Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 sebuah perhatian
Hembusan AC ruangan terasa menyentuh kulit seseorang yang nampak terbaring di atas ranjang.
Kulitnya yang seputih kapas kian terlihat memucat.
Jarum jam yang menempel di dinding menunjuk angka delapan.
Dari celah celah gorden yang masih tertutup terlihat cahaya sang surya yang mengintip ke dalam ruangan.
Sementara itu di dalam ruangan yang nampak sepi itu,
Perlahan terlihat ada pergerakan dari atas tempat tidur.
Tepatnya dari sosok yang sejak tadi nampak terbaring tak bergerak sedikitpun.
Biel perlahan membuka matanya,
Awalnya semua terasa samar, ia mengerjap ngerjapkan kedua bola matanya.
Hingga semua terasa jelas, ia menjadi bingung.
pandangannya segera mengedar ke segala ruangan,
Ini bukan kamarnya.....
Semua terasa asing....
Biel sontak bangun dari berbaringnya,
" sttt......aww.....!! " ia mendesis lirih dan meringis ketika ia bergerak cepat kepalanya terasa sakit bukan main.
Ia memegangi kepalanya sambil memejamkan matanya sejenak.
Setelah sedikit reda, ia kembali menatap ke sekeliling ruangan.
Ia sungguh tak mengenali ruangan ini, entah kamar siapa ini.
Dengan masih memegangi kepalanya yang terasa pusing,
Biel mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Ingatannya pun perlahan kembali pada peristiwa semalam.
Biel kembali kaget, ia ingat ia terluka. Spontan ia meraba lukanya.
Lukanya sudah terbalut kain kasa dan sepertinya sudah di obati.
Saat itu ia baru tersadar jika pakaian yang telah pakai kini berbeda dengan pakaian yang ia pakai semalam.
Wajah Biel seketika berubah pias,
Dengan cepat ia bangkit dan turun dari ranjang,
Tapi sungguh tiba tiba ia kembali merasa pusing dan kepalanya terasa berputar cepat.
Ia tak mampu mengendalikan keseimbangan tubuhnya hingga tubuhnya doyong dan terhuyung ke depan.
Tubuhnya hampir saja terjungkal dan jatuh menyentuh lantai andai saja seseorang tidak dengan cepat menangkap tubuhnya.
" kau baik baik saja ?! Apa yang kau rasakan sekarang ?! " tanya seseorang yang tiba tiba datang dan menangkap tubuh Biel yang hampir terjerembab jatuh ke lantai.
Kedua tangan seseorang itu melingkar pada pinggang ramping Biel.
Biel mendongak dan menatap wajah tampan seseorang yang memeluk tubuhnya itu.
Sementara ke dua tangannya reflek berpegangan pada lengan kokoh kaki laki laki itu.
Keduanya saling menatap.
Biel merasa....
Wajah itu tak asing baginya,
Tapi ia lupa di mana mereka pernah bertemu.
" lepaskan tanganmu " ucap Biel dengan suara sedikit gemetar.
Posisi keduanya begitu dekat dan....entahlah.....
Ia merasa canggung dan tak nyaman berada dalam posisi seperti itu karena memang dirinya tak pernah berada di posisi yang sedekat itu dengan laki laki lain selain Cryssy dan ayah angkatnya tentunya.
" maaf...aku tidak bermaksud kurang ajar padamu " ucap laki laki itu sambil melepaskan dekapannya secara perlahan dari pinggang Biel.
Ia khawatir melukai sosok di hadapannya itu jika ia bergerak gegabah yang ia tahu sedang terluka.
Dan ia tahu, luka pada pinggang belakang gadis itu cukup dalam dan panjang.
Ke dua netra laki laki itu tak lepas dari wajah pucat sosok di hadapannya itu.
Biel menarik nafas panjang.
" apa kau yang mengganti pakaianku ?! " tanya Biel tanpa menjawab permintaan maaf laki laki di hadapannya itu.
" tidak,
aku memanggil seorang dokter untuk memeriksa lukamu semalam dan dia yang mengganti pakaianmu.
Jangan khawatir,
dia dokter perempuan...." jawab seseorang itu dengan netra yang tak lepas sedikit pun dari wajah pucat Biel.
Sementara Biel,
setelah mendengar jawaban seseorang itu,ia bernafas lega dan kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari barang miliknya.
" kau mencari sesuatu ?! " tanya seseorang itu lagi
" barang barangku...
di mana ?! "
" sorry,
pakaian dan jaketmu basah karena darah di pinggangmu,
aku mencucinya " jawab seseorang itu dan sukses membuat Biel seketika menoleh kepadanya.
Untuk yang kesekian kalinya, mata keduanya saling bertemu.
" aku meletakkan ponselmu di tasmu, itu...." seseorang itu kembali berucap dan menunjuk tas Biel yang tergeletak di sofa.
Biel pun mengikuti arah tunjuk seseorang itu.
Tak lama Biel pun melangkah ke arah tasnya dan segera meraihnya.
" terimakasih untuk pertolonganmu " ucap Biel kemudian sambil menatap kepada seseorang itu usai mengambil tasnya.
kemudian ia mulai melangkah kearah pintu,
" tunggu....
lukamu masih basah, kau mau kemana ?! " Biel baru saja akan sampai di pintu ketika pergelangan tangannya di cekal.
Biel menatap sejenak tangan seseorang itu sebelum ia melepaskan tangan orang itu dari tangannya.
" aku sudah berterimakasih karena kau sudah baik padaku,
tapi....
jangan ikut campur urusanku " jawab Biel ketus.
" aku Erick....pasti kau lupa padaku,
kita sudah pernah bertemu sebelumnya....kau membuatkan minuman untukku malam itu " ucap Erick berharap gadis di hadapannya itu ingat kepadanya,
Karena sepanjang perbincangannya dengan gadis itu sejak tadi,
ia merasa.....gadis itu sama sekali tak mengenalnya.
Biel sedikit terhenyak mendengar ucapan Erick,
Ia pun mulai ingat tentang laki laki di hadapannya itu.
Pantas saja ia merasa tak asing dengan laki laki itu,
rupanya mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya.
" sorry...aku baru ingat " jawabnya kemudian.
" tak apa,
aku mengerti....malam itu pencahayaan ruangan cukup redup.
Rasanya wajar jika kau pun mudah melupakanku karena pastinya kau juga tak bisa melihatku dengan jelas " jawab Erick kemudian.
" tapi....
percayalah padaku, aku tidak memiliki pikiran buruk sedikitpun padamu.
aku hanya khawatir....entah bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu, tapi lukamu masih sangat basah.
Beristirahatlah dulu, aku janji....nanti aku sendiri yang akan mengantarmu pulang.
Berikan saja nomor orang tuamu, aku yang akan menghubungi mereka dan meminta izin..." ucap Erick lagi.
Mendengar kata orang tua, wajah Biel berubah kian memucat.
" ada apa ?! Kenapa diam ?! Kau takut di marahi orang tuamu ?! " tanya Erick lagi.
Sempat terdiam, Biel akhirnya tersenyum dingin.
" tidak usah repot repot, aku bebas......" jawab Biel ambigu
" maksudmu ?! "
" aku sendirian di dunia ini, sudahlah....jangan menghalangiku lagi.
aku masih punya banyak urusan " jawab Biel lagi dengan kening yang berkerut dan wajahnya yang berubah kian dingin.
Setelah itu, Biel menarik kenop pintu dan melangkah ke luar kamar.
Di luar kamar ia sempat berhenti sejenak,
Ini bukan rumah....
Tapi....
" aku tinggal di apartemen, sendirian....jika kau bebas,
maka aku juga sama denganmu, kita sama sama bebas" ucap Erick yang tiba tiba sudah berada di belakangnya.
Menanggapi ucapan laki laki yang sudah seperti hantu karena selalu hadir tiba tiba, Biel hanya menoleh dengan salah satu sudut bibirnya yang di tarik ke atas.
Tak lama ia melanjutkan langkahnya menuju pintu utama apartemen itu.
" aku hanya membawa dirimu kemari, tidak dengan motormu " ucap Erick lagi dengan masih terus mengikuti langkah kaki Biel yang telah sampai di pintu.
Kini ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Biel berhenti sejenak,
" tak apa,
terimakasih sudah menolongku " jawab Biel.
Erick tak lagi punya alasan untuk menghentikan gadis di hadapannya itu meski sebenarnya ia ingin.
Entahlah kenapa ia begitu ingin membuat gadis itu tetap berada di sini...ia juga tak paham.
Tapi sungguh ia tak mampu merealisasikan keinginannya itu.
Dan akhirnya mau tak mau ia pun membuka pintu apartemennya itu.
Biel melenggang dengan tenang meninggalkan Erick yang masih menatapnya di belakang sana.