Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Riyan Sadewa duduk di atas penutup kloset duduk marmer yang terasa dingin, menatap layar ponsel pintarnya dengan dahi berkerut sedalam parit proyek.
Jam digital transparan di pelupuk matanya terus berdetak mundur tanpa belas kasihan: [07 Jam : 42 Menit : 05 Detik].
Waktu subuh sudah membayang di depan mata, dan dia masih terjebak di dalam kamar mandi mewah, terisolasi dari dunia luar sementara para pelayan di luar sibuk menyetrika kain tenun emas untuk pernikahannya.
'Sialan, batin Riyan panik.
'Gimana caranya gua dapet nomor si cewek pirang itu? Masa gua harus keluar kamar terus nanya ke pengawal Zevan? 'Bang, minta nomor musuh bebuyutan Nona Kezia dong, gua mau transfer duit dua triliun buat ngehancurin bank kita sendiri.' Yang ada gua langsung disemen hidup-hidup jadi pondasi resor!
Riyan memutar otaknya yang mulai berasap. Dia membuka aplikasi Instagram dan mengetik nama "Valerie Vandersen" di kolom pencarian. Nihil. Tentu saja wanita dari keluarga rahasia penguasa borjuis tidak akan membuat akun media sosial publik yang pamer foto outfit harian.
Namun, Riyan tidak kehilangan akal kulinya. Dia mengingat video viralnya siang tadi di pasar dan di mal. Riyan segera mencari kontak Joko Anarki, sutradara film ampas yang beberapa jam lalu baru saja dia jejali uang setengah triliun rupiah.
Sebagai orang yang bergerak di industri kreatif malam Bandung, Joko pasti punya jaringan informasi yang luas atau minimal tahu nomor kontak humas lingkaran jetset.
Riyan langsung menekan tombol panggilan telepon ke nomor Joko. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat dengan suara berisik musik disko dan teriakan heboh di latar belakang.
"Halo! Pak Produser Agung?! Dewa Finansialku!" suara Joko terdengar sangat nyaring dan mabuk kepayang karena bahagia.
"Bapak tahu gak? Rekening studio kami sekarang dijaga sama tiga satpam bank swasta karena nominalnya terlalu gila! Kami lagi ngerayain proyek 'Invasi Alien Jengkol' di bar nih, Pak! Bapak mau datang?!"
"Gak usah mabuk lo, Joko! Dengerin gua baik-baik," potong Riyan dengan nada berbisik tapi penuh penekanan.
"Gua butuh nomor telepon pribadi atau nomor darurat milik Valerie Vandersen, nona besar Vandersen Group. Sekarang juga. Lu punya gak?"
Suara berisik di seberang telepon mendadak hening selama tiga detik. Joko tampaknya langsung tersadar dari mabuknya, napasnya terdengar memburu karena ketakutan.
"V-Valerie Vandersen?! Pak... Bapak mau ngapain lagi? Siang tadi Bapak udah bikin saham otomotif mereka terjun bebas sampai dia nangis di depan media, sekarang Bapak mau neror dia langsung lewat telepon?! Gila, ini namanya pembantaian korporat tanpa sisa!"
"Jangan banyak tanya! Cariin sekarang atau gua tarik balik modal setengah triliun lo!" ancam Riyan asal-asalan.
"Eh! Jangan, Pak! Jangan ditarik! Oke, oke, kasih saya waktu dua menit! Temen produser saya pernah dapet kartu nama sekretaris pribadi Valerie buat sewa mobil sport syuting iklan komersial. Saya cari sekarang!"
Dua menit bagi Riyan saat itu terasa lebih lama daripada menunggu adonan semen kering di musim hujan. Dadanya sudah mulai terasa agak ngilu kembali karena Sistem mendeteksi stagnasi pergerakan uang.
Tepat di menit kedua, sebuah pesan teks masuk dari Joko, menampilkan sebelas digit angka dengan catatan: 'Nomor jalur merah pribadi Valerie. Tolong jangan bilang dari saya ya, Pak, saya masih pengen hidup.'
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Riyan langsung menyalin nomor tersebut dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang. Jika taktik ini gagal, besok jam delapan subuh dia resmi menjadi suami sah Kezia Zevan dan seluruh jaringan otot tubuhnya terancam membusuk jika dia menolak.
Panggilan itu berdering. Satu kali... dua kali... tiga kali. Riyan hampir saja menyerah ketika di dering keempat, panggilan itu terangkat.
Keheningan malam Lembang seolah mengalir lewat speaker ponsel, disusul oleh suara desah napas pendek yang terdengar sangat dingin, ketus, dan sarat akan emosi yang tertahan.
"Siapa ini? Ini nomor privat. Kalau kamu agen asuransi atau wartawan bodoh yang mau menanyakan soal kejatuhan saham siang tadi, saya pastikan besok pagi pengacara saya akan mencabut izin tinggal kamu di kota ini," ucap Valerie Vandersen di seberang telepon. Suaranya agak serak, menandakan dia belum tidur sejak siang akibat stres memikirkan Lamborghini-nya yang dipakai menarik ojek.
Riyan berdeham, mencoba memasang nada suara yang paling menyebalkan agar Valerie langsung mengenali dirinya.
"Ini gua. Riyan. Kuli bangunan yang siang tadi bikin mal mewah lu berubah jadi pasar kaget."
Hening.
Suara helaan napas Valerie di seberang sana mendadak terhenti total. Riyan bahkan bisa mendengar suara gesekan gigi Valerie yang saling berantuk karena amarah yang langsung menyala kembali ke level maksimal.
"Riyan... Sadewa... BAJINGAN!" pekik Valerie dengan suara tertahan, seolah dia sedang meremas bantal tidurnya dengan kekuatan penuh.
"Berani-beraninya kamu menelepon saya?! Belum puas kamu menghina harga diri Keluarga Vandersen?! Kamu mau pamer kemitraan baru kamu dengan jalang putih Kezia Zevan itu, hah?!"
"Gak usah ngegas, Pirang. Gua telepon lu justru karena gua mau khianatin si Kezia dan seluruh Keluarga Zevan," kata Riyan dengan nada santai, memancing umpan konspirasi.
Valerie tertegun di seberang sana.
"Apa... apa maksud kamu?"
"Gua tahu lu dendam setengah mati sama gua dan Zevan Group karena saham lu anjlok empat puluh persen. Dan gua juga tahu, besok pagi jam delapan, gua dipaksa nikah adat sama Kezia biar modal triliunan gua resmi dikunci sama mereka," bual Riyan dengan sangat lancar.
"Gua gak sudi jadi boneka Keluarga Zevan. Makanya, malam ini gua mau kasih lu senjata buat hancurin mereka besok subuh sebelum akad nikah dimulai."
Valerie tertawa sinis, penuh rasa tidak percaya.
"Senjata? Kamu pikir saya bodoh? Kamu itu anjing peliharaan Zevan, kenapa tiba-tiba mau membantu musuh?"
"Gua bukan anjing siapa-siapa! Gua cuma kuli yang punya terlalu banyak duit dan lagi bosan sama kesombongan Keluarga Zevan," jawab Riyan, merangkai alasan yang terdengar sangat 'Crazy Rich Eksentrik'.
"Lu mau bukti? Sebutin nomor rekening utama perbankan atau investasi luar negeri milik Vandersen Group sekarang juga."
"Untuk apa?!"
"Gua mau transfer dua triliun rupiah tunai ke rekening lu malam ini juga secara cuma-cuma. Tanpa surat kontrak, tanpa bagi hasil, dan tanpa ikatan bisnis apa pun," ucap Riyan dengan nada suara mutlak yang sangat tegas.
"Syarat gua cuma satu: lu gunain duit dua triliun itu besok subuh jam lima buat ngelakuin serangan spekulasi besar-besaran ke Bank Inti milik Keluarga Zevan! Bikin bank mereka kolaps, bikin Lembang darurat finansial, dan bikin pernikahan gua besok pagi batal otomatis karena krisis ekonomi! Gimana?! Lu punya nyali gak buat nerima sedekah dua triliun dari gua?!"
Suasana di seberang telepon seketika itu juga berubah menjadi senyap senyap. Valerie Vandersen yang saat itu sedang duduk di tempat tidur mewahnya dengan piyama sutra hitam, langsung terlonjak berdiri hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya melotot menatap dinding kamarnya yang kosong.
Transfer dua triliun... tunai... tanpa syarat?! Hanya untuk membalas dendam dan menghancurkan bank Keluarga Zevan?!
Di otak Valerie yang penuh dengan perhitungan taktik korporat, proposal gila dari Riyan ini benar-benar berada di luar nalar manusia normal. Pria berbaju kuli ini tidak hanya sedang mengkhianati calon istrinya, tapi dia sedang mencoba membakar seluruh kota Bandung dengan uangnya sendiri demi sebuah kebebasan absolut!
"Kamu... kamu beneran gila, Riyan Sadewa..." bisik Valerie dengan suara yang bergetar hebat antara rasa ngeri dan gairah balas dendam yang mendadak membara di dadanya.