Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
Selasa pagi di pertengahan bulan, lapangan utama SMA Garuda Bangsa dihiasi oleh spanduk-spanduk besar berwarna biru dan kuning. Hari itu adalah perayaan Hari Ulang Tahun Sekolah ke-35. Seluruh siswa mengenakan seragam batik khas sekolah yang dipadu dengan celana atau rok abu-abu. Suasana begitu meriah dengan panggung teater terbuka di sudut lapangan, stan makanan antarkelas, serta alunan musik dari grup band sekolah.
Sebagai pengurus inti OSIS, Arka sibuk luar biasa sejak pagi. Ia mondar-mandir di koridor membawa pengeras suara genggam dan papan jalan, memastikan seluruh rangkaian acara berjalan presisi sesuai jadwal. Sementara Naya, seperti biasa, menikmati festival dengan santai bersama Saskia dan Reno di area stan makanan.
"Nay, cobain deh sosis bakar stan kelas 12 IPA 1! Bumbunya mantap banget," puji Reno sambil menyodorkan sepotong sosis di tusukan kayu ke arah Naya.
Naya melahapnya tanpa ragu, matanya berbinar. "Wah, iya! Enak banget! Beli satu lagi yuk, Ren!"
Saskia yang berdiri di sebelah mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh. "Dasar perut karet. Eh, tapi bentar deh... itu Pak Lukman manggil-manggil kelas kita kan?"
Naya dan Reno menoleh. Di depan tangga perpustakaan yang dihiasi dekorasi balon, Pak Lukman—guru Seni Budaya sekaligus pembina dokumentasi sekolah—sedang melambaikan tangan dengan kamera DSLR menggantung di lehernya.
"Anak-anak kelas 12 IPS 2 dan perwakilan pengurus OSIS! Kumpul di sini sebentar! Kita mau foto angkatan buat dokumentasi majalah sekolah!" seru Pak Lukman lantang melalui toa kecil.
Puluhan siswa mulai menyemut menghampiri anak tangga perpustakaan. Naya, Saskia, dan Reno ikut terseret arus kerumunan. Di saat yang sama, Arka, Melisa, dan Dito yang baru saja selesai mengecek panggung utama juga berjalan mendekat atas perintah Pak Lukman.
"Ayo, ayo! Yang tinggi di belakang, yang cewek-cewek di barisan tangga kedua dan ketiga!" atur Pak Lukman sibuk mengarahkan kamera. "Pengurus OSIS berdiri di sisi-sisi tangga ya!"
Naya mengambil posisi di tangga baris kedua, tepat di sebelah Saskia. Reno berdiri di tangga atas persis di belakang Naya. Suasana sangat riuh dengan gurauan anak-anak IPS dan IPA yang saling ledek.
"Arka! Kamu berdiri di sebelah kanan tangga, dekat anak-anak IPS 2!" perintah Pak Lukman. "Melisa di sebelah kiri!"
Arka mengangguk sopan, melangkah menuju posisi yang ditunjuk. Tanpa disengaja karena dorongan dari beberapa siswa kelas 12 yang mendesak maju agar masuk ke bingkai kamera, posisi berdiri Arka berakhir tepat di samping Naya—hanya terpisah jarak satu jengkal.
Naya menegang seketika saat merasakan kehadiran Arka di sebelah kirinya. Bahu mereka hampir bersentuhan. Bau wangi parfum kayu Arka yang teramat familier langsung tercium oleh Naya, memicu ingatan konyol soal insiden berebut guling dan perang sarapan di rumah.
Naya melirik Arka dari sudut matanya. Laki-laki itu memasang wajah datar dan tenang seperti biasa, menatap lurus ke arah lensa kamera Pak Lukman. Namun jika diperhatikan sangat dekat, ada sedikit ketegangan pada garis rahangnya.
"Oke, siap ya! Hitungan ketiga! Satu... dua..." Pak Lukman mengangkat kameranya.
Tiba-tiba, seorang siswa dari barisan atas kehilangan keseimbangan dan menyenggol bahu Reno. Reno yang kaget refleks terdorong ke depan dan secara tidak sengaja menyenggol tubuh Naya.
"Eh—!" Naya tersentak, tubuhnya limbung ke arah kiri.
Dalam gerakan yang teramat refleks dan alami—gerakan seorang suami yang terbiasa menangkap istrinya saat kehilangan keseimbangan di rumah—tangan kiri Arka terulur secepat kilat. Jemari Arka menggenggam pinggang Naya dengan mantap, menahan tubuh cewek itu agar tidak jatuh menggelinding di anak tangga.
Sret!
Tubuh Naya tertahan pas di samping Arka. Kepala Naya bersandar sekilas di dada bidang Arka, sementara tangan kanan Arka kini melingkar protektif di pinggangnya.
Cklik! Cklik!
Lampu kilat kamera Pak Lukman menyala dua kali tepat di detik saat insiden itu terjadi.
Keheningan singkat merayap di antara orang-orang yang berdiri di sekitarnya.
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar, menyadari apa yang baru saja terjadi. Wajah Arka berada hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Tangan Arka masih menempel erat di pinggangnya—sebuah sentuhan yang terlalu intim dan tanggap untuk ukuran dua orang yang dikira musuh bebuyutan.
Arka yang sadar akan posisinya mendadak membeku. Ia buru-buru menarik tangannya kembali, berdeham keras, dan menegakkan tubuhnya dengan kaku.
"Maaf. Saya cuma refleks menahan," kata Arka cepat dengan suara sedingin es, menatap lurus ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.
Naya buru-buru membetulkan letak roknya, wajahnya merona merah padam hingga ke leher. "I—iya... makasih," bisik Naya gelagapan.
Di samping Naya, Saskia membelalakkan mata. Mulut cewek itu sedikit terbuka, matanya bergerak bolak-balik menatap Naya dan Arka dengan pandangan pwnuh selidik yang sangat tajam.
"Bentar... bentar..." bisik Saskia pelan, menyenggol lengan Naya dengan siku. "Nay... lo sadar nggak sih barusan?"
"Sadar apaan?" sahut Naya panik, berusaha membuat nada suaranya seringan mungkin. "Gue mau jatuh, terus si Ketua OSIS refleks nahan. Ya namanya juga kemanusiaan!"
"Gue bukan buta ya, Naya Aurelia," bisik Saskia makin curiga, memiringkan kepalanya. "Refleks orang nahan jatuh itu biasanya megang lengan atau bahu. Tadi Arka... pegang pinggang lo. Dan gerakannya tuh... luwes banget! Kayak udah biasa!"
Jantung Naya berdegup liar bagaikan ditabuh genderang perang. Keringat dingin merembes di telapak tangannya. Mampus! Saskia peka banget lagi!
"Halu lo, Sas!" tangkis Naya dengan tawa garing yang dipaksakan. "Luwes darimana?! Tangan dia kaku banget kayak papan gilasan gitu! Udah ah, jangan ngomong aneh-aneh!"
Di sisi lain, Dito yang memperhatikan adegan itu dari bawah tangga hanya bisa menyunggingkan senyum jahil yang amat lebar. Dito menggelengkan kepala, lalu menyenggol lengan Arka begitu foto bersama selesai dan kerumunan bubar.
"Wah... refleks lo mantap banget, Pak Ketua," goda Dito berbisik di telinga Arka. "Tangan lo udah punya muscle memory ya buat meluk Naya?"
Arka menatap Dito dengan pandangan membunuh. "Dito. Jaga bicaramu."
"Santai, Bro," kekeh Dito pelan. "Tapi lo harus ati-ati deh. Tadi gue liat Saskia sama Melisa merhatiin tangan lo pas nahan Naya. Muka Melisa langsung berubah agak kerung gitu."
Arka memalingkan pandangannya ke arah Melisa yang sedang berdiri di dekat papan pengumuman. Benar saja, Melisa sedang menatapnya dengan pandangan heran bercampur cemas yang sulit diartikan.
Perasaan cemas yang nyata mulai menjalar di dada Arka. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang. Menjaga rahasia pernikahan ini di sekolah ternyata jauh lebih rumit dan melelahkan daripada memimpin seratus rapat OSIS. Satu refleks kecil dari kebiasaan mereka di rumah saja sudah cukup untuk memancing kecurigaan yang berbahaya.
Arka melirik Naya yang sedang ditarik oleh Saskia menuju kantin sambil terus diberondong pertanyaan.
Kita harus lebih hati-hati, batin Arka cemas, sambil meremas papan jalan kayu di tangannya erat-erat.