NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJUANGAN DI BALIK KACA STERIL DAN IKATAN HATI DI RUANG NICU

Suasana dini hari di Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya terasa begitu lengang dan dingin. Jam di dinding koridor lantai dua menunjukkan pukul dua belas malam lewat empat puluh menit.

Di luar gedung, deru kendaraan malam mulai melambat, menyisakan keheningan yang mencekam bagi siapa saja yang masih terjaga.

Namun, keheningan itu sama sekali tidak meredakan badai kekhawatiran yang berkecamuk di dalam dada Revan Al-Gibran.

Pria bertubuh tegap itu masih berdiri kaku di depan dinding kaca steril ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Jas kasual yang tadi sore ia kenakan kini tampak sedikit kusut, kancing atasnya terbuka, mencerminkan betapa kacaunya detik-detik yang ia lalui sejak sore tadi.

Kedua tangannya bertumpu pada bingkai pembatas kaca, sementara pandangannya terkunci rapat pada sebuah inkubator kecil di sudut ruangan steril tersebut.

Di dalam inkubator berteknologi tinggi itu, Altharion Zayyan Al-Gibran putra pertamanya yang lahir secara prematur di usia kandungan tujuh bulan terbaring sangat rapuh. Ukuran tubuh bayi mungil itu begitu kecil, bahkan tampak seukuran lengan orang dewasa.

Kabel-kabel sensor tipis dan selang bantu pernapasan tampak terpasang di tubuhnya yang kemerahan, naik turun mengikuti setiap embusan napas kecil yang ditariknya dengan penuh perjuangan.

Revan menelan ludahnya yang terasa kelat. Tenggorokannya terasa tercekat setiap kali melihat dada kecil itu bergerak naik turun.

Ada rasa ngilu yang menusuk ulu hatinya, bercampur dengan rasa kagum yang luar biasa melihat betapa kuatnya jiwa mungil yang sedang berjuang di dalam sana.

"Bertahanlah, jagoan Ayah..." bisik Revan lirih, suaranya tercekat di balik sekat kaca dingin. "Ayah di sini. Bunda juga ada di lantai bawah. Kamu anak yang kuat... darah dagingku yang tidak boleh menyerah pada keadaan."

Di ruang pemulihan VIP lantai bawah, Nayara Zayna Az-Zahra terbangun dari tidurnya yang tidak pulas. Efek obat bius dan kelelahan hebat pasca-persalinan darurat membuat sekujur tubuhnya terasa linu, namun rasa sakit fisik itu seketika kalah telak oleh rasa rindu dan cemas yang mendalam terhadap bayinya.

Dengan gerakan pelan penuh kehati-hatian, Nayara mencoba mengubah posisi tidurnya. Ia menoleh ke sisi ranjang, mendapati infus masih menempel di punggung tangan kanannya.

Cklek.

Pintu ruang pemulihan terbuka perlahan. Revan melangkah masuk dengan membawa segelas air hangat di tangan kanannya. Wajah lelah pria itu langsung melunak begitu melihat istrinya sudah terjaga.

Revan meletakkan gelas di nakas, lalu bergegas mendekati ranjang, membantu Nayara merapikan bantal agar bisa bersandar dengan nyaman.

"Kamu sudah bangun, Zawjati? Ada yang sakit? Mau panggil suster?" tanya Revan bertubi-tubi dengan nada cemas, merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya.

Nayara menggeleng pelan. Suaranya terdengar parau dan serak. "Aku tidak apa-apa, Mas... Rasanya sudah sedikit lebih baik. Tapi... anak kita... bagaimana keadaannya di atas?" tanyanya langsung, manik matanya yang basah menatap lekat manik mata suaminya.

Revan menarik kursi kecil, duduk tepat di sisi ranjang, lalu menggenggam erat jemari dingin Nayara. Ia tersenyum menenangkan, meskipun ia tahu menyembunyikan kenyataan tidak akan ada gunanya.

"Dia pejuang hebat, Nay," ucap Revan lembut, mengusap punggung tangan istrinya penuh kasih. "Tadi aku baru dari sana. Altharion ada di dalam inkubator NICU. Pernapasannya dibantu selang khusus karena paru-parunya memang belum sempurna berkembang... tapi dia bernapas, Nay. Dia melawan rasa sakitnya dengan sangat gagah berani."

Air mata yang sejak tadi ditahan Nayara akhirnya tumpah juga. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan, bahunya bergetar hebat.

"Ini semua salahku, Mas... Kalau saja aku lebih berhati-hati... kalau saja aku tidak terlalu lelah membaca jurnal itu... anak kita tidak akan lahir prematur..."

"Sstt! Jangan pernah berkata seperti itu!" potong Revan tegas namun penuh kelembutan. Ia menarik tubuh Nayara ke dalam dekapannya, membiarkan kepala sang istri bersandar di dada bidangnya.

"Ini bukan salah siapa-siapa, Nay. Ini sudah takdir dan garis tangan dari Allah. Yang terpenting sekarang, ibu dan anaknya selamat. Kita harus kuat demi dia. Kalau kita ikut rapuh, siapa yang akan mendoakan dan menyemangatinya di sana?"

Nayara memeluk pinggang suaminya erat-erat, meluapkan seluruh rasa sesak di dadanya dalam dekap hangat Revan. Pelukan itu menjadi sauh yang menahan jiwanya agar tidak hanyut dalam rasa bersalah.

*PERTAMA KALI BERTEMU*

Keesokan paginya, matahari pagi bulan November perlahan merayap naik menembus tirai jendela rumah sakit. Suasana di ruang NICU tampak mulai sibuk dengan pergantian sif perawat pagi dan kunjungan dr. Maya bersama tim dokter anak.

Revan dan Nayara yang meski masih menggunakan kursi roda dorong diizinkan masuk ke ruang steril NICU setelah melewati prosedur kebersihan yang sangat ketat: mencuci tangan hingga siku, mengenakan baju pelindung steril, masker medis, dan sarung tangan khusus.

Dengan didorong pelan oleh Revan di atas kursi roda, Nayara akhirnya bisa melihat langsung buah hati mereka dari jarak dekat, hanya terhalang dinding transparan inkubator.

Di dalam sana, Altharion tampak sedang sedikit bergerak. Jemari mungilnya mengepal, dan ketika perawat membuka sedikit penutup inkubator untuk memeriksa suhu tubuh, Nayara bisa melihat wajah merah sang buah bayi dengan jelas.

Wajah itu... adalah miniatur sempurna dari perpaduan raut tegas Revan dan kelembutan garis wajah Nayara.

"Ya Allah... anakku..." lirih Nayara, air matanya menetes seketika. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, melafalkan doa-doa keselamatan tiada henti.

dr. Maya, yang berdiri di samping mereka sambil memegang clipboard medis, tersenyum ramah memberikan penjelasan profesional.

"Ibu Nayara, Bapak Revan, secara umum tanda-tanda vital Altharion pagi ini menunjukkan grafik yang stabil," penjelasan dr. Maya membuat napas kedua pasutri itu sedikit longgar.

"Memang organ pernapasannya masih memerlukan bantuan mesin karena lahir di usia tujuh bulan, tapi refleks motoriknya sangat bagus. Bayi Anda memiliki tekad hidup yang luar biasa."

Revan merangkul pundak Nayara dari belakang kursi roda, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kebanggaan. "Terima kasih, Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak kami. Berapapun biaya dan fasilitas yang dibutuhkan, saya siapkan."

"Tentu saja, Pak Revan. Kami dan seluruh tim medis akan berjuang maksimal," balas dr. Maya mantap.

Hari-hari berikutnya di rumah sakit berjalan dalam ritme yang penuh kesabaran dan doa.

Karena kondisi Nayara sudah mulai pulih secara fisik pasca-operasi darurat, ia diperbolehkan pulang pada hari keempat, namun ia memutuskan untuk menyewa kamar pemulihan di dekat rumah sakit atau membagi waktu agar bisa terus memompa ASI eksklusif setiap tiga jam sekali demi kebutuhan nutrisi Altharion di ruang NICU.

Revan membuktikan sumpahnya sebagai suami dan ayah siaga. Pria itu membagi waktunya dengan sangat disiplin: pagi hingga siang hari ia memimpin rapat perusahaan lewat sambungan daring dari ruang tunggu rumah sakit atau kantor cabangnya di Surabaya,

sementara sore hingga malam hari ia habiskan penuh di samping inkubator sang buah hati, membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara baritonnya yang tenang di balik kaca steril.

Hingga pada suatu sore di penghujung minggu kedua...

Revan sedang berdiri sendiri di depan kaca NICU saat seorang perawat senior mendatangi ruang steril dengan senyuman lebar terkembang di wajahnya.

"Pak Revan," sapa perawat itu ramah. "Ada kabar baik untuk perkembangan hari ini."

Jantung Revan berdegup kencang. "Kabar apa, Suster? Apakah anak saya sudah boleh keluar dari inkubator?"

"Belum keluar sepenuhnya, Pak. Tapi paru-parunya menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa pesat. Tim dokter memutuskan untuk melepas selang bantu pernapasan utama hari ini, dan Altharion sudah bisa bernapas secara mandiri dengan bantuan oksigen minimal!" jelas perawat tersebut penuh antusias.

Mendengar kabar itu, pertahanan Revan nyaris runtuh. Pria yang dulunya dikenal sebagai penguasa jalanan yang dingin dan tak kenal takut itu mendadak merasakan matanya memanas hebat.

Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..." ucap Revan berulang-ulang dengan suara bergetar.

Ia segera berlari kecil menuju lorong rumah sakit tempat Nayara sedang duduk bersama Mbak Siti yang membawa termos ASI. Begitu melihat suaminya datang dengan mata berkaca-kaca namun memancarkan senyuman paling lebar yang pernah ia lihat, Nayara langsung berdiri panik.

"Mas! Ada apa? Altharion kenapa?!" tanya Nayara cemas.

Revan merengkuh tubuh istrinya erat-erat, mengangkat Nayara dalam pelukan bahagia. "Anak kita hebat, Nay! Selang pernapasannya sudah dilepas! Dia sudah bernapas sendiri sekarang!"

Tangis kebahagiaan pecah di lorong rumah sakit sore itu. Perjuangan panjang di balik kaca steril selama berminggu-minggu mulai membuahkan hasil yang manis.

Altharion Zayyan Al-Gibran membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayi prematur biasa, melainkan seorang pejuang kecil yang ditakdirkan untuk membawa kebahagiaan abadi di keluarga kecil Revan dan Nayara.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!