NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: LENTERA DI KOTA KEMBANG DAN RUMUS MASA DEPAN

Bagian I: Gerimis Pertama di Ganesha

Hujan pertengahan Oktober mengguyur kawasan Jalan Ganesha dengan ritme yang konstan dan dingin. Bau tanah basah beradu dengan aroma kopi hitam dari warung kecil di sudut Jalan Gelap Nyawang, menciptakan atmosfer khas Bandung yang selalu sanggup memperlambat detak waktu. Di lantai dua Perpustakaan Pusat ITB, di meja kayu panjang yang menghadap langsung ke arah barisan pohon pinus yang merunduk dibasahi air, Raina Natasya duduk dengan punggung tegak

Di hadapannya, tiga buku tebal Elementary Principles of Chemical Processes karya Felder & Rousseau terbuka bersama puluhan lembar kertas kalkir berisi diagram alir proses kimia (Process Flow Diagram). Sinar lampu meja memantul di bingkai kacamata tipisnya. Jemari Raina yang lincah menari di atas kalkulator ilmiah, menyelesaikan perhitungan neraca massa dengan presisi tinggi.

Namun, perhatian Raina sesekali teralih pada kursi kayu di depannya.

Di sana, Devan Adhitama sedang bergelut dengan lembaran analisis aljabar linear dan kalkulus multivariabel. Jaket almamater biru tuanya tersampir rapi di sandaran kursi, menyisakan kaus abu-abu yang memperlihatkan otot lengannya yang kian terbentuk akibat porsi latihan fisik intensif bersama tim basket kampus. Kening Devan berkerut dalam, dan gaya khasnya saat berpikir keras—memutar-mutar pensil mekanik di antara selang-seling jarinya—membuat Raina tak tahan untuk tidak menyunggingkan senyum tipis.

"Kalau kamu putar pensil itu tiga kali lagi ke arah kiri, poros isinya bakal patah, Devan," gurau Raina pelan, hampir tak terdengar agar tidak mengganggu mahasiswa lain yang sedang tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Devan menghentikan gerakan jarinya seketika. Ia mendongak, menatap Raina dengan raut wajah berpura-pura nestapa.

"Raina... jujur ya," bisik Devan sambil memajukan tubuhnya ke arah meja. "Turunan parsial variabel ganda ini jauh lebih kejam daripada pertahanan full-court press tim basket UNPAD kemarin sore. Ini angka atau huruf hieroglif sih?"

Raina terkekeh kecil, menutup penutup kalkulatornya lalu menggeser kertas catatannya sedikit ke tengah meja. "Sini. Mana bagian yang bikin kamu bingung? Kan kemarin malam di kontrakan udah aku kasih contoh soalnya?"

"Bagian menentukan nilai ekstremum dengan pengali Lagrange ini, Bu Wakil," Devan menunjuk sebuah persamaan tingkat tinggi di kertasnya. "Gua paham konsep dasarnya, tapi begitu masuk ke batas kendala yang kurvanya melengkung begini, rasanya kayak nyari celah pass waktu di-double team tiga pemain lawan sekaligus."

Raina mengambil pensil Devan, lalu menarik lembar buram baru. Dengan telaten dan sabar, ia mulai menguraikan fungsi Lagrange tersebut menjadi komponen-komponents terpisah, menambahkan garis pembantu dengan pensil warna biru untuk memperjelas vektor gradiennya.

"Lihat titik persinggungannya di sini," terang Raina dengan suara lembut namun tegas, persis seperti gaya mengajarnya saat mereka masih duduk di bawah pohon beringin SMA Garuda. "Pengali Lagrange itu cuma alat bantu buat menyatukan dua fungsi yang punya kendala sama. Sama kayak kamu di lapangan basket—kamu punya target nyetak angka, tapi ada kendala pertahanan lawan. Kamu gak menabrak kendalanya, tapi kamu cari titik singgung paling optimal di mana gayamu sejajar sama garis pertahanan mereka."

Devan memperhatikan penjelasan Raina tanpa mengedip. Matanya berganti-ganti menatap garis-garis biru di kertas dan wajah Raina yang tampak sangat anggun di bawah pendar lampu baca. Pemahaman itu mendadak merembes masuk ke kepalanya seperti air menyerap di kain kering.

"Ooh..." Devan membulatkan mulutnya, matanya berbinar cerah. "Jadi vektor gradien fungsinya harus sejajar sama vektor gradien kendalanya? Berarti $\nabla f \= \lambda \nabla g$ itu cuma ekspresi matematika buat nyari keselarasan?"

"Seratus buat kamu," puji Raina, menepuk pelan punggung tangan Devan. "Dilihat kan? Kamu itu sebenarnya cepat paham kalau konsepnya dihubungkan sama logika pergerakan yang biasa kamu lakuin."

Devan menyandarkan punggungnya, menatap Raina dengan tatapan hangat yang amat dalam. "Bukan cuma karena logikanya, Na. Tapi karena cara kamu menjelaskan yang selalu bikin hal paling rumit di dunia ini terasa masuk akal buat gua."

Pipi Raina bersemu merah tipis. Ia pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas kalkirnya untuk menutupi rasa canggung yang manis itu. "Sudah, jangan banyak alasan. Selesaikan tiga soal sisanya. Habis ini kita cari makan malam di Dipatiukur. Kamu yang bayar martabaknya."

"Siap, Bu Ketua Himpunan Masa Depan!" jawab Devan sigap seraya memberi hormat jenaka.

Bagian II: Ujian Pertama di Arena Perguruan Tinggi

Bulan berganti, dan ritme kehidupan kampus menagih komitmen yang jauh lebih besar. Bagi Devan, menjadi mahasiswa Teknik dan Manajemen Industri sekaligus pemain rookie di tim utama basket ITB untuk ajang Liga Mahasiswa (LIMA) Jawa Barat adalah ujian fisik dan mental yang amat berat.

Hari itu, jadwal Devan benar-benar berada di titik puncak. Jam delapan pagi hingga jam satu siang, ia harus menjalani ujian tengah semester (UTS) untuk dua mata kuliah bobot tinggi. Pukul tiga sore, ia sudah harus berada di GOR C-Tra Arena untuk melakoni laga perempat final LIMA melawan tim unggulan dari universitas tetangga.

Di ruang loker GOR C-Tra Arena, Devan duduk di bangku kayu sambil mengikat tali sepatu basket warna putih-birunya rapat-rapt. Bahu kanannya—bekas cedera lama saat Kejurnas SMA dulu—terasa agak pegal akibat kelelahan maraton belajar tiga malam berturut-turut.

Coach Utama tim ITB, Coach Thomas, melangkah masuk ke ruang loker dan menghentikan langkah tepat di depan Devan.

"Devan, kamu yakin bahumu aman?" tanya Coach Thomas dengan raut wajah penuh selidik. "Saya dengar kamu habis UTS maraton tadi pagi. Kalau kondisi fisikmu cuma 70 persen, saya bisa simpan kamu di bangku cadangan untuk kuarter pertama."

Devan mendongak, menegakkan bahunya dan menatap mata pelatihnya dengan pandangan tanpa keraguan.

"Saya 100 persen siap, Coach," jawab Devan mantap. "Pikiran saya segar, dan bahu saya sudah difisioterapi kemarin. Percayakan posisi point guard utama ke saya."

Coach Thomas menepuk bahu Devan penuh rasa percaya. "Bagus. Tunjukkan kelasmu sebagai mantan kapten tim nasional SMA."

Saat Devan berjalan keluar dari lorong pemain menuju lapangan utama, gemuruh sorak-sorai penonton seketika memekakkan telinga. Tribun barat dipenuhi oleh ratusan mahasiswa ITB yang mengenakan jaket almamater biru tua, membentangkan spanduk dukungan dan menyanyikan yel-yel kebanggaan kampus.

Namun, mata Devan hanya tertuju pada satu titik: tribun VIP tepat di belakang bangku cadangan tim.

Di sana, Raina duduk di barisan paling depan. Ia mengenakan kemeja putih rapi dilapisi jaket almamater, dengan papan jalan (clipboard) di pangkuannya. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Teknik Kimia yang jadwal praktikumnya sangat padat, Raina tidak pernah absen hadir dalam setiap pertandingan penting Devan.

Begitu mata mereka bertemu, Raina mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi, lalu menyentuh bingkai kacamatanya—sebuah kode rahasia di antara mereka yang berarti: Fokus, dan jadilah yang terbaik.

Peluit tanda dimulainya pertandingan dibunyikan.

Pertandingan berlangsung keras dan penuh tensi tinggi. Tim lawan menerapkan strategi pertahanan rapat yang mengandalkan kontak fisik tinggi untuk mematikan pergerakan Devan. Pada dua kuarter pertama, Devan sempat kesulitan mendistribusikan bola. Skor bertahan ketat di angka 34 - 32 untuk keunggulan tipis tim lawan.

Memasuki kuarter keempat, sisa waktu tinggal dua menit dan ITB tertinggal empat poin (62 - 66).

Devan menguasai bola di garis tengah. Pelipisnya dibasahi keringat deras, napasnya terengah-engah. Dua pemain bertahan lawan langsung maju menutup ruang tembaknya. Di saat situasi kritis itu, Devan teringat rumus pengali Lagrange dan penjelasan Raina di perpustakaan: Cari titik singgung paling optimal di mana gayamu sejajar sama garis pertahanan mereka.

Alih-alih menabrak benteng pertahanan lawan secara langsung, Devan melakukan gerakan crossover secepat kilat ke arah kanan, memancing dua penjaganya bergerak searah, lalu melepaskan umpan no-look pass yang meluncur mulus di sela-sela kaki pemain lawan menuju rekannya yang berdiri bebas di sudut lapangan.

Swish! Tiga poin masuk bersih! Skor menjadi 65 - 66.

Tiga puluh detik terakhir. Ball possession kembali ke tangan ITB. Devan memegang bola penuh. Penonton di tribun berdiri dan menahan napas bersamaan.

Devan melakukan drive tajam ke dalam area penalti, melompat tinggi seolah hendak melakukan lay-up, namun di udara ia memutar tubuhnya 180 derajat dan melepaskan tembakan fadeaway jumper dari jarak menengah tepat saat sirine tanda berakhirnya pertandingan berbunyi nyaring.

Bola meluncur tinggi, memutar di udara, dan jatuh mulus menembus jaring tanpa menyentuh besi ring!

Swish!

Papan skor mengunci angka kemenangan: 67 - 66! ITB lolos ke babak semifinal LIMA Jawa Barat!

Gemuruh kemenangan meledak di seluruh arena. Seluruh pemain cadangan dan jajaran pelatih berlari masuk ke lapangan, mengangkat Devan ke udara di tengah sorak-sorai riuh para suporter. Di tengah keriuhan itu, Devan mencari sosok Raina.

Gadis itu berdiri di tribun sambil bertepuk tangan kencang, dengan air mata haru yang merebak di balik kacamata barunya—menyaksikan bagaimana pria yang dulu hampir kehilangan masa depannya kini tumbuh menjadi pahlawan di panggung yang jauh lebih besar.

Bagian III: Benteng Akademik dan Janji yang Mengakar

Semester demi semester bergulir bagaikan arus sungai yang deras namun teratur. Kehidupan di Bandung menempa Devan dan Raina menjadi pribadi yang jauh lebih matang, dewasa, dan tangguh.

Raina tidak hanya unggul di dalam kelas. Pada semester lima, ia terpilih sebagai Ketua Tim Riset Mahasiswa untuk proyek konversi limbah kelapa sawit menjadi biofuel ramah lingkungan—sebuah proyek prestisius yang didanai oleh kementerian. Sementara itu, Devan berhasil menjaga keseimbangan yang luar biasa: ia memimpin tim basket ITB meraih juara LIMA dua tahun berturut-turut, sembari mempertahankan indeks prestasi kumulatif (IPK) di atas angka 3.6 di Jurusan Teknik Industri.

Sore itu, menjelang masa akhir semester tujuh, angin dingin merayap di pelataran Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Devan dan Raina duduk bersama di anak tangga batu yang menghadap ke arah danau buatan.

Di tangan Raina, terdapat sebuah surat resmi berkop Institut Teknologi Bandung yang menyatakan bahwa draf skripsi dan publikasi jurnal kimianya berhasil diterima untuk dipresentasikan dalam Konferensi Ilmiah Internasional di Tokyo, Jepang, pada bulan depan.

Sementara di tangan Devan, terdapat dua lembar surat keputusan: satu dari perusahaan manufaktur multinasional yang menawarkan posisi Management Trainee jalur cepat setelah lulus nanti, dan satu lagi adalah panggilan seleksi tim nasional basket Indonesia untuk ajang SEA Games.

Raina menatap surat-surat di tangan Devan, lalu menengok menatap wajah kekasihnya. "Dua pilihan yang luar biasa, Devan. Kamu mau ambil yang mana?"

Devan tersenyum lembut, melipat surat-surat tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Ia meraih tangan Raina, menggenggamnya erat di atas pangkuannya.

"Gua bakal ambil seleksi tim nasional, Na," jawab Devan mantap tanpa ragu. "Dan gua juga bakal selesaikan skripsi industri gua tepat waktu. Gua mau buktikan kalau atlet Indonesia juga bisa punya latar belakang akademis yang kokoh."

Raina menatap mata Devan yang dipenuhi binar cita-cita yang mulia. "Aku selalu percaya sama kamu, Devan. Dari dulu sampai kapan pun."

Devan merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Jantung Raina seketika berdesir kencang saat melihat bentuk kotak tersebut.

"Devan... ini...?" suara Raina tercekat.

Devan membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya, terbaring sebuah cincin perak elegan berdesain minimalis. Di lingkar dalam cincin tersebut, terukir indah dua huruf yang saling bertautan: R & D, diapit oleh ukiran garis tipis berbentuk kurva grafik matematika dan garis bola basket.

"Raina Natasya," panggil Devan lembut, menatap lurus ke dalam mata jernih gadis yang telah menjadi penuntun hidupnya selama bertahun-tahun. "Dulu, kita bertemu karena bola basket nyasar dan kacamata patah. Kamu yang ganti nilai nol gua jadi angka 85, kamu yang pegang tangan gua saat gua kehilangan Nenek, dan kamu yang selalu ada di setiap babak perjuangan gua."

Devan menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca oleh keharuan murni.

"Aku gak mau cuma punya janji yang berlaku selama masa kuliah," lanjut Devan dengan suara tulus yang amat dalam. "Aku mau minta izin buat mendampingi kamu seumur hidupku. Setelah kita wisuda nanti... maukah kamu menikah denganku?"

Air mata bahagia menetes perlahan di pipi Raina, melintasi bingkai kacamata tipis yang menjadi saksi bisu awal kisah mereka. Senyuman paling indah dan tulus merekah sempurna di bibirnya.

Raina mengangguk pelan namun sangat mantap. "Iya, Devan... aku mau. Aku mau melangkah bareng kamu seumur hidupku."

Devan tersenyum lebar penuh rasa syukur. Dengan hati-hati dan lembut, ia menyematkan cincin perak itu ke jari manis tangan kanan Raina. Cincin itu melingkar sempurna—menjadi lambang dari dua jiwa yang dulu bertolak belakang namun kini telah menyatu dalam takdir yang indah dan tak tergoyahkan.

EPILOG KEMENANGAN: DI BAWAH TANGGA GANESHA

Satu tahun kemudian.

Pelataran Lapangan Saraga ITB dipenuhi oleh ribuan wisudawan yang mengenakan toga hitam dan kuncir toga yang telah dipindahkan dari kiri ke kanan. Udara Bandung pagi itu sangat cerah, dengan langit biru bersih tanpa awan.

Raina berdiri anggun dengan toga dan selempang kelulusan bertuliskan Cum Laude dari Program Studi Teknik Kimia. Di sebelahnya, Devan berdiri tegap dengan toga yang sama, didampingi oleh selempang Cum Laude Teknik Industri serta penghargaan khusus sebagai Atlit Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional.

Keluarga Devan dan Ibu Raina berdiri di sekitar mereka, mengabadikan momen berharga itu dengan senyum bangga dan air mata kebahagiaan.

Di akhir sesi foto, Devan dan Raina berjalan perlahan menuju tangga batu depan Gedung Rektorat. Devan menggenggam tangan kanan Raina, di mana cincin perak itu berkilat indah diterpa sinar matahari pagi. Di tas toga mereka, gantungan kunci kayu bola basket dan kacamata bulat yang sudah memudar warnanya tetap tergantung rapi—sebuah pengingat abadi akan dari mana mereka berasal.

"Gimana perasaannya, Bu Wakil?" goda Devan sambil merangkulkan tangannya di bahu Raina.

Raina menengok, menatap suaminya masa depan itu dengan binar cinta yang abadi. "Perasaannya... sempurna, Kapten."

Devan tertawa bahagia, lalu mencium kening Raina dengan lembut di bawah naungan panji-panji kemenangan kampus. Lembaran cerita yang dimulai dari lemparan bola basket salah sasaran dan kacamata tebal yang patah di lapangan SMA Garuda itu kini telah mencapai puncaknya—sebuah kisah cinta, perjuangan, dan pengabdian yang akan terus menginspirasi dan bertahan selamanya.

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!