NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Terima Kasih yang Berbahaya

Lia menunggu sampai rumah sepi sebelum naik ke lantai dua.

Sebastian belum makan malam. Di depan pintu ruang kerjanya, ia membawa nampan berisi nasi, sup hangat, dan teh tawar. Alasan itu cukup masuk akal bila seseorang melihatnya.

Alasan sebenarnya lebih sederhana.

Ia ingin mengucapkan terima kasih tanpa seluruh keluarga mendengar.

Pintu terbuka sebelum Lia sempat mengetuk dua kali.

Sebastian masih mengenakan kemeja kantor dengan lengan digulung. Tatapannya turun ke nampan, lalu ke perban di pergelangan Lia.

“Kenapa kamu yang bawa?”

“Tangan saya sudah lebih baik.”

“Itu bukan jawaban.”

“Saya ingin bicara.”

Sebastian bergeser memberi jalan. Lia baru melangkah masuk ketika terdengar suara Cornelia dan Vanessa dari ujung lorong.

“Sebas ada di ruang kerja?” tanya Cornelia.

“Sepertinya, Tante.”

Lia panik. Setelah kejadian kalung, bila Vanessa melihatnya berada sendirian di kamar Sebastian pada malam hari, cerita baru akan lahir sebelum pagi.

Sebastian mengambil nampan dari tangannya. Dengan tangan lain, ia menarik Lia masuk dan menutup pintu tanpa bunyi.

“Di belakang sini.”

Ia membawanya ke celah sempit antara pintu dan lemari buku tinggi. Tubuh Sebastian berdiri di depan Lia, menutupi seluruh sosoknya bila pintu terbuka.

Jarak mereka terlalu dekat.

Lia bisa merasakan panas dari dada lelaki itu meski tak benar-benar bersentuhan. Napas Sebastian menyentuh rambut di pelipisnya. Aroma sabun, kopi, dan kertas dari kemejanya memenuhi ruang kecil tersebut.

“Ko Sebas,” bisik Lia.

“Diam dulu.”

Langkah kaki berhenti di depan pintu.

Cornelia mengetuk. “Sebas?”

“Saya sedang menelepon,” jawab Sebastian tenang.

Vanessa tertawa kecil. “Sibuk sekali. Padahal saya cuma mau minta pendapat soal acara arisan minggu depan.”

“Besok.”

“Baiklah.”

Mereka belum pergi. Lia menahan napas, khawatir aroma manis tubuhnya tercium melalui celah pintu. Ia sengaja tidak makan malam, tetapi sup yang dibawanya masih mengepulkan aroma. Perutnya mengeluarkan bunyi pelan.

Sebastian menunduk tajam.

Lia buru-buru menempelkan jari ke bibir, memohon agar ia tidak menegur sekarang.

Di luar, Vanessa merendahkan suara. “Tante tidak merasa Sebas terlalu melindungi Lia?”

“Dia hanya tidak suka ketidakadilan.”

“Atau perempuan itu pintar cari perhatian. Masuk kamar orang, lalu pura-pura dituduh. Sekarang seluruh rumah kasihan padanya.”

Tubuh Lia menegang.

Sebastian merasakan perubahan itu. Tangannya yang semula menahan sisi lemari berpindah ke belakang bahu Lia, bukan memeluk, hanya menjadi penopang agar ia tidak mundur membentur rak.

Cornelia menghela napas. “Vanessa, kalung itu kamu yang suruh sembunyikan. Jangan memutar cerita.”

“Saya cuma menguji.”

“Jangan lakukan lagi.”

Langkah kaki akhirnya menjauh.

Sebastian menunggu beberapa detik sebelum bergerak. Namun, ketika ia hendak mundur, ujung rambut Lia tersangkut pada kancing kemejanya.

Lia tersentak. Wajahnya tertarik mendekat ke dada Sebastian.

“Jangan bergerak,” katanya.

Ujung jarinya melepaskan helai rambut itu satu per satu. Lia menatap kancing gelap di depan matanya dan mencoba mengabaikan detak jantung lelaki itu. Detaknya cepat, jauh dari kesan tenang yang ia tunjukkan kepada semua orang.

Jadi bukan hanya jantung Lia yang kacau.

Ketika rambutnya terlepas, Sebastian tidak langsung menurunkan tangan. Jemarinya berhenti di dekat pipi Lia, lalu menyapu satu helai rambut ke belakang telinga.

Aroma manis yang tipis mendadak terasa lebih nyata.

“Kamu belum makan,” katanya rendah.

“Saya takut baunya keluar.”

“Bukankah sudah ada perjanjian?”

“Ko Sebas juga belum makan.”

Tatapan Sebastian melembut. “Jadi kamu datang membawa makanan untuk menukar terima kasih?”

“Saya sungguh berterima kasih. Soal kalung tadi...”

“Kamu tidak perlu berterima kasih karena saya memastikan kebenaran.”

“Bagi Ko Sebas mungkin biasa. Bagi saya tidak.” Lia mengangkat wajah. “Kalau tidak ada rekaman, semua orang mungkin percaya saya pencuri.”

“Saya tidak akan percaya.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Lia terdiam.

Sebastian juga seolah baru menyadari apa yang ia katakan. Tatapannya jatuh ke bibir Lia sesaat, lalu kembali ke matanya.

“Saya akan memastikan kejadian seperti itu tidak terulang,” katanya.

“Bagaimana?”

“Dengan membuat siapa pun yang mencoba paham bahwa ada akibatnya.”

Nada suaranya dingin, tetapi ibu jarinya tanpa sadar masih menyentuh ujung rambut Lia. Kontras itu membuat kulit Lia menghangat.

“Jangan membuat masalah dengan keluarga karena saya,” kata Lia.

“Vanessa yang membuat masalah.”

“Dia keluarga Ko Sebas. Saya hanya pekerja di sini.”

Sorot mata Sebastian berubah. “Jangan gunakan kata hanya untuk mengecilkan dirimu sendiri.”

Ia mengangkat pergelangan Lia yang dibalut, menahan dari bawah tanpa menekan memar.

“Kemarin orang luar mencoba menarikmu. Hari ini orang di rumah mencoba merusak namamu. Keduanya tidak menjadi boleh hanya karena statusmu pekerja.”

Lia menelan napas. “Kalau omongan itu menyebar?”

“Kita simpan rekaman dan pengakuan. Kalau ada yang menyebarkannya, kita jawab dengan fakta. Bukan dengan membuatmu bersembunyi.”

Ia mundur lebih dulu.

“Kalau begitu, makanannya akan dingin.”

Sebastian membuka pintu sedikit untuk memastikan lorong kosong. Lia hendak keluar, tetapi ia menahan nampan.

“Kamu makan bersama saya.”

“Di sini?”

“Di sini. Pintu tidak dikunci.”

Lia seharusnya menolak. Namun, lima belas menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja kerja, membagi nasi dan sup dari nampan yang sama.

Setiap kali Lia lupa dan berhenti makan, Sebastian mengetuk meja satu kali.

Setiap kali aroma manis menguat, matanya menjadi gelap tetapi ia tidak mendekat.

Di balik pintu yang tidak pernah dikunci itu, Lia menyadari bahwa rasa aman bisa terasa jauh lebih berbahaya daripada ancaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!