Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah untuk Sang Pangeran
Pagi hari di Ibu Kota Langit Timur disambut oleh kabut tipis yang mendinginkan megahnya dinding-dinding Istana Pangeran Ketiga. Namun, kedamaian itu pecah menjadi kepanikan massal saat penjaga gerbang utama menemukan sebuah kotak kayu cendana mewah tergeletak di atas anak tangga marmer.
Kotak itu tidak berpemilik, hanya disegel dengan selembar kain hitam yang bertuliskan satu kata: "Dikembalikan".
Ketika kapten penjaga membuka kotak tersebut, aroma anyir darah dan hawa sedingin es langsung menyeruak. Di dalamnya, bertumpuk kepala dua puluh pembunuh elit Paviliun Bayangan Hitam, dengan kepala sang tetua ranah Pendirian Fondasi Tingkat 8 berada di posisi paling atas—wajahnya membeku hitam dengan ekspresi ketakutan mutlak yang abadi.
BUMMM!
Di dalam ruang kerja istananya, Pangeran Ketiga menghantam meja gioknya hingga hancur berkeping-keping. Wajah tampannya berkedut mengerikan, merah padam oleh kemarahan yang bercampur dengan rasa ngeri yang mulai merayap di tengkuknya.
"Satu unit elit... dihancurkan dalam satu malam tanpa ada satu pun sinyal darurat yang sempat dikirim?!" suara Pangeran Ketiga meninggi, bergetar hebat. "Zhou Yu... monster macam apa yang sebenarnya dibesarkan oleh klan rongsokan itu?!"
Kehilangan seorang ahli Tingkat 8 adalah pukulan telak bagi faksi politiknya. Pangeran Ketiga menyadari dengan pahit bahwa Zhou Yu bukan lagi sekadar mangsa yang bisa dia intimidasi di perjamuan teh; pemuda jubah hitam itu telah menjelma menjadi ancaman eksistensial yang siap meruntuhkan ambisinya merebut takhta kekaisaran.
Sementara Istana Pangeran Ketiga diselimuti ketakutan, atmosfer di Kastil Klan Zhou justru dipenuhi oleh persiapan perang yang dingin.
Di ruang kerja pemimpin klan, Mu Rong Xue datang membawa gulungan perkamen berisi peta pergerakan bisnis ilegal milik Paviliun Bayangan Hitam di Ibu Kota.
"Tuan Muda Zhou Yu, Pangeran Ketiga mendanai pasukan bayangannya melalui jaringan rumah judi dan perdagangan obat terlarang di distrik bawah. Jika Anda ingin memotong sayapnya, di sinilah kita harus memulainya," ucap Mu Rong Xue, matanya berbinar penuh kekaguman sekaligus ketegangan.
Zhou Yu menerima perkamen tersebut, lalu melirik ke arah Kapten Yuan yang berdiri tegak di samping meja. "Yuan, sebarkan pasukan bayangan kita. Hancurkan seluruh titik logistik mereka dalam waktu tiga hari. Aku tidak ingin melihat ada satu pun anggota Paviliun Bayangan Hitam yang tersisa di Ibu Kota ini."
"Siap, Pemimpin Klan!" Kapten Yuan memberi hormat militer dengan penuh semangat, lalu berbalik pergi untuk mengoordinasi pasukan.
...****************...
Setelah Mu Rong Xue juga pamit untuk mengatur pergerakan finansial Kamar Dagangnya, keheningan perlahan kembali menguasai ruangan luas tersebut.
Zhou Yu berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah lanskap Ibu Kota. Dia melepaskan topeng peraknya, menatap langit kelabu dengan pandangan mata yang mendadak meredup.
Di balik topeng ketenangan dan dominasi mutlak yang selalu ia tunjukkan di depan publik, ada sebuah kegelisahan emosional yang mendalam yang mencengkeram sudut hatinya. Meskipun dia telah mengekstrak memori Zhou Gung dan membantai tetua pembunuh kemarin, informasi tentang keberadaan ayahnya masih sangat buram.
Dia hanya tahu bahwa Pangeran Ketiga yang menandatangani perintah eksekusi tersebut, namun apakah sang ayah benar-benar telah tiada, ataukah disembunyikan di suatu tempat terlarang di dalam kekaisaran, semuanya masih menjadi teka-teki yang tak kunjung terpecahkan.
'Ayah... di mana sebenarnya Anda? Jika Anda masih hidup, bertahanlah. Aku akan meratakan seluruh kekaisaran ini untuk menjemputmu,' batin Zhou Yu, tangannya mencengkeram pembatas jendela batu hingga menyisakan retakan dalam.
Kegelisahan bahwa dia mungkin terlambat menyelamatkan ayahnya menjadi satu-satunya celah kelemahan dalam jiwanya yang sekeras baja.
Di tempat lain, di dalam wilayah suci Sekte Pedang Suci, suasana tidak kalah tegang. Lin Xinyue kembali ke sektenya dalam kondisi mental yang benar-benar hancur. Tatapan matanya kosong, dan aura pedangnya yang biasanya murni kini menjadi kacau akibat guncangan emosional yang hebat.
Setelah mendengar laporan dari Lin Xinyue mengenai pembantaian Paviliun Bayangan Hitam yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri, Tetua Agung Sekte Pedang Suci terperanjat dari kursinya dengan wajah pucat.
"Seorang ahli Tingkat 8 dibantai seperti memotong ayam? Dan dia mengendalikan elemen kegerhanaan yang pekat?!" Tetua Agung itu bergumam dengan tubuh gemetar.
Dia menatap Lin Xinyue yang hanya diam membisu dalam penyesalannya, lalu mengambil keputusan radikal. "Aliansi kita dengan Pangeran Ketiga harus segera ditinjau kembali. Kita tidak boleh menyeret Sekte Pedang Suci ke dalam sumur kematian demi memusuhi monster seperti Zhou Yu!"
Malam kembali turun membungkus Ibu Kota Langit Timur. Zhou Yu berdiri sendirian di puncak menara tertinggi Kastil Klan Zhou, jubah hitamnya berkibar hebat diterpa angin malam yang kencang.
Kapten Yuan muncul dari balik bayangan, berlutut dengan satu kaki. "Melapor, Pemimpin Klan. Pasukan bayangan telah menempati posisi mereka di sekitar markas rahasia Paviliun Bayangan Hitam. Rute penyerangan telah siap sepenuhnya."
Zhou Yu tidak berbalik. Dia perlahan memakai kembali topeng perak setengah wajahnya, menyembunyikan seluruh gundah dan kegelisahan tentang ayahnya di balik topeng dingin tersebut.
Ketika dia membalikkan tubuhnya, yang tersisa hanyalah sepasang mata naga merah darah yang menyala di kegelapan malam, memancarkan aura haus darah yang mengerikan.
"Pangeran Ketiga mengira dia adalah pemburu yang paling pintar karena bersembunyi di balik bayangan istananya," Zhou Yu berbisik dengan nada sedingin es, melangkah maju melewati Kapten Yuan.
"Mari kita tunjukkan padanya malam ini... bagaimana rasanya diburu oleh kegelapan yang sesungguhnya."