Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Sen di Dalam Lemari
Pada malam ketiga di Vila Puncak, Momo terbangun karena lemari bajunya bernapas.
Awalnya ia mengira itu suara angin. Kabut Puncak sering menyusup lewat celah jendela, membuat kayu tua berderit seperti orang mengeluh. Tetapi suara itu datang lagi, lebih berat. Napas ditahan terlalu lama, lalu lepas dengan gemetar.
Momo membuka mata.
Kamar gelap. Hanya lampu taman yang masuk dari sela tirai, membuat garis pucat di lantai. Di luar, hujan turun tipis. Aroma tanah basah memenuhi udara.
Napas itu terdengar lagi.
Dari lemari.
Tubuh Momo langsung menegang. Ia meraih lampu meja, tetapi tangannya berhenti sebelum menyalakannya. Jika itu pengawal Renard, ia tidak akan bersembunyi di lemari. Jika itu orang Sen, mungkin lampu hanya membuatnya lebih mudah ditembak. Jika itu Renard sendiri, gagasan itu begitu tidak masuk akal sampai Momo hampir tertawa, tetapi jantungnya tetap memukul tulang rusuk.
Ia turun dari ranjang tanpa suara. Jari-jarinya mencari benda terdekat. Gunting kecil di meja rias. Tidak banyak, tapi lebih baik daripada tangan kosong.
Momo berjalan mendekati lemari.
"Keluar," katanya pelan.
Tidak ada jawaban.
"Aku akan berteriak."
Sesuatu di dalam lemari bergerak. Kayu bergetar. Lalu suara laki-laki yang lemah, serak, dan terlalu dikenal berkata, "Jangan."
Darah Momo seolah berhenti.
"Sen?"
"Tolong..." Suaranya terseret. "Jangan panggil dia."
Momo membuka pintu lemari dengan satu tangan, gunting terangkat di tangan lain.
Sen jatuh ke depan hampir bersamaan dengan pintu terbuka. Momo mundur, tetapi tangannya refleks menahan bahu pria itu sebelum kepalanya membentur lantai. Berat tubuh Sen membuat lututnya hampir goyah.
Ia tampak seperti bayangan dari dirinya sendiri. Wajahnya pucat kehijauan, rambutnya basah oleh keringat dan hujan, bibirnya pecah. Jaket gelapnya sobek di bahu, dan di bawah kain itu perban lama menghitam oleh darah. Luka tembak yang seharusnya membaik jelas terbuka lagi.
Sen menatap Momo dengan mata yang masih mencoba bercanda, tetapi tubuhnya tidak mampu mendukung kebohongan itu.
"Kamar bagus," bisiknya. "Pemandangannya... lumayan."
Momo ingin menamparnya.
Momo ingin berteriak memanggil Renard.
Momo ingin menyeretnya keluar dan bertanya kenapa ia tidak menarik tangan Momo di tebing malam itu.
Sebagai gantinya, ia mengumpat pelan dan menutup pintu lemari.
"Diam."
Sen tertawa sekali, lalu meringis kesakitan.
"Kau memilih tempat paling bodoh untuk bersembunyi," kata Momo.
"Lemari pengawal penuh senjata. Lemarimu penuh gaun. Risiko psikologisnya lebih kecil."
"Kamu masih bercanda?"
"Kalau berhenti, mungkin aku mati."
Momo membeku sekejap.
Kata mati selalu punya cara membuat kemarahan tersandung.
Ia mengunci pintu kamar, lalu berlutut di depan Sen. "Apa ada orang lain?"
"Tidak."
"Bagaimana kamu masuk?"
"Jalur servis lama. Rumah ini punya lebih banyak rahasia daripada yang Renard kira."
"Kamu yakin? Karena sejauh yang kutahu, Renard tahu cara membuat orang merasa bahkan napasnya terdaftar."
Sen tersenyum lemah. "Dia tidak tahu semuanya."
Momo memandang darah di bahunya. "Jelas kamu juga tidak tahu semuanya. Kamu hampir mati di lemariku."
"Lebih baik lemarimu daripada lantai Renard."
Momo berdiri dan mengambil kotak P3K dari kamar mandi. Tangannya gemetar, tetapi bukan karena takut kepada darah. Ia pernah merawat Ama saat batuknya memburuk, pernah membersihkan luka kecil setelah bekerja terlalu lama, pernah menahan tubuh sendiri saat lapar membuat dunia berputar. Darah bukan hal baru.
Yang baru adalah merawat orang yang pernah membiarkannya jatuh.
Ia kembali dengan alkohol, kasa, gunting, dan perban. "Buka jaket."
Sen menatapnya. "Kau benar-benar akan menolongku?"
"Aku belum memutuskan akan membiarkanmu hidup lama atau tidak. Tapi kalau kamu mati sekarang, kamarku susah dibersihkan."
Senyum Sen lebih sedih daripada lucu. Ia mencoba melepas jaket, gagal, lalu Momo memotong kain di sekitar bahunya. Luka itu buruk. Tidak hanya terbuka, tetapi tampaknya ada infeksi. Kulit di sekitarnya panas.
Momo menelan rasa mual.
"Kamu butuh dokter."
"Aku butuh kau tidak memanggil Renard."
"Dua hal itu tidak sama."
"Bagiku sama."
Momo menuang alkohol ke kasa. "Ini akan sakit."
"Aku pernah merindukan kalimat romantis dari seorang perempuan, tapi baiklah."
Momo menekan kasa ke lukanya.
Sen menggigit suara di tenggorokannya. Ototnya menegang. Tangannya mencengkeram karpet.
"Jangan pingsan," kata Momo.
"Kau selalu memberi perintah seolah lebih kecil dari orang lain hanya secara tubuh."
"Diam."
Ia membersihkan luka dengan gerakan hati-hati. Setiap kali Sen menahan napas, Momo teringat tebing. Angin malam. Batu licin. Tangannya tergelincir. Sen berdiri cukup dekat untuk menolong, cukup jauh untuk membiarkannya jatuh.
Pertanyaan itu tumbuh di antara mereka seperti pisau.
Momo tidak bisa menahannya lagi.
"Di tebing malam itu."
Sen membuka mata.
"Kau sengaja tidak menahan tanganku."
Hujan di luar terdengar lebih jelas.
Sen tidak langsung menjawab.
Momo mengangkat kepala. "Jangan bohong. Aku mungkin bodoh karena menolongmu sekarang, tapi aku tidak buta."
Wajah Sen berubah. Semua lelucon yang tersisa perlahan keluar dari matanya. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat seusianya. Lelah. Kotor. Terpojok. Bukan penyelamat misterius dari balik jalur utara, bukan musuh Renard yang selalu tersenyum.
Hanya seorang laki-laki yang pernah memilih membiarkan perempuan jatuh.
"Ya," katanya akhirnya.
Satu kata.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Meski Momo sudah tahu, dadanya tetap sakit.
Tangannya berhenti di atas perban. "Kenapa?"
Sen memejamkan mata. "Karena kalau kau mati, pertunangan itu selesai. Renard kehilangan alasan. Gunawan kehilangan kartu. Aku punya celah untuk menyerang mereka semua."
Momo merasa suhu kamar turun.
"Jadi aku hanya kunci pintu."
"Saat itu, ya."
Kejujuran Sen lebih kejam daripada kebohongan. Momo ingin menangis, tetapi air mata terasa terlalu mahal untuk diberikan kepada pria ini.
Ia kembali menekan kasa ke bahu Sen.
Sen terkejut. "Kau masih mengobatiku?"
"Ya."
"Setelah aku mengaku?"
"Aku dengar."
"Momo."
Ia menarik napas pelan. "Ama pernah bilang, kalau seseorang berdarah di depanmu, tolong dulu, tanya nanti. Aku sudah tanya. Jawabanmu busuk. Tapi luka tetap luka."
Sen menatapnya lama.
Momo membalut bahunya dengan perban baru. Gerakannya tidak lembut, tetapi tepat. "Jangan salah paham. Aku tidak memaafkanmu."
"Aku tidak meminta."
"Bagus. Karena aku tidak punya stok."
Sen tertawa kecil, lalu suaranya pecah menjadi batuk. Momo mengambil segelas air dan menyodorkannya. Ia membantu Sen minum dengan satu tangan di belakang lehernya.
Tangan itu menyadari panas kulit Sen.
Dan entah kenapa, kesadaran itu membuatnya teringat Renard. Bukan karena tubuh mereka sama. Mereka tidak sama. Sen terasa ringan, seperti orang yang siap lenyap jika dilepas. Renard terasa seperti dinding api. Bahkan saat terluka, pria itu memenuhi ruangan dengan kehendaknya.
Momo menarik tangan lebih cepat dari seharusnya.
Sen menyadarinya. "Kau memikirkan dia."
"Aku memikirkan cara menyembunyikan pria bodoh yang berdarah di kamarku."
"Itu jawaban yang sangat diplomatis."
"Kamu ingin aku memukul luka tembakmu?"
"Tidak. Tapi aku ingin tahu seberapa jauh Renard sudah masuk ke kepalamu."
Momo menatapnya dingin. "Dia menculikku."
"Dan kau khawatir padanya."
"Dia menyelamatkanku."
"Setelah menjadikanmu miliknya."
Kalimat itu seharusnya membantu Momo tetap marah. Anehnya, justru membuat kulitnya mengingat suara Renard di dekat telinga, "Kalau kau tidak mau mencintaiku, aku akan memaksamu mencintaiku." Ingatan itu panas, salah, memalukan. Seperti menyentuh api lalu menyalahkan api karena membakar.
"Jangan bicara tentang sesuatu yang tidak kamu mengerti," kata Momo.
Sen tersenyum, tetapi kali ini pahit. "Aku mengerti obsesi. Aku dibesarkan olehnya."
Momo hendak bertanya, tetapi langkah kaki terdengar dari koridor.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tenang. Berat. Terlalu dikenal.
Renard.
Sen langsung memucat. Momo mematikan lampu kamar mandi yang masih menyala dan menarik Sen ke sisi lemari. Tubuh pria itu hampir jatuh lagi. Momo menahan napas, tangan masih memegang lengan Sen yang panas.
Langkah itu berhenti di depan pintu kamar.
Tidak ada ketukan.
Hanya suara Renard dari luar, rendah dan jelas.
"Momo."
Nama itu membuat seluruh kamar terasa sempit.
Sen menatap Momo dengan mata meminta diam. Momo menatap pintu, lalu melihat perban berdarah di lantai, gunting, kasa, noda merah kecil di karpet.
"Tidur?" tanya Renard dari luar.
Momo mengangkat dagu meski ia tahu pria itu tidak bisa melihat.
"Belum."
Jeda.
Momo melihat noda darah di karpet.
Kecil, tetapi cukup. Renard akan melihatnya. Albert akan melihatnya. Bahkan Bu Ratih mungkin akan melihatnya lalu pura-pura tidak melihat dengan cara yang justru membuat semuanya lebih buruk.
Sen mengulurkan tangan ke arah kain gelap di lantai, tetapi Momo menepisnya. "Jangan bergerak."
"Kalau dia masuk..."
"Aku tahu."
"Dia akan membunuhku."
"Kamu membuat daftar alasan untukku membuka pintu atau menahannya?"
Sen tersenyum lemah, tetapi matanya cemas.
Momo mengambil selendang dari kursi dan melemparkannya ke atas noda darah. Gerakannya terlalu cepat, terlalu kacau. Di balik pintu, Renard tidak mengetuk. Ia hanya menunggu, dan penantian itu membuat kulit Momo terasa ditarik perlahan.
"Momo," katanya lagi.
Nama itu rendah. Tidak marah. Justru hampir lembut.
Momo tahu kelembutan itu lebih berbahaya. Jika Renard mengancam, ia bisa melawan. Jika Renard terdengar khawatir, bagian paling bodoh dalam dirinya ingin membuka pintu dan membiarkan pria itu mengambil alih semua keputusan yang terlalu berat.
Ia menutup mata sebentar.
Tidak.
Malam ini ia memilih sendiri, seburuk apa pun pilihannya.
Momo berjalan ke pintu, berhenti dengan tangan di gagang. Di belakangnya, Sen menahan napas. Di depannya, Renard berdiri seperti badai yang tahu rumah ini miliknya.
"Aku tidak ingin bertemu siapa pun," kata Momo.
"Bahkan aku?"
Pertanyaan itu terlalu pelan.
Momo menggigit bagian dalam pipi. "Terutama kamu."
Jeda.
Ketika Renard menjawab, suaranya berubah lebih dingin. "Besok pagi."
"Apa?"
"Besok pagi kau akan sarapan denganku. Jangan mengunci pintu terlalu lama, Momo. Kunci membuatku curiga."
Langkahnya akhirnya menjauh.
Momo tetap memegang gagang pintu sampai suara itu hilang.
Baru kemudian ia sadar telapak tangannya basah oleh keringat.
Di belakangnya, Sen berbisik, "Kau baru saja berbohong kepada serigala."
Momo menoleh, lelah dan marah. "Tidak. Aku baru saja menahan dua serigala agar tidak saling menggigit di kamarku."
Sen tidak menjawab.
Dan Momo tahu malam itu belum benar-benar selesai.