Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Penyelidikan atas kematian Harapan akhirnya benar-benar dimulai. Garis polisi dipasang di area kebun tebu yang disebut Dapit sebagai lokasi terakhir Harapan terlihat. Meski peristiwa itu telah berlalu beberapa waktu, tim penyidik tetap melakukan olah tempat kejadian perkara secara menyeluruh.
Petak demi petak kebun diperiksa dengan saksama. Setiap jejak, setiap benda yang dianggap berkaitan dengan perkara itu didokumentasikan dan diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.
Beberapa barang yang diduga memiliki hubungan dengan kejadian tersebut berhasil ditemukan di sekitar lokasi. Selain itu, penyidik juga menemukan sejumlah petunjuk lain yang dinilai perlu dianalisis melalui pemeriksaan forensik untuk memastikan apakah berkaitan dengan kematian Harapan.
Temuan-temuan itu belum dapat disimpulkan sebagai bukti yang mengarah kepada seseorang. Namun, bagi penyidik, semuanya cukup penting untuk memperjelas rangkaian peristiwa yang sebenarnya terjadi di kebun tebu pada hari Harapan menghilang.
Kabar bahwa penyelidikan mulai menemukan sejumlah petunjuk segera menyebar ke seluruh kampung. Sebagian warga mulai percaya bahwa kematian Harapan memang pantas diselidiki lebih dalam. Sebagian lainnya justru semakin resah.
Sementara itu, Mida hanya mampu menengadahkan tangan dalam doa. Ia tak pernah meminta keajaiban. Ia hanya berharap setiap petunjuk yang ditemukan mampu membawa penyidik selangkah lebih dekat kepada kebenaran yang selama ini ia perjuangkan dengan air mata.
***
Dokter forensik kembali membuka lembar demi lembar hasil autopsi. Raut wajahnya tampak serius. "Ibu Mida, kami memahami ini sangat berat. Namun kami harus menyampaikan hasil pemeriksaan sesuai fakta medis."
Mida mengangguk pelan. Tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dokter menarik napas sebelum melanjutkan. "Berdasarkan hasil autopsi, penyebab kematian korban adalah tenggelam. Kami menemukan paru-paru korban terisi air dalam jumlah yang cukup banyak. Temuan ini menunjukkan bahwa saat berada di dalam air, korban masih hidup dan masih bernapas sehingga air masuk ke saluran napas dan paru-parunya."
Mida menatap dokter tanpa berkedip. "Jadi... anak saya... masih hidup ketika berada di air?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter menganggukkan kepala pelan. "Ya, Bu. Berdasarkan temuan forensik, demikian kesimpulan kami."
Belum sempat Mida mencerna ucapan itu, dokter melanjutkan penjelasannya.
"Selain itu, kami juga menemukan sejumlah luka memar akibat benturan benda tumpul di beberapa bagian tubuh korban. Luka-luka tersebut menunjukkan bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal. Namun, kami tidak dapat menyimpulkan dari hasil autopsi saja siapa pelakunya atau bagaimana tepatnya rangkaian peristiwanya. Hal itu harus dipadukan dengan hasil penyelidikan."
Ucapan itu membuat dunia Mida seolah runtuh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. "Ya Allah..." Tubuhnya gemetar hebat.Ia membayangkan anaknya yang mungkin berjuang mengambil napas di dalam air. "Harapan..." Suara itu nyaris tak terdengar. Mida memeluk foto putranya erat. "Maafkan ibu, Nak..." Tangisnya pecah. "Ibu tidak ada saat kau membutuhkan ibu. Ibu tidak bisa menolongmu. Kau pasti sangat ketakutan... Kau pasti berjuang sampai napas terakhirmu."
Semua orang di ruangan itu terdiam. Tak ada satu pun yang sanggup mengucapkan kata-kata penghiburan.
Mida terus menangis sambil memeluk foto Harapan. "Luka-luka itu... pasti sangat sakit, Nak. Lalu kau masih harus menghadapi semua itu seorang diri...." Ia menengadah. Air mata terus membasahi pipinya. "Demi Allah, Nak... ibu akan memperjuangkan keadilan untukmu. Ibu tidak akan berhenti sampai semua yang bertanggung jawab mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum."
Ruangan kembali sunyi. Di balik tangis yang tak kunjung reda, lahirlah tekad seorang ibu untuk mencari kebenaran, apa pun rintangannya.
Malam mulai turun ketika Mida melangkah keluar dari ruang forensik. Gerimis tipis membasahi halaman rumah sakit. Langkahnya terasa berat, tetapi tidak lagi limbung seperti beberapa jam sebelumnya. Di dalam dadanya, kesedihan masih menggunung, namun kini bercampur dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Ia berhenti sejenak di bawah teras. Tatapannya kosong menembus hujan. Di dalam benaknya terus terngiang penjelasan dokter. "Paru-paru korban terisi air dalam jumlah yang cukup banyak..." Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Air mata kembali mengalir. "Anakku..." bisiknya lirih. "Kau masih hidup saat berada di air..." Dadanya kembali sesak.
Ia membayangkan wajah Harapan yang selalu tersenyum setiap kali pulang ke rumah. Anak yang selalu mencium tangannya sebelum berangkat. Anak yang tak pernah lupa bertanya apakah ibunya sudah makan. Kini semua itu hanya tinggal kenangan.
Dewi menghampirinya dan memayungi Mida. "Mi... ayo pulang."
Namun Mida menggeleng pelan. "Aku belum sanggup." Ia menatap langit yang semakin gelap. "Aku tidak bisa berhenti membayangkan apa yang dialami Harapan."
Dewi menggenggam tangannya. "Kita semua ingin mengetahui kebenarannya."
Mida mengusap air matanya. "Aku tidak ingin anakku hanya menjadi angka dalam sebuah berkas perkara." Suaranya mulai terdengar tegas. Mida kemudian berjalan menuju mobil. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah gedung rumah sakit. "Harapan... "Ibu pulang dulu. Tapi perjuangan ibu baru dimulai." Ia masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan. Perlahan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah sakit, sementara hujan turun semakin deras, seakan mengiringi langkah awal perjuangan panjang seorang ibu untuk mencari keadilan bagi anaknya.
Mida sampai di depan gubuk tuanya, ia turun dari mobil Kak Dewi. Suasana di depan rumah duka mendadak memanas. Beberapa warga yang sejak tadi mengamati percakapan itu mulai saling berbisik. Ketegangan terasa begitu pekat.
Ibu Dapit melangkah maju. Wajahnya memerah menahan emosi. Dengan suara lantang ia berkata, "Jangan pernah bawa-bawa anakku! Apa pun yang terjadi, sebagai ibunya aku akan melindungi anakku."
Ucapan itu membuat suasana semakin sunyi. Semua mata beralih kepada Mida.
Mida mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih sembap akibat tangis yang belum benar-benar reda. Namun kali ini, sorot matanya dipenuhi keteguhan. Ia melangkah satu langkah ke depan. Dengan suara bergetar namun tegas, ia menjawab, "Dan aku... sebagai ibunya Harapan, juga akan memperjuangkan keadilan untuk putraku.".Air mata kembali jatuh di pipinya. "Aku tidak menuduh siapa pun tanpa bukti. Tapi siapa pun yang nantinya terbukti terlibat dalam penderitaan dan kematian anakku, akan kuhadapi melalui jalan hukum." Mida mengepalkan tangannya. "Selama napas ini masih ada, aku akan terus mencari kebenaran." Ia menatap lurus ke arah lawan bicaranya. "Dan jika ada yang berhasil menghindar dari pertanggungjawaban di dunia..." Suaranya mulai bergetar karena menahan tangis. "...maka di hadapan Allah, pada hari ketika setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, aku akan menuntut keadilan untuk anakku."
Tak seorang pun bersuara. Angin berembus pelan, memecah keheningan yang menyelimuti tempat itu.
Mida memeluk foto Harapan erat di dadanya. "Aku hanya seorang ibu yang kehilangan anak. Yang kuinginkan hanyalah kebenaran dan keadilan." Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berbalik meninggalkan kerumunan. Langkahnya pelan, tetapi penuh keyakinan, sementara orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa terdiam, menyadari bahwa perjuangan seorang ibu untuk mencari keadilan baru saja dimulai.