NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : ANTARA BENCI DAN CEMBURU

Langit sore mendung kelabu. Angin berhembus pelan menggoyangkan daun jati di pelataran istana Galuh. Larasati berdiri di beranda, mendengarkan sisa cerita para pedagang yang baru kembali.

“Dia tak ambil sehelai benang pun, Putri. Barang kami dikembalikan utuh, bahkan bekal perjalanan kami ditambahnya.”

“Jembatan yang mereka lewati diputusnya sendiri, agar penyamun tak bisa mengejar kami.”

“Dia hanya berkata: ‘Sampaikan pada siapa saja yang bertanya, bahwa keadilan belum mati di tanah Galuh.’”

Setiap kata itu membuat keraguan di hati Larasati runtuh sedikit demi sedikit.

Di sampingnya, Raden Sukma mengepal erat. Rahangnya mengeras. Setiap nama Si Pamanah Rasa disebut dengan hormat, ada perih tajam yang merambat di dadanya. Dialah yang sejak kecil selalu menjaga sepupunya. Dialah yang merasa paling berhak berdiri di samping Putri. Kini ia melihat Larasati mulai memihak pada sosok yang tak dikenal, yang dianggap musuh kerajaan.

“Cukup!” bentaknya keras.

Para pedagang seketika terdiam, saling berpandangan takut. Seorang di antara mereka yang sudah tua, memberanikan diri maju selangkah.

“Ampun, Raden. Kami tidak berbohong. Kalau saja dia menghendaki, nyawa kami sudah melayang di tangan penyamun itu.”

“Kalian mudah sekali ditipu!” potong Sukma tak mendengar.

“Merampok, lalu berpura-pura menolong supaya kalian memujinya! Itu semua sandiwara!”

Larasati menoleh perlahan. Tatapannya tenang namun tajam.

“Mereka melihat dengan mata kepala sendiri, Sukma. Kau menuduh sandiwara, tapi bisakah kau jelaskan kenapa ia bersusah payah merusak keuntungan dirinya sendiri?”

“Siapa tahu niat sebenarnya!” sahut Sukma tak mau kalah.

“Mungkin ia tahu kita sedang mengawasi! Mungkin ia ingin memancing rakyat agar berani melawan perintah istana! Itu taktik kotor!”

Seorang pengawal yang berdiri tak jauh sana, tak sengaja berdeham pelan mencoba menahan diri. Sukma langsung menoleh tajam padanya.

“Kau punya sanggahan, Ki?”

“Bukan, Raden. Hanya… saya pernah mendengar cerita dari desa seberang. Bahwa dia juga pernah menolong petani yang upetinya diambil paksa tanpa minta balasan apa pun.”

“Kau pun mulai terbawa arus?” Sukma menatapnya tajam.

“Ingat siapa yang memberi makan dan melindungimu! Jangan sampai kau buta oleh sandiwara orang asing!”

Pengawal itu menunduk dalam, tak berani bersuara lagi.

“Taktik kotor takkan pernah menyelamatkan nyawa orang asing tanpa minta imbalan,” jawab Larasati dingin kembali.

“Taktik kotor takkan pernah membiarkan harta curian kembali ke pemiliknya utuh.”

Suara mereka makin meninggi. Pengawal dan pelayan yang lewat perlahan berhenti, tak berani bersuara.

“Kau terlalu membelanya!” seru Sukma tak sadar nada suaranya naik.

“Kau tak tahu siapa dia sebenarnya! Bisa jadi pembunuh bayaran! Bisa jadi dia menyimpan dendam pada keluarga kerajaan!"

"Kau percaya orang bertopeng, tapi meragukan sepupumu sendiri yang selalu menjagamu!”

“Aku tak meragukanmu,” potong Larasati, suaranya bergetar.

“Tapi aku meragukan penilaianmu yang hanya melihat kulit luar. Kau lihat dia bertopeng, kau lihat dia melawan prajurit raja, lalu kau langsung menghakimi. Kau tak pernah bertanya kenapa dia harus bertopeng, kau tak pernah bertanya siapa yang sebenarnya dia lawan!”

“Orang baik takkan bersembunyi di balik topeng!” bentak Sukma tak terkendali.

“Orang baik takkan melawan prajurit raja! Dia liar! Kasar! Tak tahu aturan! Dan kau… kau tak seharusnya memihak sampah dari hutan yang tak tahu diri itu!”

PLAK!

Suara tamparan membelah udara pelataran. Nyaring dan tegas. Semua orang terpaku. Sukma memegangi pipinya yang panas, matanya terbelalak tak percaya menatap Larasati. Wajah Putri itu pucat, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tak goyah sedikitpun.

“Jaga lisanmu, Raden Sukma,” ucapnya pelan namun berat.

“Kau bicara tentang orang yang mungkin hatinya jauh lebih mulia daripada banyak orang yang duduk di kursi empuk istana ini.”

Sunyi senyap. Hanya suara angin yang berdesir di antara dahan pohon. Sukma menatapnya lama—campuran malu, marah, dan cemburu yang meledak tak terkendali. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik badan. Langkah kakinya berat, membuai amarah yang tertahan ke mana-mana.

Larasati menghela napas panjang, menatap punggung sepupunya yang menghilang di balik tiang pendopo. Tangannya gemetar sedikit. Ia tak bermaksud sekeras itu, tapi ia tak sanggup lagi mendengar fitnah yang tak berdasar.

-----------

Jauh di Wana Kelor, api unggun kecil menyala temaram di mulut gua. Bayu duduk bersandar batu, menatap nyala api yang berkedip. Karta duduk di hadapannya, mengupas pisang hutan perlahan, sesekali melirik sahabatnya yang diam mematung.

“Kang… mau pisang rebus?” tanyanya pelan.

“Masih hangat. Perut kosong bikin pikiran makin kusut.”

Bayu menggeleng pelan. “Terima kasih, Karta. Tak selera.”

Karta mengunyah sebentar, lalu menelan perlahan. “Tadi aku mendengar obrolan pemburu yang lewat, katanya Raden Sukma sering bertanya-tanya tentang kita ke orang-orang Kadipaten. Sering sekali, sampai-sampai orangnya jadi risih sendiri.”

Bayu mengangkat wajah sedikit.

“Benarkah itu?”

“Benar. Katanya dia ingin tahu segala hal buruk tentang kita. Padahal kalau mau tahu yang benar, tanyalah langsung pada kita, bukan pada orang yang sudah pasti benci sama kita.”

“Maka itu bahayanya,” gumam Bayu kembali menatap api.

“Ketika hati sudah tertutup rasa benci dan cemburu, telinga hanya mau mendengar apa yang menguntungkan rasa bencinya saja.”

“Mereka cuma tak tahu apa yang Kakang lakukan,” ucap Karta kembali melanjutkan pembicaraan tadi.

“Orang yang cuma lihat dari jauh memang mudah menuduh sembarangan. Yang penting Kang tahu hati Kang bersih.”

“Bukan itu saja,” gumam Bayu.

“Aku takut jika perasaan pribadi mulai campur tangan, kebenaran akan makin sulit ditemukan. Jika dia membenci aku karena cemburu, setiap perbuatanku akan terlihat jahat di matanya. Dan itu akan makin mengunci jalan keluar kita.”

“Kalau begitu kita tunjukkan saja!” seru Karta tiba-tiba bersemangat.

“Kita tangkap Ki Jaka Jagad hidup-hidup! Kita serahkan langsung ke hadapan Raja! Biar semua tahu siapa yang sebenarnya penjahat!”

Bayu tersenyum tipis, namun tak ada kesenangan di wajahnya.

“Tak semudah itu. Ki Jaka Jagad bergerak dalam bayang-bayang. Dia tahu cara memutar fakta. Dan sayangnya, banyak orang berkuasa yang lebih suka percaya apa yang menguntungkan diri mereka, daripada apa yang benar-benar terjadi.”

“Terus kita diam saja?”

“Kita bergerak pelan tapi pasti,” jawab Bayu menatap tajam ke dalam kegelapan hutan.

“Kita biarkan waktu yang menjawab. Tapi kita takkan mundur selangkahpun.”

-----------

Di pendopo belakang istana, Raden Sukma duduk sendirian di kegelapan. Pipi tak lagi terasa sakit, tapi perih di dadanya makin menghimpit. Ia meremas sebongkah batu di genggamannya sampai hancur jadi serbuk.

“Kau boleh membelanya sekarang,” bisiknya parau pada kegelapan.

“Tapi aku akan buktikan padamu, Putri. Aku akan buktikan dia hanyalah penipu ulung yang memanfaatkan kebaikanmu. Dan saat kau tahu siapa dia sebenarnya, kau akan sadar siapa yang benar-benar setia padamu.”

Malam makin larut. Angin dingin membawa kabar bahwa perselisihan ini baru permulaan. Cemburu dan kebencian kini bersatu menjadi senjata tajam, siap menjatuhkan siapa saja yang dianggap menghalangi. Dan di tengah itu semua, Bayu hanya bisa berharap niat baiknya tak berakhir menjerumuskannya ke jurang yang tak bisa ia daki keluar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!