Iya." jawabnya singkat. Nada suaranya terdengar angkuh, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Apa yang kamu harapkan?" tanyanya sinis. Ia menatap Rani dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan merendahkan.
"Kamu lihat dirimu." ucapnya dingin. Jarinya menunjuk tubuh Rani tanpa ragu, membuat suasana semakin mencekam.
"Kamu jelek." katanya tajam.
"Kamu gendut." lanjutnya mengejek.
"Berantakan. Nggak pernah merawat diri. Nggak menarik lagi." tutupnya tanpa ragu. Ia menghela napas kasar, seolah ucapan itu adalah pembenaran atas semua tindakannya.
Suasana toko langsung dipenuhi suara lirih para pengunjung.
Beberapa wanita menggeleng pelan. Seorang ibu bahkan terlihat menatap Arga dengan sinis.
Namun Arga terus berbicara.
"Aku capek pulang kerja lihat wajah kusut setiap hari." ucapnya kesal.
"Aku juga laki-laki. Aku butuh perempuan yang enak dipandang. Tidak seperti kamu." ucapnya pelan namun menusuk. Bibirnya menyeringai tipis, sementara suasana di sekitar mereka berubah semakin sunyi.
Kalimat demi kalimat menghantam hati Rani.
Air matanya kembali jatuh.
Namun kali ini... Ia tidak memilih diam. Rani melangkah semakin dekat.
"Jelek?" ucapnya pelan. Senyumnya tipis, tetapi penuh kepedihan.
"Iya." ucapnya lirih.
"Aku memang jelek sekarang." ucapnya getir. "Tapi tahu kenapa aku jadi seperti ini?" tanyanya dengan suara bergetar. Sorot matanya kembali menatap Arga lekat-lekat, menuntut jawaban yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
Arga terdiam.
Rani mengangkat amplop gaji yang masih berada di tangannya.
"Karena selama bertahun-tahun..." ucapnya lirih. Tangannya yang menggenggam amplop itu bergetar pelan, sementara napasnya terasa berat.
"...nafkah yang kamu kasih cuma dua puluh ribu rupiah sehari." lanjutnya tegas. Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini suaranya terdengar penuh keberanian dan kepedihan yang selama ini terpendam.
Seketika...Orang-orang mulai berbisik.
"Apa?" bisik salah seorang pengunjung. Matanya membelalak penuh keterkejutan.
"Dua puluh ribu?" sahut pengunjung lainnya. Wajahnya tampak sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Itu buat makan satu keluarga?" tanya seorang ibu dengan nada prihatin. Keningnya berkerut, sementara tatapannya beralih tajam ke arah Arga
Rani melanjutkan.
"Dua puluh ribu." ucapnya perlahan. Ia mengangguk kecil, senyumnya terasa begitu pahit.
"Buat makan. Buat kebutuhan rumah. Buat semuanya." katanya tegas. Suaranya meninggi untuk pertama kalinya, dipenuhi rasa kecewa yang menumpuk selama bertahun-tahun.
"Lalu kamu masih bertanya kenapa aku tidak merawat diri?" tanyanya getir. Suaranya mulai bergetar.
"Skincare?" ucapnya sambil tersenyum pahit. Ia menggeleng pelan, seolah mengingat begitu banyak penolakan yang pernah diterimanya.
"Kamu tidak pernah membelikannya." lanjutnya lirih. Air matanya kembali mengalir di kedua pipinya.
"Sabun wajah murah saja..." ucapnya dengan suara yang nyaris patah. Bibirnya bergetar hebat menahan sesak di dada. "...aku dimarahi." lanjutnya pelan.
"Lipstik?" tanyanya getir. "Lipstik harga sepuluh ribu rupiah saja..." ucapannya terpotong. "...aku tidak pernah kamu belikan."
Rani menunjuk kantong belanja di tangan Arga.
"Sekarang..." ucapnya perlahan. Jari telunjuknya mengarah ke kantong belanja itu dengan tangan yang gemetar.
"...kamu membeli lipstik mahal." lanjutnya kecewa.
"Parfum. Gaun untuk perempuan lain." ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bibirnya bergetar hebat, sementara air mata kembali jatuh tanpa bisa dihentikan.
Ia mengusap air matanya kasar.
"Jadi jangan pernah bilang aku jelek seolah semua ini salahku." ucapnya tegas. "Kamu sendiri yang membuatku tidak pernah punya kesempatan merawat diriku." tutupnya dengan suara bergetar. Ia menatap Arga lekat-lekat dengan tatapan kecewa.
Suasana semakin panas. Beberapa pengunjung mulai mengangguk setuju.
"Kasihan sekali istrinya." gumam salah seorang pengunjung sambil menggeleng prihatin.
"Parah banget suaminya." sahut pengunjung lain dengan nada geram.
"Berani-beraninya menghina istrinya sendiri." timpal seorang ibu dengan napas berat. Sorot matanya penuh kecaman, sementara bibirnya mengatup rapat menahan kesal.
Wajah Arga memerah.
"Diam kamu!" bentaknya keras. Matanya melotot penuh emosi, sementara kedua tangannya mengepal kuat.
Rani tidak bergeming.
"Tidak." jawabnya tegas. "Aku sudah terlalu lama diam." lanjutnya lirih namun mantap. Air matanya masih menggenang, tetapi sorot matanya kini dipenuhi tekad.
Arga melangkah cepat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
"Kamu mempermalukanku!" bentaknya lagi. Rahangnya mengeras, urat di lehernya mulai terlihat.
Rani balas menatap tanpa rasa takut.
"Yang mempermalukan dirimu bukan aku." ucapnya tenang. Wajahnya tetap tegar, sementara matanya tidak sedikit pun menghindari tatapan Arga.
"Tapi perbuatanmu sendiri." lanjutnya dingin.
Wanita muda yang bersama Arga mulai mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi.
"Mas..." ucapnya lirih. Napasnya mulai memburu.
"Aku... aku nggak tahu kalau Mas sudah punya istri." lanjutnya terbata-bata. Air matanya mulai berkaca-kaca, sementara bahunya tampak bergetar pelan.
Tatapan wanita itu perlahan berubah kecewa.
Ia memandang Rani yang menangis. Lalu menatap kantong belanja di tangannya.
"Mas bilang Mas duda." ucapnya lirih. Bibirnya bergetar hebat, sementara air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
Suasana mendadak semakin riuh.
"Astaga..." seru seorang pengunjung sambil menutup mulutnya.
"Dia bohong?" tanya pengunjung lain dengan nada tak percaya.
"Katanya duda?" timpal yang lain. Wajahnya dipenuhi rasa heran dan jijik, sementara bisik-bisik di sekitar mereka semakin ramai.
Arga langsung panik.
"Bukan begitu, Sayang..." ucapnya gugup. Wajahnya berubah pucat, sementara pandangannya gelisah mencari cara untuk membela diri.
Wanita itu menggeleng cepat.
"Jangan panggil aku sayang lagi!" bentaknya. Air matanya mulai mengalir.
"Kamu pembohong!" teriaknya lantang. Wajahnya memerah karena emosi, sementara tangannya yang gemetar langsung mengangkat kantong belanja tinggi-tinggi.
Brak!
Wanita itu melempar kantong belanja ke dada Arga hingga seluruh isinya berhamburan di lantai.
Lipstik, parfum, dan kotak kosmetik berserakan.
Semua orang tersentak. Arga buru-buru mencoba meraih tangan wanita itu.
"Sayang, dengarkan aku dulu!" ucapnya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Wanita itu langsung menepis tangan Arga.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya lantang.
Wajahnya dipenuhi rasa jijik.
"Ternyata kamu bukan laki-laki setia..." ucapnya lirih. "...kamu cuma laki-laki yang tega menghancurkan hati istrimu sendiri!"
Setelah berkata demikian, wanita itu berlari meninggalkan toko.
Arga berdiri mematung. Napasnya memburu. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Di sekelilingnya, puluhan pasang mata menatap dengan penuh cibiran. Namun tepat saat Arga hendak mengejar wanita itu...
Dua orang petugas keamanan pusat perbelanjaan datang menghampiri karena keributan yang semakin besar.
"Maaf, ada apa ini?" tanya salah seorang petugas dengan wajah serius. Tatapannya bergantian mengamati Arga, Rani, dan kerumunan yang semakin ramai.
Arga menelan ludah. Sementara Rani menghapus air matanya perlahan.
Ia tahu...Ini bukan akhir dari semuanya. Justru sejak detik itu, pertarungan rumah tangganya benar-benar baru saja dimulai.