Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Malam di Kampus Terlarang
Hujan belum benar-benar reda saat Naura melompat turun dari taksi tepat di depan gerbang utama Universitas Nusantara. Kampus yang biasanya hidup dengan dinamika pemikiran mahasiswa, kini tampak seperti benteng pertahanan yang mencekam. Lampu-lampu sorot dari pos keamanan menyapu area lapangan, dan beberapa pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam, jelas bukan staf keamanan kampus terlihat berpatroli di sekitar lobi gedung rektorat.
Naura menundukkan kepalanya, menarik tudung hoodie hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia tahu ia tidak bisa melewati gerbang utama. Ia menyusuri pagar besi yang berbatasan langsung dengan area hutan kota, tempat yang pernah ia lewati bersama Kaelith saat pelarian beberapa waktu lalu. Dengan susah payah, ia memanjat pagar itu, merobek gaun yang kini sudah tak berbentuk, dan terjun ke dalam semak belukar di sisi lain.
"Hampir sampai," bisik Naura pada diri sendiri, mengabaikan duri-duri yang menggores kulit lengannya.
Ia harus sampai ke ruang sekretariat BEM. Jika ia bisa mendapatkan akses ke komputer utama milik sekretaris BEM, ia bisa menghapus postingan palsu itu dan mengunggah video asli dari pengurus BEM yang menyatakan bahwa surat pengunduran diri Kaelith adalah hasil intimidasi.
Naura bergerak seperti bayangan. Ia mengenal sudut-sudut kampus ini dengan sangat baik. Ia melewati lorong-lorong kelas yang gelap, menghindari CCTV dengan memanfaatkan celah di antara pepohonan besar yang menutupi jalur pintas menuju Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).
Di kejauhan, ia melihat seseorang berjalan sendirian menuju gedung BEM. Itu Keisha. Ia tampak seperti orang yang kehilangan jiwanya, bahunya merosot ke bawah, langkahnya gontai. Naura segera mempercepat langkahnya dan menarik Keisha ke balik pilar penyangga gedung.
"Keisha!" bisik Naura, memegang pundak gadis itu.
Keisha tersentak, hampir berteriak, namun Naura segera membekap mulutnya. "Jangan bersuara. Ini gue, Naura."
Mata Keisha membelalak. "Naura? Kamu gila? Mereka cari kamu di mana-mana! Kamu harus pergi, mereka punya akses ke semua area kampus!"
"Gue nggak akan pergi sebelum gue bersihin nama Kaelith," tegas Naura. "Keisha, tolong jawab gue jujur. Mereka yang paksa lo buat posting surat itu, kan?"
Air mata jatuh dari mata Keisha. Ia mengangguk lemah. "Mereka datang ke kosan gue. Mereka tunjukin video kalau mereka sudah pegang Kaelith. Mereka bilang, kalau gue nggak mau tanda tangan dan posting itu, Kaelith bakal... bakal dihabisi. Gue nggak punya pilihan, Nau. Gue takut banget."
"Gue ngerti," Naura memeluk Keisha erat, mencoba menenangkan gadis itu. "Gue nggak nyalahin lo. Tapi sekarang, gue butuh bantuan lo. Gue butuh akses ke terminal BEM buat nge- bypass sistem keamanan mereka."
Keisha menatap Naura dengan ragu. "Itu berbahaya, Nau. Mereka sudah menanam firewall baru di jaringan kampus. Siapa pun yang mencoba masuk ke sistem setelah jam 12 malam bakal langsung terlacak koordinatnya."
"Gue sudah punya alatnya," Naura menunjukkan device kecil yang diberikan Ibu Citra. "Ini bisa menembus enkripsi mereka. Tapi gue butuh lo buat jadi pengalih perhatian. Lo tahu di mana mereka naruh penjaga?"
Keisha mengatur napasnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Ada dua orang di depan pintu sekretariat. Tapi mereka biasanya pergi ke kantin belakang kalau jam satu malam buat ngopi. Kita punya waktu sepuluh menit."
Di ruang bawah tanah, Kaelith tidak tinggal diam. Ia menyadari bahwa rantai yang mengikat tangannya ke dinding bukanlah rantai yang dikunci dengan mekanik biasa, melainkan rantai elektromagnetik yang dikendalikan oleh saklar di luar pintu. Namun, ia menyadari sesuatu yang janggal ada celah kecil di dekat lantai tempat kabel-kabel listrik menyambung ke arah pintu.
Ia menggunakan sisa-sisa logam dari ikat pinggangnya untuk mencoba melakukan korsleting pada aliran listrik tersebut. Tangannya terluka, darah menetes dari jemarinya yang tergores, namun ia terus melakukannya.
Klek!
Sebuah percikan api muncul, diikuti oleh bunyi bip panjang. Rantai itu melonggar. Kaelith segera menarik tangannya. Ia bebas. Ia berdiri, merasakan tubuhnya yang remuk, namun ia harus keluar. Ia menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara penjaga. Ia melihat celah di pintu, ada kunci cadangan yang tergantung di paku di luar. Dengan menggunakan sisa logam tadi, ia berhasil menarik kunci itu perlahan-lahan.
Klik.
Pintu terbuka. Kaelith keluar dengan hati-hati. Ia berada di sebuah koridor panjang yang gelap. Ia tidak tahu di mana ia berada, namun ia harus menemukan jalan keluar. Ia menyusuri koridor, menghindari setiap cahaya yang muncul. Ia harus sampai ke suatu tempat di mana ia bisa menelepon Naura.
___
Sementara di kampus, jam menunjukkan pukul 01.05. Benar saja, dua penjaga itu meninggalkan posisi mereka. Naura dan Keisha segera berlari menuju pintu sekretariat BEM.
"Cepat, Keisha, buka kuncinya!" perintah Naura.
Keisha dengan tangan gemetar memasukkan kode akses. Pintu terbuka. Mereka segera masuk ke ruangan yang berantakan itu. Naura langsung menuju komputer pusat, memasang device Ibu Citra, dan mulai mengetik perintah-perintah rumit.
"Ayo, ayo, ayo..." bisik Naura, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Di layar komputer, sebuah progres bar mulai muncul. 40%... 60%... 80%...
Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip merah. Sebuah peringatan muncul di layar:
INTRUSION DETECTED. COORDINATES TRACED.
"Sial! Mereka punya sistem pelacak otomatis!" teriak Naura.
"Naura, kita harus pergi!" Keisha menarik tangan Naura.
"Tunggu, 10% lagi!" Naura menekan tombol Enter dengan paksa. UPLOAD COMPLETE.
Di seluruh akun media sosial BEM dan laman resmi universitas, surat pengunduran diri palsu itu terhapus secara otomatis dan digantikan oleh sebuah video. Video itu menunjukkan Kaelith yang sedang berpesan, "Jika kalian melihat pesan ini, berarti saya telah diculik. Jangan pernah percaya pada surat apa pun yang mengatasnamakan saya. Keadilan tidak boleh berhenti."
Beberapa hari yang lalu Kaelith dan Naura sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Mereka membuat video ini untuk berjaga-jaga dan ternyata sesuai dengan prediksi mereka.
"Berhasil!" seru Naura.
Namun, belum sempat mereka bernapas lega, pintu sekretariat didobrak dari luar. Penjaga-penjaga itu kembali, kali ini lebih banyak dan lebih agresif.
"Tangkap mereka!" teriak salah satu dari mereka.
Naura dan Keisha berlari menuju pintu darurat di belakang ruangan. Mereka melompat ke arah lorong yang mengarah ke gudang peralatan olahraga. Mereka berlari menembus kegelapan, melewati tumpukan matras dan alat-alat senam, sementara suara langkah kaki para pengejar terus mendekat.
Mereka sampai di area gudang yang buntu. Naura melihat sebuah ventilasi besar di langit-langit yang terbuka.
"Naik ke sana, Kei!" perintah Naura.
Keisha memanjat dengan bantuan tumpukan kotak. Setelah Keisha sampai di atas, ia menarik Naura. Tepat saat Naura berhasil meraih tangan Keisha, salah satu penjaga menembakkan pistolnya ke arah kotak-kotak itu.
DOR!
Naura jatuh terpeleset, namun ia berhasil masuk ke dalam lorong ventilasi tepat sebelum penjaga itu sampai. Mereka merangkak di dalam pipa besi yang sempit itu, bersembunyi dari jangkauan siapa pun.
Di luar sana, mereka bisa mendengar teriakan frustrasi para penjaga. Naura berbaring di dalam ventilasi, napasnya memburu. Ia tahu mereka mungkin tidak bisa keluar dari kampus dengan mudah, namun ia merasa lega. Kebenaran telah disiarkan. Mahasiswa kini tahu bahwa ketua mereka tidak mengkhianati mereka.
"Apa selanjutnya?" tanya Keisha dengan suara bergetar.
Naura menatap kegelapan di dalam lorong ventilasi. "Selanjutnya? Kita harus cari Kaelith. Gue tahu dia masih hidup. Dan sekarang, seluruh kampus sudah tahu apa yang terjadi. Mereka nggak bisa lagi menyembunyikan kita."
Naura meraba saku bajunya, mengambil sebuah ponsel kecil cadangan yang diberikan Ibu Citra. Ia melihat sebuah pesan baru yang masuk: “Lokasi sinyal Kaelith terlacak di sektor industri utara. Bergeraklah sekarang.”
Naura menatap Keisha. "Lo harus aman, Keisha. Balik ke kosan dan jangan pernah keluar sampai ini semua selesai."
"Gue ikut lo, Nau," jawab Keisha tegas. "Ini juga tanggung jawab gue sebagai pengurus BEM."
Naura tersenyum. Di tengah malam yang gelap, di bawah pengawasan ketat musuh, mereka merayap keluar dari ventilasi, bersiap untuk misi penyelamatan paling berbahaya dalam hidup mereka.