Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Hari-hari berlalu, dan rasanya setiap detik yang kuhabiskan bersama Arjun selalu saja terasa indah dan berkesan. Dia bukan sekadar kekasih, tapi dia adalah dunia baru yang penuh warna dan keindahan yang perlahan dia ajarkan padaku.
Sejak hari itu di taman, di mana dia memberiku kain saree indah berwarna emas dan merah delima itu, rasa cintaku padanya rasanya tumbuh berkali-kali lipat. Aku merasa begitu istimewa, begitu dicintai, dan begitu aman.
Pagi itu, saat aku sampai di tempat kerja, aku sudah melihat sosok Arjun berdiri di depan pintu kafe dengan senyum terindahnya. Tangannya tidak kosong seperti biasa, kali ini dia membawa sebuah kotak kecil berwarna cokelat tua yang diikat dengan pita sutra berwarna emas. Matanya berbinar cerah, seolah menyimpan kejutan besar di balik kotak itu.
"Pagi, wanita tercantikku," sapanya lembut sambil mencium punggung tanganku dengan sopan namun penuh kasih sayang.
Gerak-geriknya selalu halus, selalu membuatku tersipu malu namun bahagia luar biasa.
"Pagi juga, Jun. Ada apa lagi nih bawa-bawa kotak? Kamu sepertinya nggak pernah kehabisan cara buat bikin kejutan ya?" tanyaku sambil tersenyum, hatiku sudah berdebar menebak apa isinya.
Arjun tertawa renyah, suara tawanya yang dalam dan hangat selalu berhasil membuat suasana hatiku jadi tenang. Dia mengangguk pelan, lalu membimbingku masuk ke dalam kafe yang masih sepi itu.
"Masih banyak hal indah yang belum kamu tau, Ra. Dan tugas aku adalah nunjukin semuanya ke kamu, satu per satu, sampai kamu kenal banget sama asal-usul aku, sampai kamu ngerasa itu juga jadi bagian dari diri kamu," jawabnya lembut.
Dia meletakkan kotak kecil itu di meja, lalu membukanya perlahan. Dari dalam kotak itu, terdengar suara dentingan halus yang merdu. Di sana terbaring sebuah gelang yang sangat unik. Terbuat dari logam berwarna emas tua, dihiasi ukiran motif bunga yang rumit dan indah, serta di bagian bawahnya tergantung lonceng-lonceng kecil yang berkilauan.
"Ini namanya Payal, Ra," jelas Arjun sambil mengangkat gelang itu pelan, membuat lonceng-lonceng kecil itu berbunyi merdu.
"Di India, ini dipakai di pergelangan kaki. Biasanya wanita yang udah menikah atau wanita yang udah punya kekasih memakai ini. Suaranya yang halus itu bukan cuma buat hiasan, tapi katanya, suara itu jadi penanda kehadiran wanita itu. Dan bagi laki-laki, suara itu adalah musik terindah di dunia."
Dia menatapku lekat-lekat, matanya penuh kekaguman.
"Aku pengen kamu pakai ini, Ra. Biar setiap kali kamu melangkah, setiap kali kamu ada di dekat aku, aku bisa dengar suara itu. Suara itu bakal jadi pengingat, kalau kamu milik aku, dan aku milik kamu. Suara itu bakal jadi melodi cinta kita, yang cuma kita berdua yang ngerti artinya."
Tanpa menunggu jawabanku, Arjun berlutut pelan di hadapanku, mengangkat salah satu kakiku dengan sangat lembut dan penuh hormat. Dia memasangkan Payal itu perlahan di pergelangan kakiku, jemarinya bergerak hati-hati seolah sedang memegang benda paling berharga di dunia.
Saat gelang itu terpasang dan aku sedikit menggerakkan kakiku, terdengar suara gemerincing halus yang sangat indah dan menenangkan hati.
"Indah banget, Jun..." bisikku takjub, menatap gelang kecil di kakiku itu, lalu menatap Arjun yang masih berlutut di depanku dengan pandangan yang begitu tulus.
"Belum selesai, Sayang. Hari ini aku mau kamu cobain satu lagi makanan khas India yang rasanya beda dari yang manis-manis kemarin. Ini makanan berat, makanan pokok keluarga aku di rumah," katanya sambil mengambil wadah lain yang dia bawa.
Dia membuka tutup wadah itu, dan seketika aroma rempah yang sangat harum, gurih, dan menggiurkan menyebar memenuhi ruangan. Aroma itu campuran antara bumbu kari, rempah-rempah pilihan, dan nasi yang wangi.
"Ini Biryani, Ra. Nasi rempah paling favorit di sana. Rasanya gurih, berbumbu banget, wangi rempahnya nempel sampai ke hati. Dimasak pakai daging ayam atau kambing, campur bumbu rahasia keluarga. Di India, kalau ada tamu terhormat datang, makanan ini yang paling pertama disajikan. Dan buat aku, kamu itu tamu paling terhormat, tamu istimewa yang masuk ke dalam hati dan hidup aku."
Dia mengambil sedikit nasi itu dengan sendok, lalu menyodorkan ke bibirku dengan senyum menunggu.
"Ayo coba, Ra. Rasain ya, gurihnya pas, rempahnya nyampe tapi nggak bikin pusing, dagingnya empuk banget."
Aku membuka mulutku pelan, merasakan rasa yang begitu kaya di lidahku. Gurih, wangi, lezat, rasanya seperti perpaduan rasa yang sempurna.
"Enak banget, Jun! Ini rasanya luar biasa, beda sama masakan yang pernah aku makan sebelumnya. Kamu bikin sendiri?" tanyaku takjub.
Arjun tersenyum bangga, mengangguk mantap.
"Di bantuin ibu sih, tapi resepnya asli dari nenek moyang. Aku belajar masak ini khusus buat kamu. Biar kalau kamu kangen aku, kamu tinggal ingat rasa ini, rasa cinta aku yang aku taruh di tiap butir nasinya."
Hati rasanya penuh sekali. Setiap hal kecil yang dia berikan, setiap makanan, setiap benda, semuanya selalu dia selipkan makna cinta yang dalam. Arjun tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Semuanya dia berikan sepenuh jiwanya.
Siang itu, saat kafe mulai sepi dari pengunjung, Arjun duduk di sampingku, menggenggam tanganku erat. Dia mulai bercerita lagi, kali ini lebih dalam, lebih pribadi.
"Ra, aku mau kamu tau satu hal lagi soal kepercayaan kami di India," ucapnya pelan, suaranya jadi lebih serius namun tetap lembut.
"Di sana, kalau seorang laki-laki udah milih satu wanita buat jadi hatinya, dia bakal jagain wanita itu kayak dia jagain nyawanya sendiri. Kami percaya, jodoh itu udah diatur Tuhan dari langit, dan kita cuma disuruh saling nemuin dan saling menjaga. Dan aku percaya banget... kamu itu jodoh aku, Ra. Kamu itu yang dikirim Tuhan buat aku, buat mewarnai hidup aku."
Dia mengangkat tanganku ke bibirnya, mengecup punggung tanganku dengan lembut.
"Dulu aku bingung sama rasa aku, dulu aku sakit hati dan cemburu buta waktu lihat kamu sama orang lain. Tapi sekarang aku bersyukur banget sama semua itu. Karena lewat rasa sakit itu, aku jadi sadar betapa berharganya kamu. Dan lewat waktu nunggu dan bukti itu, aku jadi yakin banget kalau kita emang ditakdirkan buat sama-sama."
Aku menatap matanya yang indah, matanya yang dulu penuh kebingungan dan rasa sakit, kini berubah jadi penuh cahaya dan kebahagiaan.
"Jun, makasih ya..." bisikku dengan mata berkaca-kaca bahagia.
"Makasih udah sabar nunggu aku, makasih udah ngertiin ketakutan aku, makasih udah ngajarin aku artinya cinta yang beneran. Dulu aku pikir aku nggak bakal bisa cinta lagi, dulu aku pikir hati aku udah mati. Tapi kamu... kamu berhasil luluhin hati aku lagi. Kamu bikin aku percaya kalau bahagia itu nyata."
Arjun tersenyum, lalu perlahan menarikku masuk ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, yang aman, pelukan yang selalu jadi tempatku pulang. Dia mengelus lembut rambutku, menciumi puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah bilang makasih sama aku, Ra. Semua yang aku lakuin, semua yang aku kasih, itu nggak sebanding sama apa yang kamu kasih ke aku. Kamu kasih aku kepercayaan, kamu kasih aku hati kamu, kamu kasih aku kesempatan buat bahagia. Itu lebih mahal dari apa pun harta di dunia ini."
Dia melepaskan pelukannya sedikit, menatap mataku dalam-dalam.
"Dan ingat ya, Sayang... perjalanan kita belum selesai. Ini baru awal banget. Masih banyak cerita, masih banyak makanan, masih banyak benda indah, masih banyak lagu, masih banyak tempat indah yang mau aku kenalin ke kamu. Mulai dari budaya, kebiasaan, sampai cara aku mencintai kamu... semuanya bakal terus kamu kenal, dan semuanya bakal terus aku kasih ke kamu selamanya."
Sore itu berlalu dengan kebahagiaan yang meluap-luap. Aku melihat ke arah kakiku, mendengar suara gemerincing halus dari gelang indah pemberian Arjun, dan hatiku tersenyum sendiri.
Aku, Aira, wanita yang dulu takut jatuh cinta, wanita yang hatinya hancur berkeping-keping... kini sedang dicintai sedemikian rupa oleh seorang laki-laki baik hati, yang berasal dari budaya indah, yang mencintaiku bukan cuma dengan kata-kata, tapi dengan seluruh hidup dan warisan budayanya.
Dan Arjun... dia makin hari makin romantis, makin dewasa, makin manis. Dia bukan cuma sekadar pacar, tapi dia adalah pendidik, sahabat, pelindung, dan pemilik hatiku selamanya. Di tangannya, aku merasa aman. Di ceritanya, aku merasa kaya. Di cintanya, aku merasa lengkap.