Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kelahiran Kembali Sang Naga
Sinar matahari pagi perlahan menyusup ke dasar Jurang Kematian, mengusir sisa-sisa badai semalam. Di atas sebuah batu datar raksasa, Ye Chen perlahan membuka matanya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah bau busuk yang menyengat. Ia menunduk dan menyadari seluruh kulitnya tertutup lapisan lumpur hitam pekat yang lengket. Ini adalah kotoran dan racun yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya selama proses pembentukan ulang meridian semalaman.
Namun, di balik bau busuk itu, Ye Chen merasakan sensasi yang belum pernah ia alami seumur hidupnya: kekuatan.
Rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah telah lenyap tanpa bekas. Ia bangkit berdiri dan melompat ke arah sungai kecil yang mengalir di dasar jurang untuk membersihkan diri. Saat kotoran hitam itu luruh, tampaklah kulit yang kini sekeras tembaga namun sehalus batu giok. Otot-ototnya terbentuk sempurna, memancarkan vitalitas yang luar biasa.
"Jangan terlalu cepat berpuas diri, Bocah." Suara Ao Tian tiba-tiba bergema kembali di benaknya, kali ini terdengar lebih rileks. "Lumpur hitam itu hanya sebagian kecil dari kotoran fana di tubuhmu. Namun, meridian cacatmu kini telah digantikan oleh Meridian Naga Kuno."
Ye Chen memejamkan mata dan mencoba merasakan aliran di dalam tubuhnya. Benar saja, jika dulu ia tidak bisa merasakan energi spiritual (Qi) sama sekali, kini ia bisa merasakan untaian Qi mengalir deras di pembuluh darahnya seperti sungai yang bergemuruh.
"Kekuatan ini... Tahap Pengumpul Qi tingkat ketiga?!" Ye Chen terkesiap. Dalam satu malam, ia tidak hanya sembuh, tetapi langsung melompati tiga tahap kultivasi awal. Sepupunya, Ye Feng, yang dianggap berbakat, butuh waktu tiga tahun untuk mencapai tahap ini.
"Hmph, itu hanya permulaan dari Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi," dengus Ao Tian bangga. "Kekuatan fisikmu sekarang setara dengan banteng iblis. Cobalah pukul batu di depanmu itu."
Tanpa ragu, Ye Chen memusatkan Qi ke tangan kanannya. Ia menarik napas dalam, memutar pinggulnya, dan melontarkan pukulan keras ke arah batu besar setinggi manusia di tepi sungai.
BAM!
Batu raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya retak dan hancur berkeping-keping, meledak menjadi debu di udara. Mata Ye Chen bergetar melihat tangannya sendiri. Tidak ada luka gores sedikit pun di buku-buku jarinya.
"Luar biasa..." gumamnya.
"Sekarang, berhentilah bermain-main," perintah Ao Tian. "Dasar jurang ini memiliki energi spiritual yang terlalu tipis. Gunakan kekuatan barumu untuk memanjat tebing itu. Sudah waktunya kau menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya pantas disebut sampah."
Mendengar itu, kilatan dingin melintas di mata Ye Chen. Bayangan wajah meremehkan Ye Feng dan para tetua klan yang membuangnya kembali muncul. Ia mendongak, menatap dinding tebing curam yang menjulang tinggi ke arah awan.
"Ye Feng, Klan Ye... bersiaplah. Ye Chen yang kalian kenal sudah mati semalam," bisik Ye Chen dengan nada sedingin es.
Ia mengambil napas panjang, mengerahkan Qi ke kedua kakinya, dan melompat setinggi tiga meter ke arah tebing, menancapkan jari-jarinya ke dinding batu layaknya cakar naga.
Matahari mulai terbenam saat jari-jari Ye Chen akhirnya mencengkeram tepi tebing. Dengan satu tarikan napas, ia melontarkan tubuhnya ke atas dan mendarat dengan kokoh di tanah. Angin malam berhembus, menerbangkan rambut hitamnya yang sedikit panjang.
Di kejauhan, kemegahan kediaman Klan Ye tampak bercahaya di bawah sinar lampion. Tempat itu dulunya adalah rumah, namun bagi Ye Chen sekarang, itu hanyalah sarang serigala. Berkat pandangan matanya yang tajam akibat Meridian Naga, ia menghindari para penjaga dengan mudah dan menyelinap ke area pelayan tempat halaman kecilnya berada.
Halamannya sangat kumuh, terletak di sudut paling terpencil dari kediaman klan. Namun, saat ia mendekati pintunya yang reyot, langkah Ye Chen terhenti. Telinganya menangkap suara pecahan barang dan tawa kasar dari dalam kamarnya.
"Cari yang benar! Tuan Muda Feng bilang si sampah itu pasti menyembunyikan sisa kepingan Batu Spiritual milik ayahnya di suatu tempat!" suara serak seorang pria terdengar dari dalam.
"Tenang saja, Kak Wang. Lagipula orangnya sudah jadi makanan gagak di dasar jurang. Kita punya banyak waktu untuk membongkar tempat rongsokan ini," timpal suara lain yang lebih cempreng.
Mata Ye Chen menyipit. Mereka adalah Wang Ba dan Li Si, dua pelayan tingkat tinggi yang sering menjadi anjing pelacak Ye Feng. Keduanya berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat kedua dan sering menyiksa Ye Chen di masa lalu.
Dengan satu tendangan pelan, pintu kayu reyot itu terbuka. KRAK!
Kedua pelayan itu berputar serentak. Saat mereka melihat sosok pemuda jangkung dengan pakaian putih usang yang berlumuran noda darah kering berdiri di ambang pintu, wajah mereka pucat pasi.
"Hii! H-hantu!" Li Si menjerit, kakinya gemetar hebat hingga ia menjatuhkan kotak kayu milik Ye Chen.
"Tutup mulutmu!" bentak Wang Ba, meski suaranya ikut bergetar. Ia menghunus belati dari pinggangnya. "Siapa kau?! Jangan berpura-pura menjadi hantu di depanku! Si sampah Ye Chen sudah mati semalam!"
Ye Chen melangkah masuk, auranya sedingin es. "Kalian mencariku?"
Mendengar suara yang sangat familiar itu, mata Wang Ba terbelalak. Namun, menyadari bahwa sosok di depannya bernapas dan memiliki bayangan, ketakutannya perlahan berubah menjadi kemarahan.
"Ternyata kau belum mati! Entah keberuntungan anjing apa yang membuatmu selamat dari tebing, tapi karena kau berani menampakkan diri, aku akan mematahkan kedua kakimu dan menyerahkanmu pada Tuan Muda Feng!"
Wang Ba menerjang maju. Belatinya menusuk langsung ke arah dada Ye Chen, membawa hembusan angin spiritual yang cukup tajam. Di masa lalu, serangan ini pasti akan menembus tubuh Ye Chen tanpa perlawanan.
Namun sekarang, di mata Ye Chen, gerakan Wang Ba terlihat sangat lambat.
Tepat sebelum belati itu mengenainya, tangan kanan Ye Chen melesat seperti kilat. Jari-jarinya mencengkeram pergelangan tangan Wang Ba bagaikan catut besi.
"A-apa?!" Wang Ba tersentak. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman Ye Chen tidak bergeser satu milimeter pun.
"Dulu, kau menggunakan tangan ini untuk mencuri jatah makanku, kan?" bisik Ye Chen di telinga Wang Ba.
KRAK!
"AAAAAARRRGH!" Wang Ba menjerit histeris saat tulang pergelangannya remuk di bawah tekanan jari Ye Chen. Belatinya jatuh berdenting ke lantai. Tanpa memberi ampun, Ye Chen melontarkan tendangan lutut tepat ke perut Wang Ba, membuat pria itu terlempar menabrak dinding dan langsung pingsan dengan mulut memuntahkan darah.
Melihat pimpinannya dikalahkan hanya dalam satu tarikan napas, Li Si jatuh terduduk. Air seni merembes dari celananya. "T-Tuan Muda Chen... a-ampuni saya! Saya hanya disuruh oleh Tuan Muda Feng!"
Ye Chen berjalan perlahan mendekati Li Si, menatapnya dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah.
"Dengar baik-baik," ucap Ye Chen dingin. "Bawa si cacat itu dan sampaikan pesanku pada majikan anjingmu. Katakan padanya: Lehernya sudah ku-pesan. Sebentar lagi, aku sendiri yang akan datang untuk memotongnya."
Li Si mengangguk panik seperti ayam mematuk beras, lalu menyeret tubuh Wang Ba keluar dari kamar dengan susah payah, berlari terbirit-birit menghilang ke dalam kegelapan malam.
"Hahaha! Bagus! Naga sejati tidak pernah menunjukkan belas kasihan pada semut yang menghalangi jalannya," tawa Ao Tian bergema di benak Ye Chen. "Tapi Bocah, membuat keributan ini artinya kau butuh kekuatan yang lebih besar secepatnya. Jika kau tidak ingin mati saat bertemu petinggi klan, besok kita harus pergi ke Hutan Binatang Buas untuk mencari sumber daya!"
Ye Chen menatap tangannya sendiri, merasakan darahnya mendidih karena antisipasi.