Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Tuduhan Pagi Buta
Pintu kayu kembali digedor dari luar.
"Dengar nggak, Karina? Keluarkan anak itu!"
Nathan sudah berdiri sebelum Karina sempat menyingkirkan selimut. Wajahnya pucat. Satu tangannya meraih Lucas, sedangkan tangan lain refleks menyentuh simpul pita di balik ujung celananya.
"Kak..." Lucas berbisik.
"Di belakang Kakak."
Karina bangkit dan memakai sandalnya. "Kalian tetap dekat Mama. Jangan keluar dulu sebelum Mama bilang."
Ia membuka pintu.
Udara pagi menerpa wajahnya bersama suara orang-orang yang langsung bertambah ramai. Bu Sumiati berdiri di luar pagar kayu dengan kedua tangan berkacak pinggang. Kain panjangnya dililit seadanya, rambutnya hanya dijepit di belakang kepala. Di sampingnya ada seorang bocah bertubuh gempal dengan seragam lusuh yang belum dikancingkan sempurna.
Ujang.
Tiga perempuan lain berdiri agak jauh. Mereka membawa keranjang dan sapu lidi, tetapi tak satu pun terlihat berniat melanjutkan pekerjaan pagi. Bisik-bisik mereka berhenti begitu Karina muncul.
"Nah, akhirnya keluar juga." Bu Sumiati mengangkat dagu. "Anakmu mencuri buku pelajaran Ujang. Suruh dia kembalikan sekarang."
Nathan muncul di ambang pintu dengan Lucas di belakangnya.
"Aku nggak mencuri," katanya.
Bu Sumiati mendengus. "Masih berani bohong? Kemarin bukunya ada. Setelah kamu lewat depan rumah kami, langsung hilang. Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Nathan kemarin nggak pergi ke rumah Ujang," Lucas menyela pelan.
"Anak kecil jangan ikut campur!" bentak Bu Sumiati.
Lucas tersentak. Nathan segera berdiri di depannya.
Ujang menunjuk dengan telunjuk kotor. "Dia memang yang ambil. Anak buangan itu iri karena aku punya buku sekolah."
Nathan mengangkat dagu. Bibirnya terkatup rapat. Ia tidak membalas lagi, tetapi bahunya kaku seperti batu.
Tatapannya turun ke tangan Karina. Kemarin tangan itu membersihkan lukanya. Pagi ini, di hadapan begitu banyak orang, ia tampak menunggu tangan yang sama menarik telinga atau menamparnya agar urusan cepat selesai.
Lucas mencengkeram bagian belakang bajunya. "Bilang saja, Kak. Kak Nathan nggak ambil."
"Percuma," bisik Nathan. "Mereka nggak percaya."
Karina mendengar kedua kalimat itu. Ia juga melihat Nathan memindahkan beban tubuh dari kaki yang baru dibalut, menahan nyeri sambil tetap menutup Lucas dari Ujang. Anak ini bahkan tidak mencoba meminta perlindungan. Ia sudah terlalu terbiasa menghadapi tuduhan seorang diri.
Salah seorang perempuan di pinggir jalan berbisik, cukup keras untuk didengar, "Kalau memang bukan dia, kenapa diam saja?"
"Dari dulu dua anak itu aneh," jawab yang lain. "Ibunya juga... ya, tahulah."
Karina mengenali pola itu. Tuduhan diulang, orang-orang menambahkan dugaan, lalu suara terbanyak berubah menjadi kebenaran. Wajah lama Karina membuat semua orang lebih mudah percaya bahwa anak yang hidup bersamanya pasti sama buruknya.
Ujang melangkah masuk melalui pagar yang setengah terbuka. "Kembalikan!"
Tangannya terulur hendak mendorong Nathan.
Karina lebih cepat. Ia bergeser tepat di antara mereka dan menahan pergelangan Ujang sebelum telapak itu menyentuh dada Nathan.
"Jangan pegang dia."
Ujang membelalak. Karina segera melepaskannya, tidak menyakiti, hanya memastikan bocah itu mundur dua langkah.
Nathan menatap punggung Karina. Untuk pertama kalinya sejak suara gaduh membangunkannya, bahunya turun sedikit.
Bu Sumiati bergerak maju. "Kamu malah membela pencuri? Pantas anak-anak itu tambah nggak tahu aturan!"
Karina tidak menaikkan suara. Ia berdiri di depan Nathan dan Lucas, menutup keduanya dari tatapan orang-orang.
"Ada bukti nggak, Bu?"
Pertanyaan itu membuat halaman mendadak lebih sunyi.
Bu Sumiati berkedip. "Bukti apa lagi? Buku Ujang hilang. Anakmu berkeliaran. Sudah jelas."
"Nggak jelas." Karina menatapnya lurus. "Ada yang melihat Nathan mengambil buku itu? Ada bukunya di rumah saya?"
"Ya mana saya tahu kamu sembunyikan di mana!"
"Berarti belum ada bukti."
Bisik-bisik kembali terdengar. Kali ini nadanya berubah. Seorang perempuan bertanya kepada temannya apakah Ujang benar-benar melihat Nathan. Yang ditanya mengangkat bahu.
Wajah Bu Sumiati memerah. "Jangan pintar bicara sama saya. Semua orang tahu kelakuanmu. Kalau bukan anak itu, siapa? Buku nggak mungkin jalan sendiri!"
"Benar, buku nggak bisa jalan sendiri." Karina melangkah ke pagar. "Makanya kita cari, bukan menuduh."
Telapak tangannya bertumpu pada bilah kayu bagian atas.
Krek.
Suara kecil itu membuat Karina menunduk. Serat pada bilah pagar retak di bawah telapak tangannya, padahal ia merasa hanya menekan sedikit. Ia segera mengendurkan tangan.
Ketiga perempuan di jalan berhenti berbisik.
Ujang mundur mendekati ibunya. Bu Sumiati memandang retakan itu, lalu wajah Karina. Nada suaranya ketika kembali bicara tak lagi setinggi tadi.
"Pokoknya... bukunya pasti diambil anakmu. Ujang bilang begitu."
"Kalau Ujang yakin, kita periksa bersama."
"Periksa apa?"
"Rumah Bu Sumiati lebih dulu. Terakhir kali buku itu terlihat di sana, kan?"
Bu Sumiati langsung memeluk lengan anaknya. "Nggak perlu masuk rumah orang segala. Kamu mau mengacak-acak barang saya?"
Karina menangkap perubahan kecil itu. Tadi perempuan tersebut begitu yakin ingin memeriksa rumahnya. Sekarang, usul yang sama membuat kakinya bergeser menutup jalan.
"Kita nggak perlu mengacak-acak," kata Karina. "Bu Sumiati tunjukkan tempat terakhir bukunya disimpan. Semua yang ada di sini boleh ikut melihat."
"Saya sudah cari! Nggak ada!"
Ujang menunduk. Ujung kakinya mengorek tanah.
Karina melihatnya, begitu pula Nathan. Anak enam tahun itu tidak lagi hanya menatap tanah. Matanya bergerak dari Ujang ke Bu Sumiati, lalu kembali kepada Karina.
"Kalau memang nggak ada, saya yang salah," ucap Karina dingin. "Tapi kalau ada..."
Ia melepaskan bilah pagar yang retak dan langsung berbalik menuju rumah Bu Sumiati.
Di belakangnya, Nathan meraih tangan Lucas. Kedua anak itu menyusul tanpa perlu disuruh.