NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Bikin Gaduh

"Di lobi ada wanita tua mengamuk. Dia bilang mau menemui anaknya. Dia menyebut nama Ayuna, barang kali itu ibunya Ayuna."

Beberapa orang bergeming dengan memasuki ruang kerjanya. Dia memanggil Ayuna yang tengah sibuk dengan sketsa yang tengah dikerjakannya.

"Ayuna, coba kamu turun sebentar. Di lobi ada wanita tua mengamuk. Dia juga panggil-panggil namamu. Mungkin dia ibumu!"

Ayuna menarik napas dengan tangan mengepal. Jika benar itu ibunya, tentu kedatangannya hanya ingin membuat gaduh dan mempermalukannya.

"Tunggu apalagi Ayuna, cepat keluar sana! Jangan sampai dia menggila di sini. Kalau sampai bos datang dan mengetahuinya, maka habislah kamu!"

Ayuna beranjak dan langsung bergegas untuk melihatnya. Dia ingin memastikan, apa benar orang yang dimaksud oleh rekan kerjanya itu benar-benar orang tua angkatnya.

"Mana Ayuna! Suruh dia keluar!" Teriakan itu cukup kencang dan sangat menggangu aktivitas para pegawai.

"Nyonya, tolong kendalikan emosimu! Ini kantor, bukan lapangan kerja atau kuburan. Jangan teriak-teriak di sini!"

Tanpa rasa malu ataupun takut wanita itu terus berteriak-teriak memanggil nama Ayuna. Dia tidak akan berhenti sebelum orang yang ditujunya datang menemuinya.

"Kalian tidak tahu bagaimana aku dicampakkan oleh anakku sendiri. Aku sudah berjuang membesarkannya, kini dia sudah lupa padaku! Mentang-mentang sudah bekerja di kantoran sampai lupa masih ada orang tua yang harus dinafkahinya! Apakah aku salah protes agar dia mempunyai rasa empati padaku?"

Dramatis. Wanita yang akrab disapa Lastri itu memang pandai membuat drama. Dia sangat pantas jika harus berurusan dengan dunia hiburan. Setiap kali akting semua orang bakalan mempercayainya.

"Ya ampun... Ayuna, jahat sekali dia. Mentang-mentang sudah pandai cari duwit sampai lupa sama orang tua. Apa dia nggak ingat sebelum bisa cari duwit siapa yang biaya kebutuhannya. Memangnya dia pikir bisa langsung pintar sendiri?"

Banyak dari mereka yang mempercayai penjelasan Lastri. Dengan bermodalkan tangisan buaya ia berhasil membuat Ayuna tersudutkan.

"Ada apa ini? Apa yang ibu lakukan di sini?!"

Ayuna menatapnya dingin. Ia cukup terkejut ibunya tiba-tiba datang ke kantor. Ia tidak tahu pasti permasalahan apa yang membawanya ke kantor, tapi yang jelas kedatangannya tentu ada maksud terselubung.

"Aish! Dasar anak durhaka kamu!"

Lastri memperlihatkan wajahnya lesu yang dipenuhi oleh kesedihan. Ia sudah berhasil menghasut teman-teman Ayuna, ia juga harus bisa mengendalikan mereka agar tetap memihaknya.

"Kemana saja kamu selama ini?"

Ayuna terbengong. "Loh, kok ibu nanya gitu? Bukankah ibu sudah mengusirku? Kalaupun aku mau tinggal di mana tentu tidak berpengaruh di kehidupan kalian," cerocos Ayuna.

Ayuna masih ingat betul bagaimana dia diperlakukan begitu buruk oleh ibu angkatnya, kini wanita itu datang ingin mengusik ketenangannya.

"Aduh! Aku mengusirmu? Itu mana mungkin, Ayuna! Kau jangan buat malu ibumu sendiri. Dengan kau mempermalukanku di sini itu sama halnya kau mengumbar aibmu sendiri."

Ayuna tersenyum menyeringai. "Justru dengan ibu berteriak-teriak di sini yang buat aku malu," cecarnya. "Lebih baik ibu pulang! Aku masih sibuk. Kalau ada yang harus dibahas, tunggu sampai aku pulang. Aku akan datang menemuimu!"

"Mana bisa begitu! Aku sedang butuh uang sekarang! Cepat beri aku uang, maka aku akan pergi!"

Orang-orang  yang ada di situ merasa risih dengan kehadiran Lastri. Mereka tak tahu harus berpihak pada siapa, tapi akan lebih baik jika wanita itu pergi sebelum diketahui oleh atasan mereka.

"Ayuna, cepat beri ibumu uang! Jangan biarkan dia bikin kerusuhan di sini. Ini kantor, bukan rumah atau lapangan!"

"Uang apa? Mana aku ada uang? Aku bahkan belum gajian!"

Lastri memicingkan matanya. "Jadi kau tak mau memberiku uang? Hm..., baiklah kalau begitu, aku bakalan buat kau malu dan dipecat dari pekerjaanmu!"

"Bu! Tolong jangan buat aku malu! Pergilah dari sini," sungut Ayuna.

"Ayuna! Dulu aku sudah meminjam uang kepada pak Mario, dan sekarang dia datang untuk menagih. Lebih baik kau  ikut pulang bersamaku dan menikahlah dengannya, jika tidak...," Lastri menjeda penjelasannya.

"Kalau tidak kenapa?" tanya Ayuna. Sebenarnya Ayuna sudah muak dengan sandiwara ibu angkatnya. Bahkan dengan sombongnya wanita itu tega mengusir dan merendahkannya.

"Pak Mario akan mengambil rumah kami. Kalau sampai rumah itu diambil kita mau tinggal di mana?"

Ayuna menarik ujung bibirnya, menyeringai bak iblis. "Kau itu terlalu pintar bikin drama, Bu!"

"Sungguh! Aku bicara jujur. Aku memang sudah meminjam sejumlah uang pada pak Mario. Kalau saja pak Mario tidak meminjamiku uang mungkin adik-adikmu tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Sekarang sudah sepantasnya kamu berbalas budi! Aku sudah membesarkanmu, tentu aku sudah banyak mengeluarkan uang untukmu!"

"Ya terus apa urusannya sama aku," bantah Ayuna. "Ibu dipinjami uang sama Pak Mario untuk nyejolahin anak-anak ibu, dan sekarang ibu minta aku yang dijadikan sebagai jaminan. Ibu ini waras nggak sih?"

Lastri tersulut emosi karena usahanya untuk membujuk Ayuna gagal. Ia sudah terlibat hutang piutang pada orang yang berpengaruh di kampungnya, dan ia tak ingin kehidupannya hancur karena gagal menikahkan Ayuna dengan pria itu. Apapun caranya ia tetap harus bisa membawa Ayuna untuk diserahkan pada Mario.

"Terserah! Kau anggap aku waras ataupun tidak aku tak peduli, yang penting sekarang kau harus ikut aku pulang dan menikah dengan pak Mario. Sekarang pak Mario sudah ada di rumah untuk menantimu!"

Lastri menarik tangan Ayuna dengan paksa hingga membuat Ayuna kesakitan. Di sela-sela rasa sakitnya Ayuna terus memberontak dan mengomelinya.

"Kau pikir aku barang yang bisa kau jadikan jaminan," desis Ayuna dengan berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Lastri. "Kalau kau merasa memiliki hutang selesaikan saja dengan anakmu, Vita! Bukankah uang itu kau buat untuk menguliahkan Vita? Kenapa aku yang kau suruh nikah sama si Mario?"

"Karena kau lebih pantas untuknya," bantah Lastri dengan menahan tangan Ayuna agar tidak bisa lepas darinya. "Kau itu sudah pernah melahirkan, beda sama Vita yang masih gadis. Mana mungkin  aku menyerahkan  anakku untuk dinikahi oleh pria tua itu. Kalau kau..., kau cuma anak pungut! Hubungan kita hanya sebatas orang asing, jangan berharap lebih menjadi keluargaku!"

Seketika hati Ayuna seperti diremas-remas nyeri sampai tembus ke jantung. Lebih dari sepuluh tahun ia hidup bersama orang asing yang dianggap keluarga sendiri, tapi saat ini wanita yang dianggapnya ibu berdiri dengan congkaknya dan dengan lantang mengatakan hubungannya tak lebih sekedar orang asing, bukan anggota keluarga. Memang ucapan itu cukup sepele, tapi cukup menyayat hati.

"Kalau kau menganggapku sebagai orang asing berarti kita impas," tukas Ayuna menyahut. "Selama ini aku sudah banyak berjuang untuk membantu kekurangan keluargamu! Membantu membiayai sekolah anak-anakmu dan menyambung hidup keluargamu sehari-hari, tapi apa  yang kudapat? Cacian? Hinaan?!"

"Jadi kau juga mulai itung-itungan Ayuna?! Kau sendiri selama ini juga menjadi beban kami! Kami membiayai hidupmu, menyekolahkanmu, masih juga~~

"Selama ini aku cari biaya sekolah sendiri," tukas Ayuna memotong ocehannya. Dia sudah terlanjur geram, dipermalukan di tempat umum. "Kalian memang sudah membesarkanku, tapi bukan berarti kalian bisa semena-mena terhadapku! Jangan mentang-mentang aku nggak punya keluarga kalian bisa menindasku!"

"Ada apa ini?"

Pertengkaran mereka seketika terhenti ketika bariton berat menyapa keduanya.

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!