NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawaban

Dua hari kemudian...

Aku berjalan lesu kedalam rumahku yang dua hari ini tidak kukunjungi. Sepanjang perjalanan pulang tadi, aku terus memikirkan bagaimana menghadapi mama nanti. Aku sangat yakin beliau tidak akan mempermasalahkan ketidak pulangan ku kemarin. Bahkan mungkin saja mama tidak tahu bahwa dua hari kemaren aku tidak berada di rumah.  Aku bingung bagaimana nanti menghadapi tangisannya yang tiada henti juga penolakannya saat aku hendak menenangkannya, semua terlalu menyakitkan untukku. Aku khawatir semakin larut dalam kebimbangan dan kesedihan jika mendapat penolakan lagi dari mama. Pesan babeh Ferdy semalam cukup menguatkanku untuk berusaha mengabaikan semuanya. Tapi aku sendiri belum merasa yakin, apakah aku bisa?!

“Bi Asih...” Aku menyalami wanita paruh baya itu dengan kerinduan yang kentara di wajahnya.

"Den Adit,, maa syaa Allah.. Bibi khawatir banget. Aden sehat aja kan?" Sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman yang masih utuh Bi asih berusaha mengulurkan tangan kanannya menyambutku.

"Alhamdulillah sehat Bi. Ini makanan siapa?" Aku bertanya bingung kepada Bi asih, karena yang berada di tangannya sepertinya bukan makanan segar meskipun masih utuh.

"Ini punya ibu den,, dari kemarin minta makanan di taruh di depan pintu kamar nya. Tapi nggak di makan sama sekali." Bi asih menjawab dengan gurat kekhawatiran yang semakin terlihat.

“Dari kemaren Ibu belum keluar kamar den, kamarnya dikunci, jadi belum makan sama sekali.” Informasi berikutnya dari Bi Inah membuatku segera mencari kunci cadangan di meja kerja ayah. Langsung kubuka kamar mama setelah menemukan kunci itu. Kulihat mama tertidur dengan sesekali terdengar igauan kecil darinya.

“Mah...” Aku menyentuh ragu wajah pucatnya yang berkeringat, mengingat terakhir kali aku menyentuhnya tiga hari lalu beliau sangat marah dan menjerit histeris. “Bi, tolong siapkan kompres. Mama demam...” Ucapku kemudian setengah berteriak setelah menyadari suhu tubuhnya sangat tinggi.

“Adit,,, jangan,,, jangan sentuh mama...” Dengan suara lemah beliau menyahut saat aku meletakkan kompres di keningnya.

“Mah,, mama demam tinggi. Nggak apa-apa ya Adit temani mama sampai demamnya turun.” Aku berkata dengan hati-hati berharap beliau menyambutnya dengan sikap lembutnya seperti hari-hari sebelum aku mengalami kecelakaan itu.

“JANGAN!” Teriaknya kasar sambil menepis tanganku yang terulur berusaha memperbaiki letak kompresnya. “Kamu ingin mama tertular virus-virus dalam tubuhmu itu?! Mama sudah cukup menderita dengan kepergian papahmu, jangan tambah lagi penderitaan mama...” Lanjutnya dengan diakhiri tangisan yang terdengar memilukan di telingaku. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi karena kepalaku tiba-tiba berdenyut menyakitkan. Kenapa harus ada puzzle baru di otakku yang harus kususun sempurna tanpa puzzle yang lengkap. Fakta apa lagi sekarang...

‘Tubuhku bervirus? Virus apa?!’

Bi asih mengambil alih tempatku, sepertinya ibu paruh baya itu menyadari keterkejutanku sehingga beliau membiarkanku melangkah keluar dari kamar mama.

Aku memilih merebahkan tubuh lelahku di kamar. Aku harus mengontrol hati ini agar tidak membebani otak ku dulu. Beberapa kali kuhembuskan nafas kasar berharap bisa menenangkan gejolak dalam hati ini. Ingin rasanya segera berlari ke kamar mama dan meminta penjelasan lebih darinya, tapi kuyakin mama tidak akan menjawab apapun pertanyaan yang kuajukan.

Dering Hpku membuatku tersadar dari lamunanku, Dheka, nama yang terpampang di layarnya. Nama yang sudah hampir kulupakan, kini membuat otak ku mulai memilih puzzle lain yang ingin kuhilangkan. Baru beberapa jam lalu, dheka datang ke kelasku dan dengan tiba-tiba menampar pipiku. Kemudian tiba-tiba menangis tanpa mampu kutenangkan, karena untuk menjangkaunya pun, aku terlanjur syok dengan kalimat yang diucapkannya di sela isak tangis yang terdengar sangat memilukan di telingaku.

"Gue mohon Dit, Lo pergi jauh... Jangan lagi muncul dihadapan gue. Gue mohon... Gue nggak bisa ngilangin memori bareng lo kalau lo masih berkeliaran di sekitar gue... Gue mohon..."

Kalimat mengiba yang membuat siapapun yang mendengarnya akan berfikir negatif terhadapku. Entah maksudnya apa. Aku masih terdiam saat Ferdy menarik tanganku menjauh dari Dheka. Berkali-kali Ferdy menepuk wajah ku, entahlah... Aku merasa tidak berpijak saat itu. Otakku pun seakan berhenti bekerja, sampai membuat seluruh tubuhku hanya bisa terdiam, mataku terbuka tapi seakan tidak ada objek apapun yang terlihat, Telingaku pun tidak bisa menangkap suara disekelilingku, bahkan nafasku mulai memburu seakan paru-paruku berhenti bekerja saat itu.

"Dit!"

"Dit! Gue mohon lo sadar!"

Aku hanya bisa terkesiap kaget saat telingaku mulai menangkap suara kembali. dan oksigen mulai menyapa paru-paruku lagi.

"Dy... Ferdy... Gu... Gue..." Tanpa bisa kulanjutkan kalimatku, aku langsug terkulai lemah dihadapannya. Dan lagi, air mataku kembali jatuh tanpa kuminta.

Apa yang salah?!

Apa kesalahanku sampai aku harus menjauh?!

Aku masih menimbang antara menjawab panggilannya atau mengabaikan. Sepertinya hatiku belum siap jika harus mendengarkan kalimat menyakitkan lagi. Kugeser tombol hijau dengan perlahan.

“Adit, Lo oke?” Pertanyaan Dheka dengan nada khawatir dari seberang membuatku beranjak duduk. Suara yang sangat kurindukan, suara penuh kelembutan namun terdengar tegas milik Dheka.

“i-iya.” Ucapku ragu.

“Gue mau ngomong, penting. Nggak apa-apa kan?” masih dengan suara lembut nya Dheka membahas kepentingannya meneleponku.

“Hmm... Dhe, Aku pusing berat, besok aja di sekolah gimana?” Aku berusaha menanggapi dengan senormal mungkin, meski kurasakan suara ku bergetar saat mengatakannya.

“Harus sekarang Dit, soalnya cuma sekarang waktu gue terakhir bisa berinteraksi dengan lo” Aku tahu Dheka menahan tangis disana, status kami yang hampir enam tahun menyandang gelar berpacaran membuatku sangat mengenalnya. Bahkan mungkin saja aku lebih mengenalinya dibanding dirinya sendiri.

“Dhe,, Tunggu, kenapa ini harus menjadi saat terakhir?”

“Gue,, gue mau kita putus Dit...” Ucapnya dengan getar aneh yang kurasakan dalam suaranya.

“Iya, gue tau akan ada saat Lo ngomong ini. Oke. No problem. Kita bisa lanjut sahabatan” aku tahu cepat atau lambat akan ada kalimat putus dari Dheka, mengingat interaksi kami yang sudah tidak sehat lagi.

“Maaf, aku nggak bisa melanjutkan hubungan dengan kamu…dengan, dengan orang yang nggak punya masa depan seperti kamu,,, maaf.” Lidahku tiba-tiba kelu sampai tidak bisa membela diri. Dheka akan menggunakan kata aku kamu padaku saat dia marah dan kecewa padaku. Dan ini,, Aku tidak punya masa depan?! Aku yang menjadi juara umum setiap tahun tidak punya masa depan?! Aku yang anak tunggal dari seorang pengusaha ternama tidak punya masa depan?! Aku yang katanya figur siswa sempurna tidak punya masa depan?!

“Dit, sudah ya...” Ucapnya kemudian karena aku tidak kunjung menyahut.

“Dhe, tunggu, ada alasan lain selain aku yang nggak punya masa depan?”

“Itu menjadi alasan satu-satunya Dit.”

“Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?! Kita nggak akan pernah tahu masa depan itu seperti apa...”

“Dit,,, aku nggak bisa, aku takut. Maaf...”

“Dhe, beri aku alasan yang lebih masuk akal.”

“Kamu nggak punya masa depan karena…karena…virus itu. Ayah menyuruhku menjauhimu. Aku juga takut tertular... Kenapa kamu bisa...” Ucapan Dheka terhenti karena tiba-tiba dia terisak.

“Virus?! Virus apa?”

“H...I...V...” Ucapnya ditengah isakannya yang semakin terdengar keras.

Satu kata terakhir yang kudengar membuatku jatuh terduduk di ranjang kamarku. Seluruh tubuhku bergetar hebat dan aku sudah tidak dapat mendengar suara apapun lagi. ‘Inikah jawaban dari semua keanehan di rumah ini?! Tapi bagaimana mungkin aku bisa tertular virus mematikan ini?!

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!