Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: KEJADIAN DARURAT YANG MEMBUATNYA CEMAS
Keesokan paginya, suasana tenang di kantor pusat Grup Arka tiba-tiba pecah. Telepon darurat dari lokasi proyek berdering bertubi-tubi, suara panik terdengar di seberang sambungan: terjadi kelongsoran tanah di bagian belakang area pembangunan saat pekerja sedang menggali fondasi, dan ada beberapa orang yang terjebak di dalamnya.
Nadia seketika berdiri tegak, wajahnya pucat namun ia tetap berusaha mengendalikan diri. Namun saat mendengar nama Rian disebut-sebut sebagai orang yang sedang memeriksa lokasi kejadian tepat saat tanah longsor, lututnya serasa lemas seketika. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, rasa takut yang sudah lama ia kubur kembali meledak—bukan sebagai atasan, melainkan sebagai wanita yang pernah mencintai pria itu sepenuh jiwa.
"Siapkan tim medis dan alat berat secepatnya!" perintahnya tegas meski tangannya bergetar hebat. "Aku akan ke sana sekarang juga!"
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, pikiran Nadia kacau balau. Bayangan masa lalu kembali menghantui—bagaimana ia selalu menunggu Rian pulang dengan rasa khawatir, bagaimana ia takut kehilangan pria itu meski ia sering disakiti. Kini saat nyawa Rian terancam, semua rasa sakit dan kecewa itu seolah hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang luar biasa.
Sesampainya di lokasi, debu beterbangan, suara teriakan dan bunyi alat berat terdengar memekakkan telinga. Orang-orang sibuk mengevakuasi sambil berusaha menahan tanah agar tidak longsor lebih luas. Nadia melompat turun dari mobil tanpa peduli pakaiannya kotor terkena debu dan tanah.
"Di mana dia? Di mana Rian?" tanyanya pada pengawas proyek yang datang menghampiri dengan wajah penuh ketakutan.
"Belum ketemu, Ibu. Saat kejadian dia sedang menolong dua pekerja yang terpeleset sebelum tanah turun. Sepertinya dia tertimbun bersama mereka..."
Kalimat itu seolah menghantam bumi di bawah kaki Nadia. Ia hampir terjatuh jika tak segera ditahan oleh Pak Haris. Air mata yang selama ini ia tahan kini tumpah tanpa bisa dicegah. Ia tak peduli lagi siapa yang melihatnya, tak peduli pada jabatannya atau pada dendam masa lalunya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak siap kehilangan Rian selamanya, belum saatnya—terutama saat mereka baru saja mulai berdamai dengan keadaan.
"Sekali lagi, carilah dia!" teriaknya parau, suaranya bergetar namun penuh kekuatan. "Jangan hentikan pencarian sampai kau temukan dia!"
Rian yang sebenarnya sempat terlempar ke sisi yang lebih aman namun terpukul keras hingga tak sadarkan diri, akhirnya ditemukan hampir satu jam kemudian. Saat melihat sosok yang dibawa keluar dengan wajah penuh lumpur dan luka di kening, Nadia berlari menghampirinya tanpa ragu sedikitpun. Ia memegang tangan Rian yang masih terasa hangat, memanggil-manggil namanya berulang kali seolah doa saja tak cukup kuat memanggilnya kembali.
"Rian... bangunlah... kau belum boleh pergi..." isaknya pelan, tak lagi peduli pada siapa pun yang melihat ketulusan perasaannya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Rian membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur namun ia bisa melihat sosok wanita yang sedang menangis di sampingnya. Di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh, ia tersenyum tipis—bahagia karena yang pertama kali ia lihat saat sadar adalah wajah Nadia.
"Jangan... menangis..." suaranya serak. "Aku... janji... akan menjagamu..."
Melihat Rian masih sadar dan bisa bicara, rasa lega yang luar biasa menyelimuti hati Nadia, namun digantikan oleh rasa takut yang baru saja ia rasakan. Kejadian darurat itu membuka mata mereka berdua: bahwa di antara segala ambisi, kesalahan, dan kebencian, ikatan yang pernah terjalin di antara mereka belum sepenuhnya putus. Dan rasa cemas yang melanda Nadia saat itu adalah bukti nyata bahwa perasaan itu belum mati—hanya tertutup luka yang dalam.
(Lanjut ke Bab 20?)