NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Transmigrasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!

Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.

Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.

"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas

"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Simpanan

"Sialan! Sialan! Sialan!" maki Cecilia tertahan di dalam kamar mandi mewah berukuran besar itu.

​Kedua matanya melotot lebar, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin wastafel dengan horor. Leher jenjangnya, dada, hingga bagian tubuhnya yang lain dipenuhi oleh kissmark bekas kemerahan yang mencolok. Ingatan asing yang tiba-tiba berkelebat di kepalanya membuat darah tinggi Cecilia mendidih seketika. Bagaimana bisa pemilik tubuh ini begitu liar bergerak di atas ranjang dengan seorang pria yang jelas-jelas sudah memiliki tunangan?.

​"Aku ini penganut garis keras anti pelakor! Kenapa takdir malah menjerumuskan ku ke dalam tubuh seorang wanita simpanan?!" geramnya frustrasi, mengacak-acak rambutnya sendiri.

​Sebagai pecinta novel transmigrasi, Cecilia selalu membayangkan dirinya bangun sebagai seorang Duchess bangsawan bergaun megah di abad pertengahan, bukan menjadi sugar baby di apartemen mewah era modern dengan skandal murahan seperti ini.

​Sebelumnya, dia terbangun dengan ingatan liar yang membuatnya nyaris pingsan. Mengingat bagaimana fisik ini melayani pria bernama Douglas Michael Essen, pria kaya raya yang membiayai gaya hidup mewahnya membuat perut Cecilia mual. Tanpa berpikir panjang, tadi dia langsung melompat dari ranjang, mengumpat kencang, dan berlari tergopoh-gopoh menerobos pintu kamar mandi secara asal-asalan, tanpa menyadari bahwa tindakannya yang heboh itu justru membangunkan sang pria dari tidurnya.

​Setelah membasuh mukanya dan mencoba menenangkan debar jantungnya, Cecilia memberanikan diri melangkah keluar dari kamar mandi.

​Napasnya langsung tercekat. Di tepi ranjang besar yang masih berantakan, Douglas duduk dengan selimut melilit di pinggangnya. Pria itu menatap tajam ke arahnya dengan sepasang mata biru sedingin es, membuat bulu kuduk Cecilia meremang seketika.

​Cecilia buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi itu, lalu melangkah cepat meninggalkan kamar tidur utama.

​Douglas menyipitkan matanya. Alis tebal pria itu menaut ke atas. Sikap wanita di depannya terasa sangat janggal dan tidak biasa. Biasanya, Cecilia akan langsung berlari menghambur ke pelukannya, merengek manja, menciuminya, atau bahkan mengajaknya morning sex demi mendapatkan kartu kredit hitam atau kucuran uang tunai dalam jumlah besar. Hari ini? Wanita itu justru terlihat jijik dan menghindarinya seperti melihat kuman.

​Douglas bergeming. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi lain sebelum meninggalkan apartemen tersebut.

​Di ruang tengah yang luas, Cecilia mondar-mandir gelisah sambil memeluk kedua lengannya sendiri. Pikirannya berkecamuk hebat.

​"Bagaimana ini? Kalau aku langsung minta putus sekarang, dia pasti curiga. Tapi kalau aku lanjutin jadi selingkuhannya, harga diriku mau ditaruh di mana?!" bisiknya panik pada diri sendiri, mondar-mandir mondar-mandir seperti setrikaan.

"Aku benci pelakor! Demi Tuhan, aku tidak mau dicap sebagai perebut laki orang! Lagipula dia sudah memiliki tunangan. Bisa-bisa aku disiram air keras atau dilenyapkan secara misterius!"

​"Siapa yang mau kamu lenyapkan?"

​Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan datar tiba-tiba memecah keheningan ruangan.

​Cecilia terperanjat kaget, hampir melompat setinggi setengah meter. Ia mendapati Douglas sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, sudah berpakaian rapi mengenakan setelan jas kerja yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya sedikit basah, menambah kesan maskulin yang berbahaya.

​"E-Eh? Tidak! Tidak ada siapa-siapa!" jawab Cecilia dengan nada tinggi, salah tingkah luar biasa.

"Kau... kau sudah mau pergi?"

​Douglas tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti, menatap Cecilia lekat-lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya seolah-olah sedang memindai kebohongan di wajah wanita itu.

​"Biasanya kamu tidak pernah bertanya jam berapa aku pergi," ucap Douglas dengan suara rendah, suaranya terdengar mengintimidasi.

"Kamu juga tidak pernah menghindariku setelah malam yang panjang. Apa kepalamu terbentur sesuatu di kamar mandi tadi?"

​"Ha? Kepala terbentur? Oh, ya! Betul sekali! Kepalaku tadi sempat terbentur tembok kamar mandi saking licinnya!" kilah Cecilia cepat, mencari-cari alasan bodoh agar tidak dicurigai. Ia memaksakan sebuah cengiran kaku di bibirnya.

"Makanya ingatanku agak sedikit... ehm, konslet."

​Douglas terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang sangat tipis.

"Konslet? Menarik. Tapi ingat, Cecilia, kamu tidak punya hak untuk mengatur jadwal atau pun bersikap aneh di depanku. Lakukan saja tugasmu dengan benar, dan fasilitasmu akan terus aman."

​Mendengar kata tugasmu dan fasilitas, darah Cecilia langsung mendidih. Harga dirinya sebagai wanita mandiri meskipun kini terjebak di tubuh orang lain berontak hebat.

​"Tugas? Apa maksudmu tugas?!" ceplos Cecilia tanpa sadar.

"Kau pikir aku ini barang sewaan yang bisa diatur sesuka hatimu?! Asal kau tahu ya, Tuan Douglas yang terhormat, hubungan tidak sehat seperti ini sama sekali tidak ada dalam kamus hidupku! Aku ini punya prinsip!"

​Douglas mengerjap pelan, tercengang sejenak. Alisnya naik tinggi. Selama mengenal Cecilia, wanita itu tidak pernah berani membentaknya, apalagi menggurui dengan nada sewot seperti emak-emak kurang piknik.

​"Prinsip?" Douglas mengulang kata itu dengan nada meremehkan. Pria itu mendekatkan wajahnya, membuat Cecilia refleks mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin di belakangnya.

"Sejak kapan seorang wanita simpanan sepertimu punya prinsip? Bukankah kamu sendiri yang merengek minta dibelikan apartemen ini dan tas desainer bulan lalu demi mengejar gaya hidup mewah?"

​Cecilia menggigit bibir bawahnya, kesal setengah mati. Ingin sekali ia memaki tubuh pemilik sebelumnya yang membuat posisinya begitu lemah sekarang.

​"Itu kan pemilik tubuh ini sebelumnya! Kenapa jadi aku yang kena getahnya?!" batin Cecilia menjerit frustrasi.

​"Diam? Skakmat?" lanjut Douglas dengan suara dingin, menatap manik mata coklat Cecilia yang membelalak sebal.

"Jangan coba-coba bermain teater di depanku, Cecilia. Aku benci wanita yang bertingkah banyak drama setelah apa yang kita lakukan semalam."

​"Aku tidak sedang berteater!" protes Cecilia ngegas.

"Dan dengar ya, Tuan Essen! Hubungan gelap kita ini... uh! Hubungan terlarang ini benar-benar tidak sehat! Kau sudah punya tunangan bernama Adara kan? Kenapa masih bermain api di belakangnya? Kasihan wanita itu! Kalau kau tidak mencintainya, putusin secara jantan! Jangan malah mendua dan menjadikan aku tameng pelakor!"

​Suasana apartemen mendadak sunyi senyap. Udara di sekitar mereka seolah membeku.

​Douglas terpaku di tempatnya. Mata birunya menatap Cecilia dengan tatapan yang jauh lebih tajam dan berbahaya dari sebelumnya. Nama Adara disebut begitu saja secara gamblang oleh Cecilia, sesuatu yang biasanya tidak pernah disentuh atau dibahas oleh wanita itu karena Cecilia selalu pura-pura tidak peduli dengan status pernikahan atau pertunangan Douglas.

​"Dari mana kamu tahu tentang Adara?" tanya Douglas pelan, namun nadanya mengandung ancaman dari setiap suku kata yang diucapkannya.

​Cecilia menelan ludah kasar. "Mampus! Kebablasan!" batinnya menjerit ngeri.

Ingatan liar tadi memberitahunya bahwa Cecilia yang asli memang tahu soal Adara, tapi selalu pura-pura bego agar Douglas tidak marah.

​"A-Ah... itu... ya dari gosip majalah sosialita lah! Siapa sih yang tidak kenal Adara si wanita cantik itu?" elak Cecilia cepat, mengibas-ngibaskan tangannya dengan canggung.

"Maksudku... ya ampun, Tuan Douglas, sebagai warga negara yang baik yang menjunjung tinggi moral, aku kan cuma mengingatkan. Tidakkah kau merasa berdosa membagi hati dan tubuhmu di sini sementara di luar sana ada wanita yang menunggumu?"

​Douglas menyipitkan mata, menyelami setiap gerak-gerik Cecilia yang terlihat salah tingkah. Pria itu tidak percaya begitu saja. Ada perubahan drastis pada diri Cecilia hari ini, mulai dari cara bicaranya, keberaniannya membentak, hingga kepeduliannya yang mendadak pada sang tunangan.

​Sebelum Douglas sempat melontarkan pertanyaan interogasi lebih lanjut, ponsel di dalam saku jas mahalnya berdering nyaring.

​Douglas melirik layar ponselnya sekilas. Raut wajahnya semakin mengeras begitu melihat nama yang tertera di sana.

​Logan.

​Pria itu mengangkat panggilan tersebut dengan suara berat. "Ada apa?"

​Di ujung telepon, suara asisten pribadinya, Logan, terdengar begitu tenang, datar, dan kaku, sebelas duabelas mirip dengan sang bos.

​"Tuan Essen, maaf mengganggu pagi Anda. Nona Adara mendadak datang ke kantor pusat dan memaksa ingin menemui Anda sekarang juga. Beliau membawa sarapan khusus dan terlihat sangat marah karena Anda belum tiba di kantor. Keberadaan Anda..." Logan menjeda sejenak kalimatnya.

"Sedikit dipertanyakan oleh beliau."

​Douglas menghembuskan napas berat dengan kasar. Kepalanya mendadak pening menghadapi situasi yang rumit ini.

"Katakan padanya aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Tahan dia di ruang tunggu privat."

​"Baik, Tuan," jawab Logan singkat sebelum sambungan telepon ditutup.

​Douglas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia kembali menatap Cecilia yang kini berdiri dengan ekspresi campur aduk antara tegang, takut, dan sedikit rasa ingin tahu.

​"Kamu dengar itu?" ujar Douglas dingin.

"Tunanganku sedang mengamuk di kantor. Jadi, simpan ceramah moralmu tentang pelakor itu untuk lain waktu."

​Cecilia mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Baguslah kalau begitu! Makanya, selesaikan urusanmu dengan Adara sana! Dan dengar ya, Tuan Douglas, mulai detik ini, detik di mana matahari pagi ini bersinar... aku menyatakan resign dari posisi selingkuhanmu!"

​Douglas tertegun untuk kesekian kalinya hari ini. Wanita di depannya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

​"Resign?" ulang Douglas dengan nada tidak percaya.

"Kamu pikir hubungan ini pekerjaan paruh waktu yang bisa kamu tinggalkan begitu saja kapan pun kamu mau?"

​"Tentu saja bisa!" sahut Cecilia tidak mau kalah.

"Aku tidak mau jadi bahan hujatan netizen kalau skandal ini terbongkar, dan aku tidak mau hidup dalam rasa bersalah! Mulai sekarang, kita putus! The end! Finish! Jangan cari aku lagi!"

​Douglas menatap Cecilia lekat-lekat dalam keheningan yang panjang. Tidak ada isak tangis, tidak ada rengekan, tidak ada drama memeluk kakinya memohon uang seperti biasanya. Yang ada hanya tatapan kesal yang begitu nyata.

​"Baiklah," ucap Douglas akhirnya dengan suara rendah yang mengintimidasi, memutuskan untuk tidak meladeni kegilaan wanita itu pagi ini karena waktu kerjanya sudah mendesak.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan dengan omonganmu itu, Cecilia."

​Tanpa membuang waktu lagi, Douglas membalikkan badan dan berjalan keluar dari apartemen, meninggalkan suara bantingan pintu tertutup rapat di belakangnya.

​Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Cecilia langsung merosot lemas terduduk di lantai, menghembuskan napas panjang penuh kelegaan sekaligus kecemasan.

​"Fiuh... syukurlah dia pergi. Tapi tunggu... kalau aku sudah putus darinya, bagaimana aku bisa bertahan hidup di dunia ini tanpa uangnya?! Sial, aku lupa memikirkan bagian itu!" gerutu Cecilia sambil merutuki nasib malangnya di atas lantai apartemen mewah milik sang mantan sugar daddy.

Bersambung...

Yang mau jadi sugar baby silahkan acungkan jari kalian. 😁

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Potatoes 🥔
Clingy banget 😒
Potatoes 🥔
Makanya, komunikasi yang bener😒
partini
mau kabur kemana mending ga usah lah nanti ketemu lagi percuma aja
Mia Camelia
seneng nya ngliat mereka berdua akur2 jom and jerry🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
coba dari dulu doghlas bersikap manja ky bgini, pasti cecil gk bakal kabur🤣🤣🤣
Mia Camelia
waduh jangan2 doughlas udah berubah nih jadi greenflag🤔🤔🤔
ati2 cecil🤭🤭🤭
Mia Camelia
akhir nya cecilia udah semangat lgi🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
douglas terlalu kejam
Mia Camelia
kalo sama2 susah berkomunikasi ky gini, kasian cecilia nya😔😔😔
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
It's me Ri🥕: Tentunya kita kasih pelajaran, cuma kan ga mungkin langsung masuk kesitu kak, bentar lagi konflik kok dan Douglas nyesel😁 Ditunggu yaaa
total 1 replies
partini
kaya rollercoaster mereka berdua
mungkin methong kedua kali cil baru bebas
Alissia
awas nanti cilcila hamil🤭🤭😖😖
Alissia: hamil thor tapi sama Dougles di paksa anu anu sampek keguguran cilcilanya😢😢
total 2 replies
Alissia
kok gak peka sih Dougles tak getok palamu🤭🤭
Alissia
apa Douglas punya ke pribadian ganda 🤔🤔🤭🤭
Alissia
bayi tuanya mimik cucu 🤣🤣
Alissia
kayaknya Douglas udah jatuh cinta sama Ciilcila tapi gengsi mau menggungkapkan🤭🤭
Alissia
awas bucin Douglas🤭🤭🤭
Dewi Anggraeni
Lanjutttt
Dewi Anggraeni
lanjut
Dewi Anggraeni
lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!