NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Perjanjian Satu Tahun

Hujan turun rintik-rintik membasahi jalanan ibukota sejak sore tadi. Suara gemericik air yang jatuh ke atap-atap bangunan megah seolah menjadi irama yang mengiringi langkah gontai Anya menuju pintu utama rumah keluarga Wijaya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah amplop berisi draf perjanjian yang bisa mengubah seluruh arah hidupnya selamanya.

Udara sore itu terasa dingin menembus sela-sela bajunya yang tipis. Bukan hanya karena hujan, tapi juga karena rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Sejak semalam, ia tak bisa tidur nyenyak, memikirkan apa yang akan diputuskan hari ini. Pilihannya sangat sempit: menerima tawaran itu, atau membiarkan ibunya tertekan dan kehilangan satu-satunya tempat tinggal yang mereka miliki.

“Masuklah, Nona Anya. Tuan Arga sudah menunggu di ruang tengah,” suara sopan Pak Haris, kepala pengurus rumah yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga Wijaya, memecah keheningan.

Dengan napas yang ditarik panjang untuk menenangkan diri, Anya mendorong pintu kayu besar itu. Suasana di dalam rumah terasa sangat berbeda dengan dunia luar — sejuk, tenang, dan dipenuhi kemewahan yang jarang ia bayangkan. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal berkilauan memancarkan cahaya lembut, dan setiap sudut ruangan dipenuhi perabotan yang jelas-jelas bernilai sangat mahal. Keheningan yang tercipta justru terasa menekan, membuat Anya semakin gugup.

Di ujung ruangan yang luas itu, berdiri seorang pria membelakangi pintu. Ia sedang memandang ke luar jendela kaca setinggi dinding yang menghadap ke taman belakang yang terawat sempurna. Jas hitam yang melekat rapi di tubuh tegapnya membuat sosoknya terlihat gagah, berwibawa, namun sekaligus terasa sangat dingin dan jauh. Itu adalah Arga Wijaya — pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya Group, pria yang namanya selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kekayaan, dan ketegasan yang tak terbantahkan. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai sosok yang tak kenal ampun dan selalu mengutamakan logika di atas segalanya.

“Silakan duduk,” suara berat dan datar itu terdengar, tanpa nada ramah sedikit pun. Arga belum juga menoleh, seolah kehadiran Anya baru sebatas urusan biasa yang harus diselesaikan.

Anya berjalan perlahan mendekati sofa kulit berwarna cokelat tua di tengah ruangan, lalu duduk di ujung paling pinggir seolah takut menyentuh apa pun di sana. Ia meremas ujung roknya yang sedikit basah terkena percikan air hujan, berusaha menahan tangan yang mulai bergetar karena gugup. Ia tahu persis mengapa ia ada di tempat ini hari ini.

Sejak ayahnya meninggal dunia setahun yang lalu karena sakit, hidupnya dan ibunya berubah drastis. Di balik kesederhanaan hidup yang mereka jalani, tersembunyi beban berat yang baru terungkap setelah kepergian ayahnya. Ternyata ayah meninggalkan utang yang sangat besar kepada rentenir, mencapai angka hampir lima ratus juta rupiah. Uang itu dipinjam untuk membiayai pengobatan ayah yang sudah berlangsung bertahun-tahun, namun tetap tak menyelamatkan nyawanya.

Penagih utang datang silih berganti ke rumah kecil mereka, mengancam akan menyita rumah dan semua isinya jika lunas dalam waktu tujuh hari saja. Ibunya yang sudah lemah kesehatannya sering terbangun malam karena takut, dan Anya merasa sangat tidak berdaya. Ia baru lulus kuliah dan belum memiliki pekerjaan tetap, bagaimana mungkin ia bisa melunasi utang sebesar itu dalam waktu singkat?

Di saat ia merasa sudah tidak ada jalan keluar, tawaran tak terduga datang. Melalui perantara, Arga Wijaya mengajukan sebuah kesepakatan: ia akan melunasi seluruh utang keluarga Anya, menyediakan tempat tinggal yang layak, serta memberi biaya hidup yang cukup untuk Anya dan ibunya. Sebagai gantinya, Anya harus menjadi istrinya secara sah selama satu tahun penuh.

“Kamu sudah membaca isi draf perjanjian yang saya kirimkan kemarin?” tanya Arga, akhirnya berbalik badan. Tatapan matanya yang tajam dan dalam langsung menembus pandangan Anya, membuatnya merasa seolah sedang diteliti hingga ke dalam jiwa. Wajahnya tampan sempurna, dengan rahang tegas dan alis yang rapi, namun tidak ada sedikit pun senyum atau kehangatan yang terlihat di sana.

Anya mengangguk pelan, menelan ludah sebelum menjawab dengan suara yang berusaha tetap tenang meski sedikit bergetar, “Sudah, Tuan. Saya sudah membacanya dengan teliti, kalimat demi kalimat.”

“Baik. Saya ulangi sekali lagi agar tidak ada kesalahpahaman atau salah tafsir di kemudian hari. Ini bukan pernikahan yang didasari perasaan, melainkan kesepakatan dua pihak untuk keuntungan masing-masing,” ucap Arga dengan nada tenang namun sangat tegas. “Selama satu tahun ke depan, kamu akan tercatat sebagai istri sah saya di kantor catatan sipil dan gereja. Saya akan melunasi seluruh utangmu hari ini juga, menyediakan rumah yang nyaman untukmu dan ibumu, serta memberikan uang bulanan sebesar lima juta rupiah untuk kebutuhan sehari-hari.”

Ia berhenti sejenak, melangkah mendekat ke meja di hadapan Anya, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin dingin dan jelas: “Sebagai gantinya, kamu harus mematuhi semua aturan yang saya tetapkan. Kamu akan tinggal di rumah ini, mengikuti jadwal yang saya buat, menemani saya ke acara-acara resmi yang membutuhkan pasangan, dan menjaga nama baik saya serta keluarga Wijaya. Yang paling penting: tidak ada tuntutan hak apa pun selain yang tertulis di sini. Tidak ada cinta, tidak ada rasa sayang, tidak ada keintiman, dan tidak ada ikatan batin apa pun. Setelah masa satu tahun berakhir, kita akan bercerai secara damai, dan kamu akan pergi dari hidup saya seolah tidak pernah ada. Kamu mengerti dan setuju?”

Jantung Anya terasa teriris mendengar penjelasan itu. Rasanya pahit harus menjual status dirinya demi menyelamatkan keluarga. Di dalam hatinya, ia merasa harga dirinya tergadaikan. Namun, saat membayangkan wajah ibunya yang cemas dan rumah yang terancam disita, ia sadar ini satu-satunya jalan yang terbuka untuknya. Ia menahan rasa sedih yang mulai menyelimuti dadanya, menarik napas panjang, lalu mengangkat wajah menatap mata Arga dengan pandangan yang berusaha tegar.

“Saya mengerti semua syarat dan ketentuannya, Tuan. Saya tahu ini hanya kesepakatan bisnis, bukan pernikahan yang sesungguhnya. Dan saya setuju,” jawabnya dengan suara yang mantap meski terasa berat di tenggorokan.

Arga mengangguk perlahan, seolah puas mendengar jawaban itu. Ia lalu mengeluarkan dua lembar kertas perjanjian asli yang sudah dicetak rapi, lengkap dengan materai dan tanda tangan saksi dari pihaknya. Ia meletakkannya di atas meja, lalu menyodorkan pulpen ke arah Anya.

“Kalau begitu, tanda tangani sekarang. Setelah ini selesai, saya akan minta asisten saya mengurus surat pelunasan utangmu hari ini juga. Besok pagi kita akan mengurus semua administrasi pernikahan agar semuanya sah secara hukum,” ucapnya singkat.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anya mengambil pulpen itu. Ia membaca sekali lagi baris-baris tulisan yang tertera di kertas itu, memastikan tidak ada hal yang terlewat. Saat jarinya mulai menekan pulpen untuk membubuhkan tanda tangan, ia merasakan ada sesuatu yang berubah dalam hidupnya. Masa lalunya yang sederhana, bebas, dan penuh kehangatan perlahan mulai tertutup. Mulai hari ini, ia resmi memulai peran baru yang penuh aturan dan batasan.

Setelah tanda tangannya selesai dibuat, Arga pun membubuhkan tanda tangannya sendiri di bagian bawah. Suasana ruangan terasa semakin hening, seolah menyaksikan sebuah kesepakatan yang akan mengubah nasib dua orang.

“Mulai besok, kamu pindah ke sini. Bawa barang-barangmu dan barang ibumu. Semua kebutuhanmu akan disiapkan,” kata Arga sambil melipat salah satu lembar perjanjian dan menyimpannya di dalam map.

Anya hanya mengangguk pelan, tidak mampu berkata-kata lagi. Ia berdiri perlahan, menyadari bahwa hidupnya sekarang sudah terikat janji selama satu tahun penuh di bawah aturan pria yang dingin dan tak terduga ini. Di luar jendela, hujan masih turun, seolah menjadi saksi bisu atas perjanjian yang baru saja terjadi.

Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk — takut, cemas, namun juga sedikit lega karena masalah utang akhirnya terpecahkan. Di dalam hatinya, ia berjanji akan menjalaninya sebaik mungkin, tetap menjaga harga diri, dan bertahan sampai masa satu tahun itu berakhir.

Mulai hari ini, Anya resmi menjadi Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya, memulai babak baru yang tidak ia duga sebelumnya.

Bersambung....

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!