Natasya Effendi,,, Gadis pintar yang selalu menjadi juara di sekolahnya. Bahkan Tasya begitu biasa dia di panggil, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dengan nilai terbaik. Bahkan Tasya bisa lolos masuk kerja di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik dengan pendidikan dan karirnya kisah cintanya harus berakhir dengan penuh luka.
Mau tau kisah lanjutnya? Yuk... ikutin ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Sampai di rumah Tasya sudah bersikap seperti biasa lagi seolah tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Marchel pun begitu. Kali ini keduanya tampak lebih santai tak sekaku sebelumnya. Tasya memberikan Daren pada Suster namun Daren tak mau. Suster merasa tak enak pada Tasya namun bagaimana tuannya tak mau dengannya lagi.
"Sayang nya Mama. Mama mandi dulu ya. Nanti main lagi sama Abang Daren. Sekarang sayang nya Mama mandi juga sama Sus ya." Bujuk Tasya.
Namun Daren menggeleng dan memeluk Tasya erat. Merasa kasian pada Tasya Marchel pun berinisiatif untuk mengambil Daren terlebih dahulu untuk membiarkan Tasya mandi.
"Sayang nya Papa. Sini yuk ikut Papa dulu. Tuh liat ikan sama Kakek." Tunjuk Marchel ke arah taman belakang dimana Ayah Effendi sedang memberikan makan ikan-ikan nya di kolam.
Daren melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Marchel.
"Wah, asik tuh. Boleh Papa Abang mau liat ikan sama Kakek." Tasya.
"Ayo ikut Papa Sayang." Marchel.
Daren menoleh ke arah Tasya dan Tasya menganggukkan kepalanya.
"Nanti Mama susul ya setelah Mama mandi." Tasya.
Daren pun menurut akhirnya ikut bersama Marchel ke taman belakang. Disana tampak Mami Marchel dan Ibu Lidia tengah bersantai menikmati udara sore di gazebo kecil yang sengaja di buat oleh Ayah Effendi.
"Wah, cucu Oma sudah datang. Sini sayang sama Oma." Mami Marchel.
Namun Daren terus menunjuk ke arah kolam Ikan dimana Ayah Effendi berada.
"Mau kasih makan ikan sama Kakek? Sini ikut Kakek." Daren pun mau ikut dalam gendongan Ayah Effendi.
"Tasya mana Nak?" Tanya Ibu Lidia pada Marchel.
"Mandi Tante." Marchel.
"Wah, kamu bisa ambil alih Abang Daren?" Mami Marchel.
"Bisa dong Mi." Marchel.
"Ga percaya Mami." Mami Marchel.
"Tasya bujuk Daren tadi Mi." Marchel.
Daren terlihat senang melihat ikan-ikan mendekatinya. Ayah Effendi mencelupkan kaki Daren ke dalam kolam membiarkan ikan-ikan menyentuh kaki Daren. Bukannya takut Daren malah senang kakinya bersentuhan dengan ikan. Tawa ya begitu renyah dan gembira membuat Marchel dan Mami nya menyunggingkan senyumannya.
"Apa kita perlu membuat kolam ikan juga Chel?" Mami Marchel.
"Boleh juga tuh Mi. Nanti Achel minta orang untuk membuatkannya." Marchel.
"Tidak perlu besar dan dalam. Cukup kecil saja asal terawat." Ibu Lidia.
"Iya benar Tante." Marchel.
Mami Marchel, Ibu Lidia dan Marchel asik berbincang sedang Ayah Effendi dan Daren pun asik bermain bersama ikan. Raya dan Galih yang baru saja datang dan melihat Kakaknya yang baru turun menunjukkan Daren dan Ayah mereka yang tengah main air.
"Kak, lihat Ayah dan putra mu." Tunjuk Raya pada Ayah Effendi dan Daren.
"Astaga! Kenapa mereka malah masuk ke dalam kolam begitu." Tasya.
"Apa Kakak ga tau?" Raya.
"Tidak. Kakak tadi meminta Marchel untuk menjaga putranya. Dan dimana dia sekarang? Kenapa Daren bermain air sore begini di biarkan." Gerutu Tasya.
"Mana Adik tau. Adik baru saja datang ya kan Mas?" Raya.
"Hm... Betul." Galih.
"Ish... Kalian ini."
"Suster, tolong bawakan handuk Abang Daren ya. Sekalian alat mandinya." Titah Tasya.
"Iya Mba." Suster.
Kemudian Tasya pun keluar menuju kolam ikan.
"Ya ampun Ayah... kenapa Daren di masukkan kedalam kolam begitu? Ayah juga kenapa jadi ikut-ikutan masuk? Ini udah sore Yah. Nanti Daren masuk angin." Omel Tasya sambil berjalan menuju kolam.
"Tidak apa-apa Kak. Airnya juga bersih baru di ganti tadi sama Mamang. Biar Daren juga merasakan main di kolam. Daren juga senang coba deh kakak lihat." Ayah Effendi.
"Ayaah,,, tapi ini udah sore. Ayo sini udah. Daren ikut Mama kita mandi." Ajak Tasya.
"Sebentar lagi saja Kak biar." Ayah Effendi.
"No Ayah. Mana Papa Daren. Tadi Mama minta Papa jaga kamu kenapa jadi di biarkan main air di kolam." Omel Tasya.
"Mainnya juga sama Kakeknya. Kenapa ngga? Toh Daren senang." Marchel.
"Ish... Kalian sama saja. Udah ah Ayah nanti Daren masuk angin." Kesal Tasya.
"Ngga Kak. Toh hanya kaki nya saja yang masuk ke dalam kolam." Ayah Effendi.
"Iya tapi itu bajunya juga ikutan basah Ayah." Tasya.
Ibu Lidia, Mami Marchel, dua suster dan Raya hanya tersenyum melihat perdebatan Tasya, Ayah Effendi dan Marchel. Galih menggelengkan kepalanya. Seumur berteman dengan Tasya baru kali ini Galih melihat Tasya begitu panik.
"Mas baru liat Tasya sepanik itu Yang." Galih.
"Iya Aya juga. Kakak kan orangnya cuek kenapa ini jadi panikan gitu ya." Raya.
"Itu Naluri seorang ibu Nak." Ibu Lidia.
"Benar. Dan saya merasa terharu. Bahkan Ibu kandungnya saja menelantarkan Daren sedang Tasya memberikan kasih sayang tak terhingga pada Daren. Itu yang membuatnya merasa nyaman berada dekat dengan Tasya." Ucap Mami Marchel dengan linangan air mata di pipinya.
Galih menyenggol Raya dan memberi kode mata pada Mami Marchel. Raya pun mendekati Mami Marchel dan memeluknya dari samping.
"Tante tidak perlu meragukan kasih sayang Kakak. Walaupun Daren tidak terlahir dari rahim Kakak tapi Raya yakin Kakak akan memberikan kasih penuh pada Daren." Raya.
"Aku benar Nak. Tante bisa melihat itu semua." Mami Marchel.
Dengan membawa Daren dalam gendongannya yang sudah terbalut handuk karena Tasya sudah memandikannya menggunakan air dari kran merasa heran melihat Ibu Lidia dan Mami Marchel menangis. Di tambah Mami Marchel menangis dalam pelukan Raya.
"Ada apa? Kenapa kalian menangis?" Tasya.
"Eh, cucu Nenek sudah main airnya? Sudah mandi juga rupanya. Senang ya main air?" Tanya Ibu Lidia mengalihkan pertanyaan Tasya.
"Tentu saja Nenek. Apa Nenek tidak mencium bau harum aku yang sudah mandi." Jawab Tasya.
Daren begitu senang dalam gendongan Tasya. Tawanya tak pernah lepas dari bibirnya. Membuat dua suster pun merasa sangat senang. Mami Marchel menghapus jejak air mata di pipinya. Ayah Effendi masuk untuk membersihkan dirinya juga yang basah dan berkeringat setelah bermain bersama Daren.
Ibu Lidia pun segera mengikuti suaminya masuk untuk menyiapkan pakaiannya. Mami Marchel yang sudah mandi hanya diam duduk bersama dengan Raya. Karena Raya belum mau mandi. Galih pun ada di sana. Melihat Daren yang sudah rapi Marchel pun berniat ingin menggendongnya kembali.
"Wah, sayangnya Papa sudah rapih. Ayo ikut Papa Nak." Ajak Marchel.
"Eits,, enak aja. Papa belum mandi masih bau asem. Nanti Daren tertulis lagi baunya. Sana Papa mandi dulu." Usir Tasya.
"Sebentar saja Papa gendong Abang." Pinta Marchel.
"No! Ngga yah. Sana ih mandi." Usir Tasya.
"Pelit amat sih. Kan anak ku itu." Marchel.
"Siapa bilang. Anak ku yah." Tasya.
"Stop! Iya Daren anak kalian. Sudah sana Kak mandi sebelum Kak Tasya bertanduk." Raya.
"Enak saja. Kau juga sana mandi." Tasya.
🌹🌹🌹
yg judul 'jodoh pilihan ayah' jg di up thor
lanjuttttt