NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kembali Berkultivasi di Pagoda

Sesampainya di kediamannya di Gunung Hu, rasa lelah yang menumpuk selama berhari-hari di lembah akhirnya menyerang tubuh Riu Han. Ia segera membersihkan diri dan merebahkan badan, berniat beristirahat total agar besok bisa memulai kultivasi dengan kondisi prima di ruangan yang lebih tinggi di Menara Kultivasi.

Pikirannya sempat melayang pada hasil misi kali ini. Jumlah poin kontribusi yang mereka dapat sungguh luar biasa banyaknya, jauh melampaui perkiraan awal. Terutama karena mereka berhasil membawa pulang bangkai sepasang binatang roh tingkat empat beserta mutiara roghnya—benda yang harganya sangat mahal dan dicari banyak orang. Meskipun mutiara roh tingkat empat itu bisa langsung ia gunakan untuk mempercepat kultivasi, Riu Han sadar sepenuhnya. Itu adalah hasil kerja sama dirinya dan Luo Jin, dan ia tidak berhak mengambil bagian yang lebih besar untuk keuntungan pribadi. Meski dibagi dua pun nilainya tetap sangat berharga, ia memilih untuk menukar semuanya menjadi poin kontribusi yang adil bagi keduanya, tanpa menyisakan apa pun untuk disimpan sendiri.

Dengan hati yang tenang dan perasaan puas karena telah berlaku jujur, Riu Han pun terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak.

Keesokan paginya, saat sinar matahari baru menyentuh jendela kamarnya, Riu Han sudah bangun dan bersiap. Ia segera berjalan menuju kediaman Luo Jin.

“Saudara Luo, mari kita pergi ke Pagoda Kultivasi!” ajaknya dengan semangat.

Luo Jin baru saja membuka pintu, tersenyum melihat kedatangan Riu Han. “Saudara Riu, kau sudah bangun pagi sekali ya.” Ia tidak langsung menjawab ajakan, melainkan menyapa balik dengan wajah ceria.

“Ya, aku sudah siap. Bagaimana denganmu?” tanya Riu Han.

“Baiklah, ayo kita berangkat sekarang,” jawab Luo Jin mantap.

Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju pusat sekte tempat Menara Kultivasi berdiri megah. Sesampainya di lobi peminjaman, Riu Han langsung mengajak menyewa ruangan di lantai enam.

Sebenarnya Luo Jin sempat hendak menolak. Ia tahu tingkatan kultivasinya sendiri dan Riu Han masih tergolong rendah, ruangan di lantai enam biasanya diperuntukkan bagi murid yang sudah jauh lebih kuat. Namun kemudian ia teringat pada keunikan teknik kultivasi Riu Han yang bisa menyerap energi jauh lebih banyak dan cepat daripada orang biasa—mungkin ruangan di lantai bawah justru tidak akan cukup memadai untuknya. Akhirnya ia pun mengangguk setuju.

Mereka berjalan menuju meja pengelola. Petugas wanita yang bertugas hari itu menatap mereka berdua dengan tatapan ragu setelah mendengar permintaan mereka. Ia menatap Riu Han sekilas, lalu berkata dengan nada sopan namun menyarankan: “Apakah kalian yakin? Aku melihat tingkat kultivasimu baru berada di tingkat tiga Prajurit. Biasanya murid dengan tingkatan seperti ini menyewa ruangan di lantai delapan atau sembilan. Ruangan di lantai enam energinya jauh lebih padat dan menekan, hanya murid yang sudah kuat yang biasa menggunakannya. Aku khawatir kalian tidak akan sanggup menahannya.”

Riu Han tersenyum tenang dan menjawab dengan tegas: “Terima kasih atas perhatiannya, Senior. Kami yakin dan sudah siap.”

Melihat ketegasan di mata mereka, petugas itu tidak lagi mencegah. “Baiklah kalau begitu. Ini kuncinya, dan waktu yang kalian dapatkan adalah lima jam sesuai poin kontribusi yang diserahkan. Selamat berlatih.”

Mereka pun naik perlahan menuju lantai enam. Suasana di sini jauh lebih tenang dibandingkan lantai bawah, namun setiap pintu ruangan yang tertutup memancarkan aura kekuatan yang berbeda-beda. Ruangan yang tersedia tidak banyak, sehingga mereka terpaksa mengantri.

Satu jam berlalu, akhirnya tiga pintu ruangan terbuka bersamaan. Riu Han dan Luo Jin segera memilih masing-masing satu ruangan yang berdekatan. Begitu kunci dimasukkan ke lubang pintu, mekanisme di dalamnya berderik pelan, pintu terbuka, dan lampu penunjuk waktu di dinding langsung menyala menandakan waktu sewa mulai berjalan.

Riu Han melangkah masuk. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia bisa merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Energi alam di sini bukan lagi sekadar udara yang terasa kental, melainkan seolah berwujud nyata—seperti butiran debu bercahaya yang melayang-layang di udara, berputar lembut mengikuti aliran energi yang diatur oleh formasi ruangan.

“Sungguh sistem yang luar biasa,” gumam Riu Han kagum. “Mampu mengumpulkan, memadatkan, dan mengatur aliran energi sedemikian rupa tanpa membuatnya menjadi liar atau berbahaya. Sekte Pedang benar-benar memiliki kehebatan yang tak terduga.”

Tanpa membuang waktu lagi, ia duduk bersila di tengah ruangan, memejamkan mata, dan langsung memusatkan pikiran untuk memulai meditasi. Perlahan ia larut dalam proses penyerapan dan pengolahan energi.

Ia bisa merasakan dengan jelas: setiap kali ia menarik napas, energi yang masuk ke tubuhnya jauh lebih banyak dan murni dibandingkan sebelumnya. Dantian di dalam perutnya terasa semakin luas dan elastis, seolah mampu menampung volume energi yang tak terbatas. Namun anehnya, meski energi yang diserap sudah begitu melimpah hingga ia merasa tubuhnya lebih kuat dan kokoh, tingkat kultivasinya tetap diam di tempat—masih di tingkat tiga Prajurit.

Riu Han tidak kaget atau kecewa. Ia sudah mulai memahami keunikan teknik kultivasi warisan yang ia miliki. Fondasi yang dibangun teknik ini jauh lebih kokoh dan dalam dibandingkan metode biasa. Jika orang lain menyerap energi sebanyak ini, mungkin mereka sudah bisa naik tiga hingga empat tingkat sekaligus. Namun baginya, setiap peningkatan kecil membutuhkan energi yang setara dengan puluhan kali lipat kebutuhan kultivator biasa. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan yang tak tertandingi nantinya.

Waktu berlalu begitu cepat dalam keheningan. Rasanya baru saja ia memejamkan mata dan mulai berkultivasi, namun tiba-tiba bunyi peringatan halus terdengar menandakan waktu lima jam yang disewa telah habis. Riu Han membuka matanya dengan senyum getir—ia merasa seolah baru saja beristirahat sejenak.

Ia berjalan keluar ruangan. Di lorong, belum terlihat sosok Luo Jin. Riu Han pun menunggu dengan sabar. Lima menit kemudian, pintu ruangan sebelah terbuka, dan Luo Jin melangkah keluar dengan wajah berseri-seri, matanya berbinar penuh kegembiraan.

Melihat Riu Han sudah menunggu, Luo Jin tersenyum lebar. “Saudara Riu, kau sudah selesai sejak tadi?”

“Ya, baru saja keluar. Selamat ya, Saudara Luo,” ucap Riu Han tulus. “Aku bisa merasakan perubahanmu—kini kau sudah mencapai tingkat tiga Perwira.”

Luo Jin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tertawa malu-malu. “Ah, itu hanya peningkatan dua tingkat saja, hal kecil kok. Tidak seberapa.” Meski begitu, sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia—naik dua tingkat dalam sekali latihan di ruangan tingkat enam adalah pencapaian yang sangat membanggakan bagi murid seumur mereka.

“Bagi orang lain mungkin begitu, tapi bagiku ini luar biasa,” jawab Riu Han. “Kau sudah melangkah jauh dalam waktu singkat.”

“Berkat kita berbagi waktu di ruangan yang energinya padat ini saja,” balas Luo Jin. “Kalau kau tidak mengajak ke sini, aku mungkin masih terjebak di tingkat satu Perwira berbulan-bulan lagi.”

Mereka pun berjalan beriringan menuju tangga keluar, langkah mereka ringan dan hati penuh harapan. Di dalam hati Riu Han, satu tekad kembali menguat: meski butuh waktu dan sumber daya yang jauh lebih banyak, ia tidak akan menyerah. Ia tahu, setiap tetes energi yang diserapnya kini sedang membangun fondasi yang tak tergoyahkan, fondasi yang kelak akan menopang langkahnya mencapai puncak dunia kultivasi yang belum pernah disentuh siapa pun.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!