Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tesis
"Aku beneran nggak pernah melakukan apapun yang mungkin bisa menjadi penyebab aku tertular virus itu." Aku memberanikan diri bersuara memotong semua debat alot antara kak Ivan dan om hendry. Suara ku yang cukup lirih ternyata bisa mengalihkan ketegangan diantara mereka. Sekarang mereka menatapku lekat.
Kupaksakan tubuhku untuk bangkit dan duduk bersandar di kepala bed ini.
"Jangan kasih tau Ferdy dulu om, nanti Adit yang mau ngomong sendiri. Ferdy bersih, dia baik-baik aja, dia nggak mungkin menyimpan virus juga dalam tubuhnya." Masih dengan suara ku yang begitu lirih, aku melanjutkan. Dua pria remaja yang akan menginjak dewasa didepan ku ini mulai mendekatiku setelah menghela nafas cukup berat.
"Ferdy akan om kasih tau, dan Ferdy akan om minta untuk ada di dekat kamu juga. Konsumsi obat anti retroviral, akan sangat butuh banyak dukungan Dit. Semoga kamu nggak akan menyerah seperti kasus-kasus pasien lainnya dengan penderitaan yang sama." Om Hendry menyugar rambutku lembut. Aku tahu ada kilat keraguan di matanya, mungkin dia masih meragukan alasan aku terinfeksi virus ini meskipun kekhawatiran juga terlihat jelas di sana.
"Jangan sekarang dan jangan besok. Ferdy harus fokus pada acara nya dulu om. Aku janji, lusa setelah acara pensi berakhir aku akan langsung ngasih tau Ferdy." Aku meyakinkan nya kembali. Ya, sahabatku itu harus mensukseskan acara terakhir nya ini.
"Baik, om tunggu hari itu."
Kami kembali terdiam, aku agak segan untuk rebahan kembali. Ku lihat kak Ivan mulai merebahkan dirinya di sampingku. Ada kernyitan di dahi nya. Tangan kirinya masih setia menutupi perut bagian kanan nya. Meski tak ada penekanan dari telapak tangannya itu, tapi sepertinya ada rasa sakit disana.
Apa dia sakit lagi?
Bukan nya sudah di operasi dan harusnya akan baik-baik saja?
"Kak... Sakit lagi?" Aku mencoba bertanya masih dengan suara ku yang belum bisa terdengar normal.
"Bekas kemaren bengkak, mungkin kakak kurang steril bersihin nya. Udah, kamu istirahat lagi aja." Mata nya mulai terpejam. Aku tahu ada rasa sakit yang di tahan nya. Semoga dia baik-baik saja.
"Adit,,, ada yang kamu rasakan? Sakit mungkin atau mual atau pusing?" Kali ini om Hendry menarik kursi kecil dan duduk tepat di sebelah kananku. Tangannya sibuk memeriksa nadi di tangan kananku dan beberapa kali stetoskop yang tergantung di lehernya pun ikut dia gerakkan menekan beberapa titik di dadaku.
"Ada mual om, sedikit. Lemes dan kadang tiba-tiba kaya vertigo gitu. Tapi nggak lama, paling hitungan detik. Setelah aku pejamin mata dan membuka nya lagi sudah normal lagi." Aku bicara apa ada nya sesuai yang kurasakan saat ini. Ya, beberapa kali memang semua objek yang kulihat serasa berputar bahkan aku pun merasa bed tempat tidurku ikut berputar. Beruntungnya semua itu tidak berlangsung lama hanya hitungan detik sepertinya, meski berkali-kali.
"Jantung kamu Dit, lemah banget. Kamu tau minum obat nya jenis atau merk apa?" Om Hendry terlihat cukup khawatir setelah mengangkat stetoskop nya dari dadaku.
Aku hanya menggeleng tidak tahu, memang hanya kak Ivan yang tau. Dan aku yakin, mama atau pun papa tidak peduli merk atau jenis obat yang di ujikan padaku. Meski seharusnya ini menjadi perhatian dan tanggung jawab mereka selaku pemilik rumah sakit terlebih mereka adalah orang tua kandungku sendiri.
"Si Ivan udah tidur lagi. Om nggak bisa sembarangan ngasih obat pereda jika belum tau apa yang kamu minum sebelumnya. Obat anti retroviral termasuk obat keras yang efeknya memang kadang terlalu ekstrem. Kalau kemaren minum juga? Reaksi nya bagaimna?" Om Hendry kembali bertanya padaku.
"Iya om, tapi beda obat. Kemaren aku mual muntah pusing aja si om." Aku mengangguk dan berusaha menjelaskan se detail mungkin.
"Beda?!" Keterkejutan yang sangat terlihat, ku dapati di wajah om Hendry yang tiba-tiba memucat.
"I-iya om, aku lagi nyari obat paling minim efek." Sedikit takut, Aku berusaha menjelaskan. Entah benar atau tidak aku mengatakan ini, tapi aku tidak punya alasan lain yang mungkin lebih baik.
"Astaghfirullah... Ivan juga oke-in?!" Dengan wajahnya yang tiba-tiba menegang, om Hendry beralih ke sisi bed yang lainnya mendekati kak Ivan yang sepertinya telah pulas.
"Van!" Sentakan dengan suara keras itu memberikan efek kejutan untuk kak Ivan. Dia membuka matanya masih dengan kernyitan yang menghiasi keningnya.
Sshhhh...
Rintihan kecil lolos dari mulutnya.
"Kenapa hen?" Masih dengan posisi terbaring nya kak Ivan menatap lekat sahabatnya itu.
"Gue butuh penjelasan Lo. Obat apa yang Lo kasih ke Adit. Jantung dia Van, jantung nya mulai melemah." Kak Ivan terlihat kaget mendengarnya.
"Dit, ada yang kamu rasain? Sesek atau sakit dada gitu?" Kali ini kak Ivan memutar kepala nya menatap ku lekat.
"Nggak kak." Aku menggeleng pelan menanggapinya.
"Tidur aja Dit, fokus beneran tidur nggak sekedar merem aja." Kembali instruksi dari kak Ivan membuatku lega. Aku mengangguk segera. Aku memang merasa lemas sekali, ingin segera merebahkan diri.
Entah hal serius apa yang membuat kedua dokter di sampingku terlihat khawatir. Yang kubutuhkan sekarang hanya tidur, untuk mengumpulkan tenaga yang sepertinya terlalu banyak terkuras saat aku collaps tadi.
"Kita bahas nanti, biarin dia tidur dulu. Lo bantuin gue bangun, kita kedepan." Suara yang lebih terdengar seperti bisikan menghampiri telingaku. Aku tidak ingin kepo seperti tadi. Sudahlah, biarkan hal serius ini menjadi pembahasan mereka berdua saja. Aku hanya cukup memberitahukan apa yang kurasakan nanti.
***
Di sudut lain ruang dalam apartemen milik Ivan, Hendry yang tadi sempat memapah tubuh sahabatnya terlihat tidak sabar mendengar semua penjelasan dari Ivan.
Mereka tengah terduduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu apartemen ini.
"Oke, Lo bisa jelasin sekarang?" Hendry sudah cukup menyimpan rasa penasaran nya sejak tadi. Dia tahu sahabat nya ini masih dalam mode pemulihan, tidak seharusnya dia memaksa untuk menjelaskan apa pun. Tapi dia sangat tahu bagaimana obat anti retroviral bekerja dalam tubuh seseorang yang telah terinfeksi HIV. Bukan kah akan sangat kejam jika kita sebagai seorang dokter tidak memastikan pemakaian satu obat yang terbaik, bahkan malah meminta pasien mencoba beberapa obat?! Yang pastinya akan sangat beresiko terhadap tubuh pasien itu?!
"Gue bingung mulai dari mana." Ada tersirat penyesalan di wajahnya.
"Gue siap denger bahkan dari akhir sekalipun." Hendry menatap lekat wajah sahabatnya yang mulai kehilangan rona merah disana. Wajah pucat itu semakin menunduk. Hendry bisa memahami penyesalan yang sekarang Ivan rasakan.
"Gue diminta melakukan ini." Ivan memulai ceritanya. Hendry tidak menanggapi sama sekali. Dia tahu, lebih baik diam dan mendengarkan dengan seksama apa pun yang keluar dari mulut Ivan nantinya.
"Rumah sakit Mahardika, tempat gue praktek. Rumah sakit itu milik ayah Adit. Gue nggak pernah tahu apa alasan yang sebenarnya, tapi gue merasa orangtua Adit menyimpan sesuatu tentang keluarga gue. Lo tahu sendiri, dengan nilai gue kemaren, gue bisa dapetin rumah sakit cukup ternama sebenernya. Tapi, gue milih di Mahardika, karena orang tua Adit langsung datang kesini langsung meminta gue mengurus semuanya. Mengurus Rumah sakit yang baru berdiri dan bahkan mungkin saja tidak semua orang kenal. Mereka datang dengan membawa surat pelunasan hutang-hutang almarhum orangtua gue di bank. Mereka datang dengan membawa surat kuasa penuh perusahaan yang ditinggalkan almarhum orang tua gue yang sudah diambil bank, atas nama gue. Gue bisa punya perusahaan tanpa gue bersusah payah hen. Mereka datang dengan itu semua, dan mereka meminta gue untuk mengurus rumah sakit yang baru mereka dirikan. Gue nggak tahu apa alasan mereka, tapi gue ngerasa nggak bisa menolak saat itu. Bahkan bisa dibilang gue kayak kejatuhan durian runtuh." Ivan menjeda cerita nya dan menghela nafas sejenak, Hendry yang dari tadi menyimak hanya bisa menyodorkan air mineral untuknya. Hendry tahu, belum saat nya dia berkomentar apapun.
Ivan hanya mengulurkan tangannya mengambil botol air mineral yang disodorkan Hendry tanpa berniat meminumnya.
"Dan hari itu, Adit kecelakaan. Gue langsung yang nanganin dia, meski akhirnya harus gue alihkan ke tim yang lain. Tapi bisa dibilang gue lah penanggung jawabnya. Gue menyadari nya, dia telah terinfeksi HIV setelah gue tes darah dan antibodi nya. Dan gue sangat tau om Dhika maupun Tante Mey akan sangat tidak bisa menerima kenyataan ini. Mereka yang selalu menjadi sorotan, mereka yang selalu menjadi pahlawan dan dikenal kebaikan nya di mana-mana. Mereka yang bahkan selalu menjadi yang terdepan untuk segala bentuk kegiatan kemanusiaan. Ternyata mereka nggak bisa menerima anak semata wayang mereka sendiri harus mempunyai aib sebesar ini." Ivan meneguk air mineral di tangannya, pandangan matanya masih tertuju pada langit-langit apartemen diatas kepalanya.
"Adit hampir saja akan diabaikan, akan dihilangkan keberadaan nya. Dan gue yang belain dia, gue yang bersikeras mempertahan kannya. Tanpa dia tahu, orang tua nya sudah merencanakan untuk membiarkan nya melanjutkan studi di luar negeri tanpa dibantu pengobatan apapun. Mereka akan pura-pura tidak tahu dan mereka tinggal menunggu kabar meninggalnya. Miris kan?! Gue langsung menawarkan diri mengambil alih tanggung jawab untuk diri nya, memberikan pengobatan terbaik bagi dirinya. Gue berjanji akan merahasiakan apapun tentang Adit dari orang lain, dan kalau Adit nggak bisa bertahan gue yang akan mengarang cerita seepik mungkin agar nama mereka tetap baik di mata orang lain. Tapi sialnya, Tante Mey mengetahui tesis yang gue garap sekarang." Ivan menjeda cukup lama, sepertinya ada beban berat yang sulit dia ungkapkan.
"Tesis Lo, tentang efek samping obat anti retroviral itu? Judul itu jadi bisa naik?!" Hendry mencoba mengambil alih pembicaraan. Mungkin sudah saat nya dia mengorek lebih jauh.
Ada anggukan kecil dari sahabatnya itu.
Hah!!
Sedikit terbelalak Hendry menanggapi anggukan dari Ivan, memang judul yang cukup anti mainstream tapi bukan kah sangat keluar dari jalur sumpah seorang dokter kalau benar dia melakukannya?!
"Van, apa maksud Lo... Adit sedang jadi bahan uji coba Lo buat tesis ini?!" Hendry bertanya memastikan. Dia berharap sahabatnya ini akan menggeleng, tapi lagi-lagi anggukan kecil yang di dapatkannya.
"Astaghfirullah,,, Van! Lo tega banget." Hendry menggelengkan kepala nya tidak bisa mempercayai ini.
"Gue udah mau berhenti, tapi anak itu minta lanjut." Setengah berteriak Ivan mencoba membela diri nya.
Kali ini keduanya sama-sama diam, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
semangatt juga kak 💪