Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Makin Ditolak Makin Penasaran
[ Ding! ]
[ Deteksi Perubahan Plot Radikal: Ketegasan Anda menolak semua wanita secara massal berhasil memicu efek psikologis mereka, 'Makin Ditolak Makin Penasaran' pada seluruh target! ]
[ Tingkat Kepercayaan Saham Budiman Mart di mata publik lokal Tarusan dan korporat di pusat melonjak drastis hingga 300% karena Anda dinilai sebagai pria langka yang memiliki integritas moral tingkat dewa! ]
[ Notifikasi Pembaruan Misi Darurat Tersembunyi: ]
[ Status Terkini: Sistem mendeteksi adanya pergerakan penyerahan aset secara sukarela dari pihak luar atas nama 'Bukti Ketulusan'. ]
[ Aturan Tambahan: Seluruh aset, sertifikat tanah, saham mall di Kota Padang, hingga rantang nasi goreng yang diserahkan secara sukarela oleh para wanita tersebut DILARANG KERAS untuk ditolak! ]
[ Jika Anda menolak pemberian tulus tersebut, Sistem akan menganggap Anda melakukan kecurangan plot dan akan menyuntikkan dana paksaan sebesar Rp500.000.000.000,00 (Lima Ratus Miliar Rupiah) sebagai kompensasi rasa sakit hati para wanita. ]
[ Kondisi Kelulusan Baru: Jika dalam waktu 12 jam ke depan isi rekening Anda justru melonjak akibat sumbangan aset 'ketulusan' ini, maka hukuman bangkrut total otomatis BATAL dan Sistem akan menyatakan Anda menang secara mutlak lewat jalur Charming Entrepreneur. ]
Membaca deretan teks hologram biru keemasan yang berkedip-kedip dengan sangat cepat di depan matanya, membuat pandangan Budiman mendadak buram. Dadanya yang sempat lapang beberapa menit kini bagai dihantam oleh truk tronton bermuatan mi instan.
‘Dilarang menolak sertifikat saham?! Kalau ditolak malah didenda setengah triliun?! Sistem gilo!!!’ jerit Budiman dalam hati, meratapi nasibnya yang dikhianati oleh takdir secara bertubi-tubi.
Niat hati ingin jomblo biar jatuh miskin. Namun, apa daya karena karismanya yang kelewat batas malah membuat para wanita ini semakin berlomba-lomba membuktikan ketulusan mereka.
Budiman menatap langit yang mulai terasa semakin terik dengan tatapan kosong. Air mata keputusasaan yang paling murni dalam sejarah hidupnya perlahan-lahan menetes membasahi pipi.
Budiman memutar badan tanpa sepatah kata pun. Ia memilih mengunci diri di dalam ruang kerjanya menghempaskan diri ke atas kasur lipatnya.
"Kepalaku lelah untuk berpikir. Sistem, kau jangan berisik! Awak mau tidur lagi!"
"Uda Diman butuh istirahat dulu, woi! Biar bisa memilih dengan kepala yang jernih!" teriak Anto histeris lewat mikrofon.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, tepat pada waktu makan siang, Budiman terbangun karena rasa lapar. Ia pun bergerak keluar, tetapi langsung disambut oleh orang-orang yang sedari tadi pagi, belum pergi juga.
"Alhamdulillah! Uda sudah bangun?!" seru Anto yang wajah jametnya langsung muncul paling depan. Di sampingnya, Imar telah berdiri sembari membawa rantang.
Seperti janjinya kepada Anto, ia telah masak banyak sebagai bentuk syukuran. Namun, ternyata rantangnya beralih fungsi untuk makan-makan kenduri pertunangan kakaknya.
"Uda, Imar bawa makanan yang banyak, ayo kita makan sama-sama," ajak sang asisten manajer.
"Baik lah, kebetulan perut Uda juga sudah keroncongan. Ayo kita makan sama-sama," ucapnya kembali masuk ke ruang kerjanya. Ia tak memedulikan orang-orang yang menanti semenjak tadi.
Tiba-tiba, Robi dengan wajah ngantuknya mengetuk pintu dan masuk dengan gerakan malas. "Uda, sebenarnya kedai kita ini apa? Kenapa malah mirip kantor dinas sosial perizinan aset terpadu," gumamnya sembari menguap duduk di samping Budiman.
Budiman melirik sejenak, lalu menjutkan makannya. "Maksud kau apa, Ron?!"
Belum sempat Roni menjawab, pintu kantor toko kembali diketuk, tetapi kali ini terdengar sangat sopan. Dua orang pria berkemeja necis yang merupakan tim pengacara keluarga Vilmey melangkah masuk sambil membawa map tebal dan koper hitam yang tadi sempat dipamerkan di pelataran parkir.
Sehingga, membuat Budiman menghentikan kunyahannya.
"Selamat siang, Pak Budiman," sapa salah satu pengacara dengan senyum profesional.
"Kami diutus oleh Nona Vilmey dan pamannya. Sesuai dengan pengumuman ketulusan yang disampaikan oleh Manajer Anto tadi, Nona Vilmey menolak untuk mundur."
Beruntung Budiman tidak sedang mengunyah. Jika dia sedang makan, mungkin isinya akan tersembur keluar.
"Beliau secara resmi telah menandatangani akta hibah tanpa syarat. Saham sebesar lima belas persen atas mall terbesar di Kota Padang ini sekarang resmi dialihkan atas nama pribadi Anda, Pak. Ini murni hadiah ketulusan, bukan lah mahar bisnis. Jadi, tidak ada alasan untuk menolaknya."
Mendengar kata "tidak ada alasan untuk menolak", alarm bahaya di otak Budiman langsung menjerit histeris. Mengingat ancaman Sistem tentang denda setengah triliun jika berani menolak, Budiman hanya bisa menerima map itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"Te-terima kasih," bisik Budiman dengan senyum pahit.
‘Satu aset ketulusan masuk ... rekening awak makin bengkak ... mampuslah awak!’ ratap Budiman dalam hati.
Namun, penderitaan Budiman siang itu belum selesai. Baru saja tim pengacara Vilmey keluar, pintu kantor ruko kembali didorong dengan kasar. Kali ini, Etek Nur masuk dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar, diikuti oleh Mimi yang membawa sebuah rantang susun tiga berukuran raksasa dari aluminium.
"Diman! Tengoklah ini," ujar Etek Nur dengan suara lantang khas lapau. Ia tak memedulikan Budiman sedang makan, langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ini si Mimi sengaja memasak gulai ayam kampung dan asam padeh paling premium untuk kau. Semua bahan-bahannya dibeli pakai uang tabungan Mimi sendiri. Ini bukti kalau kemenakan Etek ini tulus mau merawat kau kedepannya. Ayo, Mimi, mumpung Uda sedang makan, kau saja yang menyuapi Uda Diman."
Mimi yang wajahnya mendadak merona merah langsung melangkah maju, membuka susunan rantang yang seketika memenuhi ruangan dengan aroma rempah yang sangat menggugah selera.
"Cicip ya, Da ..." ucapnya lembut.
Budiman sedikit kesulitan menelan makanan yang tiba-tiba terasa kering. Bukan karena tak mau memakannya. Tetapi dia tahu, rantang nasi goreng dan gulai ayam ini adalah bagian dari "Aset Ketulusan" yang dihitung oleh Sistem. Jika dia menolak suapan atau pemberian ini, Sistem gila itu akan langsung menganggapnya curang dan menyuntikkan dana setengah triliun sebagai denda rasa sakit hati!
"Eh ... gak usah Mimi. Taruh di meja saja dulu, nanti Ambo makan ya," ujar Budiman mencoba bernegosiasi dengan takdir.
"Tidak bisa begitu, Diman! Harus dimakan sekarang biar makin bertenaga untuk menghitung saham mall kau yang di Padang itu!" paksa Etek Nur tidak mau kalah.
Di tengah tekanan batin yang luar biasa akibat koper saham di tangan kanan dan rantang gulai ayam di tangan kiri, makanannya tepat di meja depan mata, Anto tiba-tiba kembali muncul ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah dan wajah yang pucat pasi.
"Uda ... Uda Diman! Gawat, Da!" pekik Anto sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar toko dengan tangan gemetar.
Budiman yang sudah berada di ambang batas kewarasannya langsung membentak, "Apalagi yang gawat, Anto?! Ada yang mau kasih aset rumah dan toko lagi?!"
"Bukan, Da! Ini jauh lebih mengerikan dari sekadar sertifikat tanah!" seru Anto panik.
"Mila, kemenakan Etek Suni yang akuntan itu... dia bener-bener membawa seluruh teman-temannya, orang-orang akuntansi! Mereka sekarang sudah menjebol barikade pelataran parkir dan mulai melakukan audit massal gratis terhadap seluruh laporan keuangan Budiman Mart sejak tahun lalu untuk membuktikan ketulusan mereka!"
Mendengar hal itu, mata Budiman langsung melotot sempurna. Jantungnya serasa copot ke lantai. Audit massal gratis oleh satu angkatan jurusan akuntansi?!
Itu artinya ... seluruh manipulasi laporan keuangan, strategi pura-pura rugi, dan trik bakar uang abnormal yang selama ini Budiman lakukan agar tokonya terlihat bangkrut di mata Sistem ... akan segera terbongkar habis dalam hitungan jam!
Sebelum Budiman sempat melompat dari sofanya untuk menghentikan bencana audit tersebut, sebuah notifikasi terdengar di kepala Budiman.
[ DING! ]
Diiringi dengan hitung mundur hologram yang kali ini berwarna merah darah yang berkedip cepat.
[ bersambung ]