NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: RASI BINTANG TETAP SETIA

Waktu terus melangkah tanpa henti, bagai aliran sungai yang tak pernah kembali ke hulu.

Tujuh tahun berlalu begitu saja. Desa Samudra yang dahulu masih begitu asri dan sederhana perlahan ikut bersolek mengikuti zaman. Jalan setapak yang dulu dipenuhi debu saat kemarau dan becek ketika musim hujan, kini mulai diperlebar serta dipadatkan dengan hamparan batu kerikil. Pepohonan tua yang dahulu menjadi saksi permainan petak umpet anak-anak desa tumbuh semakin rindang, menjulang tinggi seolah turut mengawal perjalanan waktu.

Namun, di tengah segala perubahan itu, ada satu hal yang tetap setia pada tempatnya.

Setiap malam ketika langit bersih tanpa sapuan awan, rasi bintang Arkais masih bersinar terang di cakrawala. Cahayanya tak pernah seolah berpindah, tetap menjadi penanda yang sama seperti bertahun-tahun silam. Ia mengingatkan pada sebuah janji yang pernah terucap di bawah sinarnya.

Dua bocah yang dahulu berlari riang di pelataran rumah keluarga Denia kini telah beranjak dewasa.

Rangga, yang dulu gemar tertawa lepas dan bertingkah usil, tumbuh menjadi seorang pemuda yang lebih pendiam. Wajahnya tampak matang sebelum waktunya, ditempa oleh pekerjaan di ladang dan kehidupan desa yang sederhana. Hari-harinya diisi membantu Emak dan Bapak mengolah sawah, sementara malam-malamnya digunakan untuk membaca buku-buku bekas dan mempelajari apa pun yang dapat membantunya menata masa depan.

Sementara itu, Denia menjelma menjadi gadis yang anggun. Parasnya yang menawan berpadu dengan kelembutan tutur kata dan sikapnya yang santun kepada siapa pun. Hampir seluruh warga Desa Samudra mengenalnya sebagai gadis yang ringan tangan dan murah senyum. Meski kesibukan membuat mereka tak lagi menghabiskan waktu bersama seperti masa kecil dulu, janji yang pernah mereka ikrarkan tetap tersimpan utuh di sudut hati masing-masing.

Suatu sore, setelah gerimis reda dan udara masih menyisakan aroma tanah basah, Rangga berdiri di bawah pohon jambu tua.

Pohon itu masih sama seperti tujuh tahun lalu.

Batangnya semakin besar, dahannya semakin rindang, tetapi tempat itu tetap menyimpan kenangan yang tidak pernah pudar. Di sanalah dahulu ia bersembunyi sambil menahan debar jantung ketika untuk pertama kalinya menyadari perasaannya kepada Denia.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang dikenalnya terdengar mendekat.

Denia berjalan perlahan sambil mendekap keranjang anyaman berisi sayuran segar hasil kebun. Hembusan angin sore memainkan beberapa helai rambut yang terlepas dari kepangannya.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, keduanya berhenti hampir bersamaan.

Tak ada sapaan tergesa.

Tak ada tawa riang seperti masa kanak-kanak.

Mereka hanya saling memandang dalam diam. Waktu seolah berhenti sesaat, membiarkan tatapan mereka menyampaikan kerinduan yang selama ini dipendam.

"Denia..." panggil Rangga lirih.

Gadis itu mengangkat wajahnya.

"Apakah kau masih mengingat janji yang pernah kita ucapkan di bawah sinar bulan purnama bertahun-tahun yang lalu?"

Denia tersenyum pelan. Jemarinya meremas gagang keranjang bambu sebelum menoleh sejenak ke arah langit barat yang mulai berwarna jingga.

"Aku tidak pernah melupakannya, Rangga. Sedetik pun tidak. Selama bintang-bintang itu masih bersinar di langit, selama itu pula aku akan mengingat janji kita."

Jawaban itu membuat dada Rangga dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan. Selama bertahun-tahun ia menyimpan pertanyaan yang sama di dalam hati, dan sore itu semua keraguannya terjawab hanya oleh satu kalimat sederhana.

Ia menarik napas panjang untuk meredakan debar yang semakin cepat.

"Syukurlah..." ucapnya lirih.

Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara.

"Karena itulah aku menunggumu di sini."

Rangga menatap lurus ke arah Denia.

"Besok aku akan berangkat merantau ke kota. Aku tidak ingin suatu hari datang melamarmu hanya dengan membawa janji. Aku ingin pulang sebagai laki-laki yang mampu berdiri sejajar denganmu, membawa hasil dari kerja kerasku sendiri."

Kalimat itu meluncur perlahan, tetapi setiap katanya terasa begitu mantap.

Denia tidak menyela.

Ia hanya mendengarkan dengan sorot mata yang penuh perhatian.

Rangga kemudian merogoh saku bagian dalam bajunya. Dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kain perca bermotif batik.

Kedua tangannya tampak sedikit gemetar saat menyodorkannya.

"Aku membuatnya sendiri saat beristirahat di gubuk ladang," katanya dengan senyum tipis. "Tidak seberapa, tetapi aku ingin kau menyimpannya. Kalau suatu hari kau merindukanku, lihatlah benda ini. Anggap saja aku sedang berjuang agar bisa pulang menepati janji."

Denia menerima bungkusan itu dengan kedua tangan.

Perlahan ia membuka lipatan kainnya.

Di dalamnya terbaring sebuah kalung sederhana dari akar bahar hitam yang dipoles hingga mengilap. Pada ujungnya tergantung liontin kecil berbentuk bintang bersudut lima, diukir dengan sangat teliti meski jelas dibuat menggunakan peralatan yang sederhana.

Mata Denia seketika berkaca-kaca.

Bukan karena nilai benda itu, melainkan karena ia tahu berapa banyak waktu dan ketulusan yang dicurahkan Rangga untuk membuatnya.

Ia mengangkat kalung itu perlahan, membiarkan cahaya senja memantul di permukaan liontinnya.

"Indah sekali..." bisiknya.

Lalu ia menatap Rangga dengan senyum yang hangat.

"Terima kasih. Aku akan menjaganya baik-baik."

Rangga mengembuskan napas lega. Senyum tipis mengembang di wajahnya ketika melihat Denia menggenggam kalung itu begitu hati-hati, seolah benda sederhana tersebut adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.

Suasana di bawah pohon jambu tua mendadak terasa begitu hening. Hanya terdengar suara tetesan air yang masih jatuh dari ujung-ujung daun setelah hujan reda, diselingi embusan angin sore yang membawa aroma tanah basah. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang berubah sedikit demi sedikit menjadi ungu kemerahan.

Rangga menelan ludah pelan. Ada satu pertanyaan yang sejak lama mengendap di dalam dadanya dan harus ia ucapkan sebelum langkahnya benar-benar meninggalkan Desa Samudra.

"Denia..."

Gadis itu menoleh.

"Kalau aku pergi... maukah kau menungguku?"

Pertanyaan itu meluncur lirih, tetapi terdengar jauh lebih berat daripada kalimat-kalimat sebelumnya.

Rangga kembali melanjutkan, "Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan. Mungkin bertahun-tahun. Mungkin lebih lama dari yang kita bayangkan. Tapi aku berjanji akan pulang setelah berhasil mewujudkan cita-citaku."

Denia menundukkan pandangan sesaat. Jemarinya mengusap lembut liontin berbentuk bintang yang masih berada di telapak tangannya.

Kemudian ia mengangkat wajah dengan sorot mata yang mantap.

"Aku akan menunggumu, Rangga."

Jawabannya sederhana, tetapi penuh keyakinan.

"Seberapa lama pun waktu memisahkan kita, aku akan tetap menjaga janji ini. Sama seperti yang pernah kita ucapkan dulu... setia seperti rasi bintang yang tidak pernah meninggalkan langitnya."

Ucapan itu membuat dada Rangga dipenuhi rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara.

Mereka hanya berdiri berdampingan menikmati langit yang mulai diselimuti malam. Satu demi satu bintang bermunculan, hingga akhirnya gugusan Arkais kembali tampak menghiasi cakrawala timur.

Rangga mengangkat telunjuknya ke arah langit.

"Lihatlah bintang itu setiap malam."

Denia mengikuti arah pandangnya.

"Di mana pun aku berada nanti, aku juga akan melihat langit yang sama. Mungkin kita dipisahkan oleh jarak, tetapi selama bintang itu masih bersinar, kita akan tetap saling mengingat."

Denia mengangguk pelan.

"Kalau begitu, setiap malam aku juga akan melihatnya."

Senyumnya mengembang tipis.

"Dan kau juga harus berjanji satu hal."

"Apa?"

"Jaga dirimu di perantauan. Jangan memaksakan diri hanya karena ingin cepat berhasil. Makan yang teratur, istirahat kalau lelah, dan jangan lupa pulang."

Rangga terkekeh pelan.

Nada perhatian Denia membuat beban di dalam dadanya terasa jauh lebih ringan.

"Baik."

Ia mengangguk mantap.

"Aku akan mengingat semuanya."

Kemudian ia menambahkan dengan suara yang lebih pelan,

"Justru karena ada seseorang yang menungguku di desa ini, aku punya alasan untuk terus bertahan seberat apa pun nanti."

Denia menundukkan kepala, menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.

Sore itu perlahan berganti malam.

Mereka akhirnya melangkah berdampingan meninggalkan pohon jambu tua menuju persimpangan jalan desa. Langkah mereka pelan, seakan keduanya ingin memperpanjang waktu yang tersisa sebelum perpisahan benar-benar datang.

Sesampainya di persimpangan, keduanya berhenti.

Jalan kecil di hadapan mereka bercabang ke dua arah, seperti biasa: satu menuju rumah Rangga, satu lagi menuju rumah Denia.

Tak ada lagi alasan untuk terus berjalan bersama.

Rangga memandang wajah Denia lekat-lekat, berusaha menyimpan setiap detailnya di dalam ingatan.

"Sampai jumpa, Denia."

"Selamat jalan, Rangga."

Semoga semua yang kau cita-citakan tercapai."

Rangga mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Mereka saling tersenyum.

Tak ada air mata yang jatuh. Hanya ketegaran yang berusaha menutupi beratnya perpisahan yang akan datang.

Rangga berbalik lebih dahulu.

Beberapa langkah kemudian, ia tak kuasa menoleh ke belakang.

Di bawah cahaya senja yang mulai memudar, Denia masih berdiri di tempatnya. Tangan kanannya menggenggam liontin bintang di dekat dada, sementara senyumnya tetap mengiringi langkah Rangga hingga sosok pemuda itu perlahan menghilang di balik tikungan jalan.

Sesampainya di rumah, Rangga langsung menuju kamar kecilnya. Ia duduk di tepi ranjang kayu yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya melepas lelah setelah bekerja di ladang. Pandangannya mengarah ke jendela yang terbuka sedikit, membiarkan angin malam mengalir masuk bersama aroma tanah yang masih basah oleh hujan sore.

Di luar sana, langit Desa Samudra kembali dihiasi gugusan bintang.

Tatapan Rangga segera menemukan Arkais yang bersinar tenang di antara hamparan langit malam. Cahaya bintang itu terasa begitu akrab, seolah menjadi sahabat lama yang tak pernah ingkar menemani setiap langkah hidupnya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Keraguan yang sempat mengusik hatinya perlahan menghilang. Kini yang tersisa hanyalah keyakinan.

Besok pagi, ia akan meninggalkan desa tempatnya dilahirkan. Untuk pertama kalinya, ia akan menghadapi dunia yang sama sekali baru. Ia tahu perjalanan itu tidak akan mudah. Akan ada kesulitan, kegagalan, bahkan mungkin kesepian. Namun, ia juga tahu bahwa semua itu adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah impian.

Di balik segala tekadnya, ada satu hal yang membuat langkahnya terasa ringan.

Doa Denia.

Dan janji yang baru saja mereka teguhkan kembali di bawah pohon jambu tua.

Rangga tersenyum tipis.

"Suatu hari nanti... aku pasti pulang."

Kalimat itu hanya terdengar di dalam hatinya, tetapi cukup untuk menguatkan seluruh keberaniannya.

Malam semakin larut.

Suara jangkrik mulai mendominasi keheningan desa. Dari kejauhan terdengar desir angin yang mengusap dedaunan, seolah ikut mengantarkan doa-doa yang dipanjatkan dari rumah-rumah sederhana di Desa Samudra.

Rangga memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak memutuskan merantau, ia benar-benar merasa siap.

Bukan karena ia telah mengetahui apa yang akan dihadapi di depan sana, melainkan karena ia telah menemukan alasan mengapa ia harus terus melangkah.

Dengan keyakinan itu, ia merebahkan tubuhnya perlahan.

Di luar jendela, Arkais masih bersinar dalam diam, seakan menjadi saksi bisu atas tekad seorang pemuda yang bersiap meninggalkan kampung halamannya demi menepati sebuah janji yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!