Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Aroma kopi yang pekat dan desis mesin espresso di sudut kafe mendadak tenggelam oleh keheningan yang luar biasa mencekam di meja nomor empat.
Tasya yang sedang menyuap sendok terakhir pancake cokelatnya mendadak mematung dengan mulut setengah terbuka. Di sebelahnya, Keira yang baru saja ingin meminum es Americano pesanannya meletakkan gelas itu kembali ke meja dengan denting yang cukup keras.
Kedua pasang mata itu melebar sempurna, menatap lurus ke arah Laila yang duduk di seberang mereka dengan wajah pasrah bercampur jutek yang amat familier.
"Lo... bilang apa tadi, La? Coba ulangin sekali lagi. Kuping gue mendadak budek kemasukan angin AC kayaknya," ujar Tasya, mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya.
Laila menghela napas panjang, memutar-mutar gelas jus stroberi yang tinggal setengah dengan gerakan malas. "Gue bilang, gue lanjut. Gue nerima perjodohan ini. Puas?" jawab Laila. Nadanya ketus, tetapi ada semburat tipis warna merah yang mendadak menjalar di kedua pipinya.
"DEMI APA?!"
Tasya dan Keira berseru kompak, cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh kaget. Keira buru-buru membekap mulutnya sendiri, sementara Tasya langsung memajukan badannya hingga dadanya hampir menyentuh tepi meja.
"Bentar, bentar. Ini Laila yang sama, kan? Laila yang pernah bilang gak mau berurusan sama para halo dek itu kan?" Keira memberondong dengan rentetan pertanyaan, wajahnya syok berat. "Kok bisa? Sejak kapan? Jangan bilang lo dipelet pakai baret birunya si Arjuna?!"
Laila mendengus kencang, memutar bola matanya dengan gaya judes andalannya untuk menutupi rasa salah tingkah yang makin menjadi-jadi. "Kalian mikirnya kejauhan, ya! Enggak ada pelet-peletan. Gue cuma... kalian tau kan gimana keadaan Papi gue beberapa minggu lalu, dokter bilang Papi gue gak boleh stres berat, dan yang bikin Papi gue sekarat kayak waktu itu ya gue pastinya, gara-gara mikirin gue pastinya."
Laila diam sejenak. "Dan akhirnya gue mutusin buat terima aja perjodohan ini walaupun terpaksa. Itung-itung juga buat menuhin permintaan terakhir Mami gue," jelas Laila.
Keira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya seketika berkaca-kaca. Sementara Tasya mematung, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menimpa. Selama seminggu ini, tanpa ia sadari sahabatnya itu sedang memikul beban emosional yang luar biasa berat sendirian.
"La..." panggil Tasya lirih. Ia menggeser kursinya lebih dekat dan langsung menggenggam tangan Laila yang terasa dingin.
Keira menyeka air mata yang telanjur jatuh di pipinya, lalu ikut mencondongkan badannya ke depan. "Terus... Mas Arjuna tahu soal ini, La? Dia tahu lo nerima dia semata-mata demi nyokap dan bokap lo?"
Laila menarik napas panjang. "Enggak, dia gak tau. Cuma gue, Devan, dan kalian berdua yang tau," balas Laila singkat.
"Terus, gimana sama Devan? Kalian... putus?" Tasya juga ikut bertanya perihal Devan.
"Soal itu, gue sama Devan masih baik-baik aja. Kita belum putus, gue sebenernya mutusin buat nerima perjodohan ini dan akan berada dalam ikatan pernikahan sama Arjuna hanya dalam jangka satu tahun doang," jelas Laila.
Mendengar seluruh kebenaran itu, Tasya mengeratkan genggamannya pada tangan Laila. Rasa kesal karena terlambat diberi tahu kini berganti menjadi rasa salut yang luar biasa.
"Laila dengar gue," Tasya menatap lurus ke dalam mata bulat sahabatnya itu dengan sorot tajam namun penuh kehangatan. "Apa yang lo lakuin ini bukan kelemahan. Menyerahkan kebebasan lo demi ketenangan terakhir orang tua lo itu adalah hal paling berani, paling mulia yang pernah gue dengar."
Keira mengangguk kuat-kuat, tangisnya belum sepenuhnya reda. Ia meraih tangan Laila yang satu lagi. "Tasya bener, La. Lo jangan pernah merasa berjuang sendirian. Kalau lo mau pasang muka judes sampai hari-H buat nutupin sedih lo, lakuin aja! Biar gue sama Tasya yang jadi tameng lo."
"Mulai hari ini," tegas Tasya, "kita berdua bakal jadi asisten pribadi lo. Lo mau marah-marah pas fitting baju? Kita temenin. Lo mau ngomel soal katering? Kita yang marahin vendornya."
"Dan soal rencana satu tahun itu..." sambung Keira, mengusap hidungnya yang memerah. "Kalau dalam 365 hari si Arjuna bikin lo gak nyaman, gue sendiri yang bakal beliin tiket pesawat buat lo kabur ke luar negeri. Kita dukung semua keputusan lo, Lai. No questions asked."
Laila menatap kedua wajah sahabatnya bergantian. Pertahanan yang ia bangun susah payah akhirnya runtuh juga. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya, meluncur turun melewati pipinya yang mulus. Ia buru-buru menghapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"Sialan kalian, bikin gue nangis di kafe aja," rutuk Laila dengan nada judes yang mulai kembali, meski suaranya masih bergetar. Ia menarik napas panjang, menyesap es teh lemon polosnya yang terasa dingin menyegarkan, memberikan sedikit ketenangan di kepalanya yang ruwet.
"Makasih, ya," bisik Laila. "Gue enggak tahu harus gimana kalau enggak ada kalian."
Tasya dan Keira tersenyum lebar, menghapus sisa air mata mereka. Di sudut kafe, tidak ada lagi penghakiman. Yang tersisa hanyalah tiga perempuan muda yang mengikat janji persahabatan, siap menghadapi badai pernikahan yang hanya berbatas waktu satu tahun itu.
Sejak pengakuan jujur Laila satu jam lalu pada kedua sahabatnya dan pengakuan jujur Laila tentang apa yang ia hadapi seminggu belakang, kini ponselnya di atas meja kafe kembali menjerit.
Kali ini bukan lagi panggilan video biasa, melainkan rentetan panggilan suara tanpa henti dari nomor Ayah, disusul dengan deretan pesan teks berhuruf kapital semua, "LAILA! ARJUNA SUDAH COBA STELANNYA! KAMU DI MANA?! SEKARANG JUGA DATANG ATAU PAPI YANG JEMPUT KAMU."
Laila menatap layar itu dengan bibir yang melengkung ke bawah, membentuk lengkungan judes yang sempurna. Ia mengembuskan napas panjang, lalu membalikkan ponselnya dengan kasar ke atas meja.
"Tuh, lihat. Setelah teror ngurus berkas nikah kantor kelar, sekarang terornya udah naik level," ketus Laila, memajukan bibirnya.
"Lama-lama butik Tante Merry disulap jadi markas interogasi militer kalau gue enggak muncul."
Tasya yang baru saja mendengar kisah pelik di balik rencana pernikahan satu tahun ini langsung mendengus kencang. Aura sedihnya dalam sekejap berganti menjadi semangat tempur yang membara. Ia menggebrak meja pelan dengan telapak tangannya.
"Oh, jadi begitu cara mainnya? Pakai taktik intimidasi?" Tasya tersenyum licik, matanya berkilat penuh rencana.
"La, lo bilang tadi si Arjuna itu tipikal cowok tengil yang selalu punya jawaban buat kejudesan lo, kan? Dan lo mau bikin pernikahan ini berantakan atau minimal bikin mereka pusing setengah mati?"
Laila mengangguk pelan, menatap Tasya dengan dahi berkerut. "Iya. Kenapa?"
Keira langsung ikut mencondongkan badannya ke depan, senyumannya tak kalah licik dari Tasya. Sisa air mata di pipinya sudah kering, digantikan oleh naluri jahat persahabatan yang mendadak bangkit. "La, lo enggak boleh datang ke sana sendirian sebagai korban. Lo harus datang sebagai komandan pasukan. Gue sama Tasya ikut sekarang ke butik!"
"Kalian mau ikut?" Laila mengerjap, sedikit terkejut melihat perubahan drastis kedua sahabatnya yang beberapa jam lalu menangis haru, kini malah terlihat seperti penjahat yang siap merampok bank.
"Jelas ikut!" seru Tasya sambil menyambar tas jinjingnya. "Gue pengen lihat seberapa kuat pertahanan mental si Kapten Baret Biru itu kalau dihadang tiga cewek judes sekaligus. Kita bikin dia kapok, kita bikin dia kesal, kita acak-acak fitting baju hari ini sampai pusing sendiri."
"Bener!" Keira menimpali dengan semangat berapi-api. "Lo mau fitting gaun kan? Biar gue sama Tasya yang jadi kritikus paling kejam se-Indonesia. Kain gatal lah, modelnya mirip gorden aula lah, warnanya mirip baju lari siang lah. Pokoknya kita bikin mentalnya jatuh di depan bokap lo!"
Melihat dukungan tak masuk akal namun sangat menghibur dari kedua sahabatnya, sudut bibir Laila perlahan terangkat. Benteng kejutekannya yang sempat runtuh karena urusan emosional kini kembali tegak, kali ini dilengkapi dengan dua meriam bantuan di kanan dan kirinya.
"Oke," jawab Laila, senyum judes nan anggun terukir di wajah cantiknya. Ia menyambar dompetnya, menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja untuk membayar seluruh pesanan mereka tanpa menunggu pelayan datang.
"Ayo kita ke butik. Kita lihat seberapa tahan bantingnya si Arjuna menghadapi trio macan," ujar Tasya.
...Bersambung... ...