NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Jenny tahu itu. Bahkan dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena sejak tadi cowok itu terang-terangan memperhatikan dirinya.

"Duduk aja. Ayo, Den," potong Kevin tegas.

Tanpa menunggu balasan lagi, Kevin menarik lengan Deni untuk pindah ke pot bunga di samping mereka yang sudah dipenuhi rombongan anak cowok.

Mata Mita memperhatikan dua cowok itu berjalan pindah.

"Makasih, Kevin!" kata Mita sedikit berseru ke arah Kevin.

Deni yang mendengar itu langsung menoleh cepat dengan wajah tidak terima. "Eh, kok makasih ke Kevin?" tanya Deni protes. "Kan aku yang kasih kamu tempat duduk!"

Mita menipiskan bibirnya, menahan tawa melihat respons Deni. "Ya... makasih, Den."

"Nah, gitu dong!" sahut Deni puas, wajahnya mendadak cerah dengan senyum senang setelah usahanya akhirnya diakui.

Alis Deni terangkat satu, bergerak mengode ke arah Kevin sambil melemparkan senyum tipisnya. Isyarat kecil itu menyimpan sebuah rahasia yang tersembunyi.

Ya, Deni sebenarnya naksir Mita. Meski di kelas ia selalu menjadi biang kejahilan yang paling sering membuat Mita kesal, itu semua hanyalah cara kikuk Deni untuk sekadar berinteraksi dan dekat dengan gadis itu.

Kevin tergelak pelan, merasa kelakuan Deni setidaknya berhasil membuat suasana yang tadinya kaku jadi jauh lebih santai. Namun, kekehannya tak bertahan lama. Bola matanya kini perlahan terarah pada cewek di samping Mita yang terus menatap lurus ke depan, seolah sengaja memblokir keberadaannya.

Jenny berdiri di sana, matanya sesekali berkedip sambil melirik ke kanan dan ke kiri, mencoba menyibukkan pandangan agar tidak terlihat canggung. Namun, pada satu momen singkat, tanpa sengaja matanya justru beradu tepat dengan mata Kevin yang sejak tadi memandanginya tanpa henti.

Garis tatapan mereka bertemu. Jenny mengerjap seketika. Karena Kevin tidak ada tanda-tanda melihat ke arah lain, dengan cepat Jenny memilih melakukan lebih dulu. Ia melihat ke arah lain. Menatap apa saja asal bukan cowok itu.

"Kevin ngeliatin kamu terus, ya?" bisik Mita tiba-tiba, menyikut pelan lengan Jenny dan membuat Jenny sedikit terkejut. Cewek ini tahu.

"Aku nggak tahu," jawab Jenny datar, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

"Iya, lho. Dari tadi itu," kata Mita polos, sekadar menyampaikan apa yang ia lihat karena memang paham dengan arah pandangan Kevin sejak tadi.

Saat Mita bicara soal Kevin sambil melirik ke arah kedua cowok itu, Deni yang berdiri di sebelah Kevin malah memergokinya dan menatap lurus ke arahnya.

Ih, apaan sih, Deni, batin Mita risih sekaligus sebal.

Kejengkelan Mita tentu bukan tanpa sebab. Rasanya wajar kalau ia selalu curiga dan kesal, mengingat betapa seringnya cowok itu menjahilinya di kelas. Setiap kali Deni memperhatikan seperti itu, di kepala Mita pasti langsung terbayang ulah jahil yang bakal dilakukan anak itu selanjutnya.

***

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan milik keluarga Jenny perlahan berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sopir rumah akhirnya tiba. Jenny langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah kaca mobil yang perlahan terbuka.

Kevin mengikuti kemana langkah jenny pergi.

"Pak, nunggu Mita dijemput ibunya dulu, ya?" pinta Jenny.

Sopir rumah itu mengangguk kaku. "Baik, Neng. Saya pindah cari tempat parkir dulu, ya?" balas sopir itu sopan sambil menunjuk area yang lebih luas.

"Iya, Pak."

Lalu perlahan sopir itu melajukan mobilnya mencari tempat parkir yang aman agar tidak mengganggu kendaraan orang tua murid lain yang lalu-lalang menjemput. Selain itu, area depan sekolah juga mulai dipadati angkot yang berhenti sembarangan demi berburu penumpang.

Setelah mobil rumah meluncur menjauh, Jenny membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat Mita berada.

Kevin juga ikut memperhatikan langkah cewek ini.

"Kok enggak pulang, Jen?" tanya Mita heran. Ia menatap bingung pada temannya yang malah kembali berdiri di sampingnya.

"Aku nungguin kamu pulang dulu," sahut Jenny pelan namun pasti.

"Ibuku enggak lama kok. Sebentar lagi juga datang," balas Mita lembut.

"Iya, biar aku nungguin kamu dijemput dulu," tegas Jenny, tak ingin mendapati bantahan.

Mita menatap Jenny sejenak, lalu garis bibirnya mengembang tipis. "Baiklah. Aku senang sih," kata Mita sambil tersenyum hangat, merasa tersentuh dengan kepedulian sahabatnya itu.

Din! Din!

Suara klakson nyaring dari sebuah sepeda motor mendadak memecah riuk halaman sekolah. Sontak, semua anak cowok dan orang-orang di sekitar sana menoleh ke arah sumber suara.

Itu ibu Mita.

"Ibuku datang!" kata Mita senang.

Tanpa membuang waktu, Mita langsung berdiri dari tempatnya dan melambaikan tangan tinggi-tinggi ke arah ibunya yang baru saja mematikan mesin motor. Ia lalu menoleh pada Jenny dengan binar bahagia.

"Aku pulang ya, Jen."

"Ya," sahut Jenny singkat.

"Pulang, Mit?" tanya Deni yang mendadak ikut berseru dari arah pot bunga, masih berusaha mencari perhatian.

"Huh," ujar Mita jutek. Sama sekali tidak berniat memperpanjang obrolan dengan cowok jahil itu.

Mita berbalik dan bergegas berlari-lari kecil menghampiri ibunya yang menepi di pinggir jalan. Setibanya di sana, Mita langsung menyalami dan mencium punggung tangan ibunya dengan penuh takzim. Senyum hangat terukir di wajah sang ibu. Tangannya terulur mengelus lembut puncak kepala Mita, lalu mengambilkan helm dari gantungan motor dan menyerahkannya pada putri kesayangannya itu.

Sementara itu, Jenny berdiri terpaku di tempatnya. Matanya tak lepas sedikit pun dari setiap jengkal interaksi manis antara ibu dan anak itu. Ada kehampaan dan rasa iri yang teramat dalam menyelinap di dadanya saat menyaksikan kehangatan yang tak bisa ia rasakan.

Kevin yang tadinya ikut memperhatikan kepulangan Mita, kini perlahan memutar arah pandangannya ke samping. Bola matanya tertuju lurus pada Jenny. Gadis itu masih berdiri kaku, tampak begitu terpaku memperhatikan Mita dari kejauhan.

Cowok ini mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Mita dan ibunya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyita seluruh perhatian Jenny sedemikian rupa. Menatap interaksi hangat antara ibu dan anak di atas motor itu, Kevin mendadak paham.

Sepertinya dia rindu pada mamanya.

Kevin bisa membaca keheningan dan tatapan lapar akan kasih sayang dari raut wajah Jenny. Semua orang tahu cewek ini kehilangan mamanya karena sakit.

Tak lama kemudian, motor yang dikendarai ibu Mita perlahan melaju. Setelah Mita melambaikan tangan terakhir kalinya pada Jenny, sosok mereka pun menghilang di balik belokan jalan sekolah.

Hhh...

Jenny menghela napas panjang dan berat, seolah baru saja melepaskan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tanpa menoleh pada siapa pun ia melangkah perlahan. Dengan kepala tertunduk, Jenny melangkah menuju ke arah mobilnya yang sudah menunggu.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!