Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Siang, Mbak Rani. Kenalkan, saya Ali. Pengganti Pak Fandi dari Mitra Jaya." ucap lelaki yang duduk di depanku.
"Siang, ada tanda Terima aslinya, Pak?" tanyaku pada lelaki itu. Saat ini memang jadwal tagihan, dan minggu lalu Pak Fandi memang sudah menginfokan jika minggu ini yang datang adalah pengganti nya karena ada roling area.
Setelah aku mencocokkan tanda terima, dan aku rapikan jadi satu di berkas tagihan yang nantinya akan di arsipkan, aku serahkan berkas itu beserta BG pembayarannya pada Pak Ali.
"Mbak Rani, saya kan baru di sini. Sebentar lagi makan siang. Mbak mau nggak, makan siang bareng sama saya. Soalnya saya belum tahu tempat makan yang rekomended di sini." ucap Pak Ali.
Aku terdiam sebentar, meski dalam hati aku sedikit kesal dengan lelaki satu ini. Apalagi di satu sudut sana, ada seseorang yang langsung menatapku tajam.
"Sudah tahu siang kan, Pak. Minta tolong segera di cek kalau BG dan tagihan sudah sesuai segera di tanda tangani tanda terimanya." jawabku singkat.
Aku memang jarang suka basa basi apalagi dengan orang baru. Bagi mereka yang pertama kali mengenalku, pasti aku sudah dapat predikat angkuh, sombong, sok, dan entah apalagi. Yang pasti kesan jelek tersemat padaku. Tapi bagi mereka yang tahu, seberapa berharganya tiap menit saat aku bekerja, mereka akan paham kenapa aku kurang suka basa basi saat bekerja. Kecuali saat di luar jam kerja, banyak di antara mereka yang jadinya seperti saudara dan beberapa kali main ke rumah. Sekedar kumpul-kumpul rujakan, atau makan bersama.
"Masih banyak yang antri di belakang." ucapku lagi.
"Iya, Mbak. Maaf." jawab lelaki itu.
Aku hanya mengangguk lalu melanjutkan menyiapkan berkas tagihan untuk suplier lainnya.
Hingga yang terakhir giliran lelaki yang tadi menatap tajam padaku.
"Ehm, mau makan siang bareng saya Mbak? Saya belum tahu tempat makan yang enak di sini?" ucap lelaki itu.
"Apaan sih, Bang? Nggak jelas banget!"
Ya, lelaki yang sedari tadi menatap tajam setelah mendengar ajakan makan siang itu adalah Bang Rengga. Dia memang selalu sengaja datang siang, karena sekalian setelah tagihan langsung makan siang sama-sama.
"Berasa paling ganteng aja."
"Udah, buruan itu di cek tagihannya. BG nya juga, udah bener belum. Udah lapar aku," ucapku pada Bang Rengga.
"Mau makan apa?" tanya lelaki itu yang memang selalu mendahulukan apa yang aku inginkan.
"Pengen seblak sebenarnya, tapi jauh. Deket sini kan nggak ada." ucapku sambil menata berkas tagihan yang sudah selesai hari ini.
"Makan nasi aja dulu ya, Abang tadi nggak sempat sarapan. Nanti sore aja Abang jemput makan seblak di tempat biasa." ajaknya.
"Iya deh." jawabku. Karena tidak mungkin juga kalau harus keluar jauh dari kantor.
"Atau mau Abang pesenin aja sekarang?"
"Nggak usah, Bang. Rasanya beda, lebih enak langsung makan di tempat nya."
Lelaki itu mengangguk, lalu melanjutkan memeriksa tagihan dan BG. Setelah semua lengkap, aku rapikan meja yang kugunakan tadi.
Setelah yakin bersih dan tidak ada yang tertinggal semua kubawa kembali ke ruangan yang biasa aku gunakan. Tentu saja dibantu oleh Bang Rengga. Baru setelah itu, aku pamit sholat dan makan siang. Khusus hari selasa, saat aku melakukan pembayaran tagihan, ada satu orang anak apotik depan yang menggantikan aku cetak faktur.
Di tempat lain, ada seorang lelaki yang bersungut kesal.
"Sombong amat ya, jadi orang. Di ajak makan aja sok nolak." ucap lelaki itu.
"Lha, kamu sendiri yang salah. Baru juga kenal, udah ngajak keluar makan." jawab teman yang duduk di sebelahnya.
"Halah, sok aja itu mah. Tuh, lihat. Itu kan lelaki yang tadi ikut duduk antri ambil tagihan. Lihat, itu Mbak Rani lagi jalan sama dia. Menang penampilan aja dia mah." ucap Pak Ali sambil menunjuk ke arah dimana aku dan Bang Rengga berjalan berdampingan ke masjid
"Pak Ali, Pak Iman, maaf. Mbak Rani itu sebenarnya asyik kok orangnya. Cuma kalau lagi kerja emang serius. Tapi kalau pas di luar enak kok di ajak ngobrol. Ya kan, Wan?" ucap Pak Agus.
"Iya, kita sering kok ngumpul di rumahnya sekedar makan. Mbak Rani emang nggak suka buang-buang waktu. Soalnya, yang dia kerjakan itu banyak. Dia itu, satu orang tapi bisa pegang lebih dari tiga pos pekerjaan di kantornya Pak Wandi." jawab Pak Irwan.
"Kalau soal Mbak Rani sama Pak Rengga, lha.. Kan memang mereka udah mau nikah. Hari Minggu kemarin mereka kan baru aja lamaran." tambah Pak Agus lagi.
"Pantesan aja tadi matanya Pak Rengga langsung melotot pas kamu ajakin Mbak Rani makan siang bareng." jawab Pak Iman.
"Iya, makanya jangan asal nyerocos aja. Kesan pertama itu menentukan sikap lawan bicara kita selanjutnya." sindir Pak Agus.
Yang disindir hanya diam tidak bisa menjawab.
*****
Sore hari, baru beberapa menit aku sampai di rumah, terdengar suara ketukan pintu kamar. Setelah memakai bergo, segera aku beranjak membuka pintu kamar.
"Ran, ada Bang Rengga di depan." ucap Ibu.
"Lhoo, Ibu kapan datang? Putri sama siapa di sana?" tanyaku.
"Ibu tadi kerja, berangkat dari rumah sakit. Ada Ibunya Putri. Gantian nemenin, jatah libur Ibu sudah habis."
"Oalah, njeh Bu. Tapi kok tumben jam segini nembe wangsul."
"Tadi mampir ke rumah sakit lagi. Besok Gaffi boleh pulang. Makanya ini Ibu pulang. Mau nyiapin kamar adekmu. Lagian juga nggak enak ada Mbak-mbak kamu datang. Ya sudah, sana. Kasihan Bang Rengga nya kalau nunggu lama."
"Njeh, Bu." jawabku lalu menutup pintu kamar setelah Ibu berlalu. Kemudian aku ke depan menemui Bang Rengga yang ternyata sedang ngobrol seru dengan para wanita, pawang dari Mas-mas ku yang ganteng.
"Bang," sapaku.
"Sayang, lhoo kamu baru pulang?" tanyanya setelah melihat penampilan ku masih dengan baju kerja yang tadi aku pakai.
"Iya, tadi pas mau pulang ada customer dari luar kota datang. Jadi mau nggak mau kita siapin pesanannya soalnya mau langsung dibawa sendiri. Kebetulan dia bawa mobil box, habis kirim keperluan anaknya yang baru masuk kuliah di sini." jawabku setelah duduk di samping lelaki tampan pujaan anak gudang di tempat ku bekerja ini.
"Heem... Ya udah. Kamu bersih-bersih dulu aja. Abang tunggu di sini. Jadikan?" tanya nya mengingatkan aku pada rencana kami siang tadi.
Aku gegas berdiri, saat lezatnya kuah seblak yang tidak terlalu pedas melintas dalam angan.
"Okey, Bang. Tunggu sebentar ya." jawabku.
Awalnya, Bang Rengga tidak suka yang namanya seblak meski dia suka dengan menu pedas. Katanya, makanan apaan sih, kerupuk kasih kuah. Berawal dari rasa penasaran saat mengantar aku beli seblak, akhirnya dia mulai suka meski tidak termasuk yang suka banget.
Tidak lama, aku sudah siap. Kamipun segera berangkat setelah pamit pada Ibu dan Bapak.
Warung seblak yang kami tuju, tidak hanya menjual seblak saja. Di sana juga ada banyak menu lainnya.
Saat masuk ke warung, tiba-tiba saja Bang Rengga merangkul pinggang ku. Hal itu membuat aku terkejut, dan reflek mencubit pinggang lelaki itu pelan.
"Awwww... Sakit, Yang!" ucapnya pelan sambil menahan sakit.
"Tangannya kenapa nggak tahu tempat ya?"
"Sengaja, lihat itu. Siapa yang duduk di arah jam tiga. Dari kamu masuk dia ngelihatin kamu terus." bisik Bang Rengga.
Sekilas aku melihat lewat sudut ekor mata, aku sudah tahu siapa lelaki itu. Pantas saja reaksi Bang Rengga jadi seperti itu.
Kami terus melangkah mencari bangku kosong dan pura-pura tidak tahu jika ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan dari jauh, setelah memesan makanan dan sekaligus membayar pesanan di meja kasir tentunya. Untung saja bukan malam minggu, jadi suasana warung tidak terlalu ramai.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan kami datang. Tanpa basa basi lagi, kami segera menyantap menu pilihan kami karena memang kondisi perut yang lapar dan minta di isi kembali.
"Ekhem.... " aku mendengar suara orang berdeham di dekatmu sambil berdiri.