Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tampat Tinggal Baru
Hari yang dinanti pun tiba. Udara pagi itu terasa sejuk saat Yeza menyelesaikan kemasannya di dalam kamar. Di atas kasurnya, kini hanya tersisa tiga buah koper yang berjejer rapi.
Satu koper berukuran sedang berisi pakaian dan keperluan pribadinya, sedangkan dua koper lainnya—yang jauh lebih besar dan kokoh—adalah koper khusus peralatan makeup profesional. Dua koper makeup itu bukan sekadar barang biasa bagi Yeza; itu adalah simbol perjuangan kerasnya selama bertahun-tahun. Di dalamnya tersimpan berbagai kosmetik premium yang ia beli satu per satu dengan menyisihkan uang tabungan hasil kerja kerasnya membuat konten ulasan kecantikan di media sosial. Setiap kuas dan palet warna di sana dibelinya dengan cucuran keringat dan mimpi besar.
"Nduk, kopernya sudah siap semua?" tanya ibunya yang masuk ke kamar sambil membawa sekotak bekal makanan yang masih hangat. "Ini untuk makan siangmu nanti di sana."
"Sudah, Bu. Tinggal diangkat saja," jawab Yeza dengan senyum manis, meski matanya berkaca-kaca menatap sang ibu.
Tak lama kemudian, suara klakson mobil yang khas terdengar dari depan gang. Mobil MPV hitam milik Max telah tiba. Bram turun dengan senyum ramahnya yang biasa, langsung berjalan menyusuri gang sempit untuk membantu Yeza membawa barang-barangnya.
"Pagi, Ibu! Pagi, Yeza!" sapa Bram dengan riang begitu sampai di teras rumah.
"Pagi, Nak Bram. Duh, repot-repot sekali sampai harus menjemput kemari," ucap ibu Yeza sungkan.
"Ah, sama sekali tidak repot, Bu. Ini memang sudah tugas saya atas perintah Max," jawab Bram sopan. Matanya beralih ke koper-koper Yeza. "Wah, ini saja barangnya? Ringkas sekali ya. Sini, biar saya yang bawakan koper makeup-nya."
Bram dengan sigap mengangkat dua koper makeup yang cukup berat itu di kedua tangannya, sementara Yeza menarik koper pakaiannya sendiri. Mereka berjalan perlahan menuju mobil. Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, Yeza berbalik dan menggenggam erat tangan ibunya. Ia memeluk wanita yang sangat dicintainya itu dengan erat.
"Ibu, Yeza pamit ya. Ibu harus jaga kesehatan baik-baik di rumah. Yeza janji, setiap minggu Yeza akan pulang kunjungi Ibu minimal dua kali kalau tidak ada jadwal syuting yang padat," bisik Yeza menahan haru.
Ibunya mengusap punggung Yeza dengan lembut. "Iya, sayang. Jangan khawatirkan Ibu. Fokus saja pada pekerjaanmu dan jaga kepercayaan Nak Max. Kabari Ibu kalau sudah sampai, ya."
Bram yang melihat momen hangat itu juga membungkuk hormat kepada ibu Yeza. "Saya pamit membawa Yeza dulu ya, Bu. Ibu tenang saja, di sana ada saya dan Max yang akan menjaga Yeza dengan baik."
"Iya, Nak Bram. Terima kasih banyak, ya," jawab ibunya dengan senyum lega.
Bram memasukkan seluruh koper ke dalam bagasi mobil dengan rapi dan menutup pintunya. Begitu Yeza masuk dan duduk di kursi tengah, mobil perlahan melaju meninggalkan kawasan padat penduduk itu. Yeza melambaikan tangannya lewat kaca jendela ke arah ibunya yang berdiri di mulut gang hingga sosok ibunya perlahan menghilang dari pandangan. Perjalanan menuju kehidupan barunya kini resmi dimulai.
Melihat senyum tulus ibunya yang perlahan menjauh dari pandangan kaca spion mobil membuat dada Yeza dipenuhi perasaan hangat sekaligus haru.
Sebenarnya, ibu Yeza—Bu Asih—masih tergolong cukup muda. Usianya baru menginjak 48 tahun. Karena profesinya sebagai guru taman kanak-kanak yang setiap hari dikelilingi oleh keceriaan anak-anak kecil, aura Bu Asih selalu terlihat segar, bugar, dan penuh energi positif. Kerutan di wajahnya sangat minim, dan garis-garis wajahnya masih menyisakan kecantikan khas wanita Jawa yang sangat anggun dan teduh.
Siapa pun yang melihat mereka berjalan berdampingan di pasar atau lingkungan rumah pasti akan langsung tahu bahwa mereka adalah ibu dan anak. Wajah mungil, mata bulat yang jernih, serta senyum manis yang saat ini dimiliki Yeza adalah warisan mutlak dari sang ibu. Kemiripan mereka begitu identik, bagaikan melihat versi muda dari Bu Asih.
"Ibumu masih kelihatan muda sekali ya, Yeza," celetuk Bram dari kursi kemudi, memecah keheningan di dalam mobil yang mulai memasuki jalan raya utama. "Waktu pertama kali melihat beliau semalam, aku sempat mengira beliau itu kakakmu, lho."
Yeza spontan tertawa kecil mendengarnya, rasa sedih karena berpisah dengan ibunya sedikit terobati. "Ah, Kak Bram bisa saja. Tapi memang banyak tetangga yang bilang begitu. Ibu paling tidak suka kalau dibilang sudah tua, makanya beliau selalu menjaga penampilannya tetap segar."
"Pantas saja kamu punya bakat seni dan wajah secantik ini," puji Bram tulus sambil sesekali melirik dari spion tengah. "Ternyata memang keturunan bibit unggul dari ibumu. Wajah imutmu itu benar-benar jiplakan persis dari beliau."
"Terima kasih, Kak Bram," jawab Yeza malu-malu, pipinya sedikit merona mendengar pujian itu.
Yeza menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin, memandang jalanan kota Jakarta yang mulai padat. Pujian Bram membuat Yeza kembali teringat pesan ibunya untuk selalu menjaga diri dan bekerja dengan baik. Dengan modal bakat, koper makeup hasil keringatnya sendiri, serta paras rupawan yang diwarisi dari ibunya, Yeza memantapkan hati. Ia tidak akan mengecewakan ibunya, dan tentu saja, ia tidak akan mengecewakan kepercayaan besar yang telah diberikan oleh Maxemilian kepadanya.
Mobil MPV hitam yang dikendarai Bram akhirnya berbelok memasuki area lobi sebuah gedung apartemen pencakar langit yang sangat megah di kawasan Jakarta Selatan. Keamanan di tempat ini sangat ketat; setiap kendaraan yang masuk harus melewati pemeriksaan berlapis, dan para petugas keamanan menyapa dengan sangat hormat begitu mengenali mobil milik Max.
Yeza menatap keluar jendela dengan mata berbinar. Arsitektur gedungnya sangat modern dengan sentuhan marmer mewah dan pepohonan hijau yang tertata rapi di sekeliling lobi.
"Ayo, Yeza. Kita langsung naik saja," ajak Bram ramah setelah memarkirkan mobil di area khusus penghuni VIP.
Bram dengan sigap menurunkan ketiga koper Yeza dan meletakkannya di atas troli barang. Mereka kemudian berjalan masuk menuju lift khusus penghuni (private lift) yang hanya bisa diakses menggunakan kartu sensor khusus.
Begitu pintu lift tertutup, Bram menempelkan kartu akses dan menekan tombol angka 10. Lift meluncur naik dengan sangat cepat dan halus, hampir tanpa suara, membuat Yeza sedikit takjub karena terbiasa dengan lift biasa yang sering kali berguncang.
Ting!
Pintu lift berdinding kaca es itu terbuka, menyajikan pemandangan sebuah koridor yang sangat sunyi, bersih, dan berkarpet tebal yang meredam setiap suara langkah kaki. Koridor di lantai sepuluh ini terasa sangat privat, hanya ada dua pintu unit apartemen besar yang saling berhadapan di ujung lorong.
"Nah, kita sudah sampai di lantai sepuluh," ujar Bram sambil mendorong troli koper Yeza keluar dari lift.
Yeza berjalan di samping Bram, mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong yang diterangi lampu dinding temaram yang estetik. "Kak Bram, lantai ini sepi sekali ya? Hanya ada sedikit unit di sini?"
Bram terkekeh pelan sambil menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kayu jati kokoh berwarna hitam dengan nomor unit 10B.
"Tentu saja sepi, Yeza. Lantai ini memang lantai khusus VIP. Di lantai sepuluh ini hanya ada dua unit apartemen saja," jelas Bram sambil mulai menekan kode angka pada kunci pintu digital (smart lock) unit 10B.
"Hanya dua unit?" tanya Yeza memastikan, agak heran dengan konsep tata ruang yang begitu luas namun sangat sepi ini.
"Iya," Bram tersenyum misterius, matanya melirik ke arah pintu unit tepat di seberang mereka yang bernomor 10A. "Unit 10B ini adalah tempat tinggalmu selama masa kontrak kerja. Dan unit 10A di depan kita itu... adalah tempat tinggal pribadi Max."
Mendengar ucapan Bram, Yeza seketika mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menatap pintu hitam unit 10A, lalu beralih menatap pintu unitnya sendiri yang kini perlahan terbuka.
Jadi, selama ini Max menawarkan apartemen yang bersebelahan persis dengannya? Yang berarti, mulai hari ini, mereka akan tinggal hanya dibatasi oleh dinding lorong yang sunyi ini.