"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 - Penyanyi Dengan Rambut Merah
Rayhan Mahendra datang ke Safa Atelier dengan rambut merah.
Safira nyaris menusuk jarinya sendiri ketika Dinda, yang sedang membantu mencatat jadwal fitting, berbisik panik, "Safa, itu Rayhan Mahendra, kan?"
Safira mengangkat wajah.
Seorang pria tinggi masuk memakai hoodie hitam, masker, topi, dan rambut merah yang masih terlihat dari sisi telinga. Di belakangnya ada manajer bertubuh besar dan seorang anak laki-laki sekitar lima tahun yang memegang kotak susu.
Pria itu membuka masker.
Dinda mencengkeram buku jadwal.
"Ya Allah, benar."
Rayhan Mahendra adalah penyanyi dan aktor yang wajahnya sering muncul di billboard, iklan kopi, dan drama streaming. Safira mengenalnya karena Dinda pernah memutar lagunya selama tiga bulan penuh setelah putus cinta pertama.
Safira berdiri. "Selamat siang."
Rayhan tersenyum. "Safira?"
"Iya."
"Saya Rayhan. Maaf datang mendadak. Bu Laras memberi kontakmu."
Manajernya, Fajar, langsung menambahkan, "Kami sebenarnya sudah pesan lewat DM, tapi mungkin tenggelam. Jadwal Mas Rayhan agak padat."
Dinda di belakang Safira mengangguk terlalu cepat, seolah ia yang menerima DM.
Safira menjaga wajah profesional. "Ada yang bisa saya bantu?"
Rayhan menunjuk anak kecil di sampingnya. "Ini Jovan, keponakan saya. Dia butuh beberapa setelan untuk acara keluarga dan pemotretan kecil. Saya juga butuh beberapa outer untuk konser akustik."
Jovan menatap Safira tanpa berkedip.
Safira tersenyum. "Halo, Jovan."
Anak itu tidak menjawab.
Rayhan menunduk. "Jo, sapa Tante Safira."
Jovan justru bersembunyi setengah di balik kaki Rayhan.
Fajar menghela napas. "Dia biasanya tidak mudah dekat."
"Tidak apa-apa," kata Safira. "Anak-anak boleh butuh waktu."
Kalimat itu membuat Jovan mengintip lagi.
Safira mengambil kursi kecil dan meletakkannya agak jauh. "Jovan boleh duduk di sini kalau mau. Tidak harus diukur sekarang. Kita lihat kain dulu."
Jovan masih diam.
Rayhan menatap Safira sebentar, seperti menilai.
Safira mengeluarkan beberapa sampel kain anak yang nyaman: katun premium, linen lembut, batik cap warna cerah, dan tenun tipis untuk aksen.
"Untuk anak, saya tidak akan pakai bahan yang gatal meski terlihat bagus di foto. Kalau dia tidak nyaman, wajahnya akan terlihat di kamera."
Rayhan tertawa. "Benar. Jo kalau tidak nyaman, satu studio bisa tahu."
Jovan menatap kain biru tua.
Safira melihat. "Suka yang ini?"
Anak itu mengangguk kecil.
"Boleh pegang."
Jovan perlahan maju, menyentuh kain. "Lembut."
"Iya. Bisa jadi kemeja. Mau ada kantong kecil?"
Jovan mengangguk lagi.
"Kantongnya untuk apa?"
"Batu."
Rayhan memejamkan mata. "Dia suka mengumpulkan batu."
"Kalau begitu kantongnya harus kuat."
Jovan menatap Safira lebih lama. "Tante bisa bikin kantong batu?"
"Bisa."
"Banyak?"
"Tergantung batunya sebanyak apa."
Jovan mengangkat lima jari.
"Baik. Kita buat dua kantong besar."
Anak itu akhirnya tersenyum.
Dinda di belakang meja hampir meleleh.
Rayhan memandang Safira dengan ekspresi yang berubah. Ada rasa terkejut, lalu sesuatu yang lebih lembut. Seolah ia tidak menyangka perempuan di depannya langsung memahami hal kecil yang biasanya dianggap merepotkan.
"Kamu punya anak?" tanya Rayhan.
Safira tersedak sedikit. "Belum."
"Oh. Maaf. Cara kamu bicara dengan Jovan seperti sudah terbiasa."
"Saya terbiasa mengurus orang yang tidak selalu didengar."
Jawaban itu keluar sebelum ia pikirkan.
Rayhan diam.
Arga masuk tepat saat kalimat itu selesai. Ia membawa kopi untuk Safira dan berhenti melihat siapa tamunya.
Rayhan menoleh.
Keduanya saling mengenal.
Tentu saja.
Safira sudah mulai tidak heran jika Arga mengenal semua orang.
"Arga," kata Rayhan.
"Rayhan."
Dinda menatap Safira dengan mata membesar. Safira memberi isyarat kecil: nanti.
Rayhan tersenyum. "Jadi ini atelier istrimu?"
"Iya."
"Menarik. Dunia kecil sekali."
"Terlalu kecil kadang."
Safira menangkap nada aneh di antara mereka. Bukan permusuhan. Lebih seperti dua laki-laki yang saling tahu terlalu banyak.
Rayhan menatap Safira lagi. "Saya tidak tahu kamu istri Arga saat Bu Laras memberi kontak."
"Tidak masalah. Di sini saya Safira dari Safa Atelier."
Rayhan tersenyum. "Bagus."
Arga menaruh kopi di meja Safira. "Kamu sudah makan?"
"Belum sempat."
"Saya beli roti juga."
Rayhan memperhatikan gerakan itu.
"Arga Kusuma membelikan roti dan kopi," katanya. "Berita besar."
Safira menoleh cepat. "Kusuma?"
Arga menatap Rayhan.
Rayhan mengangkat tangan. "Maaf. Saya kira..."
"Kamu kira terlalu banyak," kata Arga.
Ruangan hening sebentar.
Safira menyimpan pertanyaan untuk nanti. Ia tidak mau membahas identitas Arga di depan klien, meskipun klien itu jelas tahu sesuatu.
"Mas Rayhan," katanya, kembali profesional, "untuk outer konser, konsepnya seperti apa?"
Rayhan tampak menghargai perubahan topik itu. Ia menjelaskan konser akustik bertema pulang, ingin sesuatu yang hangat tetapi tidak terlalu tradisional. Safira menawarkan outer hitam dengan aksen tenun merah gelap, serta satu jaket longgar dengan detail batik di bagian dalam.
Rayhan menyukai idenya.
Jovan, yang mulai lebih berani, duduk di kursi kecil sambil memegang kain biru. Ketika Safira mengukur panjang lengannya, anak itu diam saja.
"Tante Safira," katanya tiba-tiba.
"Iya?"
"Tante baunya kayak kue."
Dinda tersedak tawa.
Safira mengendus lengan bajunya. "Mungkin karena aku tadi makan roti cokelat."
Jovan mengangguk serius. "Enak."
Rayhan tertawa. "Jo, jangan aneh-aneh."
"Tidak apa-apa," kata Safira. "Itu pujian."
Jovan menatapnya lagi. "Tante mirip foto."
Rayhan langsung diam.
Safira mengerutkan kening. "Foto apa?"
Jovan menunjuk Rayhan. "Foto di kamar Om."
Fajar cepat berkata, "Maksudnya foto referensi baju mungkin."
Rayhan menatap Fajar, lalu Jovan. Wajahnya berubah sedikit, tetapi ia cepat menutupinya.
Arga memperhatikan.
Safira juga.
Namun Jovan sudah kembali sibuk dengan kain biru.
Pertemuan selesai dengan pesanan cukup besar. Rayhan membayar DP tanpa menawar. Ia juga meminta jadwal fitting khusus agar tidak mengganggu pelanggan lain.
Sebelum pergi, Rayhan berkata kepada Safira, "Jovan jarang mau diukur orang baru. Terima kasih."
"Dia anak baik."
"Dia kehilangan ibunya sejak kecil. Kadang sulit percaya orang."
Safira menatap Jovan yang sedang memasukkan batu kecil ke saku celana.
"Tidak apa-apa. Anak-anak boleh punya cara sendiri untuk merasa aman."
Rayhan memandangnya lagi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Setelah mereka pergi, Dinda langsung merosot ke sofa.
"Aku satu ruangan dengan Rayhan Mahendra. Dan kamu bicara dengannya seperti klien biasa."
"Memang klien."
"Dia Rayhan!"
Arga berkata datar, "Dia juga manusia yang butuh baju."
Dinda menatap Arga. "Mas Arga, kamu benar-benar perusak fantasi."
Safira menatap suaminya. "Kamu kenal dia."
"Iya."
"Dan dia memanggilmu Arga Kusuma."
Arga diam.
Dinda perlahan berdiri. "Aku ke atas. Tiba-tiba aku harus menghitung hanger."
Safira tidak mengalihkan pandangan dari Arga.
"Mas."
Arga menarik napas.
"Saya akan jelaskan."
"Kapan?"
"Malam ini."
"Baik."
Safira mengambil kopi yang tadi dibelikan Arga. Kopinya sudah tidak sepanas sebelumnya, tetapi masih cukup pahit.
Hari itu ia mendapat klien selebriti, anak kecil yang mengatakan ia mirip foto, dan satu lagi potongan identitas suaminya yang jatuh di depan meja kerjanya.
Safa Atelier benar-benar tidak memberinya waktu untuk bosan.
Malamnya, penjelasan Arga tidak langsung dimulai dengan nama besar atau silsilah keluarga. Ia datang ke ruang makan kecil apartemen sambil membawa dua gelas teh tawar hangat. Safira sudah duduk di sana dengan buku ukur di depannya, tetapi tidak ada satu pun angka yang benar-benar ia baca.
"Rayhan Mahendra teman lama?" tanya Safira tanpa basa-basi.
"Bukan teman dekat. Kami pernah bertemu di beberapa acara bisnis dan amal."
"Dia memanggilmu Arga Kusuma."
"Karena itu nama saya."
Safira menatapnya lama. "Di KTP pernikahan kita, kamu Arga Pratama."
Arga duduk di seberangnya. "Pratama nama yang saya pakai untuk urusan pribadi beberapa tahun terakhir. Kusuma nama keluarga."
"Keluarga yang mana?"
"Kusuma Group."
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.
Safira memang pernah mendengar nama itu. Siapa yang tidak? Gedung perkantoran, hotel, rumah sakit, proyek properti, bahkan yayasan pendidikan. Nama Kusuma muncul di banyak papan besar di Jakarta, selalu bersama kesan rapi, mahal, dan jauh dari hidupnya.
Ia tertawa pelan, bukan karena lucu. "Jadi suamiku bukan pegawai biasa?"
"Tidak."
"Bukan manajer?"
"Bukan."
"Bukan orang yang kadang meminjam mobil kantor?"
"Mobil itu milik saya."
Safira menutup mata sebentar. "Ya Allah, Mas."
Arga tidak membela diri. "Saya salah."
"Kamu berbohong."
"Saya menyembunyikan."
"Itu kata yang dipilih orang kaya supaya terdengar lebih sopan."
Arga menerima pukulan itu tanpa membalas.
Safira berdiri, berjalan ke wastafel, lalu kembali lagi karena ia tidak tahu harus melakukan apa. Tangannya gemetar sedikit. Bukan hanya karena marah. Ada rasa bodoh yang menempel di dadanya, rasa seperti selama ini ia berbicara dengan orang yang seluruh hidupnya punya panggung lain.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karena saya lelah dipilih karena nama itu."
"Lalu kamu memilih membuatku menikah dengan orang yang tidak utuh?"
Arga mengangkat wajah. "Saya tidak pernah bermaksud membuatmu merasa ditipu."
"Tapi aku memang ditipu."
Kata itu jatuh keras.
Arga diam.
Safira menarik napas. "Aku tidak akan pergi malam ini. Aku juga tidak akan membuat keputusan saat marah. Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia besar yang kamu simpan karena menurutmu aku belum siap."
"Baik."
"Dan soal Rayhan? Kenapa anak kecil itu bilang aku mirip foto?"
Arga menatap gelas tehnya. "Itu bagian yang belum saya tahu pasti."
"Cari tahu."
"Saya sudah minta Bima mulai."
"Bukan diam-diam."
"Kamu akan tahu semua hasilnya."
Safira mengambil buku ukurnya dari meja. Ia berdiri, tetapi sebelum masuk kamar, ia berhenti.
"Mas Arga."
"Ya?"
"Besok pagi kamu tetap antar aku ke atelier."
Arga seperti menahan napas. "Tentu."
"Aku masih marah. Tapi aku juga masih punya pesanan Rayhan Mahendra. Jangan sampai rahasia keluargamu membuat pekerjaanku berantakan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Arga hampir tersenyum.
"Tidak akan."
"Bagus."
Safira masuk kamar dan menutup pintu. Di balik kayu itu, dadanya masih panas. Tetapi satu hal menjadi jelas: jika Arga ingin tetap berada di hidupnya, ia harus belajar datang tanpa topeng.