Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nightmare
"Jika mimpi adalah bunga tidur, maka kejadian di dalamnya adalah kelopak yang berwarna-warni."
***
Pagi-pagi seperti biasa Livi berangkat ke sekolah diantar oleh Ayahnya. Ketika sampai di sekolah ada banyak teman-teman yang sudah datang. Livi turun di deretan penjaja makanan dan berpamitan dengan Jordy. Tanpa disangka di sana sudah ada Jona yang kemudian mendekati Jordy dan berbasa-basi.
"Cie, Jona, cieee," goda teman-teman.
"Eh, Livi mau punya mama baru!"
"Ye! Jona jadi mamanya Livi."
Lalu Livi pun berlari ke dalam gedung sekolah setelah menatap marah sang ayah. Gadis itu merasa sangat malu sekaligus kecewa. Kenapa juga dirinya diantar. Harusnya tadi Livi naik taksol saja seperti biasa, alih-alih bisa memperbaiki hubungannya dengan sang ayah, yang ada malah semakin memburuk. Semua ini, gara-gara Jona!
Beberapa teman yang usil menyusul ke dalam kelas dan melanjutkan menggoda Livi. Sementara itu Jona malah terlihat santai dan asyik-asyik saja tanpa sedikitpun kelihatan terganggu. Jona juga tidak berusaha meredam ejekan-ejekan yang ditujukan pada Livi, meskipun itu juga tertuju pada dirinya. Apa cewek itu benar-benar siap menjadi ibu tiri? Bagi Livi? Jika benar terjadi dan semoga tidak akan pernah terjadi, Livi membatin, tidak akan kubiarkan hidup Jona damai selamanya. Seketika putri tunggal Jordy itu pun merasa jijik, membayangkan menjadi anak tiri teman sebayanya. Dia bertekad untuk memisahkan ayahnya dengan Jona, dengan cara apapun.
Livi semakin geram dengan tingkah teman-teman yang terus saja menggodanya dengan sebutan anak tiri Jona, membuatnya terpaksa membungkam mulut mereka semua dengan teriakan, "Diaaaaamm!"
Keringat membanjiri rambut, wajah dan sebagian tubuh Livi. Gadis itu memegang lengan dan sadar masih menggunakan sweater milik ibunya. Dia masih berada di kamar tidur dan waktu menunjukkan pukul dua dinihari, masih terlalu pagi untuk terjaga. Ternyata yang terjadi barusan bukanlah kenyataan. Gadis itu sedikit merasa lega, meskipun jika tidak berbuat apa-apa, mimpi buruk barusan bisa benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Dengan segera Livi mengetuk kamar tamu yang dihuni Oma dan Opanya untuk mengaduh dan berkeluh kesah. Berharap bantuannya akan segera datang dari kedua orang yang sudah tua.
Mengetahui penderitaan cucunya, dilandasi rasa prihatin sekaligus marah, ayah dan ibu Jordy pun sepakat untuk memisahkan putra mereka dengan wanita belia bernama Jona. Kedua orang tua itu bahkan memutuskan untuk tinggal beberapa lama di rumah Jordy demi memastikan tidak ada tamu bernama Jona. Lagipula, mereka juga tidak tega meninggalkan Livi dalam ketidaknyamanan sendirian.
Sebenarnya Jordy tidak keberatan jika ayah dan ibunya ingin tinggal sementara di rumah. Mungkin saja itu akan mengulur waktu mengenai ide perjodohan. Masalahnya akan sulit baginya untuk bertemu dengan Jona. Mereka pasti akan membuat dirinya sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk kekasih belianya.
Sudah sepekan Jona tak bertemu dengan Jordy. Mbah merasa senang mengetahui bahwa Jona punya banyak waktu belajar dan tentu saja membantunya. Tidak seperti hari-hari kemarin, saat remaja putri itu terlalu sibuk dengan urusan cinta.
Sementara itu, Jordy tetap menjaga hubungan baik dengan Jona dengan terus berbagi kabar. Jordy kerap meminta maaf karena belum bisa menemuinya. Seperti yang pria itu harapakan, gadis yang dicintainya masih bertahan dengan kesetiaan dan kesabaran. Jona hanya mengeluh bahwa dia mulai ketinggalan pelajaran Matematika akibat tidak belajar bersama Jordy.
Cinta yang terjalin antara kedua anak manusia itu memang bukan main-main. Tidak akan mudah dipatahkan begitu saja meski jarak dan waktu memisahkan. Justru, dengan adanya pemisah, membuat keduanya merasa bahwa satu sama lain saling membutuhkan dan kehadiran mereka sangat berharga.
Selain harus bersabar di rumah, di tempat kerja Jordy juga harus menghadapi masalah dengan Iwan. Jordy telah menyelesaikan satu sesi trading ketika waktu menunjukkan pukul lima sore. Dia bersiap-siap untuk pulang tak ingin sampai terlalu malam untuk menghormati orang tuanya di rumah. Setidaknya mereka harus makan malam bersama. Di satu sisi dia merasa aman dan nyaman bahwa ada yang menemani dan memperhatikan Livi. Namun di sisi lain dia juga sedih harus berjauhan dengan Jona, meskipun sementara.
"Bro, lo bisa bantu gue nggak?" Suara Iwan mengagetkan.
"Kenapa, Wan?"
"Lo tolong anterin Silvy ya, soalnya gue ada perlu, nih. Urgent."
"Tapi gue...."
"Please, Bro. Gue minta tolong banget."
Ketika akan menjawab, sosok perempuan yang dimaksud datang mendekat. Seorang wanita cantik yang suka berpenampilan casual. Silvy mengenakan denim wearpack overall dengan tengtop baby pink lengkap dengan bandana senada.
"Bisa nggak?" tanyanya pada Iwan yang sebenarnya ditujukan pada Jordy. Sekali lagi Iwan menunjukkan ekspresi memohon sehingga, terpaksa Jordy setuju saja. Padahal bisa naik taksi online, kenapa harus diantar, Jordy membatin.
Silvy memandu jalan menuju rumahnya yang terletak di daerah TB. Simatupang. Wanita berusia 27 tahun itu bekerja sebagai freelance graphic designer. Silvy adalah wanita yang ceria dan cukup banyak omong. Menurut penuturannya pada Jordy, dia mengaku kerap pingsan sehingga takut bepergian tanpa didampingi orang yang dikenal. Takut kalau-kalau suatu saat tersadar di got, kilahnya.
"Ya, tubuh aku memang lemah tapi nggak dengan semangat dan ambisiku," ucapnya percaya diri yang sedikit membuat Jordy merasa ngeri.
"Bagaimana kabar Livi?"
Jordy terkejut mengetahu bahwa Silvy mengetahui tentang putrinya.
"Oh, baik."
"Kasihan ya, pasti berat untuknya kehilang orang yang paling disayangi."
"Hmm, benar," jawab Jordy sekenanya karena dia tidak suka ada orang baru yang membicarakan hal-hal pribadi. Bukankah, wanita bernama Silvy di sampingnya itu bahkan belum menjadi teman?
"Eh, Kak Jordy iklas nggak sih nganterin aku? Kok, daritadi jawabnya iya-iya doing?"
"Iklas, lah. Kalau nggak udah kuminta turun daritadi."
"Tuh kan, pake lah. Berarti nggak iklas."
Jordy tertawa, bingung mau jawab apa lagi.
"Maaf ya, jadi ngerepotin."
"Iya, nggak pa-pa, kok."
Silvy benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan berdua dengan Jordy. Sebelum berpisah dia meminta kontak Jordy secara langsung. Meskipun sebenarnya bisa saja dia minta pada Iwan.
Ketika sampai di rumah satu setengah jam kemudian, dia merasa bahagia ada begitu banyak makanan di atas meja. Juga ada keluarga yang menunggunya. Rasanya sudah lama sekali semenjak kepergian sang istri Jordy tak merasa demikian tergenapi.
"Wah, Ayah sudah pulang," sambut Livi ceria.
"Ayo kita makan sama-sama."
"Aku mandi dulu, Bu." Jordy hendak berlalu ke kamarnya di lantai dua, ketika tiba-tiba ibunya mencegah.
"Tunggu dulu."
Ibu memanggil seseorang yang kemudian keluar dari kamar mandi belakang, dengan terburu-buru. Tadinya Jordy pikir ibunya memanggil Mbak Marni, tetapi wanita itu baru pernah dia jumpai. Sekilas Jordy merasa wanita itu pasti cerdas dari caranya membawa diri, dia tersenyum pada Jordy yang hatinya hampa.
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta