Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Satu permintaan saja
“Siapa dia?” Tanya ibu Astrid seraya menatap kartu nama di tangannya.
“Teman satu kampus waktu kuliah dulu, sekarang sudah jadi pengusaha sukses dan ...” Daffa menggaruk kepalanya, ia belum selesai bicara tapi wanita di depannya barusan sudah berlari meninggalkannya.
“Yang mana orangnya?” Tanya ibu Astrid, menolehkan wajah ke kanan dan kiri mencari-cari sosok Hugo. “Saya mau bicara sama dia.”
“Dia sudah pergi,” sahut Daffa berlari menyusul ibu Astrid yang berdiri di pinggir jalan raya, ekor matanya masih bisa melihat mobil Hugo melaju di depan sana sebelum berbelok dan menghilang di ujung gang. “Ibu bisa telpon nomornya nanti,” imbuh Daffa lagi.
Ibu Astrid menoleh sekilas pada Daffa, lalu beralih menatap kartu nama Hugo di tangannya. “Saya telpon sekarang.”
Hingga panggilan ketiga, nomor yang dihubunginya tidak juga menjawab panggilannya. “Gak diangkat,” ucap ibu Astrid pelan sambil menatap Daffa, tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang tampak kecewa karena tidak berhasil menghubungi Hugo.
“Mungkin lagi sibuk nyetir, Bu. Coba Ibu kirim pesan saja, pasti nanti dibaca.” Sahut Daffa tersenyum menenangkan, yang langsung diangguki oleh ibu Astrid.
Rombongan di belakang mereka sudah selesai melihat-lihat dan mereka sepakat untuk bertemu lain hari membahas perihal kelanjutan masalah penghimpunan dana pembangunan kafe Dylan lagi.
Ibu Astrid memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Selama tiga hari ke depan ia akan berada di kota itu sambil terus berusaha mencari cara agar kafe Dylan miliknya bisa segera dibangun kembali.
“Ibu tahu kalian tulus membantu, tapi Ibu gak bisa menggunakannya.” Helaan napasnya terdengar berat, ibu Astrid lalu menyimpan kembali buku tabungan Ana juga ATM Kila yang berada di atas tempat tidurnya. “Pasti ada jalan keluar yang lain asal kita tetap berusaha.” Ibu Astrid meyakinkan dirinya sambil menatap kartu nama Hugo Denis di tangannya.
Teringat ucapan Daffa tadi, ia lalu mengetikkan pesan ke nomor Hugo sambil terus berdoa dalam hati agar pesannya dibaca dan segera mendapat balasan. Hanya berselang lima menit, pesannya langsung centang biru. Mata ibu Astrid melebar sempurna begitu membaca balasan pesan Hugo untuknya.
☆ ▪︎ ☆ ▪︎ ☆
Ana terkikik geli melihat Kila mengecup sayang mangkuk mug di tangannya lalu mendekapnya di dada. Ia kembali berbalik menghadap bak cuci piring, melanjutkan mencuci gelas mug yang masih tersisa.
“Aaakhirnya ... kumenemukanmu.” Kila bersenandung riang, mangkuk kesayangannya sudah berhasil ia temukan. Barang berharga miliknya yang ia buat sendiri di sebuah gerai pembuatan tembikar saat berkunjung ke sana bersama Ana. Ada ukiran namanya di sana, juga lukisan gambar dirinya dan Ana. Pertama kali belajar membuat tembikar dari tanah liat, bangga dengan lukisan buatannya meski hasilnya lebih mirip dengan gambar kartun Sinchan.
Ana mengelap tangannya yang basah, di saat yang sama ponselnya berdering. Ia abaikan Kila yang terus bernyanyi, memilih duduk di kursi makan lalu memeriksa telepon masuk. Dahinya mengernyit begitu melihat nomor tak dikenal, ragu sejenak hingga tak segera menjawab. Baru pada panggilan ketiga, Ana mengangkatnya.
“Dengan saudari Ana? Saya Sony dari kantor pengacara Mayapada. Saya harus menyampaikan hal ini pada Anda selaku salah satu penerima warisan. Pembacaan surat wasiat tuan Fitra tidak akan dilaksanakan jika salah satu dari kalian berdua tidak hadir secara bersamaan. Jadi Saya mohon kerja samanya dari pihak Anda, Nona.”
“Oh, maaf.” Ana menepuk keningnya, tersadar kalau ia sudah melupakan janjinya untuk bertemu sang pengacara di kantornya. Ia menyampaikan alasannya tak hadir saat itu, dan bersedia datang lagi ke sana sesuai waktu yang telah disepakati oleh mereka dan Hugo.
“Baiklah. Saya akan hadir di kantor Anda hari Kamis besok.” Ana memastikan sebelum menutup teleponnya. Hari Kamis, itu artinya lusa ia harus kembali ke rumah besar itu dan bertemu Hugo lagi. Ana mencatat baik-baik dalam ingatannya dan tak lupa membuat coretan dalam buku jurnalnya.
Kila rupanya sudah berhenti bernyanyi sejak tadi, ia berdiri mengawasi Ana yang tampak serius membuat coretan di kalender yang tergantung di dinding rumahnya.
“Ada apa?” tanya Kila heran, saat Ana menghela bahunya dan mengajaknya duduk di sofa.
“Lusa Aku harus pergi lagi. Dan Aku tidak tahu kapan akan kembali.”
“Pergi ke mana?”
“Ke rumah besar itu lagi,” sahut Ana sembari memegang tangan Kila.
Kila terbelalak, ia balas menggenggam tangan Ana. “Apa Kau akan rujuk dengannya?”
“Kau tahu jawabannya, lelaki itu tak pernah menginginkan Aku. Jadi buang jauh-jauh pikiranmu itu,” sahut Ana muram. “Ada urusan lain yang lebih mendesak yang harus aku lakukan saat ini, mungkin saja bisa membantu bos mengatasi masalahnya.”
“Kau tidak ingin mengatakannya padaku?” pancing Kila, sayang Ana hanya tersenyum sebagai jawabannya.
“Nanti saja, saat semua urusan beres. Aku pasti akan menceritakannya padamu.”
“Baiklah, Ana sayang. Aku mengerti. Lusa, Kamis ...” Kila mengangguk setengah bergumam sambil menepuk-nepuk tangan Ana. “Masih ada waktu sehari sebelum Kau kembali ke rumah itu lagi. Bagaimana kalau hari ini kita bersenang-senang?” Kila mengerjap-ngerjapkan matanya, membuat Ana tergelak melihatnya.
“Oke!” Ana mengangguk setuju.
Sore hingga malam hari itu mereka bersenang-senang, jalan-jalan keliling kota dengan motor Kila. Nonton film romansa dan berakhir makan lesehan di kedai pinggir pantai, menikmati suasana malam sambil menatap bintang di langit.
“Dari semua pria di dunia ini, kenapa hanya dia seorang yang Kau pilih?” Kila menggerak-gerakkan tangannya ke langit membentuk rasi bintang dengan sebelah mata memicing.
Mereka berdua tengah rebahan di atas gelaran tikar di rumput tepi pantai. Sejenak Ana menarik napas dalam-dalam, merasakan angin sejuk mengisi ruang di dadanya.
“Kau percaya pada ungkapan yang mengatakan cinta pada pandangan pertama?” pandangan Ana menerawang menatap langit malam. “Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya, saat usiaku masih remaja. Aku melupakan statusnya yang seorang duda, dan berharap suatu saat bisa hidup bersamanya.”
“Kesempatan itu datang, meski diawali dengan sebuah kebohongan. Kami menikah, tapi hanya bertahan sebentar saja. Dia membenciku, mengira Aku telah menjebaknya, hingga Aku tak sanggup lagi bertahan dan pergi setelah menandatangani gugatan cerai darinya.”
“Apa Kau masih mencintainya?” tanya Kila, ia bangkit dan duduk sila menatap Ana yang masih berbaring di sampingnya.
“Aku ingin sekali melupakannya, tapi tak bisa. Semakin terkenang, semakin sulit dilupakan.”
Ana mengesah pelan. Sampai detik ini pun Ana sering bermimpi tentang Hugo. Tidak mudah baginya mengenyahkan impiannya tentang pria itu yang sudah sekian lama bercokol di hatinya, apalagi sekarang mereka dipertemukan kembali oleh peristiwa kematian papa Fitra.
☆ ▪︎ ☆ ▪︎ ☆
Keesokan harinya tepat jam sepuluh pagi, Hugo tiba di kafe Sandy di mana ibu Astrid sudah duduk menunggunya. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangannya. Hugo mengulurkan tangan dan dibalas dengan jabat erat tangan ibu Astrid.
Setelah saling mengenalkan diri, Hugo langsung bicara ke inti pertemuan. Ia ingin membantu ibu Astrid membangun kafe miliknya yang terbakar, tentunya dengan beberapa syarat.
Ibu Astrid menyanggupi, karena sesuatu yang lumrah setiap kali melakukan negosiasi terkait masalah bantuan dana dari pihak luar. Ia merasa bersyukur karena Hugo siap menggelontorkan dana dalam jumlah besar hingga pembangunan kafe Dylan rampung sampai akhir dan tidak mempermasalahkan tenggang waktu pembayaran.
Hanya satu yang membuat ibu Astrid bingung, dan itu terlontar begitu saja dari mulutnya tanpa ia mampu mencegahnya. “Kenapa harus Ana? Saya punya banyak karyawan wanita yang mungkin lebih kompeten dan berpengalaman soal pekerjaan rumah tangga ketimbang Ana. Kenapa Tuan justru memilih Ana? Apa Tuan mengenal Ana?"
Tapi Hugo bergeming, ia mengangkat tangan sebagai isyarat agar ibu Astrid berhenti bertanya padanya. Hugo mengeluarkan selembar cek dan memberikannya pada ibu Astrid. Wanita itu menahan napas melihat jumlah nominal di sana.
“Mulai besok, Saya ingin Ana bekerja di rumah Saya. Itu saja permintaan Saya pada Anda,” tegas Hugo. Ia berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan, sebelum berlalu dari hadapan ibu Astrid yang termangu menatap kepergiannya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹