NovelToon NovelToon
Gairah Cinta Terlarang

Gairah Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."

Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.

Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.

Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.

Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.

Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.

Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.2 -Rasa yang Salah

Maya menerima panggilan telepon itu bersamaan dengan Alyssa yang baru saja turun dari lantai dua. Hari ini, Alyssa berencana membuat kue cokelat kesukaan Adrian sekaligus menyiapkan makan siang untuk dikirimkan ke kantor suaminya. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak dua bulan yang lalu.

Walau pernikahannya dengan Adrian masih dingin tanpa cinta, Alyssa terus berusaha. Ia berharap, sekecil apa pun perhatiannya mampu meluluhkan hati sang suami.

"Ya sudah, Mama tunggu kedatanganmu. Iya, hati-hati di jalan, sayang," ucap Maya lembut sebelum menutup telepon.

Begitu menyadari keberadaan menantunya, Maya tersenyum. "Alyssa, sini nak," panggilnya.

Alyssa mendekat lalu duduk. "Iya, Ma. Ada apa?" tanyanya pelan.

"Sebentar lagi, Arden akan pulang. Katanya dia minta dimasakin rendang," kata Maya dengan raut wajah sumringah.

Deg!

Nama itu—Arden.

Alyssa hampir tak bisa menyembunyikan debaran di dadanya. "Arden?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Iya. Dia sudah selesai dengan tugasnya dan mau pulang. Mama kangen banget sama dia," ujar Maya penuh semangat.

Senyum tipis terbit di bibir Alyssa, tetapi pikirannya langsung melayang jauh. Ingatannya berputar kembali pada acara pesta anniversary pernikahan mertuanya setahun lalu. Saat itu, ia dan Arden sempat terjebak di dalam lift yang rusak selama hampir empat puluh menit.

Gelap yang pekat membuat Alyssa panik—fobia lamanya muncul tanpa bisa dikendalikan. Namun, Arden ada di sana. Dengan tenang, ia menenangkan Alyssa, membuatnya merasa aman meski dunia seakan runtuh.

Hari itu, pesta pernikahan Maya dan Bagas digelar mewah. Musik mengalun, tamu-tamu bergaun indah berbaur, dan Alyssa—yang kala itu masih baru mengenal keluarga besar suaminya—merasa canggung. Ia ingin mencari udara segar, namun langkahnya malah membawanya ke dalam lift.

Tak disangka, Arden ikut masuk.

Lift berhenti mendadak di tengah perjalanan. Lampu padam, menyisakan kegelapan pekat. Alyssa gemetar, tubuhnya kaku karena rasa takut yang menyergap.

"A—aku nggak bisa… gelap…," suaranya tercekat, napasnya tersengal.

Saat itu, Arden menenangkan dengan suara rendah yang tegas. "Hei, tenang. Aku di sini. Pegang tanganku."

Alyssa meraba dan menemukan jemarinya, hangat dan kokoh. Perlahan, kepanikan yang mengecap dadanya mereda. Suara Arden yang terus berbicara menuntunnya untuk bertahan, seakan cahaya kecil di tengah kegelapan.

Sejak kejadian itu, bayangan Arden sulit dihapus dari benak Alyssa. Meski ia sudah resmi menjadi istri Adrian, ada ruang di hatinya yang diam-diam bergetar setiap kali mendengar nama lelaki itu. Alyssa menarik napas dalam, mencoba menutupi perasaannya di depan Maya.

"Nanti Alyssa bantu masakin, Ma," ucapnya lirih, seolah menawarkan diri padahal hatinya bergetar.

Maya mengangguk senang. "Wah, pasti Arden makin betah di rumah. Dia paling suka masakan rumah, apalagi kalau ada rendang. Terima kasih ya, Nak."

Alyssa hanya tersenyum, lalu berpamitan untuk masuk ke dapur. Ia berusaha sibuk dengan bahan-bahan masakan, tapi pikirannya terus saja kembali ke masa lalu.

"Alyssa, kamu baik-baik saja?" tanya Maya.

"Aku baik-baik saja, Ma," balas Alyssa tersenyum.

"Nanti jangan lupa istirahat, ya. Mama nggak mau kamu sakit," ujar Maya lembut.

Alyssa mengangguk. "Iya, Ma."

Namun di dalam hatinya, ia tahu dirinya sedang berperang. Cinta yang seharusnya ia berikan sepenuhnya pada Adrian, perlahan digoyahkan oleh sosok lain yang bahkan tak seharusnya ia pikirkan.

Tepat pukul sebelas siang, dapur kediaman keluarga Narendra sudah dipenuhi aroma harum masakan. Alyssa berdiri di depan meja makan, menata beberapa lauk sederhana hasil tangannya sendiri. Ia juga menambahkan sepotong kue cokelat kesukaan Adrian, berharap setidaknya itu bisa meluluhkan sedikit dinginnya hati sang suami.

Baginya, harapan tidak pernah muluk. Ia tidak menunggu ucapan manis ataupun hadiah mewah. Ia hanya ingin Adrian sekadar melihat, mengakui, dan menghargai usahanya. Namun, setiap kali Alyssa mencoba mendekat, yang ia temukan hanyalah dinding dingin yang mustahil ditembus.

“Huh…” Alyssa menghela napas pelan. Tangannya gemetar saat menutup kotak bekal itu dengan hati-hati. Ia menambahkan es kopi—kopi yang selalu disukai Adrian sejak dulu setelah makan siang.

Setelah semuanya siap, ia menyerahkan bekal itu kepada Pak Budi, sopir keluarga. "Pak, tolong antarkan ini ke kantor Adrian, ya."

“Baik, Nona.” Pak Budi menerima dengan hormat.

Alyssa hanya bisa menatap mobil yang perlahan keluar dari halaman rumah. Dalam hati ia berdoa, semoga Adrian menyukai masakannya.

Sekitar setengah jam kemudian, mobil Pak Budi sudah sampai di perusahaan milik keluarga Narendra. Ia menyerahkan kotak bekal itu kepada Gema, asisten pribadi Adrian yang sudah menunggu di lobi.

“Titipan dari Nyonya,” ujar Pak Budi singkat.

“Baik, Pak. Terima kasih.” Gema menerima kotak itu dengan sopan.

Ia pun segera menuju lantai atas dan mengetuk pintu ruangan bosnya. Setelah mendapat izin, ia masuk dengan langkah ragu. Adrian sedang duduk bersama seorang wanita yang tidak asing baginya. Hanum—nama yang sering disebut-sebut belakangan ini dan menjadi perbincangan hangat para karyawan, wanita yang katanya dulu adalah cinta pertama Adrian.

“Titipan dari istri Anda, Tuan,” kata Gema hati-hati sambil menyerahkan kotak bekal.

Adrian bahkan tidak menoleh. “Taruh saja di meja.”

Gema menuruti, lalu segera undur diri. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekilas. Hanum tengah duduk manis dengan senyum yang hanya ditujukan kepada Adrian, seolah ruangan itu milik mereka berdua.

“Istrimu rajin sekali, Ad,” ucap Hanum dengan nada setengah mengejek begitu pintu tertutup.

Adrian terkekeh dingin, menatap kotak bekal yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Dengan enteng, ia menekan bel kecil di mejanya. Seorang OB segera datang, dan tanpa pikir panjang Adrian menyerahkan kotak itu kepadanya.

“Bawa ini, untukmu saja,” katanya datar.

Hanum mengangkat alis. “Kenapa diberikan pada orang lain? Itu kan masakan spesial dari istrimu.”

“Kenapa? Kamu cemburu?” Adrian menoleh dengan tatapan menantang.

“Bukan cemburu,” jawab Hanum santai, meski ada kilatan kepuasan di matanya. “Aku hanya tidak suka ada yang terlalu perhatian padamu. Lagipula, apa masakanku kurang enak dibandingkan masakannya?”

Adrian tersenyum tipis. “Tidak. Masakanmu selalu jadi yang terbaik. Aku menyukainya.”

Hanum tersenyum puas, lalu menyodorkan bekal yang ia buat sendiri. Hari ini ia memang sengaja mengambil cuti dari rumah sakit tempatnya bekerja, hanya untuk bisa makan siang bersama Adrian. Dan pria itu menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah ialah satu-satunya wanita yang berhak di sisinya.

Di luar ruangan, Zulfi—salah satu OB perusahaan—berjalan sambil menenteng kotak bekal yang barusan diberikan Adrian. Di koridor, ia berpapasan dengan Gema.

“Zul, kok kamu yang bawa bekalnya Bos?” tanya Gema heran.

“Iya, Mas Gem. Bos yang ngasih. Katanya buat aku aja. Hampir setiap hari aku dapat,” jawab Zulfi jujur.

“Serius?” Gema menatapnya tak percaya.

“Iya.” Zulfi tersenyum kecil, meski ada rasa tidak enak di hatinya. “Ya sudah, saya permisi dulu. Mari, Mas.”

“Iya.” Gema hanya bisa mengangguk, lalu melanjutkan langkah dengan wajah muram. Dalam hatinya, ia merasa iba pada Nyonya Alyssa. Setiap hari wanita itu berusaha, tapi usahanya selalu berakhir di tangan orang lain.

Sementara itu, di rumah besar keluarga Narendra, Alyssa duduk di ruang tamu sambil menatap ponsel. Ia menunggu pesan singkat dari Adrian, atau mungkin sekadar tanda terima kasih. Namun, layar tetap hening.

“Belum juga ada kabar?” gumamnya lirih.

Ia mencoba menghibur diri dan berpikir positif, meyakinkan hatinya bahwa mungkin Adrian terlalu busy untuk sekadar menulis pesan singkat. Tetapi, jauh di dasar hatinya, ia tahu: Adrian tidak peduli.

"Apa yang kamu harapkan, Alyssa." Lirihnya, menyeka sudut matanya yang basah.

Sementara orang yang sedang diharapkan sedang tertawa bahagia, di saat seorang istri duduk sendiri dengan hati yang retak, menunggu cinta yang mungkin tak akan pernah datang. Dan tanpa pernah ia sadari, cinta yang ia rawat dengan setia, justru sedang perlahan terkubur. Karena cinta Adrian telah tumbuh di tempat yang paling terlarang.

Bersambung ...

1
jumirah slavina
siap 86 kapten
jumirah slavina
gak ada yang gak mungkin., Kamu aja juga selingkuh Al.,

udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
makan tuh perempuan playing victim
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌺🌺
amit-amit😒
rini marlina sari
lanjut
jumirah slavina
abaikan bisikan syaitan ini Al
jumirah slavina
muak Aku... muak. Aku sm Kamu Ad....
🌺🌺: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
telat Al... telat... sudah kelelahan baru sadar., astagaaaaaaaa🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
Kak Ariiiiiii., ceekeek Adriiiiii.,
jumirah slavina
hheehh gak boleh !!!
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
mo ngapain kalian dalam kamar hotel wwooii
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
astagaaaaaaaa., macam jelangkung aja s' sArden., tetiba nongol 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
gak usahhhhhh balikkkkk !!!
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
jumirah slavina
pergi sonooooo... pergiiiiiii...
jumirah slavina
udah'lh Ad... pergi sono., muak Aku menengok'mu...
jumirah slavina
bohong Ma., dia mo ngajakin Alis menantu Mam selingkuh...


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar laki² menyebalkan Kamu Adriiii !!!
jumirah slavina: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤❤❤❤💞💞💞💞
total 8 replies
EpiWidayanti
stress si Adrian 😏
jumirah slavina: joom lah kita beramai²

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
jumirah slavina
bughhhhhhh... bughhhhhhh... Jumi memukul kepala Adri yang penuh kotoran

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
jumirah slavina
ati² sArden., mengintip bisa bikin stress dan bintitan

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!