Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Ujian Masuk Kelas Inovasi
Gerbang SMA Negeri 1 Buana terasa seperti batas antara dua dunia.
Di luar, Arya Pratama adalah siswa buangan dari SMA Budi Utama. Di dalam, semua orang belum tahu apa pun tentang dirinya. Itu membuat langkahnya ringan.
Budi Pratama menunggu di kursi dekat pos satpam setelah petugas penerimaan meminta hanya calon siswa yang masuk ke gedung tes. Arya sempat menoleh. Ayahnya mengangkat jempol, lalu batuk kecil yang cepat ia tahan.
Arya mengangguk dan masuk.
Ruang pendaftaran sudah penuh. Anak-anak dari berbagai sekolah duduk sambil membuka buku catatan. Sebagian ditemani orang tua berpenampilan rapi. Ada ibu yang terus mengulang rumus di telinga anaknya. Ada bapak yang menegur putranya karena salah menghafal perkalian.
"Ingat, delapan kali tujuh itu lima puluh empat," bisik bapak itu yakin.
Putranya mengangguk tegang.
Arya melewati mereka tanpa ekspresi.
Di meja depan, seorang staf memeriksa berkasnya. Begitu melihat surat pemberhentian dari SMA Budi Utama, alis wanita itu naik.
"Kamu dikeluarkan?"
"Iya, Bu."
"Dan mau masuk Kelas Inovasi?"
Beberapa calon siswa di belakangnya menoleh.
Arya menjawab tetap tenang. "Iya, Bu."
Wanita itu tampak ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya memberi nomor peserta. "Ruang tiga. Jangan terlambat."
Ruang tiga berada di lantai dua. Ada tiga puluh meja tunggal, masing-masing diberi nomor. Di papan tulis tertulis: TES SELEKSI KELAS INOVASI. MATEMATIKA, SAINS, LOGIKA.
Arya duduk di nomor tujuh belas.
Lima menit kemudian, pintu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan masuk dengan kemeja putih rapi dan map hitam di tangan. Rambutnya mulai memutih di pelipis, tetapi matanya tajam. Semua pengawas lain berdiri sedikit lebih tegak ketika ia masuk.
"Selamat pagi," katanya.
"Selamat pagi, Pak," jawab peserta serempak.
"Saya Surya Dharma, wali Kelas Inovasi. Hari ini saya ikut mengawasi tes kalian." Ia meletakkan map di meja guru. "Aturan sederhana. Kerjakan sendiri. Jangan menyontek. Jangan bicara. Jika ada yang sakit, angkat tangan."
Tatapan Pak Surya menyapu ruangan. Berhenti sepersekian detik pada Arya, mungkin karena seragamnya bukan seragam asal yang rapi, hanya kemeja putih lama dan celana abu-abu.
Arya menunduk sopan.
Lembar soal dibagikan.
Begitu kertas menyentuh mejanya, Arya langsung tahu satu hal: ia harus menahan diri.
Bagian matematika meminta menghitung luas segitiga, menyederhanakan pecahan, mencari pola bilangan, dan menyelesaikan persamaan linear satu variabel. Bagian fisika bertanya benda mana yang lebih cepat turun di bidang miring. Bagian kimia meminta membedakan garam dan gula berdasarkan sifat larutan, tetapi opsi jawabannya sendiri kacau. Bagian logika berisi pola gambar yang jawabannya terlalu jelas.
Arya menarik napas.
Kalau ia menulis jawaban sebenarnya dengan cara paling cepat, ia bisa selesai dalam sepuluh menit.
Ia menunggu lima menit pertama hanya dengan membaca semua soal. Peserta lain mulai berkeringat. Ada yang menggigit pulpen. Ada yang menghitung dengan jari di bawah meja. Seorang anak di depan bahkan menggambar tujuh lingkaran lalu delapan garis untuk menghitung 7 x 8.
Pak Surya berjalan pelan di antara meja.
Arya mulai menulis.
Tangannya bergerak stabil. Tidak terlalu cepat pada awalnya. Ia memberi langkah penyelesaian yang cukup panjang untuk terlihat manusiawi, tetapi tetap bersih. Pada soal pecahan, ia menuliskan alasan visual. Pada soal logika, ia menambahkan satu kalimat singkat: pola berubah berdasarkan posisi; ukuran tidak menentukan.
Saat Pak Surya lewat di sampingnya, langkah pria itu berhenti.
Arya pura-pura tidak sadar.
Pak Surya melihat lembar jawabannya. Satu soal. Dua soal. Tiga soal. Wajahnya masih tenang, tetapi jari yang memegang map bergerak sedikit.
"Saudara Arya," katanya pelan.
Beberapa peserta langsung menoleh, lalu buru-buru kembali ke soal.
"Ya, Pak?"
"Kamu sudah sampai nomor berapa?"
"Nomor dua puluh tujuh, Pak."
Ruangan sunyi.
Waktu baru berjalan dua puluh menit. Sebagian peserta bahkan belum menyelesaikan halaman pertama.
Pak Surya tidak menegur. Ia hanya menatap Arya beberapa detik. "Lanjutkan."
Arya menunduk. "Baik, Pak."
Setelah itu ia memperlambat tangan. Tetapi terlambat. Pak Surya mulai lebih sering melewati mejanya. Tatapannya bukan tatapan pengawas yang memburu kecurangan. Tatapan itu seperti milik orang yang menemukan benda asing di tempat biasa.
Pada soal terakhir, ada pertanyaan logika yang keliru: jika semua burung bisa terbang dan kelelawar bisa terbang, maka kelelawar adalah burung. Arya menatap pilihan jawaban. Semua opsi menyetujui kesimpulan salah itu.
Ia bisa memilih jawaban yang diharapkan penguji.
Ia juga bisa menulis yang benar.
Ujung pulpennya berhenti.
Kalau ingin masuk tanpa menarik perhatian, pilih jawaban resmi.
Kalau ingin tahu apakah sekolah terbaik ini benar-benar berbeda, tulis kebenaran.
Arya menulis: Kesimpulan tidak valid. Premis kedua tidak menghubungkan kelelawar dengan kategori burung. Terbang bukan ciri cukup untuk menjadi burung.
Ia meletakkan pulpen.
Satu jam sebelum waktu habis, Arya mengangkat tangan.
Pengawas muda mendekat. "Ada masalah?"
"Saya sudah selesai, Pak."
Kali ini seluruh ruangan benar-benar berhenti.
Pak Surya mengambil lembar jawaban Arya sendiri. Ia membalik halaman satu per satu. Semakin lama, alisnya semakin dalam.
"Kamu yakin mau mengumpulkan sekarang?"
"Yakin, Pak."
"Tidak ingin memeriksa lagi?"
"Sudah, Pak."
Pak Surya menatapnya. Ada sesuatu di balik mata guru itu. Herannya bercampur dengan lega yang ditahan.
"Baik. Kamu boleh menunggu di luar."
Arya berdiri, membungkuk sedikit, lalu keluar dari ruang tes.
Di koridor, angin dari jendela membawa suara halaman sekolah. Arya melihat Budi di bawah, duduk sendirian dengan map berkas di pangkuan. Ayahnya tampak kecil di antara gedung besar itu.
Di ujung koridor, dua peserta yang keluar untuk ke toilet menatap Arya dengan wajah tidak percaya.
"Sudah selesai?" salah satu dari mereka bertanya.
"Iya."
"Semua halaman?"
Arya mengangguk.
Anak itu tertawa hambar. "Aku baru nomor sembilan. Nomor pecahan saja bikin kepala mau pecah. Kamu jangan-jangan kosongin jawaban?"
"Tidak."
"Kalau benar selesai, kamu gila."
Arya tidak membalas. Ia bersandar di dinding dan menunggu. Dari dalam ruang tiga, suara kertas dibalik terdengar panik. Pak Surya beberapa kali berjalan dari meja guru ke meja Arya yang sudah kosong, seolah kursi kosong itu sendiri masih mengganggunya.
Satu jam kemudian, bel selesai berbunyi. Peserta keluar dengan wajah letih. Beberapa langsung memeluk orang tua. Beberapa mengeluh soal nomor logika terakhir. Tidak satu pun dari mereka menyebut kemungkinan bahwa soalnya salah.
Arya mengepalkan tangan.
Ia belum tahu hasilnya.
Tapi di ruang tiga, Pak Surya masih berdiri sambil memegang lembar jawabannya, membaca ulang kalimat tentang kelelawar dan burung.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajah wali Kelas Inovasi tidak lagi tenang.
"Ini bukan jawaban anak biasa," gumamnya.