NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Susah Tidur Sang Danyon

Bima pernah tidur di tanah basah dengan suara tembakan terdengar dari bukit seberang.

Ia pernah menunggu penyergapan selama enam jam tanpa bergerak. Pernah menahan sakit dari luka di tengkuk sampai evakuasi tiba. Dalam tugas, tubuhnya tahu kapan harus diam dan pikiran tahu cara menutup ketakutan.

Malam ini, ia tidak bisa tidur hanya karena seorang perempuan berkata, “Komandan tidak selalu bisa menjawab atas nama saya.”

Bima membalik tubuh untuk ketiga kali. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh. Dari kamar belakang tidak terdengar suara Satya.

Biasanya ia datang melihat bayi itu pada jam yang sama. Kalau malam ini tidak datang, Laras mungkin mengira perdebatan tadi membuatnya marah.

Mengapa ia peduli pada anggapan Laras, Bima tidak mau menjawab.

Ia membuka kembali foto dokumen rapat di ponsel. Nama Laras muncul berkali-kali di antara kata `citra`, `kepatutan`, dan `kedekatan khusus`. Di catatan lain, ada laporan bahwa Sudibyo pernah mengundangnya makan pribadi.

Bima membaca baris itu dua kali.

Undangan tersebut bisa disebut pembicaraan kerja. Namun urusan dapur semestinya berlangsung di kantor atau ruang pelatihan, bukan di rumah seorang atasan pada malam hari. Laras sudah menolak. Fakta itu seharusnya cukup.

Tetap saja, bayangan Sudibyo berdiri dekat Laras membuat tangan Bima mencengkeram ponsel lebih kuat.

Ia meletakkannya sebelum layar retak.

“Bukan urusanmu,” katanya pada diri sendiri.

Namun tubuhnya sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai.

Ia bangun, mencuci wajah, lalu berjalan ke belakang. Iwan duduk di ruang depan dengan radio kecil dan langsung berdiri.

“Satya sudah tidur?” tanya Bima.

“Belum terdengar menangis, Komandan.”

Pintu kamar belakang setengah tertutup. Lampu di dalam berkedip karena bohlamnya mulai rusak.

Bima mengetuk kusen sekali.

“Laras?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara kain bergesek, lalu bunyi kancing kecil terlepas.

Bima mendorong pintu sedikit.

Laras duduk membelakanginya di sisi kasur. Satya menyusu dalam pelukan. Blus perempuan itu terbuka di bagian belakang karena satu kancing lepas, memperlihatkan garis bahu dan punggung yang basah oleh keringat. Kain di sisi dadanya kembali menggelap oleh susu yang merembes.

Bima langsung berbalik.

“Maaf.”

Laras tersentak dan menarik selendang menutup tubuh. “Komandan?”

“Saya sudah mengetuk.”

“Saya tidak dengar. Satya tadi menangis.”

“Lanjutkan saja.”

Kata yang sama dari pertemuan pertama mereka. Kali ini suara Bima terdengar lebih serak.

Ia tetap berdiri membelakangi pintu. Udara malam menyentuh wajahnya, tetapi panas justru naik dari leher ke telinga. Bayangan punggung Laras tertinggal terlalu jelas di kepala.

“Lampunya rusak,” katanya.

“Kadang berkedip.”

“Besok diganti.”

“Masih bisa dipakai.”

“Gerendel pintu juga longgar.”

Laras diam sejenak. “Saya biasa menaruh kursi di belakang pintu.”

Rahang Bima mengeras. Ia tidak suka membayangkan Laras harus menahan pintu dengan kursi setiap malam.

“Besok Iwan pasang yang baru.”

“Tidak perlu merepotkan.”

“Ini rumah dinas, bukan kemurahan hati.”

“Semua kebaikan Komandan selalu diberi nama urusan dinas?”

Bima kehilangan jawaban.

Di dalam kamar, Satya berhenti menyusu dan mengeluarkan suara kecil. Laras menepuk punggungnya. Kain kembali bergerak. Bima menatap lurus ke halaman, menghitung napas sendiri.

“Sudah,” kata Laras akhirnya.

“Sudah apa?”

“Komandan boleh berbalik.”

Bima melakukannya perlahan.

Laras sudah merapatkan blus dengan peniti. Selendang menutup dada, tetapi wajahnya merah. Satya bersandar di bahunya, kenyang dan mengantuk.

Tatapan mereka bertemu.

“Komandan mau melihat Satya?”

Bima masuk satu langkah. Pintu tetap terbuka, Iwan masih terlihat dari ujung koridor. Ia menyentuh kepala Satya, lalu menarik tangan terlalu cepat ketika jarinya hampir mengenai tangan Laras.

“Besok rapat,” katanya.

“Saya ingat.”

“Kalau keadaan tidak aman, keluar.”

“Saya juga ingat.”

“Jangan memaksakan diri.”

Laras menatapnya dengan senyum tipis. “Komandan datang hanya untuk mengulang perintah?”

“Saya datang melihat Satya.”

“Satya ada di sini.”

“Sudah saya lihat.”

“Lalu?”

Bima seharusnya pergi. Namun ia tetap berdiri, memperhatikan rambut halus yang menempel di pelipis Laras dan peniti kecil yang kini menahan blusnya.

“Kancingmu sering lepas,” katanya.

Wajah Laras semakin merah. “Bajunya sudah lama.”

“Beli yang baru.”

“Dengan uang siapa?”

“Gajimu.”

“Gaji saya untuk Nala.”

Jawaban itu membuat Bima teringat tubuh kecil di Girisari. “Kalau begitu saya tambah tunjangan pakaian kerja.”

“Nanti katanya untuk Satya lagi?”

“Memang. Supaya ibu susuannya tidak memakai peniti yang bisa melukai anak.”

Laras menahan senyum. “Komandan selalu menemukan alasan.”

“Tidur. Sudah malam.”

Bima pergi sebelum suaranya semakin tidak terkendali.

Laras mendengar langkahnya menjauh. Baru setelah itu ia mengembuskan napas dan menyadari punggungnya pegal karena sejak tadi duduk terlalu tegak.

Ia meletakkan Satya di kasur, lalu mengganti peniti dengan jahitan sementara. Tangannya beberapa kali salah memasukkan benang. Bukan karena lampu berkedip, melainkan karena ingatan tentang Bima yang langsung berbalik tanpa mengambil kesempatan kedua untuk melihatnya.

Laki-laki lain mungkin akan tertawa, menggoda, atau membuat rasa malu Laras semakin besar. Bima justru memikirkan bohlam dan gerendel.

Kebaikan itu lebih berbahaya daripada tatapan terbuka. Ia membuat Laras ingin percaya.

Satya menggeliat. Laras mengusap perutnya.

“Bapakmu keras kepala, Le,” bisiknya, masih mengikuti sebutan sosial yang diyakininya. “Semua perhatian dibilang urusan dinas.”

Bayi itu mengeluarkan suara seperti tertawa.

“Jangan setuju. Mama Laras juga harus ingat tempat.”

Panggilan itu keluar lebih mudah sekarang. Laras menatap wajah Satya, lalu menyentuh kain di dada yang masih lembap. Tubuhnya memberi kehidupan kepada anak ini, sementara hatinya perlahan terikat pada rumah yang awalnya hanya tempat bekerja.

Ia mematikan lampu, tetapi matanya tetap terbuka lama.

Ia masuk kamar mandi, membuka keran, dan membasuh wajah dengan air dingin. Bayangan Laras masih ada. Bukan hanya kulit punggung atau kain basahnya, melainkan cara perempuan itu menatap sambil membongkar setiap alasan yang Bima susun.

Air mengalir lama.

Bima menutup keran, kembali ke kamar, lalu berbaring.

Lima menit kemudian ia bangun lagi.

Keran dibuka untuk kedua kali.

Di ruang depan, Iwan mendengar suara air dan mengerutkan dahi. Atasannya tidak pernah mandi dua kali dalam satu malam.

Bima menatap wajah sendiri di cermin. “Cukup,” katanya pelan.

Namun ketika keran ditutup, setetes air masih jatuh dari ujung besi.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara itu bertahan lebih lama daripada ketenangan yang berusaha ia bangun.

Bima kembali ke meja dan mencoba membaca laporan pengamanan syukuran. Baris yang sama dilewatinya empat kali. Menjelang tengah malam, terdengar Satya merengek lalu tenang setelah Laras menyenandungkan lagu pendek.

Bima menutup laporan.

Setidaknya satu orang di rumah itu bisa tidur dengan damai. Ia bukan orang tersebut.

Dan air dingin ternyata tidak membantu sedikit pun.

Malam masih terasa sangat panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!