"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Laporan Santi
Karena masih diliputi amarah, Arsen memilih pergi ke apartemen Erina.
Begitu masuk, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan mengembuskan napas kasar. Wajahnya terlihat muram.
Erina yang baru keluar dari dapur segera menghampirinya sambil membawa segelas air.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya lembut seraya menyerahkan gelas itu. "Sepertinya kamu sedang kesal."
Arsen menerima gelas tersebut, lalu meminum airnya dalam sekali teguk.
"Ini semua gara-gara Alena," gerutunya. "Dia benar-benar membuatku kesal setengah mati."
Erina duduk di sebelahnya dan menatapnya penuh perhatian.
"Apa yang dia lakukan kali ini?"
"Aku hanya menegurnya karena dia bekerja tanpa seizin ku. Tapi, dia malah membantah dan melawanku." Arsen mengusap wajahnya kasar. "Aku merasa dia sudah berubah. Dia tidak lagi patuh seperti dulu."
Erina tersenyum tipis. "Kalau begitu, bukankah itu justru bagus? Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan." Erina menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kamu bisa menjadikan perubahan sikapnya sebagai alasan untuk bercerai."
Arsen terdiam, memperhatikan wajah wanita itu.
"Bukankah kita sudah sepakat? Buat dia semakin menjauh darimu dan mulai mengabaikan kewajibannya sebagai istri. Kalau itu terjadi, kamu punya alasan yang kuat untuk mengajukan perceraian."
Erina lalu menatap Arsen sambil tersenyum. "Lagipula, dengan kekuasaan dan pengaruh yang kamu miliki sekarang, aku yakin kamu akan menang."
Sudut bibir Arsen perlahan terangkat. "Kamu benar." Ia menarik tubuh Erina hingga wanita itu duduk di pangkuannya.
"Dengan begitu, kita bisa segera menikah."
Erina tersenyum manis. "Dan, kita bisa hidup bersama tanpa harus bersembunyi lagi."
Arsen mengangguk pelan, lalu mengecup bibir wanita itu.
"Oh, ya," ucap Erina setelah beberapa saat. "Aku dengar Atma Group sedang membuka proyek besar. Kenapa kamu tidak ikut tendernya?"
"Aku memang berencana ikut," jawab Arsen. "Tapi, proyek itu pasti diperebutkan banyak perusahaan. Aku harus mempertimbangkannya dengan matang."
Erina mengangguk pelan. Tangannya mengusap lengan Arsen. "Apa aku boleh ikut membantu?"
Arsen mengerutkan dahinya. "Membantu apa? Kamu cukup istirahat dan menjaga kandungan mu baik-baik."
Erina mengembuskan napas panjang, pura-pura kecewa.
"Tapi aku bosan, Sayang. Dulu aku selalu sibuk dengan pemotretan dan berbagai pekerjaan. Sekarang, aku hanya berdiam diri di apartemen."
Melihat wajah murung wanita itu, hati Arsen sedikit melunak.
"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Nanti aku carikan posisi yang cocok untuk mu."
Mata Erina langsung berbinar. "Sungguh?"
Arsen mengangguk. "Tentu saja."
Erina tersenyum lebar. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik."
Arsen ikut tersenyum. "Asal jangan terlalu memaksakan diri."
Erina mengangguk patuh, lalu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
Malam semakin larut. Untuk sesaat, Arsen melupakan semua masalahnya bersama Alena dan memilih menikmati ketenangan di apartemen tersebut.
Tidak lama kemudian, ia mengajak Erina masuk ke kamar untuk beristirahat. Malam itu, Arsen memutuskan menginap dan menemani wanita itu.
***
Pagi-pagi buta, seperti biasa Alena berjalan menuju kamar utama untuk menyiapkan segala keperluan Arsen.
Namun, begitu membuka pintu kamar, langkahnya terhenti saat melihat tempat tidur itu kosong.
Alena mengerutkan kening. Ia melangkah masuk dan menoleh ke sana kemari, memastikan apakah Arsen berada di kamar mandi atau balkon. Akan tetapi, tidak ada siapa pun di sana.
Ia mengembuskan napas pelan. "Sepertinya dia menginap di tempat wanita itu," gumamnya lirih.
"Kalau dia tidak ada, untuk apa aku menyiapkan keperluannya?"
Tanpa ragu, Alena kembali menutup pintu kamar dan berbalik pergi. Ia masih harus bersiap sebelum kedua mertuanya bangun.
Dan, tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit.
Alena segera meraih tas kerjanya setelah memastikan penampilannya lalu, keluar dari kamar.
Begitu sampai di lantai bawah, ia melihat Santi sedang sibuk di dapur.
"Santi, aku berangkat dulu, ya."
"Eh, Nyonya!" Santi buru-buru menghampiri sambil membawa sebuah kotak bekal. "Ini untuk Nyonya."
Alena menatap bingung. "Bekal?"
Santi mengangguk sambil tersenyum. "Setiap hari Nyonya berangkat terlalu pagi sampai tidak sempat sarapan. Jadi, saya menyiapkan sedikit makanan untuk dibawa."
Alena menatap kotak bekal itu beberapa detik sebelum menerimanya. Lalu, senyum hangat terukir di wajahnya.
"Terima kasih, Santi."
"Sama-sama, Nyonya."
Namun setelah itu, Santi terlihat gelisah. Wanita paruh baya itu beberapa kali menggigit bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu.
Alena yang menyadarinya akhirnya bertanya, "Ada apa? Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja."
"I-itu..." Santi menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. Setelah yakin, ia kembali menatap Alena. "Saya sebenarnya tidak berhak ikut campur urusan pribadi Nyonya."
"Tidak apa-apa. Katakan saja."
Santi menarik napas dalam. "Saya tahu hubungan Nyonya dan Tuan sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, saya hanya ingin mengingatkan Nyonya untuk berhati-hati."
Alena mengernyit. "Berhati-hati?"
Santi mengangguk pelan. "Beberapa waktu lalu, saya melihat Tuan membawa seorang wanita ke rumah saat Nyonya tidak ada."
Alena terdiam.
"Mereka berbincang cukup lama di ruang keluarga bersama tuan dan nyonya besar. Dan, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka."
Raut wajah Santi berubah cemas. Kedua tangannya saling meremas.
"Saya mendengar, Tuan mengatakan kalau dia akan mencari kesalahan Nyonya dan menjadikan itu alasan untuk bercerai."
Suasana mendadak hening.
Santi menatap Alena dengan khawatir, takut wanita itu akan menangis atau marah setelah mendengar semuanya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Alena hanya terdiam beberapa saat, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Begitu rupanya."
"Hah?" Santi berkedip bingung. "Nyonya, apa Nyonya tidak apa-apa?"
Alena mengangkat pandangannya dan tersenyum lembut.
"Terima kasih sudah memberitahuku, Santi."
"Tapi, Nyonya..."
"Aku sungguh berterima kasih."
Senyum di wajah Alena perlahan berubah menjadi senyum tipis yang sulit diartikan karena kini semuanya menjadi semakin jelas.
Jika Arsen memang sedang menunggu dirinya melakukan kesalahan, maka ia tidak akan memberinya kesempatan sedikit pun.
"Aku berangkat dulu, ya."
Alena menggenggam kotak bekal itu erat, lalu melangkah menuju pintu.
"Hati-hati di jalan, Nyonya," ucap Santi.
Alena menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dan tersenyum kecil.
"Pasti."
Setelah mengatakan itu, ia kembali berjalan keluar rumah dengan sebuah senyum tipis yang penuh makna.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...