Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyimpan Senyum
Niken masih menyimpan senyum kecil di wajahnya, mengingat obrolan bersama Maya tadi. Ia menyandarkan tubuh dengan nyaman di kursi penumpang, sementara Danendra sesekali meliriknya.
"Jadi guru TK tampaknya menyenangkan."
"Tapi lebih menyenangkan lagi kalau pulangnya dijemput suami," balas Niken.
"Berarti setiap hari harus dijemput?"
"Ya, tidak harus. Kalau Mas sedang tidak sibuk saja."
"Baik, kalau begitu aku selalu berusaha agar tidak sibuk." Kata Danendra yang membuat Niken tersenyum ceria.
Namun senyumnya perlahan memudar ketika teringat sesuatu. "Mas, bagaimana keadaan Ayah sebenarnya?"
"Alhamdulillah, untuk sekarang baik." Jawabnya sambil fokus melihat jalan, "dokter bilang, tidak ada kondisi yang mengharuskan Ayah dirawat."
"Syukurlah."
"Tapi dokter menemukan sedikit hal yang perlu diperhatikan," kata Danendra lagi yang membuat Niken menoleh.
"Apa itu di bagian jantung?"
"Iya. Makanya tadi dilakukan beberapa pemeriksaan, tapi beruntungnya kondisi Ayah untuk sementara cukup baik. Dokter hanya meminta supaya Ayah mengurangi aktivitas berat dan kontrol secara rutin."
Niken mengangguk, "berarti Ayah tidak boleh terlalu sering bekerja di kebun."
"Betul." Danendra tersenyum tipis, "cuma masalahnya, Ayah merasa dirinya masih kuat."
Niken tertawa kecil. "Orang tua memang sering merasa seperti itu. Kalau begitu ini tugas kita untuk terus membujuknya."
"Ya, kita lihat saja nanti, apa Ayah bakal nurut."
"Kalau Mas sendirian yang melarang, mungkin Ayah masih bisa membantah. Tapi kalau sama aku, mungkin akan lebih nurut."
Danendra terkekeh, "sepertinya kamu sudah tahu cara menghadapi Ayah."
"Bukan tahu cara menghadapi, aku hanya sudah mulai mengenal Ayah."
"Memangnya apa bedanya?"
"Bedanya... kalau menghadapi, itu berarti kita sibuk mencari cara untuk menang." Niken menghela napas pelan, lalu melanjutkan, "kalau mengenal, itu berarti kita tahu kapan harus menjelaskan, kapan harus diam, dan kapan cukup membiarkan Ayah berpikir sendiri."
Danendra kembali terkekeh, "berarti selama ini aku yang terlalu banyak bicara?"
"Bukan." Jawab Niken cepat, "Mas hanya terlalu takut membuat keadaan semakin buruk."
"Memangnya tidak?"
"Tidak." Niken menatapnya lembut, "kadang, yang membuat keadaan buruk bukan karena kita bicara terlalu banyak. Tapi karena kita terlalu takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan."
Danendra terdiam mendengar kalimat itu. Kemudian meraih tangan Niken sambil memberi tekanan lembut di punggung tangannya.
Setelahnya mereka menganti percakapan dengan yang lebih ringan, dan selalu ada kehangatan di setiap obrolan mereka.
Di perjalanan itu, sesekali mereka membicarakan pekerjaan, murid-murid Niken, dan rencana Danendra untuk mengurangi beberapa aktivitas agar mereka jadi lebih sering bersama. Hingga tanpa terasa, mobil mulai memasuki kawasan pemukiman.
Niken memandang keluar jendela, rumah mereka tampak semakin dekat. Ketika mobil berbelok menuju halaman, Ratih sudah terlihat duduk di teras bersama Bi Inah.
Danendra memperlambat kendaraan sebelum akhirnya berhenti, kemudian Niken melepas sabuk pengamannya.
"Kita sudah sampai, Mas."
"Iya."
Melihat mereka turun, Ratih langsung berdiri untuk menyambut. "Kalian sudah pulang."
"Iya, Bu." Jawab Niken sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya. "Di mana, Ayah?"
Ratih tersenyum, "sedang istirahat di kamar. Bagaimana mengajarnya?" tanyanya lembut.
"Sangat menyenangkan, Bu." Jawab Niken.
Kemudian Danendra mengambil tas Niken dari tangannya. "Ayo kita masuk dulu, nanti saja ngobrol sama Ibu nya."
Mereka tertawa sebelum akhinya Niken masuk mengikuti suaminya.
Udara di dalam rumah terasa lebih sejuk setelah perjalanan dari sekolah, Danendra dan Niken melepas sepatunya di dekat pintu. Kemudian berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum menemui ayahnya.
Setelahnya, mereka keluar dari kamar dengan pakaian bersih dan rapi, berjalan berdampingan menuju kamar Pradipta.
"Yah?" Panggil Danendra sambil mengetuk pelan pintunya.
Dari dalam terdengar suara Pradipta. "Masuk."
Danendra membuka perlahan pintunya, ayahnya tampak sedang berbaring setengah duduk di atas ranjang dengan wajah terlihat lebih segar dibanding pagi tadi. Sementara Ratih juga sudah duduk di samping ranjang, menemani suaminya sambil membaca majalah. Keduanya tersenyum melihat anak dan menantunya, kemudian Niken mendekat mendahului Danendra.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Ayah?" tanya Niken sambil duduk perlahan di samping tempat tidur ayah mertuanya.
Pradipta membenarkan posisi duduknya, kemudian mengukir senyum lembut kepadanya. "Seperti yang kamu lihat, Ayah sehat-sehat saja," katanya.
"Alhamdulillah kalau begitu, tapi Mas Danendra bilang Ayah tidak boleh terlalu banyak beraktivitas."
Pradipta terkekeh, "Danen memang suka mengatur."
Niken tersenyum. "Memang harus begitu, Yah."
"Jadi kamu membela Danendra?"
"Dia suamiku, Yah." Kata Niken sedikit bergurau yang membuat semua tertawa.
Kemudian Pradipta menatap Niken. "Ayah mengerti. Tapi kalian tidak perlu mengkhawatirkan Ayah seperti itu, karena Dokter sudah mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Niken mengangguk lega. "Tapi Ayah tetap harus mengurangi aktivitas berat."
Ratih langsung menyambung. "Termasuk menyiram tanaman dari pagi sampai siang," katanya yang membuat Pradipta langsung menoleh ke arahnya.
"Ratih...."
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
"Kamu ini, mengungkit terus."
"Ibu benar, aku mendukung Ibu." Sahut Danendra sambil tertawa kecil.
Pradipta akhirnya menghela napas pasrah. "Ternyata semua orang kompak melawan Ayah. Aturan kalian melebihi aturan dokter," protesnya.
"Bukan begitu, Ayah. Kami hanya khawatir." Kata Niken.
Pradipta menatap menantunya beberapa saat, kemudian senyumnya berubah menjadi lembut. "Baiklah, kalau begitu Ayah sangat berterima kasih pada kalian yang sudah sangat peduli dengan kesehatan Ayah."
"Bukan hanya peduli, Ayah. Tapi kami sangat menyayangi Ayah."
Ratih yang mendengar kalimat itu, menoleh kepada Niken dengan senyum tipis, namun terasa cukup menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
Pradipta kemudian menghela napas pelan. "Kalau begitu, Ayah boleh minta satu hal?"
Niken mengangguk, "tentu, Ayah. Katakan, apa yang Ayah inginkan?"
"Ayah masih sehat, jangan terlalu mengkhawatirkan Ayah. Kalau kalian semua terus memasang wajah cemas, Ayah malah merasa benar-benar sakit." Pinta Pradipta yang membuat semua tertawa kecil.
Suasana kamar yang sempat dipenuhi kekhawatiran akhirnya terasa lebih ringan.
"Kalau begitu, Ayah istirahat saja." Kata Niken sambil berdiri, "kalau butuh apa-apa, panggil aku."
"Iya, baik, Nak."
Danendra dan Niken kemudian keluar dari kamar dengan perasaan lega.
"Mas."
"Hm?"
"Alhamdulillah, ya. Ayah baik-baik saja." Kata Niken yang dijawab anggukan oleh Danendra, "rasanya aku jadi bisa bernapas dengan tenang."
Danendra tersenyum sambil menggenggam tangan Niken. "Ayo."
"Ayo ke mana?" tanya Niken bingung.
"Ke kamar," jawabnya sambil menarik lembut tangan Niken.
"Tapi kenapa? Mau apa, Mas?"
"Kamu pasti capek, kan?"
Niken tersenyum, "yang capek aku atau Mas?"
Danendra akhirnya tertawa. "Kita berdua yang capek. Makanya sama-sama perlu istirahat."
"Baiklah, terserah Mas saja."
Dunia luar langsung tertutup begitu mereka masuk, kini hanya tersisa lampu kuning temaram dan suara jam dinding—sunyi tanpa pecakapan.
...****************...