Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bisa Disembunyikan
Nia masih bingung apa yang harus ia katakan. Berkata jujur rasanya tak mungkin, karena ini pertemuan pertamanya dengan Tari. Sedangkan Tari masih berdiri menunggu jawaban Nia.
Tiba-tiba Febi datang memecahkan suasana yang sedikit mencekam.
"Ada apa kok pada bengong?" tanya Febi.
Tari membalikan badannya lalu menarik tangan Febi yang baru saja datang menuju ruang farmasi.
"Kamu tau sesuatu tentang Nia?" tanya Tari menyelidiki.
"Maksudnya?" Febi kembali bertanya tak mengerti.
"Tadi aku liat dia ngelus-ngelus perutnya terus bilang 'Nak' gitu deh. Masa ia dia hamil?"
"Oh itu. Yuk, tanyain aja sama yang bersangkutan!"
Kembali mereka menuju ruang tunggu. Febi mendekati Nia lalu memberikan isyarat dengan matanya untuk memberi tahu kebenaran itu pada Tari.
"Iya, Mbak Tari, sebetulnya aku sedang hamil. Sebelumnya emang Mbak Febi gak cerita?"
Febi nyengir ala kuda, "Hehe lupa."
Tari menarik nafas panjang lalu membuangnya. Ia masih tak percaya, sekaligus bingung apa yang harus disampaikannya nanti pada dokter Tama. Padahal sebelumnya dokter Tama memintanya mencari karyawan baru seorang gadis yang tak terikat dengan hubungan apapun.
"Emang kenapa sih? Gak papa 'kan?" tanya Febi melihat reaksi Tari.
"Bukan gitu sih, Feb. Kebetulan di sini gak ada peraturan khusus harus belum nikah misalnya. Tapi kalo dia hamil, kerjanya juga gak lama dong pasti ambil cuti lahiran."
"Bukannya nanti dia juga kerja gak sendiri?"
"Ya, emang, tapi udah itu harus nyari lagi dong?"
"Masih lama lah, Tar. Lagian dia baru hamil 3 bulan."
Nia menarik nafas lega mendengar percakapan mereka. Ia sempat khawatir jika kehamilannya dapat menghalangi dia mendapatkan pekerjaan, padahal pekerjaan ini sangat dinantikannya.
"Ya, udah. Tapi kamu gak papa kerjanya masih sendiri? Liburnya juga paling hari minggu doang, gimana?" tanya Tari.
"Gak papa, Mbak. Kebetulan aku gak mabuk berat, kok."
"Oke, deh, jaga diri dan jangan terlalu cape, ya!" ucap Tari.
Nia mengangguk dan tersenyum.
'Ah, ternyata Mbak Tari juga perhatian,' gumamnya.
"Aku cabut dulu, ya, Feb."
"Oke, Tar!"
Tari berlalu meninggalkan Nia dan Febi.
"Oh, iya, kok Mbak ada di sini?" tanya Nia pada Febi.
"Mbak sekarang kerja setengah hari. Sebelum pulang mampir sini dulu."
"Eh, padahal arahnya berlawanan."
"Pulang pun malah bosan gak ada temen. Gimana kerja pertamanya?"
"Alhamdulillah lancar, agak kaku juga sih mungkin belum terbiasa, hehe."
"Gampang 'kan kerjanya?"
"Gampang kok, Mbak. Cuma nulis-nulis sama manggil aja."
"Syukur deh. Mau pulang dulu gak? Nanti baru buka lagi jam 02.00 siang 'kan?"
"Eemm pulang dulu deh, kebetulan Mbak kesini juga."
"Oke, Mbak tunggu di parkiran, ya."
Febi beranjak keluar, sementara Nia terlebih dulu menemui Tari untuk pamit.
"Mbak, aku pulang dulu bareng Mbak Febi," ucapnya saat memasuki ruang farmasi.
"Oh, iya, Dek. Nanti datang jangan telat, ya."
Nia bergegas keluar segera menaiki motor Febi yang sejak tadi menunggu.
"Mbak, kok kayanya Mbak Tari banyak berperan di klinik itu?" tanya Nia saat mereka di perjalanan.
"Iya, Dek. Kan itu klinik punya pamannya."
"Oh, pantesan. Tapi, Mbak, gak papa nih aku lagi hamil kerja di situ?"
"Gak papa, gak usah khawatir. Karyawan sebelum kamu 'kan hamil juga."
"Tapi aku 'kan beda, Mbak."
"Sama aja. Apanya yang beda?"
Nia diam tak meneruskan pembicaraan. Ia merasa heran dengan Febi yang biasa aja menanggapi kehamilannya, padahal baginya ini merupakan masalah besar.
***
Sesampainya mereka di kontrakan, Bu Titin tengah menunggu Nia di teras rumahnya.
"Neng Nia, dari mana aja? Ibu tunggu dari tadi?" tanya Bu Titin saat mendapati kedatangan mereka.
"Alhamdulillah, Bu, saya baru memukai kerja."
"Oh, syukurlah, Neng. Ibu mau nanyain perihal les itu gimana? Suami Ibu udah setuju."
"Karena kebetulan sekarang saya kerja, mungkin pas waktu libur aja, ya, Bu. Saya liburnya hari minggu."
"Oh, iya deh, Neng."
"Les? Les apaan, Bu?" Febi belum mengerti apa yang sedang dibicarakan Nia dan Bu Titin.
"Ini, Neng. Anak-anak Ibu maunya diajarin sama Neng Nia, kalo sama Ibu susah. Ibu nyaranin Neng Nia buat jadi guru lesnya anak-anak, lumayan buat tambahan penghasilan," jelas Bu Titin.
"Oh, gitu. Tapi kamu gak boleh kelelahan, kalau hari libur kerja digunakan untuk mengajar les, kamu kapan istirahatnya?" ujar Febi pada Nia.
"Lesnya gak lama kok, Mbak. Tenang aja aku bisa atur-atur waktunya."
"Iya, deh terserah. Tapi kamu harus tetap jaga kondisi tubuh demi janinmu!" Febi spontan memperingati.
"Janin?" tanya Bu Titin kaget dengan ucapan Febi.
Nia menepuk jidat, "Bisa-bisanya Mbak Febi sesantai itu?" gumamnya.
"Hehe, nanti saya jelaskan, Bu. Tapi sekarang kami mau istirahat dulu, ya, Bu. Permisi," ujar Febi pada Bu Titin.
Mereka memasuki rumah meninggalkan Bu Titin yang masih kebingungan.
"Mbak, kok bisa sih sesantai itu ngasih tau orang-orang. Padahal aku sendiri kebingungan dengan kehamilanku ini," ucap Nia setelah mereka berada di dalam rumah.
"Disembunyikan pun pada akhirnya mereka akan tau karena perutmu akan semakin membesar. Alangkah lebih baik beri tahu dari sekarang. Percayalah, mereka orang-orang baik." Febi meyakinkan.
"Hmmm, iya sih."
"Ya, sudah sekarang beristirahatlah. Mbak ke depan dulu beli makanan!"
"Iya, Mbak."
Nia membaringkan badannya di atas kasur. Ia masih tak mengerti dengan sifat yang dimiliki Febi, penuh percaya diri juga selalu berfikir positif.
'Beruntung aku bertemu Mbak Febi, perlahan ia mampu membuat beban yang ku pikul terasa semakin ringan' gumam Nia.
***
"Neng, sini! Tanggung jawab loh Ibu masih penasaran maksudnya tadi gimana?" tanya Bu Titin saat melihat Febi pulang dari membeli makan.
Febi menghampiri Bu Titin lalu duduk di dekatnya.
"Jadi, gini, Bu. Nia mengalami kecelakaan, dia dinodai pacarnya sendiri lalu ditinggalkan gitu aja. Itulah sebabnya dia merantau ke sini. Saya harap Ibu tidak membuatnya semakin terbebani dengan masalahnya itu, ya!" jelas Febi.
"Ya, Allah. Kasian, ya, Neng Nia. Pasti dong, Neng, justru Ibu bakal semangatin dia support dia. Ibu percaya aja sih, Neng Nia orangnya baik gak mungkin jika melakukan hal sekeji itu."
"Nah, iya, Bu. Untuk jadwal les pun jangan terlalu sering, ya."
"Kalo masalah itu, Ibu justru menyerahkan semuanya sama Neng Nia. Terserah dia mau kapan aja mau sebentar atau lama. Ya, apalagi sekarang lagi hamil. Ibu nawarin dia untuk jadi guru les anak-anak, karena kasian aja Neng tiapa hari dia nyari kerja tapi susah dapat. Alhamdulillah sekarang udah dapat, tapi kayaknya dia masih membutuhkan penghasilan tambahan."
"Iya, sih. Tapi makasih banyak, ya, Bu, udah mau bantu."
"Sama-sama, Neng. Neng Nia juga banyak bantu Ibu kok selama di sini."
"Ya udah, saya pamit, ya, Bu. Mari, Bu!"
"Oh, iya silahkan!"
Febi pun masuk ke dalam rumahnya.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍