Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
Aula Utama Keluarga Lin saat ini begitu tegang hingga terasa mencekik.
Di kursi utama, Penatua Ketiga, Lin Hai, duduk dengan wajah yang dibuat terlihat prihatin. Sementara di seberangnya, dua orang duduk santai sambil menyeruput teh.
Mereka adalah Tetua Zhao Kuang, dan seorang pemuda berjubah sutra biru dengan dagu terangkat angkuh, Tuan Muda Zhao Tian.
"Penatua Lin Hai, kami tak punya banyak waktu," ujar Zhao Kuang. Ia meletakkan cangkirnya agak keras hingga meja kayu itu berderak. "Lin Xuan sekarang sudah menjadi orang cacat. Pertunangannya dengan Nona Ningshuang akan menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Karena itu, pertunangan ini harus dibatalkan. Dan sebagai ganti rugi atas nama baik Nona Ningshuang, aku ingin kalian menyerahkan tiga Paviliun Obat di Jalan Selatan."
Lin Hai menghela napas panjang, memasang wajah paling sedih yang bisa ia buat.
"Tapi... Tetua Zhao. Tiga paviliun itu adalah tulang punggung ekonomi Keluarga Lin. Saya memahami penyesalan Keluarga Zhao atas pertunangan ini. Sebagai Pemimpin sementara Keluarga Lin, saya harus memutuskan dan menanggung malu ini."
Dalam hati, Lin Hai justru tertawa. Rencananya berjalan sempurna. Begitu stempel perjanjian mendarat, aset utama Keluarga Lin akan lenyap, dan kesalahannya bisa ia lemparkan ke Lin Xuan yang sebentar lagi mati akibat racun yang telah ia berikan. Sementara itu, putranya akan naik menjadi pewaris tanpa hambatan.
Tangannya sudah merogoh jubah, mengeluarkan stempel keluarga yang telah ia siapkan.
Zhao Tian menyeringai. "Ayo cepat, Penatua Ketiga. Jangan buang-buang waktu. Mengurusi masalah orang cacat seperti Lin Xuan hanya akan menyeret Keluarga Lin ke dalam masalah besar."
Tepat saat stempel itu hampir menyentuh kertas perjanjian...
BRAKK!
Pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka lebar.
Semua orang tersentak.
Di ambang pintu, sinar matahari sore menerobos masuk. Berdiri seorang pemuda kurus berjubah abu-abu yang usang. Wajahnya pucat, namun punggungnya tegak.
Lin Hai melotot.
"X-Xuan'er?!"
Tidak mungkin, batinnya menjerit. Jantungnya seharusnya sudah meledak lima menit lalu—apa sebenarnya yang terjadi?
Xiao Ya mengintip dari balik jubah Lin Xuan, gemetar, mencengkeram ujung bajunya erat-erat.
Lin Xuan melangkah masuk. Suaranya serak, namun terdengar jelas ke seluruh aula.
"Melihat tatapan Paman Ketiga, sepertinya kau kecewa aku belum mati."
Lin Hai buru-buru mengubah ekspresinya. "Apa-apaan omonganmu itu, Xuan'er! Paman justru sangat senang kau sudah sembuh dan bisa berjalan! Kembalilah ke kamar, di sini sedang ada urusan orang dewasa!"
"Urusan orang dewasa?" Lin Xuan melirik kertas di atas meja, lalu menatap Zhao Tian. "Kulihat ada dua pengemis yang sedang meminta-minta paviliun obatku. Sejak kapan pengemis diundang ke rapat keluarga?"
Wajah Zhao Tian seketika merah padam.
"Apa maksud ucapanmu, anjing cacat?! Berani-beraninya kau menyebut kami pengemis!" Ia menggebrak meja hingga hancur. "Kau kira kau masih jenius nomor satu itu? Sadarlah! Ningshuang sekarang sudah menjadi murid inti Sekte Pedang Awan. Sementara kau? Kau bahkan tak pantas membawakan sepatunya sekarang!"
Lin Xuan berhenti dua meter di depannya.
"Zhao Ningshuang? Wanita yang menumpang naik lewat nama Keluarga Lin-ku, lalu membuang keluargaku begitu saja setelah berada di atas? Bahkan kalau ia berlutut memohon dengan telanjang di depanku, aku tidak akan meliriknya sedikit pun."
Ia melangkah maju setengah langkah lagi.
"Tapi datang ke rumahku, mencoba merampok paviliunku dengan alasan pembatalan pertunangan? Itu sama saja kalian mencari mati."
"Hahaha, cari mati?!" Zhao Tian tertawa. "Bagus. Hari ini biar aku yang mewakili kakekmu untuk mengajarimu sopan santun!"
Dalam hati, Lin Hai bersorak. Hajar dia. Hajar sampai mati.
Zhao Tian mengumpulkan Qi. Tangan kanannya seketika menyala merah membara. Tinju Raungan Harimau Api, teknik andalan Keluarga Zhao.
"Mati kau, sampah!"
Ia melesat, mengarahkan tinjunya lurus ke jantung Lin Xuan.
Xiao Ya memejamkan mata. Tetua Zhao Kuang tersenyum penuh kemenangan, sementara Penatua Ketiga Lin Hai menahan napas.
Lin Xuan sama sekali tidak mengelak.
Di mata sang Kaisar Pil, gerakan Zhao Tian penuh kelemahan.
Membakar Qi menggunakan Pil Api Bertanduk murahan. Paru-paru kirinya penuh dengan kerak racun api yang tersumbat. Bodoh sekali.
Dalam sepersekian detik, Lin Xuan menggerakkan sisa Kekuatan Jiwanya—bukan Qi, melainkan kekuatan mental murni.
Jari kirinya menyentil pelan cangkir teh setengah penuh di meja sebelahnya.
Cling.
Air teh muncrat ke udara. Bersamaan dengan itu, abu Dupa Cendana Ungu yang mengepul di sudut ruangan tertarik oleh Kekuatan Jiwanya dan bercampur ke dalam percikan air tersebut.
Kabut tipis yang tak kasat mata itu terhirup langsung oleh Zhao Tian, yang saat itu sedang menarik napas dalam-dalam untuk memaksimalkan pukulannya.
Srettt.
Api di kepalan tangan Zhao Tian seketika padam, bagai lilin yang tersiram air.
Wajah angkuhnya berubah keunguan, matanya melotot tajam.
Tinju yang tadi menggelegar itu terhenti satu inci di depan hidung Lin Xuan. Tak mampu mengenainya sama sekali.
"Uhuk...!"
Bukannya berhasil memukul, Zhao Tian justru memuntahkan darah hitam kental dalam jumlah banyak.
Bruk!
Lututnya menghantam lantai keras-keras, tepat di depan kaki Lin Xuan. Ia berlutut, mencengkeram dadanya, tak sanggup menggerakkan satu jari pun. Qi-nya sendiri berbalik menyerang organ dalamnya.
Keheningan pun menyelimuti ruangan.
Rahang Lin Hai mengeras. Cangkir di tangan Tetua Zhao Kuang terjatuh dan pecah. Xiao Ya membuka matanya perlahan, tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
Seorang jenius Kondensasi Qi Tingkat 5, yang hendak membunuh orang cacat tanpa Qi, justru memuntahkan darah dan berlutut di hadapannya?
"Ilmu iblis apa yang kau pakai?!" Tetua Zhao Kuang akhirnya tersadar dan meraung, Qi Tingkat 8-nya meledak dari tubuhnya. "Kau...!"
"Coba saja sentuh dia, dan ia akan mati," ucap Lin Xuan dingin bagai es.
Zhao Kuang seketika terhenti.
Lin Xuan menghela napas pelan. "Dia terkena penyimpangan Qi. Fondasi apinya sudah membusuk karena kebanyakan menelan pil murahan," katanya datar. "Kalau kau alirkan Qi-mu yang berbeda aliran ke tubuhnya sekarang, paru-parunya akan meledak. Kau mau jadi pembunuh Tuan Muda-mu sendiri? Silakan saja."
Keringat dingin mengucur di dahi Zhao Kuang. Ia tak berani mengambil risiko itu.
Lin Xuan menunduk, menatap Zhao Tian yang masih berlutut dan merintih di bawahnya.
"Membatalkan pertunangan?"
Ia mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh. "Xiao Ya, ambilkan kertas dan kuas."
Xiao Ya yang masih terguncang langsung berlari membawakan kuas dan kertas. Lin Xuan menuliskan beberapa baris dengan goresan tajam.
Selesai, ia melemparkan kertas itu ke wajah Zhao Tian.
"Baca baik-baik. Ini bukan surat persetujuan pembatalan pertunangan dari kalian."
"Ini surat pembatalanku sendiri. Aku, Lin Xuan, yang menolak Zhao Ningshuang. Mulai saat ini, ia tak pantas lagi menginjakkan kaki di gerbang Keluarga Lin-ku."
Suasana aula membeku seketika.
Lin Xuan menatap Tetua Zhao Kuang.
"Sekarang bawa sampahmu ini dan enyahlah dari rumahku. Sebelum aku berubah pikiran dan membakar kalian jadi abu di sini."
Wajah Zhao Kuang memerah menahan malu dan amarah. Namun nyawa Zhao Tian lebih penting baginya. Ia menarik dan mengangkat tubuh Zhao Tian.
"Keluarga Lin... kalian harus membayar mahal untuk ini!" desisnya penuh dendam, lalu melangkah pergi.
Aula kembali sunyi.
Lin Xuan perlahan membalikkan badan, menatap Lin Hai yang gemetar di kursinya. Pemuda tanpa Qi ini auranya seratus kali lebih mengerikan daripada Kepala Keluarga mereka saat ini.
"Dan kau, Paman Ketiga."
Lin Hai tersentak.
"Obat dengan Serbuk Bunga Jarum Hitam tadi? Simpan saja untuk anakmu sendiri. Kalau kau berani main licik lagi padaku atau orang-orangku..." Lin Xuan melangkah maju selangkah, suaranya pelan namun menusuk jiwa. "...jangan harap kau bisa hidup tenang."
Lin Hai tak sanggup berkata apa-apa. Kakinya melemas seperti tersiram air es.
Lin Xuan tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah keluar dari aula.
Begitu ia berbelok di koridor dan yakin tak ada yang melihat, tubuhnya limbung keras. Ia menabrak pilar untuk menahan diri. Wajahnya kembali pucat pasi, dan darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Menggerakkan Kekuatan Jiwa dengan tubuh tanpa Qi seperti ini bebannya terlalu berat.
Aku harus segera berkultivasi. Kuali Naga Hitam harus segera kubangkitkan, atau tubuh ini tak akan mampu bertahan lama.
Ia mengusap darah di bibirnya, matanya menatap langit senja di luar.
Perjalanan kembali ke puncak baru saja dimulai.