NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : JANJI DI ATAS RERUNTUHAN

BAB 6: JANJI DI ATAS TANAH HANGUS

"Sudah sejak kapan duduk diam di sini sendirian, Yu?"

Bayu menoleh perlahan mendengar suara itu, tak perlu melihat pun sudah tahu siapa yang datang. Karta kini duduk bersila tepat di sebelahnya, menatap ke arah kampung halaman yang masih terselimuti kabut abu pekat. Udara pagi di lembah ini menusuk sampai ke tulang, namun keduanya seolah tak merasakan apa pun.

"Sejak ayam pertama berkokok tadi," jawab Bayu pelan, tangannya masih meremas segenggam tanah yang diambilnya semalam. Sisa hangatnya perlahan hilang tertukar dinginnya embun.

"Kau sendiri? Kenapa tak lanjut tidur selagi bisa?"

"Bagaimana mau terpejam nyenyak. Sekali memejam, yang terbayang terus wajah Bapak dan Ibu, suara ledakan, dan api yang memakan semuanya," ujar Karta sambil menghela napas panjang.

"Kau juga kan begitu?"

Bayu mengangguk pelan, menatap kembali ke kejauhan.

"Iya. Rasanya seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung usang. Setiap kali berharap bangun, kenyataannya justru makin nyata."

"Kemarin aku hampir saja berpikir... lebih baik ikut saja bersama mereka. Daripada harus hidup terus dengan luka begini," ucap Karta tiba-tiba, suaranya bergetar halus. Ia meremas sehelai daun kering sampai hancur di tangannya.

"Tapi tiba-tiba teringat pesan Ibu, tepat sebelum serangan datang. Katanya: Nak, apa pun yang terjadi, jaga Bayu. Dia saudaramu sampai mati."

Bayu menoleh, menatap sahabatnya lekat-lekat. Di matanya yang biasanya teduh, kini mulai menyala bara tekad yang perlahan makin membesar. Ia meletakkan tangan di bahu Karta, menepuknya pelan namun penuh arti.

"Mereka pergi bukan supaya kita menyerah, Karta. Mereka pergi supaya kita menyelesaikan apa yang belum tuntas," ucap Bayu mantap.

"Dulu Bapak selalu bilang: tanah ini sudah dibeli dengan keringat dan nyawa leluhur kita. Tak pantas diserahkan begitu saja pada orang yang tak tahu menghargai sehelai daun pun yang tumbuh di atasnya."

Perlahan dari arah gua terlihat Demang Maulana Surya, Mbah Kartareja, dan Wadana Raksapati berjalan mendekat. Langkah mereka hati-hati namun memancarkan wibawa. Saat tiba, Demang langsung duduk merapat melingkar bersama kedua pemuda itu.

"Kalian sedang membicarakan jalan ke depan ya?" tanya Demang lembut, seolah sudah paham betul beban apa yang sedang dipikul keduanya.

"Benar, Demang," jawab Karta.

"Kami hanya merasa tak pantas. Masih muda, masih banyak kurangnya, bahkan hati sendiri pun masih remuk redam. Kok harus memimpin dan memutuskan nasib semua orang?"

"Justru karena kalian pernah terluka dan kehilangan, kalian paling paham apa yang paling penting untuk diperjuangkan," sela Mbah Kartareja sambil mengetukkan tongkatnya pelan ke tanah.

"Orang yang tak pernah jatuh, takkan pernah tahu betapa kokohnya kaki saat akhirnya bangkit berdiri kembali."

Bayu bangkit berdiri perlahan. Ia menatap satu per satu wajah para tetua itu, lalu menoleh ke arah mulut gua tempat warga lainnya mulai berdatangan keluar. Semua mata tertuju padanya—penuh harap, penuh cemas, seolah menunggu satu kata yang akan menentukan sisa hidup mereka.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil disusul panggilan pelan Astri. Semua menoleh, melihat Aci Cemong berlari terhuyung-huyung sambil memeluk erat bungkusan daun pisang. Astri mengikuti dari belakang agak tergesa.

"Aci! Pelan-pelan Nak, jangan sampai jatuh!" seru Astri sambil sampai di tempat itu dan langsung menunduk meminta maaf.

"Maaf mengagetkan kalian."

"Kau bawa apa sampai harus lari ke sini, Aci?" tanya Bayu lembut lalu berjongkok menyamai tingginya anak itu.

Anak kecil itu membuka pelan bungkusan di pelukannya. Di sana terlihat sebilah parang kecil yang gagangnya dililit benang kapas, dan seikat biji padi yang masih bersih sempurna.

"Kakek menyuruhku menyembunyikannya di lubang akar pohon sebelum api datang. Bilangnya ini yang paling penting dijaga," cerocos Aci polos sambil menyodorkan semuanya ke tangan Bayu.

"Katanya kalau sudah aman, kasihkan ke orang yang mau menjaga kita semua."

Bayu menerima benda itu perlahan. Parang sederhana buatan Pak Somad, dulu dipakai Bapaknya mencangkul ladang. Dan biji padi itu... benih sisa simpanan yang disiapkan untuk tanam musim depan. Bukan benda sakti, tapi inilah nyawa mereka sesungguhnya.

"Terima kasih ya Nak. Terima kasih sudah menjaganya sekuat tenaga," ucap Bayu parau, mencium kening Aci pelan.

"Ini aman di tangan Kakak."

Astri tersenyum lega sambil memegang bahu Bayu. "Aci ternyata ingat betul pesan Kakeknya. Kami kira semuanya sudah hangus ditelan api."

"Belum semuanya musnah," Bayu menatap semua orang dengan mata berbinar kembali.

"Justru ini tanda, rezeki dan harapan masih ada kalau kita mau menjaganya."

"Maka dari itu, aku berjanji di sini, di atas tanah yang pernah kita injak bersama sejak kecil," ucap Bayu lantang, suaranya tegas namun tak berteriak, terdengar jelas sampai ke telinga siapa saja.

"Tak akan kubiarkan ada lagi yang menderita seperti kemarin. Tak ada lagi rumah hangus, tak ada lagi anak kehilangan orang tua, tak ada lagi ibu menangis meratapi darah dagingnya."

Ia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat sampai urat lengannya tampak menonjol. Kepalanya terangkat tegak menatap langit yang perlahan cerah bersih kembali.

"Tanah ini milik kita. Bukan milik pesawat mereka, bukan milik senjata mereka. Dan kami akan mempertahankannya dengan nyawa kami sekalipun!" tegasnya kembali.

Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin pagi berhembus lembut menerpa wajah-wajah penuh debu dan goresan luka. Lalu perlahan satu per satu kepala mengangguk mantap. Demang mengusap sudut matanya yang tiba-tiba lembab, tersenyum bangga melihat perubahan besar pada sosok pemuda itu.

Karta ikut berdiri, menyandingkan dirinya tepat di samping Bayu. Ia melepas sisa keraguannya yang sempat menghantui semalaman.

"Jujur saja, Yu. Aku masih takut. Setiap dengar angin kencang, jantungku rasanya mau copot membayangkan pesawat kembali datang," ucap Karta terus terang. Tak ada yang menertawakan pengakuannya itu.

"Tapi ketakutan itu takkan pernah membuatku mundur selangkah pun darimu. Kau pergi aku ikut, kau lari aku ikut, kau lawan aku juga ikut melawan. Kalau harus mati, kita mati berdua di tanah ini."

Bayu tersenyum tipis—senyum pertamanya sejak serangan datang. Ia merangkul bahu sahabatnya erat sekali.

"Kan sudah janji sejak kecil. Tak ada yang meninggalkan yang lain," kata Bayu pelan.

"Dan janji itu tak pernah kadaluarsa sampai kapan pun," sahut Karta mantap.

Astri, Ningsih, Bu Siti, Pak Somad, Embek Gombloh, Dul Kalong, dan sisa warga lainnya perlahan mendekat membentuk lingkaran besar. Tak ada sumpah serapah yang muluk-muluk, cukup tatapan yang saling bertemu dan kepalan tangan yang saling dijabat erat.

Mbah Kartareja mengambil segenggam tanah yang masih terlihat bekas hangus, lalu menaburkannya sedikit ke telapak tangan setiap orang.

"Dengan tanah ini kita ikrarkan janji. Yang hancur kita bangun kembali. Yang dirampas kita ambil kembali. Yang terancam kita pertahankan sampai tetes darah terakhir," ucap Mbah Kartareja dengan suara yang menenangkan hati yang gelisah.

"Siap!" jawab mereka serentak.

"Terus apa langkah pertama kita hari ini, Bayu?" tanya Wadana Raksapati.

"Semuanya menunggu arahanmu."

"Mulai dari hal yang paling kecil dan paling mendesak," jawab Bayu tegas sambil memandangi parang dan benih di tangannya.

"Kita bagi tugas. Yang kuat badannya kumpulkan ranting kering buat api unggun dan tempat berteduh sementara. Yang pandai cari air, periksa sumber mata air supaya aman diminum. Yang paham ramuan, rawat luka orang tua dan anak-anak."

"Bagus sekali," timpal Pak Somad.

"Saya dan Dul Kalong akan cari kayu kuat untuk penyangga atap darurat."

"Saya dan Ningsih bantu Astri merawat yang sakit dan menyimpan benih ini di tempat paling aman," tambah Bu Siti.

"Saya keliling jaga sekeliling supaya tak ada binatang buas atau orang asing yang lewat," usul Embek Gombloh.

Semua bergerak teratur tanpa perlu disuruh dua kali. Beban yang tadinya terasa sebesar gunung kini terasa makin ringan karena dibagi bersama. Di atas tanah yang sempat terbakar hebat itu, kini benih semangat baru tumbuh jauh lebih kokoh dari sebelumnya.

Bayu kembali menatap jauh ke arah kampungnya yang perlahan kabutnya mulai menipis. Di sanalah tempat ia lahir, tumbuh, diajari makna kasih sayang dan kebersamaan. Meski rupa fisiknya sudah berubah, jiwa kampung itu tetap ada di sana, menanti hari kembalinya pemilik sejatinya.

"Kita pasti pulang kembali," bisiknya pelan pada diri sendiri dan pada semua orang tercinta.

"Rancagaok takkan pernah hilang, selama kita masih saling menjaga dan berjanji memperjuangkannya."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!