"Jangan paksa Humaira Mi... Aku itu Humaira, Humaira bukan Kak Asyifa yang bisa tahan menutup diri pakai jilbab."
Seluruh keluarganya selalu memaksanya menjadi seperti kakaknya yang muslimah namun Humaira merasa belum siap dan sikapnya tidak pantas untuk di jilbapin.
Dunia Humaira yang damai berubah 180 derajat setelah bertemu Bang Ashraf, lelaki yang membuat semua orang salah paham terhadapnya hingga mengikat keduanya di ikatan pernikahan.
Akankah Humaira menemukan cintanya dan bisa bahagia????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tembak
Di kampus.
Humaira kali ini datang ke kampus sendiri karena teman-temannya tidak ada kelas tambahan, sementara dirinya mengambil jam tambahan yang berbeda dengan temannya.
Saat tengah memarkir motor di parkiran tiba-tiba dirinya di kejutkan oleh dosen Adnan yang menghadangnya tiba-tiba. "Astaga... Dos... Bisa kali gak ngagetin gitu..."Kata Humaira sedikit kesal.
"Sorry, tumben gak bareng yang lain??" Tanya Adnan.
"Iya nih yang lain beda jam... Lemes katanya bulan puasa ngapain pagi-pagi ke kampus..." Kata Humaira.
"Udah buru-buru gak masuknya??" Tanya Adnan pada Humaira.
"Belum sih masih ada setengah jam lagi... Kenapa Emang??" Tanya Humaira balik.
"Ke taman bentar yuk... Ada hal yang ingin aku bicarakan..."Kata Adnan.
Humaira pun mengangguk dan berjalan di belakang Adnan mengikutinya dari belakang, menuju taman tidak jauh dari tempat parkir motornya tadi.
Adnan dan Humaira duduk di kursi taman berjejer sembari melihat air mancur di depannya, hening di antara keduanya, Adnan yang ingin mengajak berbicara masih membisu dan belum mulai berbicara, nampak dirinya masih mengatur nafas.
"Ada apa sih Dos... Jangan-jangan mau ngasih tau nilai ujianku jeblok...?? Aku udah serius loh kemarin ngerjainnya..."Kata Humaira sedikit kesal menunggu Adnan bicara, duduk berdua kaya begini rasanya tidak nyaman saat mahasiswa lain melihatnya dari kejauhan.
"Aku dengar dari anak-anak, kemarin ketika di rumah Ashraf, kamu di minta jadi mantunya ya???"Tanya Adnan sembari memandang wajah Humaira serius.
"Iya... Tapi tu Bang Ashraf benar-benar aneh... Tiba-tiba ngaku-ngaku kalau aku ini calon istrinya... Parah... padahal baru juga berapa Minggu kenal..."Kata Humaira sedikit kesal saat mengingatnya.
Adnan diam, sesak rasanya di dada saat wanita yang sudah mencuri hatinya di sukai orang lain yang lebih muda darinya, juga lumayan kualitasnya.
"Kamu suka sama Ashraf...???" Tanya Adnan serius lagi.
" Hahaha ya endak lah... Baru juga kenal, aku mah belum mikirin ke sana... Hidup aku aja belum betul mau mbina rumah tangga mau jadi apa anak-anak aku..." Humaira tertawa pada dirinya sendiri atas pertanyaan dosennya.
Adnan tersenyum lega saat melihat Humaira jujur tentang perasaanya bahwa tidak menyukai Bang Ashraf, artinya dirinya masih ada kesempatan untuk mendekati Humaira.
"Kamu punya kriteria cowok gak sih???" Tanya Adnan lagi pada Humaira.
"Auuuu Ah... Kamu ngajak aku kesini cuma buat bahas ini... Tinggal sepuluh menit nih... Buruan hal penting apa lagi..."Kata Humaira sedikit kesal karena menurutnya obrolannya tidak penting.
"Humaira..."
"Aku..."
"Aku..."
Huufff
"Aku suka sama kamu..." Ucap Adnan pada akhirnya bisa mengucap apa yang mengganjal di hatinya sejak tadi.
"Aku ingin kamu menjadi pasanganku... Mendampingiku... Apakah kamu mau menikah denganku???" Adnan mengeluarkan kotak bludru merah di depan Humaira yang terbengong di tempatnya.
Hening. Semua orang membisu, Adnan masih di posisinya memegang kotak bludru yang berisi cincin itu, sementara Humaira masih terbengong di tempatnya, seperti berada di dalam tidurnya dan dia tengah bermimpi saja.
"Humaira..." Kata Adnan menyentuh tangan Humaira sehingga mengejutkan Humaira, yang langsung menarik tanganya.
"Dos.... Kamu lagi ngeprenk aku kan???" Humaira tidak percaya.
"Kamu lagi uji coba buat ngelamar Bu Yunita dosen pujaan setiap dosen atau kak Asyifa kan???" Humaira memandang serius wajah Adnan.
"Astaghfirullah... Humaira... Aku serius loh ini... Jantung aku aja udah dari tadi tidak bisa diem... Gara-gara kamu..." Adnan kesal lalu menaruh cincin di tangan Humaira.
"Hahahaha... Becanda mah kamu... Gak mungkin kamu suka sama aku, apa lagi sampai minta aku jadi istri.. Bisa rusak garis keturunan Bang Adnan nanti... Udah Ah... Nih cincinnya buat calon bidadari aja.. Kalau aku mah masih jauh dari itu..."Kata Humaira lalu berdiri, sejujurnya hatinya berdebar saat Adnan mengungkapkan perasaanya tapi Adnan itu Dosen yang di sukai Kakaknya jadi lebih baik dia menyisih dari hal seperti ini.
"Telat nih... Duluan ya..." Humaira berlari ke kelasnya, dengan hati yang tidak karuan, sementara Adnan duduk di tempat sambil memandang punggung pujaan hatinya yang lari jauh di depannya.
"Susah banget sih pegang kamu..." Adnan berdiri dengan wajah sendu sementara di sana ada dosen cantik yang tengah meneteskan air matanya, Laki-laki yang selalu Dia sebutkan dalam shalatnya jatuh hati pada adiknya sendiri.
Dan di belakang mereka ada Bang Ashraf yang menyaksikan semuanya dari awal hingga akhir, sakit saat Humaira mengatakan bahwa tidak ada perasaan pada dirinya, namun dirinya juga lega karena Humaira menolak Dosen Adnan itu artinya dirinya masih ada kesempatan meski sekecil apapun, Bang Ashraf tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Humaira.
****
dosen kok sumbu pendek..
menantu kocak...