Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
Sesuai janjinya, begitu azan magrib selesai berkumandang dan langit malam mulai pekat, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah paviliun belakang. Tak lama kemudian, pintu kayu diketuk beberapa kali dengan ketukan yang ritmis dan tidak buru-buru.
Tok, tok, tok.
Nadia yang saat itu baru saja selesai membasuh wajahnya dan merapikan pakaian, berjalan dengan kaki yang masih sedikit pincang untuk membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, Nadia sempat tertegun melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
Pemuda berambut gondrong itu datang lagi, namun kali ini penampilannya jauh lebih rapi dan bersih. Rambutnya yang gondrong tidak lagi dibiarkan berantakan, melainkan dikuncir rapi ke belakang hingga tampak agak klimis. Ia juga sudah menanggalkan jaket usangnya yang bau asap rokok. Sebagai gantinya, ia mengenakan kemeja kain berkerah dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, dipadukan dengan celana jins panjang yang bersih. Meski tindikan di telinganya masih terpasang, kesan berandalan jalanan yang menyeramkan tadi siang sedikit luntur dari dirinya.
Sebelum melangkah menuju rumah Pak RT, pemuda itu bersandar pada kosen pintu dan menatap Nadia dengan lempeng.
"Sebelum kita ke tempat Pak RT, lebih baik kita samakan omongan dulu," ucap si pemuda dengan suara beratnya yang khas. "Biar nanti di sana tidak ada miskomunikasi atau salah paham kalau ditanya-tanya. Namamu siapa? Terus aslimu dari kampung mana?"
Nadia meremas jemarinya sendiri, merasa sedikit gugup. "Nama saya Nadia... Asal saya dari….” Nadia menyebutkan kampung halaman mendiang ibunya. “Tapi sudah lama ikut tinggal di sini, Mas."
Pemuda itu mengangguk-angguk pelan, otaknya mencatat informasi tersebut. Ia lalu mengisap napas dalam sebelum melontarkan pertanyaan yang paling krusial. "Terus, kenapa kamu bisa terlantar di pinggir jalan dengan kondisi kaki bengkak dan baju robek begitu tadi siang? Pak RT pasti bakal tanya alasan kenapa kamu pindah kesini mendadak."
Mendengar pertanyaan itu, dada Nadia seketika berdenyut nyeri. Bayangan malam jahanam bersama Axel, makian kejam Nyonya Sarah, hingga tatapan dingin Tuan Pramoedya mendadak berputar kembali di benaknya seperti kaset rusak. Nadia memejamkan mata rapat-rapat, menahan rasa sesak yang kembali naik ke tenggorokan.
Ia tentu tidak akan pernah mengatakan kebenaran tentang pemerkosaan dan malam jahanam itu kepada pria asing yang baru ia kenal ini. Terlalu menjijikkan, terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Dengan suara yang sengaja dipelankan dan pandangan yang tertuju pada ubin lantai, Nadia akhirnya menyusun sebuah alasan.
"Saya... saya diusir dari rumah majikan saya, Mas," lirih Nadia, mencoba menahan getaran di suaranya. "Selama ini saya numpang tinggal di sana karena utang budi masa lalu. Tapi... per pagi tadi, mereka bilang sudah tidak mau lagi menampung dan membiayai hidup saya. Makanya saya dikeluarkan begitu saja."
Pemuda berambut gondrong itu terdiam beberapa saat, menatap dalam-dalam ke arah Nadia. Sebagai orang yang sudah lama hidup di kerasnya kota, ia tahu ada bagian dari cerita gadis ini yang sengaja disembunyikan. Namun, ia cukup tahu diri untuk tidak mengorek luka orang lain lebih dalam. Alasan diusir karena masalah biaya sudah lebih dari cukup untuk disampaikan ke pengurus lingkungan.
"Ya sudah, kalau begitu alasannya. Nanti bilang saja kamu mahasiswa yang lagi cari kosan murah karena sudah tidak ditanggung wali," sahut pemuda itu tenang, lalu menegakkan tubuhnya dari kosen pintu. "Ayo jalan. Rumah Pak RT cuma beda dua gang dari sini. Jalan pelan-pelan saja, nggak usah buru-buru."
**
Langkah kaki Nadia yang pincang terdengar ritmis beradu dengan aspal gang yang mulai diterangi lampu-lampu neon teras rumah warga. Di sampingnya, pemuda berambut gondrong itu berjalan dengan tempo yang sengaja diperlambat, menyesuaikan diri dengan irama jalan Nadia yang terseok-seok menahan nyeri di pergelangan kakinya.
"Nama kamu tadi Nadia, kan?" tanya pemuda itu memecah kesunyian, matanya tetap memandang lurus ke depan. "Kenalkan, namaku Ubay."
Nadia menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas Ubay. Terima kasih sebelumnya."
Ubay hanya bergumam pendek sebagai respons. Nadia diam-diam melirik ke arah rumah bertingkat yang mereka tinggalkan tadi. Ia masih penasaran dengan status paviliun itu. Namun, apa yang tidak diketahui oleh Nadia adalah bahwa rumah besar bertingkat di bagian depan itu sebenarnya adalah milik mendiang neneknya Ubay.
Ubay adalah pewaris sah yang kini menempati rumah tua tersebut sendirian. Hanya saja, Ubay sangat jarang pulang ke rumah itu karena sering menghabiskan waktunya di jalanan. Itulah mengapa paviliun belakangnya kosong dan tidak terawat. Di mata orang-orang yang tidak mengenalnya, Ubay dengan perawakan tinggi, rambut kuncir klimis, tindikan hitam, dan motor RX-King-nya sering dicap sebagai berandalan jalanan atau preman pasar yang patut dihindari. Namun bagi warga gang yang mengenalnya dekat, Ubay adalah sosok 'pahlawan' berhati emas yang sering membantu warga tanpa pamrih, meski pembawaannya selalu acuh tak acuh dan bersikap dingin.
Setelah melewati dua kelokan gang yang cukup sempit, Ubay menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah dengan papan hijau bertuliskan "Ketua RT 03".
"Sudah sampai. Kamu tenang saja, nggak usah tegang," bisik Ubay datar sebelum mengetuk pintu pagar.
"Assalamu'alaikum, Pak RT," seru Ubay.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan seorang pria paruh baya berkaos kutang dengan sarung melangkah keluar. Begitu melihat siapa yang datang, wajah tegas Pak RT langsung berubah menjadi senyuman lebar yang sangat akrab.
"Eh, Ubay! Wah... tumben kamu malam-malam begini kesini, Bay? Biasanya kelayapan entah ke mana," sapa Pak RT dengan nada sangat ramah, membuktikan betapa dia sudah sangat mengenal pemuda yang sering dikira berandalan itu. Pak RT kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nadia yang berdiri agak bersembunyi di belakang tubuh tegap Ubay dengan posisi kaki yang sedikit diangkat karena pincang. "Lho, ini siapa, Bay? Kok kakinya pincang begitu?"
Ubay maju satu langkah, menutupi kecanggungan Nadia dengan sikapnya yang tenang namun tetap dingin. "Ini Nadia, Pak RT. Mahasiswi yang mau sewa paviliun belakang rumah nenek. Tadi siang dia terlantar karena wali kuliahnya mendadak lepas tangan, makanya langsung saya bawa ke sini buat lapor."
Pak RT membetulkan letak kacamata bacanya setelah Ubay menjelaskan situasi singkat mengenai Nadia. Dengan ramah, pria paruh baya itu mempersilahkan keduanya duduk di kursi rotan teras rumah. Nadia duduk dengan perlahan, meluruskan sedikit kaki kanannya yang terasa berdenyut nyeri.
"Oh, jadi Mbak Nadia ini mahasiswi yang mau menempati paviliun belakang rumah nenekmu, Bay?" tanya Pak RT sembari membuka sebuah buku besar bersampul batik, buku registrasi warga baru. "Ya sudah, sesuai prosedur lingkungan kita, kalau ada warga baru apalagi yang indekos atau sewa paviliun, memang harus dicatat biar tertib. Keamanan kampung juga biar sama-sama terjaga."
Pak RT mengambil pulpen, lalu menatap Nadia dengan pandangan kebapakan. "Nama lengkapnya siapa, Mbak? Terus ada bawa kartu identitas seperti KTP atau Kartu Tanda Mahasiswa?"
Nadia sempat gugup, namun ia buru-buru meraba saku jaketnya. Untungnya, dompet kecil berisi KTP dan KTM miliknya tidak tertinggal saat diusir tadi pagi. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyerahkan selembar kartu itu kepada Pak RT.
"Nama saya Nadia Putri, Pak. Ini KTP saya," jawab Nadia pelan.
Pak RT mengangguk-angguk sambil mencatat data dari KTP tersebut ke dalam buku besar. "Nadia Putri... asal ….. Kuliah di universitas mana kalau boleh tahu, Mbak?"
"Di Universitas Harapan Bangsa, Pak. Angkatan masuk dua tahun lalu," sahut Nadia jujur.
"Wah, kampus bagus itu. Pinter berarti kamu, Mbak," puji Pak RT tulus. Ia lalu melirik status pekerjaan di KTP dan beralih pada kondisi fisik Nadia yang tampak kelelahan dan terluka. "Tadi Ubay bilang walinya mendadak lepas tangan, ya? Tapi nanti urusan administrasi kuliah dan lain-lain tidak terganggu, kan? Mohon maaf ya Mbak, Bapak tanya begini bukan mau ikut campur, tapi sebagai RT, Bapak harus memastikan warga yang tinggal di sini punya kegiatan yang jelas dan legal."
Nadia menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia teringat kembali kebohongan yang sudah disepakatinya dengan Ubay di jalan tadi. "I-iya, Pak. Untuk beasiswa kuliah pokok saya aman. Hanya saja untuk biaya operasional harian memang saya harus cari kerja sampingan sendiri setelah ini. Makanya saya cari tempat tinggal yang lebih terjangkau."
Pak RT manggut-manggut percaya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Ubay yang sejak tadi hanya diam bersedekap dada dengan wajah lempengnya.
"Lalu kamu, Bay. Ini paviliun disewakan berapa ke Mbak Nadia? Biar jelas di catatan administrasi sewa-menyewa lingkungan," tanya Pak RT.
Ubay tidak langsung menjawab. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai, lalu menyahut dengan nada dingin andalannya. "Soal harga itu urusan saya sama Nadia, Pak RT. Yang penting malam ini datanya sudah masuk ke buku Bapak. Nanti kalau ada apa-apa, saya yang tanggung jawab penuh karena dia tinggal di lahan keluarga saya."
Pak RT terkekeh pelan mendengar jawaban tegas khas Ubay. Di kampung ini, semua orang tahu kalau Ubay memang berpenampilan urakan seperti berandalan jalanan yang acuh tak acuh. Namun, Pak RT juga tahu betul kapasitas Ubay. Pemuda itu memiliki beberapa pintu kios di pasar dan jaringan usaha modal motor listrik keliling yang menghidupi banyak anak muda terlantar di wilayah mereka. Jika Ubay sudah berkata akan bertanggung jawab, maka jaminannya lebih kuat daripada surat bermeterai mana pun.
"Ya sudah kalau begitu. Data Mbak Nadia sudah Bapak catat," ucap Pak RT sambil menyerahkan kembali KTP milik Nadia. "Selamat datang di lingkungan RT 03, Mbak Nadia. Kalau ada kesulitan atau butuh bantuan medis buat kakinya yang bengkak itu, jangan sungkan ketuk rumah warga atau bilang ke Ubay. Si Ubay ini tampangnya saja yang kayak preman pasar, tapi aslinya bisa diandalkan."
Nadia menerima KTP-nya kembali sambil mengulas senyum tipis yang tulus. "Terima kasih banyak, Pak RT."
****